Nino duduk di sisi ranjang, mengamati wajah wanita itu lekat yang terlihat pucat. Cairan infus masih mengalir melalui selang kecil yang diharapkan membantu Lana untuk memulihkan kondisi tubuhnya. Dua sahabat itu hanya saling tatap setelah dokter yang memeriksa kondisi Lana pergi beberapa puluh menit lalu. Sesekali diselingi dengan kedatangan beberapa suster yang menanyakan ini-itu lalu setelahnya kembali hening. Bukan karena kehabisan topik pembicaraan, Nino hanya sedang memberi waktu pada Lana untuk menceritakan apa yang terjadi hingga membuat dirinya masuk rumah sakit seperti ini. Berharap kini Lana mau menceritakannya tanpa perlu ditanya. Tapi sepertinya Nino keliru, wanita itu tetap memilih bungkam meski ia tahu Nino sedang menunggunya bicara. “Mau makan sesuatu? Dokter bilang kamu h

