Part 7

1156 Words
Irish cukup terkejut ketika ia bangun pagi ini dan melihat Daren masih ada di apartemennya. Awalnya ia mengira, Daren akan langsung pulang malam kemarin. Irish membetulkan riasan rambut bergaya messy bun yang ia tata sebelum ia akan keluar dari apartemennya. “Irish.” Irish menghela napas ketika Daren memanggilnya. Tangannya yang sudah memegang knop pintu, tertahan di udara. Irish menoleh ke belakang. “Aku memasakkan bekal untukmu.” Irish melihat kotak makan yang diberikan Daren. Sebenarnya, ia tidak ada niatan sama sekali untuk menerima kotak makan itu, namun demi menghargai Daren—yang mana belum tentu Daren juga menghargainya—Irish menerima pemberian itu. Tanpa berkata apapun, Irish pergi dari sana dengan kotak makan yang ia bawa. “Sampai jumpa nanti—” Daren terdiam di depan pintu apartemen Irish, begitu juga Irish sendiri. Mereka sama-sama memperhatikan wanita dengan perut besar di hadapan mereka dengan sama terkejutnya. “Daren,” ucapnya. Irish yang biasanya bisa menutupi ekspresinya dibalik wajah dinginnya, kini tidak bisa menyembunyikannya. Irish menoleh pada Daren dan wanita itu secara bergantian. “Siapa kamu?” tanya Daren seraya menunjuk wanita itu. Irish mengerutkan dahi tidak suka dengan perilaku Daren. “Aku....Aku...” Wanita itu menatap Irish takut. Ia menunduk dan mengusap perut besarnya. “Aku Davina. Kamu lupa?” Wanita yang bernama Davina itu mendekat ke arah Daren dan memegang tangannya. Daren langsung menepisnya. Melihat itu, Irish menghela napas dan berdecak pelan. Sepertinya ini akan menjadi drama baru yang kesekian kalinya dalam hubungannya dengan Daren. “Ini anak kamu, Daren.” Jangan mengira Irish akan pingsan dan mengamuk saat mendengar itu. Astaga, bahkan Irish tidak begitu terkejut. Irish hanya melihat bagaimana drama ini berlangsung. “Jangan bercanda!” Ayolah Daren, jangan mengelak. Irish sudah tau kebenarannya. Bukannya ia bermaksud untuk berprasangka buruk pada Daren, tapi karena ini bukan kejadian pertama kali—lebih tepatnya, mungkin kedua kalinya, Daren ketahuan menghamili anak orang lain—Irish tidak terlalu terkejut. Bahkan, tidak sama sekali. “Aku—aku hanya ingin kamu tahu, Daren. Aku tahu kamu sudah bertunangan, tapi—tolong jangan lupakan anak kamu...” Davina melirih dan terisak. “Itu bukan anak aku!” “Kamu hanya lupa, Daren. Tapi, aku tidak berbohong.” Jika sudah begini, Irish malas menanggapi. Jadi, ia lebih memilih untuk segera pergi dari sana, bukannya ia cemburu dan marah pada mereka, hanya saja, Irish sudah tau akan seperti apa akhirnya. Sudahlah, Irish sudah berpengalaman untuk menghadapi hal yang seperti ini. “Irish!” Sialnya, Daren Biadab dan Tidak Tahu Malu ini malah mengejarnya. Irish diam saja saat Daren menahannya. Tatapan matanya datar dan tidak menunjukkan emosi apapun. Iya, bahkan ia tidak merasakan apapun. Ia sepertinya sudah mati rasa. “Selesaikan urusanmu, Daren. Aku tidak peduli.” “Irish, aku bisa jelaskan.” “Tidak perlu, aku mengerti.” Irish tersenyum tipis. Hanya untuk memojokkan Daren dan pergi dari sana, bahkan tangannya masih memegang kotak makan pemberian Daren—menandakan bahwa ia sama sekali tidak merasa amarah pada pria itu. *** Jarak apartemennya dengan kantornya cukup jauh, tapi karena Irish terlalu malas untuk mengemudikan mobil di saat mood-nya sedang tidak baik karena Daren dan sikap bejatnya, Irish memutuskan untuk menggunakan bus saja. Irish berjalan ke halte dan menunggu bus di sana. Irish memikirkan nasib wanita itu dan anak dikandungannya. Pasti akan sangat berat menghadapi kehidupan dimana dia akan sendiri dan semua orang akan menganggapnya murahan. Pasti akan sangat sulit. Kasihan sekali wanita itu harus terjebak oleh buaian Daren—si Manja yang hanya tau bagaimana cara menghabiskan uang milik orangtuanya, gemar menabur benih dimana-mana, dan sudah dipastikan, Daren tidak bersih. Sepertinya sebelum mereka menikah nanti, ia harus mengetes apakah Daren memiliki HIV/AIDS atau tidak. Tanpa sadar, Irish menghela napas lagi. Tatapan datarnya menatap ke jalanan yang dipenuhi kendaraan pagi ini. Jika saat masih tunangan saja, Daren berani untuk berkali-kali selingkuh bahkan menghamili anak orang lain, bagaimana saat mereka menikah nanti? Apa Daren akan menikah berkali-kali dan menganggap Irish hanya sebagai pajangan untuk memperoleh kekuasaan yang dimilikinya. Untuk diketahui saja, Irish tidak peduli. Bahkan setelah mereka nanti, Irish tidak akan memedulikan Daren. Mereka akan bersikap seolah pernikahan mereka bukan apa-apa, dan Irish tidak masalah dengan itu. Sungguh. Dia akan baik-baik saja. Memikirkan Daren membuat kepalanya pusing. Irish menghela napas (lagi). “Kamu tidak apa-apa?” Irish menoleh pada seseorang yang menanyakan hal itu padanya. “Hm?” tanyanya tidak mengerti. apa terlihat sekali bahwa Irish sangat desperate? “Sepertinya hidupmu sangat berat,” ucap perempuan yang duduk di sampingnya itu. Dari pakaiannya, sepertinya dia anak SMA. Seharusnya ia marah karena berani sekali seorang pelajar SMA mengatakan hal sembarangan padanya walaupun tidak sepenuhnya salah. Tapi, Irish memilih untuk tersenyum. “Hm, tidak juga.” Irish tersenyum pada perempuan itu. Tidak mungkin juga ia mengatakan pada orang asing bahwa tunangannya sering selingkuh dan pagi tadi, wanita yang tidak sengaja dihamili olehnya akhirnya menghampiri mereka. Perempuan itu mendekat ke arahnya dan mengulurkan tangannya. “Alissa.” Irish sempat bingung kenapa tiba-tiba bocah ini mengenalkan diri padanya, namun melihat wajahnya yang sangat polos dan terkesan datar—sama sepertinya—Irish tidak tega untuk menolak, ia memutuskan untuk membalas uluran tanganya. “Irish.” Alissa mengangguk. “It’s a bad day not a bad life. Mungkin pagi harimu buruk, tapi tidak dengan hidup kamu.” Setelah mengatakan itu, Alissa tersenyum lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke bus yang sudah berhenti di depan mereka—Irish masih melongo, karena ucapan itu sama dengan ucapan seorang pria yang kemarin dikatakan padanya. Aarav. Tiba-tiba Irish memikirkan pria itu. Bahkan ia lupa ia akan naik bus dan akibatnya, bus itu sudah berjalan di hadapannya. Pagi ini, sangatlah drama. *** Irish masih memegang kotak makan yang diberikan Daren saat ia tiba di taman kota yang sedikit ramai pagi itu. Iya, seharusnya Irish pergi ke kantornya sekarang, mungkin sekretarisnya sudah kelabakan dengan ketiadaannya dan harus mengatur ulang jadwal yang sudah ia susun. Namun, untuk sekali ini saja, Irish ingin bolos dari kantor dan akan kembali saat makanan yang dibawanya sudah habis. Ini terdengar aneh, tapi entah kenapa Irish merasa pagi ini dia bukan dia. Maksudnya, seharusnya Irish tidak menerima kotak pemberian Daren dan terus membawanya sampai sekarang, bahkan memakan isinya, harusnya Irish buang saja di depan pria itu. Lalu, harusnya ia membawa mobilnya, bukan memilih untuk naik bus—yang bahkan ia lewatkan—dan berjalan kaki ke taman kota. Ini sangat bukan dirinya. Setelah termenung begitu lama, Irish mulai membuka kotak makan yang diberikan Daren. Ternyata pria itu hanya membawakan nasi goreng. Irish tidak terkejut, memangnya apa yang bisa dimasak oleh anak manja seperti Daren? Nasi goreng sepertinya satu-satunya masakan yang bisa ia masak. “Irish?” Irish menoleh saat seseorang memanggilnya. Pria itu lagi. Pria yang pagi ini secara random memasuki pikirannya. Dengan wajah yang terlihat menenangkan saat dilihat dan senyuman khasnya, pria itu tersenyum padanya. Rambutnya masih sama acak-acakannya seperti terakhir mereka bertemu. “Aarav.” Tanpa sadar, Irish tersenyum. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD