23

1513 Words
Azura menatap Ben dengan tak percaya. Bisa-bisanya pria yang merupakan bapak dari anak kembarnya menyuruhnya untuk pindah dari Semarang. Ia mengernyitkan dahinya sama heran dengan pemikiran pria tersebut. “Ben, kamu masih waras?” tanya Azura. “Kamu pikir aku sudah gila! Kamu tuh yang gila,” jawab Ben kesal. “Aku pikir kamu yang benar-benar sudah ga waras lagi. Kamu dengan teganya nyuruh aku pindah dari kota aku dilahirkan dan dibesarkan? Wah parah kamu ini, parah kamu, Ben.” Azura menggeleng-gelengkan kepalanya. “Lalu apa lagi solusinya! Aku ga mau kamu dan anak-anak mengganggu hubungan aku dengan Rieka. Aku ga mau kamu membuat wanita yang ku cintai jadi sedih dan menderita.” “Heh, denger ya. Mau perempuan itu yang paling kamu cintai ataupun paling kamu benci aku sama sekali ga peduli. Mau si perempuan itu terganggung ada aku atau ga ada aku itu urusannya dia!” “Ra… aku mohon tolong mengalah sedikit saja sama aku.” Mata Azura melotot menatap Ben. “Kamu kalau bicara otaknya dipakai dong! Kenapa kamu jadi bodoh seperti itu Pak Dosen.” “Karena otak aku digunakanlah makanya aku bilang baik-baik begini sama kamu, Ra.” “No… no… kalau otakmu yang katanya emakmu paling pintar di dunia ini digunakan ga akan kamu bicara kayak gitu, Ben.” “Loh, apa aku salah meminta kamu untuk mengalah sedikit saja demi kebahagiaan kita bersama,” ucap Ben tak mau kalah dari Azura. “Salah! Salah banget. Kamu salah meminta aku untuk mengalah demi kebahagiaan kita. Ini bukan kebahagiaan kita, tapi kebahagiaanmu sendiri. Ngerti kamu!” “Ra, jangan egois seperti itu.” “Kamu bilang aku egois, Ben. Kamu bilang aku harus mengalah. Fix, you are so crazy, Ben.” Azura semakin kesal pada Ben. Ia mengepalkan tangannya bersiap memberikan satu pukulan pada pria yang telah menjadi mantan suaminya tersebut. Bug! Azura menghantamkan pukulannya di wajah Ben. Ben yang tidak siap dengan apa yang terjadi sangat terkejut. Ia tak menyangka Azura sekarang sudah berbeda. “Sakit Azura!” bentak Ben emosi. “Halah, cuman segitu aja sudah ngeluh. Dulu kamu memukulku tanpa ampun, tapi kamu ga peduli.” “Baiklah Azura. Ini keputusan kamu. Kalau kamu ga mau menuruti semua keinginanku lihat saja apa yang akan aku lakukan sama kamu dan anak-anak.” Ben mengancam Azura. Ada rasa takut di hati Azura saat Ben mengancamnya, tapi ia tak boleh takut. Jika ia terus menerus ketakutan akan membuat mantan suaminya merasa menang dan tentu saja itu ga boleh terjadi. “Kamu mengancamku?” tanya Azura. “Kamu salah Azura. Aku ga mengancam kamu, tapi hanya mengingatkan kamu. Semua keputusan yang kamu ambil akan berdampak dengan apa yang terjadi di kehidupan kamu dan anak-anak.” Ben tersenyum. “Wah, parah kamu, Ben. Kamu mengancam dengan anak, kamu itu laki-laki atau bencong sih. Beraninya sama wanita dan anak kecil.” “Kamu yang terlalu berprasangka buruk Azura. Mana mungkin aku mengancam kamu.” “Terserah kamu, Ben. Mau kamu mengakui atau tidak mengakui kalau sudah mengancam kamu, itu haknya kamu. Tapi ingat Ben negara kita, negara hukum, setiap warga negara Indonesia bisa melaporkan kalau adanya ancaman.” “Baguslah kalau kamu tau negara kita, negara hukum jadi kamu bisa menggunakan hak-hak sebagai warga negara Indonesia.” Azura tersenyum. “Lalu apa yang akan kamu lakukan sekarang?” “Aku tidak akan melakukan apapun. Aku hanya mengingatkanmu atas setiap keputus—” “Terima kasih atas kebaikan kamu yang berusaha mengingatkan aku, tapi sebelumnya aku tidak perlu kamu mengingatkan apapun lagi.” Azura memotong perkataan Ben. “Jadi semua kembali padamu. Kalau kamu nurut aku hidupmu dan anak-anak akan tenang.” “Kalau ga ada si Rieka dan Kamu tentu saja hidupku akan jauh lebih tenang. Aku tidak membutuhkan apapun, baik itu dari kamu atau keluargamu.” “Kita lihat saja endingnya seperti apa ini. Aku sudah memperingatkanmu jangan sampai kamu lalai loh ya." “Iya, iya aku tau dan sangat tau. Kamu ga usah memperingatkan aku seperti itu. Urus saja urusan kamu sendiri." Ben mengangguk-anggukan kepalanya. Ia berusaha untuk tetap bersabar dalam menghadapi Azura saat ini. Jika salah langkah nanti ia bisa berakhir di rumah sakit langsung ke kamar jenazah. Lebih baik ia diam sejenak dari pada bisa jadi panjang masalah mereka. “Kalau begitu silahkan kamu pergi dari rumahku.” Azura menyuruh Ben untuk pergi dari rumah peninggalan ibunya. “Aku mau ketemu anak-anak dulu sebelum aku pulang.” “Ga usah ketemu si kembar. Kamu sama sekali ga cocok berperan sebagai seorang ayah yang baik untuk anak-anaknya. Semuanya sudah terlambat Ben Yulius.” Ben hanya bisa menghela napasnya. Betapa sulitnya meruntuhkan kerasnya hati Azura lalu pergi ke dalam mobilnya. Setelah memastikan mobil Ben sudah pergi dari depan rumahnya, ia segera masuk ke dalam rumah dan memastikan semua pintu rumah dan jendela-jendela dikuncinya. Ia tak ingin bertemu siapapun saat ini. Pikirannya sudah terlalu lelah mengadapi berbagai macam persoalan hidup. Dengan langkah gontai Azua masuk ke dalam kamar Angela dan Angelo. Ia sangat khawatir kalau mereka ketakutan seperti dulu. “Ela, Elo,” panggil Azura. “Iya Ma.” Angela dan Angelo menjawab secara bersamaan. “Kita makan dulu aja dari pada nanti ada orang lain lagi yang datang.” “Memangnya papa sudah pergi, ma?” tanya Angela dengan sedih. Betapa sedihnya Azura saat melihat raut wajah Angela yang tampak sedih Ben sudah pulang. Seharusnya ia memikirkan perasaan putrinya yang menyayangi ayahnya sendiri. Seharusnya ia membiarkan Ben berpamitan pada anak-anak kembarnya sebelum pria tersebut pulang. “Biarin aja papa pergi. Ngapain juga ke sini bikin nambah-nambahi beban keluarga aja,” sahut Angelo tak suka kalau Angela sedih. “Elo jangan seperti itu tentang papamu.” “Lalu harus bilang apa. Memang papa Ben itu hanya jadi beban keluarga aja. Buat apa aku memperdulikan laki-laki yang ngaku sebagai ayah ku itu.” Bagi Azura percuma ia terus berdebat hal yang tidak penting dengan anak berusia 5 tahun tersebut. “Sudahlah nak kita makan saja dulu. Itu makanannya sudah dingin, mama hangatkan dulu sebentar aja.” Azura bergegas ke dapur. Ia hanya ingin anak-anaknya bisa makan dengan lahap sebelum mereka tidur. Sepeninggalan Azura keluar dari kamar mereka. Angelo menatap Angela. Ia sangat kesal sama adik kembarnya tersebut. “Kenapa lihat aku kayak gitu Kak? Memangnya aku ada salah apa?” Angela jadi salah tingkah. “Kamu kalau cuman membuat mama sedih lebih baik kamu ikut papa aja sana,” ucap Angelo kesal. “Aku ga mau ikut papa. Tante Rieka, Nenek Winarti pasti galak banget. Aku ga mau kak.” Mata Angela berkaca-kaca hampir menangis. “Kalau sudah tahu kayak gitu, kenapa malah nanya-nanya tentang papa? Seharusnya dijaga itu perkataan.” “Iya kak.” “Kamu harus tau kalau mama hanya sendiri di sini. Saudara-saudara mama dulu mana ada datang ke rumah kita. Jadi kakak harap kamu bisa berpikir lebih dewasa.” “Kan usia kita baru 5 tahun, Kak. Kakaknya aja yang terlalu dewasa pikirannya.” Angelo hanya diam saja. Ia sedang malas beradu pendapat dengan adik kembarnya. Sudah cukup mama dan papa tadi bertengkar di depan rumah. Ia sebenarnya tadi sempat mencuri dengar perkataan Azura dan Ben. Ingin rasanya ia memukul papanya sendiri yang dengan tega memaksa mereka pindah dari Semarang tanpa tahu tujuannya ke mana. Hal yang makin membuat Angelo semakin membenci Ben, saat pria itu mengatakan mereka harus pergi demi kebahagiaan papanya dengan kekasihnya, Rieka. Jika papanya hanya memikirkan perasaan Rieka lalu bagaimana dengan perasaan anak - anaknya yang terluka atas perbuatan ayah kandungnya. Ia tak habis pikir kenapa papanya begitu tega tanpa perasaan menyakiti mamanya dan anak-anaknya hanya demi seorang wanita. Wanita yang cukup banyak orang tahu tentang sepak terjangnya dalam membuat rumah tangga orang lain berantakan. Pekerjaan dan asal usul Rieka saja tidak jelas. Ia yakin papanya dalam pengaruh hal yang tidak baik karena wanita yang bernama Rieka Agustina. Di saat Angelo sibuk dengan pemikirannya sendiri. Terdengar suara nyaring dari luar kamar memanggilnya dan Ela. “Ela… Elo… ayo keluar kamar. Kita makan bareng - bareng, Nak,” teriak Azura dari dapur. “Iya Ma.” Angela dan Angelo segera ke meja makan. "Ela, ingat jangan membuat mama sedih. Kamu ga boleh asal ngomong lagi. Hargai perasaan wanita yang telah melahirkan kita di dunia ini." "Iya Kak." Air mata Angela terjatuh di pipinya. Dengan lembut Angelo mengusap air mata adiknya tersebut. "Kamu jangan sedih yaa Ela. Kamu ada kakak dan mama jadi harus kuat yaa adikku, Sayang." Ia memeluk Angela dengan kasih sayang seorang kakak pada adiknya. "Makasih yaa kak." "Iya. Yuks kita ke meja makan. Pasti mama sedang menunggu kita untuk makan bareng-bareng." Makan malam kali ini tidak seperti biasanya. Di meja makan tak terdengar satu orang pun di antara mereka. Semua jadi berbeda setelah seharian dari Rieka yang cemburu buta, Sugito yang menanyakan kapan ia akan menikah lagi juga menyarankannya untuk pindah dari semarang, ditambah kelakuan Ben yanh membuat siapapun yang mendengarkannya akan ikut emosi. Azura tidak fokus dengan apa yang ada di hadapannya. Angela dan Angelo juga merasakan hal tersebut. Anak kembar tersebut tahu kalau Azura dengan banyak pikiran dan memilih untuk menutup mulut mereka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD