42

1325 Words

Kenangan demi kenangan terekam jelas di dalam ingatan Azura. Seulas senyum terukir jelas di wajahnya mencoba merelakan semua kegetiran hidup yang menghampiri dan membiarkan rasa sedih menyelubungi relung sanubari mengiris perih di dalam hati. Lamunan Azura tentang masa lalu seakan direnggut paksa saat mendengar suara Angelo yang memanggilnya. Ia pun menoleh ke sisi kiri melihat ada wajah putranya yang tampak pucat. “Elo, kenapa kamu bangun jam segini?” tanya Azura yang melihat wajah anaknya merah. “Kenapa pipimu merah begitu Nak.” “Mama, aku minta obat panas,” ujar Angelo. “Obat panas? Apa kamu panas, Nak?” Azura berjalan mendekati Angelo memegangi keningnya. “Ya Tuhan, badanmu panas.” “Mama jangan khawatir. Aku hanya panas biasa.” “Bagaimana mama ga khawatir kalau kamu panas k

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD