Rasa marah dan kesal merasuki pikiran Rieka. Ia tak menyangka akan mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan oleh mantan istri kekasihnya, Ben. Dengan mengendarai mobil sedan berwarna merah ia melajukan kendaraannya secara emosi.
Baju basah kuyup disiram Angela dan ditambah lagi butiran - butiran garam menempel di pakaian dan kulitnya. Terlebih di kulitnya terasa lengket yang membuat tubuhnya tak nyaman. Ditambah lagi pendingin udara di mobil membuat air yang ada di badannya cepat kering.
“Astaga ini lengket banget sih,” ucapnya kesal.
Pendingin udara di mobil yang dingin dan pakaiannya basah membuat Rieka kedinginan. Memang bisa membuat tubuhnya kering ditambah garam menimbulkan sensasi gatal di sekujur kulitnya.
“Asuuu gatel banget ini,” ucapnya sambil menggaruk lengannya.
“Eeh, ini kok leher ku jadi gatel juga.” Rieka menggaruk lehernya.
Sambil menyetir Rieka juga sibuk menggaruk-garuk leher, dan sekarang menuju wajahnya. Ia terus menggosok - gosok wajahnya yang semakin gatal dan panas. Kulit wajahnya yang putih mulus mulai menimbulkan sensasi celekit - celekit hingga membuat merah meradang.
“Brengseeekkk! ini semua gara - gara Azura dan dua kutu itu. Ibu dan anak sama - sama sampah!” Rieka berteriak dengan kencang di dalam mobil.
“Aku harus bilang ke Ben. Laki - laki bodoh itu harus membalas apa yang Azura lakukan ke aku. Aku ga akan tinggal diam atas semuanya.” emosi Rieka semakin tak terkendali.
Rieka telah tiba di parkiran gedung apartemen tempat tinggalnya bersama Ben. Ia emosi hingga tak melihat ada dinding di sana dan tidak sengaja menabrak dinding yang berada di belakang mobilnya.
“Ini dinding kenapa ada di sini sih!” rutuk Rieka lalu berkata dengan emosi, "kurang ajar nih dinding bikin emosi aja." Lalu keluar dari mobilnya.
“Yaa ampun bumper belakang mobilku remuk, setaaan!" rutuk Rieka kesal.
Saat Rieka mengeluarkan kata - kata kasar dan sumpah serapah. Datanglah salah satu petugas keamanan apartemen yang memeriksa keadaan di basement parkiran apartement.
“Selamat siang Bu,” ucap petugas apartemen.
“Apa! Kamu mau apa!” Rieka membentak petugas dengan mata melotot.
“Maaf Bu ada yang bisa saya bantu. Ada kejadian apa yaa Bu kok sampai bisa ini ada kejadian menabrak dinding apartemen?
“Aku tidak membutuhkan bantuanmu dan ini bukan urusanmu! Pergi sana!"
“Maaf Ibu. Ibu dari unit berapa?”
“Ibu… Ibu… emangnya kapan aku nikah sama bapakmu! Jaga mulutmu kalau bicara. Dasar ga tau sopan santun."
Petugas keamanan apartemen menyeritkan dahinya. Ia terkejut dengan kata - kata wanita yang terlihat tidak baik - baik saja.
“Apa! Dindingmu ini ga lecet kan ga rusak kan, tapi yang rusak malah bumper mobilku. Kalian sengaja yaa menaruh dinding di belakang mobilku! Mau sengaja menjadikannya proyek uang yaa buat orang suruh ganti rugi!” Rieka berteriak - teriak bagaikan orang kesurupan.
Mulut petugas ternganga. Ia tak habis pikir ucapan wanita tersebut yang mengatakan kalian sengaja menaruh dinding di belakang mobilnya. Bagaimana mungkin dinding bisa tiba - tiba muncul, sedangkan bangunan apartemen sudah memiliki konstruksi seperti itu dari awal.
Sepertinya wanita ini stress. Rambutnya saja berantakan kayak ga pernah sisiran, wajahnya itu merah - merah, emosinya tak terkendali. Dari tadi bicara udah kayak orang kesurupan. Petugas keamanan berkata dalam hatinya.
“Bu sebaiknya kita bicara di kantor manajemen saja dari pada di sini,” ucap petugas keamanan.
“Ga usah! Aku ga perlu bicara sama orang kayak kamu. Aku mau balik ke unit ku saja.”
“Maaf Bu. Kalau memang ibu merasa dirugikan dan ingin meminta kompensasi dengan konstruksi apartemen bisa melalui manajemen gedung agar diselesaikan semuanya.”
“Heh! Apa dinding itu merasa dirugikan? Lihat baik - baik tuh dinding ga ada luka ataupun lecet jadi manajemen gedung ga usah banyak cincong. Seharusnya aku yang merasa dirugikan, dindingnya udah kayak sulat apa tiba - tiba di situ.”
Petugas keamanan makin tak percaya lagi dengan apa yang didengarnya. Ia semakin yakin kalau wanita yang terlihat berantakan dan tak karuan tersebut mengalami gangguan jiwa.
“Sudah sana pergi! Aku level bicara sama orang rendahan. Pergi sana, pergi!” tatapan Rieka merendahkan petugas keamanan.
Merasa direndahkan membuat petugas keamanan tersinggung. Ia memang orang kecil dan bekerja keras demi sesuap nasi untuk menafkahi keluarga, tapi apakah layak diperlakukan seperti ini.
“Bu memang saya tidak sebanding dengan para penghuni apartemen. Ibu yang terlihat seperti orang berpendidikan dan memiliki banyak uang seharusnya bisa menghargai orang lain.”
“Idiih, orang miskin kok sok bijaksana.” Rieka segera berbalik dan pergi dari hadapan petugas keamanan.
Petugas keamanan hanya bisa mengelus dadanya. Berusaha untuk tetap bersabar, ia menganggap wanita tersebut memang sedang mengalami gangguan jiwa dan tidak memiliki etika yang baik.
Sepanjang perjalan masuk ke dalam gedung apartemen mulut Rieka tak henti - hentinya mengeluarkan sumpah serapah dan kata - kata makian. Ditambah lagi ada beberapa orang yang memperhatikannya semakin membuatnya meradang. Ingin sekali ia melabrak dan mencaci maki orang - orang yang menatapnya aneh.
Rieka memasuki lift untuk segera menuju penthouse tempatnya tinggal bersama Ben. Ia ingin segera masuk unitnya dan membersihkan diri. Ia melirik kaca yang ada di dalam lift. Penampilannya benar - benar tidak beraturan, rambutnya berantakan akibat jambakan Azura dan wajahnya yang tadi putih mulus tak ada noda malah merah - merah dan bengkak.
“Kenapa aku jadi begini,” ucap Rieka tak percaya lalu berkata, “ini semua gara - gara iblis betina dan kutu-kutu kupret kecil sialan! Mereka harus dapat balasannya.” Ia semakin dendam pada Azura dan anak kembarnya.
“Untung Ben belum pulang ngajar di kampus. Kalau Ben lihat aku begini bisa ga sayang lagi. Aku harus selalu tampil cantik.”
Setibanya Rieka di dalam unit apartemennya. Ia menuju kamar mandi untuk membersihkan badannya yang lengket. Ia menghidupkan keran air dan merasakan sensasi hangat dari buliran - buliran air panas yang keluar dari shower. Air mata terjatuh di pipinya dan ia terjatuh di lantai.
Tubuhnya terasa lelah. Sudah berbagai cara ia lakukan demi mendapatkan Ben. Dari menggoda Ben yang dulu merupakan pelanggan di tempat karaoke ia bekerja sebagai pemandu lagu di sana hingga berhasil menjadi wanita simpanan Ben.
“Aku lelah, aku sangat lelah. Kenapa Azura selalu mengganggu hidupku,” ucapnya menangis sendirian di dalam kamar mandi.
Rieka menjambak rambutnya dengan frustasi. Kelelahan melandanya. Ben tidak kunjung juga menikahinya padahal sudah bercerai dari istrinya, Azura. Mungkinkah Ben masih mencintai Azura?
Setelah membersihkan dirinya dari garam yang membuat tubuhnya lengket. Ia menatap cermin. Wajahnya bengkak dan meradang. Ada beberapa bagian sela - sela hidung, dagu, pelipis matanya terkelupas dan memerah, ia merasa kalau kulit wajahnya iritasi. Ia masih menatap cermin dengan sedih.
Dengan kesal Rieka duduk di sofa ruang tamu. Ia menunggu Ben yang akan segera pulang dari kampus. Tak lama orang yang ditunggunya datang juga. Lelaki yang telah menjadi kekasihnya malah menatapnya dengan heran.
“Kenapa? Kenapa kamu melihat aku kayak gitu?” tanya Rieka sambil berteriak emosi.
“Kamu kenapa kok marah - marah. Seharusnya aku pulang itu disambut dengan senyuman bukannya malah emosi ga karuan seperti itu, Rieka,” ucap Ben menatap Rieka kesal.
Ben sangat lelah. Setelah lelah bekerja seharian sebagai dosen di universitas negeri terbaik di Semarang dan sibukan dengan materi perkuliahan malah mendapatkan sambutan yang tidak menyenangkan. Ia ingin pulang ke apartemen melepas segala penat dan berharap disambut senyuman manis kekasihnya malah mendapatkan teriakan emosional dari Rieka.
“Kamu kenapa sih, Rieka? Kamu lagi stress ya.” Ben berkata sambil menahan emosinya.
“Nah, ini nih laki - laki kurang ajar. Malah kamu bilang aku stress. Mulutmu memang tak sesuai dengan pekerjaanmu yang seorang dosen. Kelakuanmu juga ga bertanggung jawab,” ucap Rieka.
“Rieka! Jaga ucapanmu!” Ben mulai tersulit emosinya. Ia menatap Rieka. “Kamu kenapa? Aku ga tau apa masalahmu kalau hanya marah - marah dengan segala ucapanmu yang kasar itu.”
“Ini semua gara - gara kamu!”
“Aku kenapa? Eh itu kenapa wajahmu kok bengkak, terkelupas, dan merah - merah?”
Bukan jawaban yang keluar dari bibir Rieka, tapi malah raungan menangis. Rieka menangis sambil berteriak - teriak tak karuan dengan berkata - kata kasar, ia sangat marah dan kesal sampai menangis.
Ben menjadi tidak tega dengan keadaan Rieka dan membawa wanita yang dicintainya ke dalam pelukannya. “Kenapa sayang? Katakan apa yang membuatmu jadi seperti ini. Aku akan mendengarkan semua keluh kesahmu,” ucap Ben lembut.
Dengan beruraian air mata Rieka menceritakan apa yang telah dialaminya. Azura telah menganiaya dirinya hingga membuatnya malu, dari mantan istri dan anak - anaknya Ben yang memperlakukannya bagaikan sampah. Semua perkataan Azura yang kasar sampai menyumpahinya mendapatkan karma atas segala perbuatannya.
"Pasti ada alasan kenapa Azura seperti itu. Walaupun sekarang dia sudah berbeda, tapi tak mungkin dia melakukannya tanpa sebab," ucap Ben heran.
"Jadi Mas ga percaya sama aku! Mas meragukan aku! Aku ga melakukan hal yang buruk ke Azura, Mas. Kenapa sih Mas kok kamu juga jahat sama aku." Rieka menangis sambil memegang dadanya.
"Maafkan aku, Sayang. Aku percaya sama kamu, tapi kenapa kamu ke rumah Azura?"
"Aku ke sana hanya ingin bertemu Angela dan Angelo, Mas. Bagaimanapun mereka anak - anak kamu, aku juga ingin dekat dengan anak kamu, Mas."
"Yaa ampun Sayang. Kamu memang wanita yang sangat baik."
"Maaf Mas. Aku bukannya sok baik ataupun sok perhatian. Aku benar - benar tulus ingin berbuat baik ke anak - anakmu walau tidak mendapatkan sambutan yang baik dari Azura, bahkan Angela dan Angelo terpengaruh sama Azura. Azura jahat banget sama aku, Mas."
Sambil menatap Ben, Rieka menceritakan kalau Azura yang menamparnya bukan hanya sekali, tapi dua kali, mendorongnya hingga ia terjatuh di lantai. Ia heran entah kenapa Azura memperlakukannya secara kasar padahal ia tidak melakukan apapun ke Azura sampai Angela yang menyiramkan air ke tubuhnya dan Angelo yang menyiram garam padanya. Wajahnya yang meradang dan memerah ini semua yang melakukannya adalah Azura.
“Dasar Azura wanita yang tidak tau diri! Berani - beraninya dia memperlakukan kamu seperti ini!” Ben berkata dengan marah.
Rieka tersenyum licik saat mendengar perkataan Ben yang marah pada Azura.“Iya Mas. Azura jahat sekali ke aku. Dia keterlaluan Mas. Kasian Angela dan Angelo yang diperalatan Azura." Rieka terus menangis tersedu - sedu sambil memprovokasi Ben.
“Kamu tunggu di sini. Aku akan menemui Azura dan memberikannya pelajaran pada wanita laknat tersebut."
“Jangan sekarang Mas." Rieka menggelengkan kepalanya perlahaan. "Aku ga ingin Mas ke sana. Aku membutuhkanmu, Mas dan sekarang hanya ingin berada dipelukanmu. Aku sangat - sangat membutuhkanmu, Mas hanya kamu."
Ben yang tidak sampai hati pada Rieka memeluk kekasihnya. Mencoba menghibur wanita yang dicintainya.