16

1516 Words
Betapa terkejutnya Azura saat Rieka yang berdiri di hadapannya memberikan tamparan di pipinya. Ia tak pernah menyangka kalau wanita yang telah menjadi perusak rumah tangganya datang sambil marah - marah di rumahnya. Untuk sesaat Azura terdiam. Ingin sekali ia membalas tamparan Rieka, tapi mengingat Angela dan Angelo ia mengurungkan niatnya. Tak baik untuk anak kecil melihat adegan yang tidak sesuai umur mereka. “Heh! Dasar pelakor ngapain kamu ke rumah saya?” mata Azura menatap Rieka dengan marah. “Kamu ngapain ke rumah mertua saya! Kamu bukan siapa - siapanya Ben lagi dan jangan gunakan dua kutu sampah itu.” Rieka menunjuk Angela dan Angelo, “sebagai tameng untuk bertemu suamiku!” Plak! Azura mendaratkan tangannya ke pipi Rieka. Siapapun boleh menghina dirinya, tapi jangan anak - anaknya! “Jaga mulut kotor kamu, Rieka! Aku tidak akan membiarkan kamu atau siapapun mengatakan hal buruk tentang anak - anakku.” Plak! Azura kembali menampar pipi Rieka untuk kedua kalinya. “Anakku ada dua jadi aku menamparmu dua kali. Apa yang kamu lakukan dulu dan sekarang ke aku akan mendapatkan balasan dua kali lipat. Suatu hari entah itu kapan kamu akan merasakan yang lebih sakit dari apa yang aku rasanya.” Rieka memegang pipi kanannya yang terasa panas. Rasa sakit, perih mengalir di aliran darahnya hingga membuat wajahnya yang putih bersih memerah. Ia sangat marah mendengar kata - kata yang terucap oleh Azura, walaupun ia merupakan orang ketiga dalam mahligai rumah tangga wanita di depannya, tapi tidak ada dirinya jika sang suami bisa tetap menjaga kesetiaannya. “Azura, aku peringatkan kamu untuk yang kesekian kalinya. Kamu jangan pernah mengganggu hubunganku dengan Ben. Move on dong! Cari sana laki - laki yang mau sama kamu, jangan kegatelan ganggu suami orang,” ucap Rieka emosi. Mulut Azura teranganga, matanya membulat. Ia tak percaya dengan ucapan yang keluar dari bibir Rieka. Apakah wanita ini hilang ingatan? Siapa yang jadi korban dan siapa pula yang jadi tersangka? “Apa kamu masih waras? Atau kamu amnesia? Atau malah kamu pura - pura gila?” tanya Azura tak percaya. “Kurang aja kamu bilang aku gila! Kamu yang gila!” “Hahaha, maafkan aku yang tertawa. Aku lucu saja mendengar kata - katamu. Aku sama sekali tidak mengatakan kamu gila. Kapan aku mengatakan itu?” “Kamu mengatakan aku ga waras, aku amnesia, aku gila.” Azura menggelengkan kepalanya. Ia tidak percaya wanita yang memiliki tubuh lebih tinggi darinya dan berkulit putih tersebut bisa membolak - balikan kata. “Hei, tante apa dulu sekolah pernah belajar bahasa Indonesia ga? Atau malah bolos sewaktu pelajaran.” Terdengar suara Angelo. Azura menatap putranya. Ia terkejut mendengar perkataan Angelo. Ingin sekali ia tertawa mendengar sarkasme yang dilontarkan anaknya tersebut. “Hei, kutu kupret. Kamu itu cuman kutu kalau ga ngerti tentang pendidikan ku sebaik diam atau aku kasih cabai mulut kecilmu itu,” ucap Rieka emosi. “Apa kamu lihat - lihat!” mata Rieka melotot menatap Angela. “Aduuuh sakiitttt.” Ia berteriak kencang saat rambut hitamnya yang panjang tertarik ke samping. Azura menarik rambut panjang hitam legam yang indah tersebut. Ia sangat marah jika Rieka menghina anak-anaknya. Walau sudah diperingatkan, tapi Rieka selalu saja tidak memperdulikannya. “Lepaskan aku. Sialan kamu, Azura,” teriak Rieka berusaha untuk melepaskan cengkraman tangan Azura dari rambutnya yang panjang. “Aku sudah bilang jangan pernah mengatai anakku kutu kupret, pelakor!” “Lepaskan! Kamu yang pelakor! Kamu yang menggoda suamiku.” “Suami dari mana! Kalian saja hanya kumpul kebo. Ben belum menikahimu. Dasar w****************a yang tak bermoral!" Rieka sangat marah bahkan lebih marah dari sebelumnya. Semakin Azura menghinanya, semakin ia ingin memberikan mantan istri dari kekasihnya pelajaran. Namun, apalah dayanya. Azura yang dulu dikiranya lemah dan tak berani melawan sekarang sudah berbeda. Wanita itu berani melawannya, berani membalas semua yang dilakukannya. “Lepaskan aku!” Rieka memegang rambutnya. Ia takut rambut panjang hitam legam menjadi rontok. Ia khawatir usaha dan kerja kerasnya merawat rambutnya agar menjadi indah bisa menjadi sia - sia. “Aku akan melepaskanmu asal kamu pergi dari rumahku. Rumahku terlalu suci untuk diinjak w****************a sepertimu!” “Menjijikan. Rumah suci dari mana, hah. Rumahmu saja jelek, kotor, bau. kecil mirip kandang kambing.” “Lebih baik rumahku dari pada cuman numpang di rumah orang lain seperti kamu. Dasar pelakor miskin yang bisanya menjadi benalu.” “Pantesan Ben ga betah memiliki istri seperti kamu. Perempuan ga ada attitude nya.” Emosi Azura semakin menjadi - jadi dan berimbas pada remasan di kepala Rieka semakin kencang membuat Rieka berteriak kesakitan. Rieka sudah tak tahan lagi lebih baik ia segera pergi dari rumah ini dari pada rambutnya yang indah menjadi botak. “Terus ma. Hajar aja terus!” Angela yang dari tadi hanya diam sangat kesal saat Rieka menghina rumah peninggalan neneknya. “Ok. Lepaskan aku akan pergi dari rumahmu yang menjijikan ini.” Akhirnya keluar kata menyerah dari bibir Rieka. Namun, harapan Rieka mendadak sia - sia. Angela berlari - lari membawa gayung bermotif polkadot berwarna biru menyiramkan air ke tubuh Rieka. Dengan reflek Azura melepaskan cengkram tangannya dari rambut Rieka. Rieka yang tak siap dengan apa yang telah terjadi menjadi limbung dan terjatuh terduduk di lantai. “Anak dan Ibu sama aja! Kalian manusia - manusia sampah!” Rieka berteriak sambil memegang pantatnya yang kesakitan. Ingin rasanya Rieka menangis. Sudah pipinya ditampar dua kali, rambutnya dijambak dengan kasar oleh Azura, dan sekarang disiram air oleh Angela. Ia tak bisa memaafkan perlakuan kasar dan tak bermoral mereka. “Sampah malah bilang sampah! Dasar kotoran,” balas Azura tak mau kalah. Tiba - tiba Angelo menyiramkan garam ke tubuh Rieka. Hal tersebut spontan membuat Rieka berteriak lagi. Ia tak menyangka di siram garam ke tubuhnya. Keadaannya yang basah malah membuat garam menempel. “Pergilah kuntilanak! Pergilah setan.” Angelo kembali menyiramkan garam. Kali ini Rieka sudah tak tahan lagi. Tadi tubuhnya dan sekarang wajahnya disiram garam. Ia tak bisa wajahnya yang putih mulus kena garam dapur yang asin bisa - bisa perawatan skin care nya yang mahal rusak oleh garam dan malah jadi iritasi. “Aku ga tahan dengan keluarga gila ini. Aku ga tahan.” Rieka langsung berdiri dan pergi dari rumah Azura dengan marah. Terdengar suara gelak tawa manusia - manusia yang sangat dibencinya. Bagi Rieka suara Azura terdengar seperti nenek sihir yang lagi tertawa jahat. “Kalian memang anak - anak yang luar biasa,” puji Azura menatap Angelo dan Angela. “Iya dong Ma. Kami akan siapa membantu mama mengusir perempuan itu,” ucap Angela dengan bangga. “Ela, kamu kok bisa punya ide cemerlang menyiram air ke Rieka? Dan Elo nih kok bisa kamu siram garam.” “Kalau Ela ga tau ma. Pokoknya mau siram aja berisik banget,” ucap Angela polos. “Hahaha, kamu memang putri mama yang pintar dan kamu, Elo?” “Aku pernah lihat di youtube tentang menabur garam agar ular ga masuk rumah,” ujar Angelo dengan santai. “Tapi itu kan mitos, Nak dan belum tentu benar.” “Mau mitos atau fakta yang penting bisa mengusir pacar papa.” Azura tak menyangka kalau putra putrinya menjadi begitu kreatif. Ia tak bisa menyalahkan mereka yang membela ibunya, tapi itu lebih baik dari pada Rieka tidak pergi - pergi dari rumahnya. Ia pun memeluk Angelo dan Angela secara bergantian. “Terima kasih yaa Ela, Elo sudah membantu mama,” ucap Azura dengan mata berkaca - kaca. “Apapun demi membela mama akan kami lakukan,” ujar Angelo. Begitu juga dengan Angela yang menganggukan kepalanya menyetujui perkataan Angelo. “Sudah mama jangan nangis terus. Mama ga boleh cengeng kayak Ela. Mama hebat dan pasti akan menjadi seorang ibu yang terhebat.” ****** Malam harinya. Angela dan Angelo sudah tertidur lelap di atas tempat tidur. Keadaan malam yang sepi semakin terasa sepi saat tak ada canda tawa, pertengkaran, dan keceriaan anak kembarnya. Ia membutuhkan ketenangan agar bisa kembali menulis walau ia sangat lelah dengan situasi yang ada. Azura merasa sangat lelah. Ia lelah dengan keadaannya, Ben dan Rieka yang seakan tak pernah berhenti untuk mengganggunya, terutama Rieka. Wanita tersebut terus menerus menuduhnya dan Ben memiliki hubungan lagi. Jangankan berhubungan dengan Ben, mendengar namanya saja ia sudah ingin muntah. “Sepertinya aku harus pindah dari Semarang,” ucap Azura. “Tapi pindah ke mana?” Azura jadi bingung sendiri. Saat Azura sibuk dengan pemikirannya. Dering ponselnya berbunyi. Ia melihat layar ponsel tertera nama Kakek Sugito. “Kenapa Pak Sugito telepon ya?” Azura merasa aneh sendiri. “Angkat ga ya.” Ponselnya kembali berbunyi. Walaupun enggan ia pun terpaksa mengangkat telepon mantan mertuanya. “Halo Pak Sugito,” sapa Azura dibalik telepon. “Halo Azura. Bisakah kita bertemu hari ini atau saya yang ke rumahmu?” tanya Sugito. “Maaf Pak ada urusan apa ya mau bertemu sama saya.” “Ini mengenai cucu - cucu saya. Saya ingin berbicara serius denganmu.” “Baik Pak. Kita bertemu di luar saja. Situasi di rumah sedang tidak memungkinkan.” “Iya Azura.” Azura memberikan alamat salah satu restoran pada mantan mertuanya tersebut. Jika sudah menyangkut anak - anaknya pasti ia akan menyanggupi pertemuan dengan siapapun.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD