Part 6

1140 Words
Saat Irish mengiyakan ajakan Aarav untuk mampir sebentar demi secangkir kopi instan, yang dipikirkan Irish hanyalah--ia ingin untuk sementara melepaskan bebannya dan bercengkrama dengan orang asing yang bahkan belum terlalu ia kenal. Satu yang pasti, ia tahu Aarav adalah orang baik. "Ini," ucap Aarav seraya memberikan kopi pada Irish. Irish mengangguk. Keheningan menemani mereka selama Irish menikmati kopi dengan harga yang tidak seberapa dibandingkan kopi yang biasa ia pesan walaupun rasanya tidak jauh berbeda. "Irish." Irish menoleh ketika Aarav memanggilnya. Wajahnya datar dan membuat Aarav gugup. "Tadi, apa yang kamu lakukan di taman sendirian?" Apa pertanyaan Aarav sangat cringe? Apa dia menyinggung wanita itu? Apa pertanyaannya tidak sopan? Astaga. Aarav overthinking, karena Irish terdiam dan tidak menanggapi Aarav untuk beberapa menit. "Menenangkan diri." Akhirnya, Aarav bisa bernapas lega ketika wanita itu menjawabnya. Aarav mengangguk-angguk. "Sudah tenang sekarang?" Aarav bertanya dengan senyuman manis yang ia punya. "Hm?" tanya Irish tidak mengerti. "Bagaimana perasaanmu sekarang? Perhaps, you have a bad day today. Well, sekarang bagaimana?" Bolehkah Irish tersenyum senang sekarang? Karena ini pertama kalinya seseorang menanyakan perasaannya. Tidak. Irish tidak tersenyum. Ia tetap menampilkan wajah datarnya. "Hidupku akan selalu dipenuhi hari-hari buruk, Aarav," ucap Irish dingin. Iya, hidupnya akan selalu seperti ini. Oh, bahkan Irish sangsi bahwa ini adalah hidup miliknya. Irish merasa hidupnya bukan milik dia karena dia selalu diatur. "It's a bad day, Irish. Not a bad life." Irish berdecak. Ia menyeruput kopinya sebelum membalas, "Kamu hanya tidak mengerti." Aarav mengangguk. Memang, ia dan Irish tidak dekat. Mana mungkin Aarav akan tahu tentang kehidupan Irish. "Kamu bisa cerita padaku." Irish langsung menoleh pada Aarav dan melayangkan tatapan tidak mengerti. Sepertinya Aarav salah ngomong. "Maksudnya..." "Kita hanya orang asing, Aarav. Untuk apa aku berbagi cerita sama kamu?" Benar. Aarav melewati batas. "Maaf." Hanya itu yang bisa Aarav katakan. Irish mengambil tas yang ia simpan di depannya dan bangkit dari duduknya. "Terimakasih kopinya." Irish berujar datar. Aarav kelabakan, tidak boleh seperti ini. Masih banyak yang ingin ia katakan dengan Irish. Mulut sialannya membuat Irish tidak nyaman dan pergi. Aarav menahan  pergelangan tangan Irish. "Tunggu." Irish diam menatapnya. "Apa kita masih bisa bertemu lagi?" Irish tersenyum. Hanya senyuman itu, dan ia melepaskan pegangan tangan Aarav, meninggalkannya tanpa sepatah katapun. *** Aarav menyusuri jalanan pertokoan yang sepi tengah malam itu. Pikirannya dipenuhi oleh ucapan dan tindakannya yang terlalu bodoh dan membuat Irish pergi. Walaupun Aarav tidak tahu alasan jelas kenapa Irish tiba-tiba pergi. Satu yang ia tahu, pasti karena ucapannya yang semberono. Aarav sampai di rumahnya yang sudah gelap. Selama tiga belas tahun terakhir, ia tinggal bersama dengan adik perempuannya karena orangtuanya sudah tiada. Sejak umur dua puluh tahun, Aarav sudah menjadi pekerja keras dan rela keluar dari perkuliahannya untuk menghidupi dirinya dan adiknya yang saat itu baru berumur lima tahun. Ah, sudahlah. Jika diceritakan, rasanya seperti hidup Aarav sangat menderita. Walaupun sepertinya begitu, tapi Aarav sangat menyukai kehidupannya sekarang. Jadi, tidak ada yang perlu ditangisi atau dikasihani. Pria itu melihat adiknya sudah terlelap di kasur lapuk milik mereka. Satu-satunya tempat tidur di sana. Aarav tersenyum dan mengusap rambut adiknya. Gerakannya membuat Alissa, adiknya, terbangun. “Hm?” Ia bergumam dan melihat Aarav dengan muka bantalnya. “Ganti dulu bajumu, Sa.” Alissa masih memakai seragam sekolahnya dan tidak sengaja tertidur di atas buku tugasnya. Alissa bergumam lagi dan menuruti perintah kakaknya. Aarav memperhatikan Alissa yang telaten membereskan tugas-tugasnya. “Jam berapa tadi pulang?” “9.” Aarav terkejut. Untuk apa adiknya ini pulang selarut itu? “Kenapa? Kerja kelompok?” Alissa menggeleng. “Aku bekerja.” Aarav berdecak. “Kakak sudah bilang, Alissa. Biar Kakak saja yang bekerja untuk kita—” Alissa mengeluarkan beberapa uang berwarna merah dari kantong seragamnya. “Aku ganti uang yang aku pakai untuk beli merch waktu itu.” astaga, itu lagi. Padahal Aarav sudah mengatakan bahwa itu tidak apa-apa. Beberapa bulan lalu, adiknya mengatakan ingin membeli merch boyband grup asal Korea Selatan. Aarav tidak tau merch apa, dan karena ia kasihan dengan adiknya yang selama ini hidup dalam keadaan prihatin, akhirnya ia membelikannya. “Alissa.” “Kakak, ini hasil kerja kerasku. Kamu tidak mau menghargainya?” Terpaksa. Ingat, terpaksa—Aarav menerimanya. “Terimakasih. Tapi, janji, ini terakhir kali kamu bekerja.” Aarav kembali berdecak. “Harusnya kamu fokus untuk ujian akhir dan ujian masuk universitas, Alissa.” “I do study. Tidak perlu khawatir.” Aarav tersenyum. Ia mengelus rambut Alissa. “Terimakasih.” Alissa mengerutkan keningnya tidak mengerti. “Untuk apalagi?” “Untuk semuanya.” Walaupun, mereka jarang berkomunikasi dan hanya sesekali bercengkrama seperti ini, tapi Aarav tahu, mereka saling menyayangi. Hanya Alissa yang Aarav punya dan sebaliknya. Semuanya akan baik-baik saja selama mereka bersama. Saat Aarav akan memeluk Alissa, Alissa mendorong d**a kakaknya. Ia berdecak, “Tidak perlu berlebihan.” Alissa memberenggut. Padahal, Aarav yakin bahwa adiknya hanya malu saja. Aarav tertawa. Kebahagiaan mereka sederhana. *** Irish sampai ke apartemennya dan terkejut ketika Daren sudah ada di ruang tv-nya dengan beberapa snack seraya menonton acara tv. Irish menghela napas. Ia lelah dan ingin tidur, kenapa mahluk biadab ini selalu muncul ketika Irish merasa lelah seperti ini? “Irish?” Daren terkejut saat Irish akan masuk ke kamarnya tanpa berniat menyapa Daren. “Aku tidak tahu kamu datang,” ucapnya dan menahan pergelangan tangan tunangannya. Irish tetap diam. Ia tidak berniat untuk menjawab Daren. “Sayang, kamu tidak mau menyapaku?” Daren memegang pipi Irish dan membuatnya menolehkan pandangannya. Tidak. Tidak sama sekali. “Selamat malam,” ujar Irish dingin. Ia bisa melihat perubahan mimik muka Daren menjadi masam. Ayolah, bahkan anak kecil pun tahu bahwa di antara mereka tidak akan ada cinta sedikitpun. Daren tidak perlu berusaha keras untuk mendapatkan hati Irish, karena itu tidak mungkin. Seumur hidupnya, Irish tidak akan menyukai Daren—bahkan setelah mereka menikah nanti, Irish tidak akan menyukai pria itu. “Irish.” Daren memeluk pundaknya dari belakang ketika Irish akan pergi. Irish membeku di tempat. “Aku...merindukanmu.” Pria ini pasti sedang bercanda. Irish tetap diam tanpa niat untuk membalas perkataan Daren. Tiba-tiba, ponsel Daren yang disimpan di nakas yang ada di samping mereka, berdenting. Perhatian keduanya tertuju pada ponsel itu. Aku juga akan sangat merindukanmu, Sayang. Berkunjunglah lain kali. Kita akan bersenang-senang lagi, aku janji. Irish mendengkus. Good job. Ia sangat berterimakasih pada notif ponsel Daren dan siapapun yang mengirim pesan. Irish melepaskan pelukan Daren pelan. “Sepertinya rasa rindumu sudah terbalaskan. Jangan asal mengatakan itu pada sembarang orang, Daren. Tadi kamu mengatakannya pada orang yang salah; bukan aku, tapi selingkuhanmu itu.” Perempuan itu entah selingkuhan Daren yang keberapa. Irish tidak menghitung dan ia tidak peduli. “Irish.” Daren memanggilnya, tapi Irish pura-pura tidak mendengar. Bukannya cemburu, Irish hanya bosan dengan tingkah Daren yang akan pura-pura bersalah jika ketahuan, padahal Irish yakin anak manja itu tidak pernah bersungguh-sungguh. Irish menutup pintu kamarnya dan menguncinya tepat di depan wajah Daren. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD