18

1310 Words
Jam sudah menunjukan pukul 14.00 wib. Azura janjian dengan Sugito jam 15.00 wib masih ada waktu 1 jam lagi untuknya bertemu dengan mantan mertuanya tersebut. Ia penasaran apa yang ingin disampaikan pria paruh baya tersebut. “Ela, Elo, mama tinggal dulu sebentar yaa,” ucap Azura pada anak-anaknya. “Ikut ma. Bosan di rumah aja,” ujar Angela merengek pada Azura. Azura menjadi bimbang. Sebenarnya ia tak tega meninggalkan Angela dan Angelo sendirian di rumah, apa lagi usia mereka yang 5 tahun. Rawan untuk meninggalkan anak sekecil itu di dalam rumah tanpa pengawasan orang dewasa. “Yaa udah kalau gitu semuanya ganti baju kita pergi bareng-bareng,” ujar Azura. “Horeee.” Angela berteriak kegirangan. Sedangkan Angelo hanya melirik malas. “Elo, apa kamu ga mau ganti baju?” tanya Azura yang mengerti kalau putranya tidak suka tempat keramaian. “Aku di rumah aja ma,” ucap Angelo. “Tidak boleh. Kamu harus ikut, jangan sendirian di rumah. Bahaya Elo.” “Bahaya itu untuk anak kecil, aku kan bukan anak kecil lagi mama.” “Elo ganti baju. Ga perlu mama suruh sampai berkali-kali kan.” “Iya ma.” Dengan malas Angelo terpaksa menuruti permintaan Azura. Ia benar - benar sedang tak ingin dan malas keluar rumah sekarang lebih di rumah sambil main game. Bermain game di luar rumah suka mengganggu konsentrasinya belum lagi suara - suara berisik yang membuatnya jengkel. Setelah memastikan Angelo dan Angela berpakaian yang layak. Ia pun bergegas menuju restoran tempatnya janjian dengan mantan mertuanya. Perjalanan siang itu tidak terlalu ramai mungkin belum jam nya orang pulang kerja jadi lebih renggang dari pada biasanya. Begitu tiba di restoran ia melirik ke kanan kiri untuk mencari di mana Sugito. Orang yang janjian dengannya melambaikan tangan ke arah Azura sambil bibirnya tersenyum merekah. Sugito sangat merindukan cucu - cucunya, sudah lama ia tak bertemu Angelo dan Angela semenjak Azura dan Ben bercerai. “Mama itu Kakek,” ujar Angela sumringah. “Iya,” ucap Azura. “Ngapain kakek di sini?” tanya Angelo curiga. Azura melirik Angelo. Putranya ini selalu waspada kalau ada keluarga dari pihak ayahnya. Mungkin Angelo khawatir kalau ia akan disakiti oleh keluarga Ben. “Aku boleh menghampiri kakek ga Ma.” Angela menatap Azura seraya meminta ijin. “Iya. Mama kan memang janjian sama kakekmu.” Reaksi anak-anaknya berbeda. Angela berlari mendekati Sugito sedangkan Angelo hanya diam. “Kenapa ga ikutan menghampiri kakekmu, Elo?” tanya Azura. “Aku bareng mama aja.” Angelo menatap dingin ke arah Sugito. “Iya. Sini gandengan sama mama.” Angelo mengulurkan tangannya agar bisa berpegangan dengan Azura. Ia adalah anak laki - laki jadi bisa melindungi mamanya dari orang-orang yang berniat tidak baik pada Azura. Walau usianya baru berusia 5 tahun dan belum bisa maksimal dalam melindungi Azura, tapi itu tidak akan mengurangi sikap protektifnya pada sang mama. Sugito sangat bahagia bisa bertemu cucu kembarnya. Begitu Angela berlari ke arahnya, ia langsung merentangkan tangannya untuk memeluk dan mencium pipi cucu perempuannya lalu berbicara sebentar sambil memangku Angela. “Selamat siang, Pak.” Azura mencium tangan mantan mertuanya dan diikuti oleh Angelo. “Siang Ra. Aduuh cucu laki - laki kakek tersayang.” Sugito ingin memeluk Angelo, tapi Angelo memundurkan badannya. Terlihat semburat kekecewaan dari raut wajah Sugito. Ia menyayangi Angela dan Angelo, tapi ia juga mengerti sifat Angelo yang dari dulu dingin dan tak mudah bergaul dengan orang lain walaupun ia kakeknya kandungnya sendiri. Merasa raut wajah Sugito berubah membuat Azura tak enak sendiri. Penolakan dari Angelo membuatnya serba salah. “Apa kabar Elo?” tanya Sugito. “Baik,” jawab Angelo datar. Tak terlihat ekspresi apapun dari wajah Angelo. Tatapannya dingin, wajahnya datar. Sugito hanya bisa menghela napasnya, Angelo masih kecil saja sudah sedingin ini bagaimana besarnya, tentu makin sulit dan tak tersentuh. “Kita duduk di luar aja yaa dari pada di dalam restoran. Di luar ada taman jadi kita bisa berbicara sambil mengawasi Ela dan Elo,” ucap Sugito. “Iya Pak.” Azura berkata sambil menganggukan kepalanya. Setelah duduk di luar restoran, Angela meminta ijin pada Sugito dan Azura untuk bermain. Begitu Azura mengijinkan ia langsung pergi ke area permainan anak - anak yang disediakan oleh pemilik restoran. Sedangkan Angelo duduk di samping Azura sambil terus memegang tangan mamanya dengan erat. Sugito memperhatikan Angelo, ada apa dengan cucu laki - laki itu? Kenapa begitu tak ingin lepas dan seperti ingin melindungi Azura begitu lekat. “Elo ga mau main sama adikmu?” tanya Sugito. “Aku di sini aja nemenin mama,” ucap Angelo. Sugito melirik Azura. Ia seakan memberi kode pada Azura agar menyuruh Angelo pergi sebentar. Pembicaraan mereka tidak baik jika di dengar oleh cucu - cucunya. Ia khawahir dampak kalau anak kecil mengetahui permasalahan orang dewasa. Azura mengerti lirikan mata Sugito. “Elo main aja dulu sama Ela,” ujar Azura. “Aku di sini aja nemenin mama,” ucap Angelo mengulangi kata-katanya lagi. Azura menghela napasnya. “Eli ada hal penting yang harus mama bicarakan dengan kakekmu.” “Hal penting apa? Aku juga ingin tau.” “Elo ada beberapa masalah yang anak kecil tidak boleh mengetahuinya. Belum saatnya Nak.” “Mama bukannya aku ingin ikut campur masalah orang dewasa, tapi kalau melihat keluarga Papa yang suka menyakiti mama sepertinya aku ragu.” Angelo melirik Sugito dengan curiga. Ia khawatir dengan mamanya akan tersakiti lagi. Sugito terkejut mendengar perkataan Angelo. Ia tak percaya Angelo yang masih anak - anak bisa tahu permasalahan orang dewasa. “Maaf kakek. Aku hanya ingin melindungi mama ku saja dari orang - orang yang berniat untuk menyakiti mama. Mama sudah cukup merasakan penderitaan akibat ulah papa, nenek, dan tante Rieka. Apa kakek sekarang akan ikut - ikutan juga?” tanya Angelo. Azura dengan reflek menutup mulut Angelo. Ia semakin tidak enak dengan semua perkataan putranya. Bagaimanapun Sugito jauh lebih baik dari pada Ben, Winarti, dan Rieka bahkan Sugito yang akan membiayai pendidikan sekolah cucu - cucunya di saat ayah kandung mereka sudah tidak memperdulikan keadaan anak - anaknya sendiri. “Pak, maafkan Elo yaa Pak,” ucap Azura tak enak. “Hahaha, kamu memang anak laki - laki yang bertanggung jawab. Kakek bangga padamu yang berjiwa melindungi mamanya,” ujar Sugito menatap bangga pada cucunya, Angelo. Reaksi Sugito yang bahagia membuat Azura terkejut. Ia tak menyangka kalau Sugito tidak sakit hari malah bangga dengan Angelo. Ternyata apa yang Azura khawatirkan salah. Malah mantan mertuanya tersenyum tertawa. “Elo, kakek bertemu mama mu bukan untuk menyakitinya. Kakek akan membantu kamu dan mama mu. Jangan khawatirkan apapun cucu ku,” ucap Sugito memberi pengertian pada Angelo. “Apa benar yang kakek katakan? Jangan sampai ada kejadian Tante Rieka ngamuk - ngamuk kayak orang gila datang ke rumah lagi yaa kek.” Sugito mengernyitkan dahinya. Apa maksud Angelo mengatakan kalau Rieka datang ke rumah Azura? Ia sama sekali tidak mengetahui hal tersebut, tapi ia berusaha menyakinkan cucunya dulu agar bisa berbicara dengan Azura demi kebaikan mereka. “Tenang Elo. Kakek tidak akan melakukan itu, kamu bisa bermain dengan tenang dulu sama Elo. Tuh, Ela sudah melambaikan tangannya ke arahmu. Tugasmu sebagai anak laki - laki bukan hanya melindungi mama mu saja, tapi juga adik perempuanmu, Angela,” ucap Sugito. Angelo berpikir apa yang dikatakan kakeknya benar. Ia juga harus menjaga dan melindungi mama dan adiknya. “Elo memang hebat dan kakek bangga memiliki cucu laki - laki sepertimu.” Sugito menepukkan tangannya di bahu Angelo. “Cuman sebentar aja kok Elo. Kakek ga sama seperti yang lain. Jangan khawatirkan apapun, kan Elo bisa lihat semuanya dari tempat bermain,” ujar Azura yang mengerti kekhawatiran putranya. Angelo melihat Azura dan Sugito secara bergantian. Ia mencoba untuk percaya pada kakeknya, tapi ia tetap akan mengawasi semuanya dari tempat bermain yang letaknya tidak jauh dari tempat duduk mereka. “Baiklah aku akan menemani Ela dulu. Kakek bicara saja sama mama,” ucap Angelo yang akhirnya mengalah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD