Aarav pulang malam ini setelah Rudy mengatakan dia akan menggantikannya berjaga. Saat di perjalanan pulang menuju kontrakan di rumah susunnya, tidak sengaja Aarav bertemu pria-pria berbadan besar, yang Aarav tau, mereka adalah penagih hutang sewa kontrakannya yang sudah menunggak 5 bulan.
"Sialan," lirih Aarav. Harusnya pemilik kontrakannya tidak perlu menyuruh orang untuk melakukan ini. Ayolah, bisa dibicarakan baik-baik dan tidak perlu ada kekerasan.
"Aarav!" Baru saja Aarav berbalik dan akan kabur dari sana, namun sepertinya ia sudah ketahuan lebih dulu.
Aarav berdecak kesal. Ia berbalik kembali dan tersenyum cengengesan pada kedua pria itu. "Aku tau siapa kalian," ujarnya seraya berjalan mundur karena dua pria itu berjalan mendekat dengan wajah yang tidak bersahabat.
"Aku sudah berjanji untuk bayar minggu ini."
Pria dengan tatto di lengan kanannya berdecak. Ia tau Aarav selalu berbohong.
"Aku serius. Ayolah, Man, nggak usah pakai kekerasan."
Aarav sudah berancang-ancang untuk lari sekuat tenaga. Persetan dengan lukanya yang belum membaik, karena lebih baik dia melarikan diri sekarang daripada harus kembali terluka jika sampai para pria berbadan besar dua kali lipat darinya, menghabisinya sekarang juga.
"Woi!" Dua pria itu teriak hampir bersamaan ketika tau Aarav melarikan diri.
Aarav berlari menuju taman kota yang kosong malam hari ini. Sialan. Tidak akan ada yang membantunya jika dua pria b******n itu menangkapnya.
"Oke-oke!" Aarav menyerah ketika dirasa tidak bisa berlari lebih lama lagi dan kerah baju belakangnya ditarik paksa oleh mereka.
"Aku akan bayar, sekarang juga."
"Jika kamu berbohong--"
"Tidak!" Astaga, Aarav tidak punya uang sekarang.
BUGH!
Aarav tidak siap untuk tonjokan yang ia dapat di pipi kanannya.
"Ayolah, tidak perlu seperti ini," ujarnya. Ia tidak bisa melawan kali ini.
BUGH!
Ia juga tidak siap dengan tendangan di perutnya. Oke, sekarang Aarav yakin lukanya akan memburuk dan mungkin ia akan mati di sini.
Ketika salah satu dari pria itu akan menendang perutnya lagi, Aarav sudah bersiap untuk pasrah dan memejamkan matanya, namun tendangan yang ia 'tunggu' tidak datang juga.
Aarav mengintip dan melihat kedua pria itu sudah menatap nyalang wanita yang ada di hadapan mereka.
"Irish?"
***
Ketenangan yang seperti ini yang dibutuhkan oleh Irish. Duduk sendiri di taman kota yang sunyi, ditemani cahaya redup lampu di sana. Hanya ini yang Irish mau.
Namun, semuanya berakhir saat tiga orang pria mengganggu ketenangannya. Irish memerhatikan mereka dari tempat dirinya duduk. Ia melihat dua pria berbadan besar menonjok dan menendang pria yang sudah tersungkur ke tanah.
Sial, Irish tidak suka ketenangannya diganggu dan ia lebih tidak suka saat ada kekerasan di sekitarnya.
Irish menemukan botol kosong di sampingnya. Ia berjalan mendekati dua pria itu dan melemparkan botolnya pada salah satu dari mereka.
Dua pria itu langsung beralih menatapnya garang. Tapi tentu saja, Irish tidak takut.
Irish menoleh sekilas pada pria yang tersungkur di bawahnya. Irish tau siapa pria itu. "Aarav?" tanyanya lirih.
"Irish?" Pria itu tampak terkejut melihatnya. Tapi, Irish tetap diam.
Irish menatap dua pria tadi. "Pardon me," ucapnya dengan nada meledek.
"Siapa kamu? Berani sekali meng--" Ucapan mereka terhenti ketika Irish membuka dompetnya.
"Berapa yang kalian butuhkan?" Irish tau, semuanya bisa diselesaikan dengan uang. Lagipula, Irish sempat mendengarkan percakapan mereka, jadi ia tau apa yang dipermasalahkan di sini.
Aarav yang merasa sudah memiliki tenaga untuk bangkit, akhirnya melangkah mendekati Irish dan bersembunyi di belakang tubuh wanita itu. Ia tau tindakannya ini seperti pengecut, tapi hanya Irish yang bisa membantunya kali ini.
"5 juta. Dia tidak membayar kontrakan selama 5 bulan. Belum lagi--"
Irish berdecak. Hanya 5 juta. "Beri nomor rekening bos kalian. Akan aku bayar sekarang juga," ucap Irish. Wajahnya datar, tanpa menunjukkan rasa takut di depan dua pria berbadan kekar itu.
Aarav melongo begitu tau Irish akan membayarnya tanpa mengatakan apapun. Masalahnya, Irish dan Aarav tidak sedekat itu. "Irish tidak perlu," bisiknya, tapi sepertinya Irish tidak akan mendengarkan.
"Hah! Bilang saja kamu akan membual--"
"Kalian tidak percaya?" tanya Irish dingin.
"Irish, tidak usah." Aarav merasa bersalah.
Mereka menghela napas. Salah satu dari pria itu mengorek kantong jeans lusuhnya dan memberikan secarik kertas pada Irish. "Jika kamu berbohong--"
Mereka bungkam ketika Irish membuka ponselnya dan mentrasfer langsung di depan mereka. "Percaya?" Irish menunjukkan bukti transfer itu pada mereka. Nominalnya bahkan lebih besar dari yang mereka minta.
"Jika kalian masih mengejar pria ini, kalian berhadapan denganku," lanjut Irish. Bisa dibilang, ini balas budi yang dia lakukan karena Aarav sudah membantunya tempo hari.
Kedua pria itu mengangguk dan pergi meninggalkan mereka.
"Irish--"
"Kita impas. Terimakasih sudah membantu aku waktu itu." Irish menyugar rambutnya. "Selamat tinggal."
Eh? Selamat tinggal? Tidak. Tidak boleh. Aarav menahan pergelangan tangan Irish. Merasa sedikit tidak rela jika Irish pergi begitu saja tanpa ada basa-basi terlebih dahulu.
Memangnya apa yang kamu harapkan, Aarav? batinnya mengingatkan.
"Irish."
Irish menghentikan langkahnya. Mukanya terlihat lelah, Aarav jadi tidak tega. Tapi masalahnya, ini salah satu kesempatan emas untuk bisa mengenal Irish lebih dekat lagi.
Ayolah, siapapun pasti mengerti kenapa Aarav tertarik pada Irish. Garis wajah tegas dan raut muka datarnya tidak mengurangi kecantikan yang dimiliki wanita itu.
"Kamu mau kopi?"
Jantung Aarav menggila ketika Irish mengangguk mengiyakan ajakannya. Jika ia tidak salah lihat, Irish bahkan tersenyum padanya. Astaga.
***
Rudy sempat protes saat Aarav kembali ke toko. Padahal, Rudy sudah mengatakan untuk tidak perlu kembali lagi karena dia akan menjaga toko ini sekarang.
"Anak bandel, sudah aku bilang--"
Aarav meringis seraya memegang luka di perutnya yang belum sembuh. "Shht..." Ia menyuruh Rudy untuk diam dan tidak mengomel.
Aarav beranjak untuk membuatkan kopi untuk Irish. Selagi membuatnya, ia mencuri pandang pada wanita yang sudah menolongnya itu. Irish terlihat menatap jalanan sepi di depannya dalam diam. Garis wajahnya yang tegas membuatnya terlihat seperti wanita dingin tak tersentuh.
"Hei!" Rudy menepuk pundak Aarav dan membuatnya terkejut. Aarav mengumpat dalam hati, tentu saja, bisa-bisa ia dipecat jika mengumpat di depan bosnya.
"Siapa dia?" tanya Rudy pada Aarav seraya menoleh kepada Irish. Sekarang, Aarav bingung akan menjawab apa. Jika dibilang teman, tidak juga, mereka hanya bertemu beberapa kali, itupun tidak sengaja. Jika dibilang orang asing, tentu tidak, mereka sama-sama tau nama masing-masing.
"Kenalanku," ujar Aarav. Nah, begitu lebih baik. Mereka hanya sebagai kenalan.
Rudy mengeryit kening. "Kamu punya kenalan bentukan seperti itu? Tidak salah?"
Aarav memutar bola matanya malas. Iya, Aarav si pekerja serabutan yang gemar dikejar-kejar oleh pemilik kontrakan, mana mungkin memiliki kenalan high class seperti Irish yang terlihat bagai serbuk berlian. Iya, tidak mungkin.
"Bapak terlalu merendahkan saya," ujar Aarav dan tersenyum miring.
Sebentar lagi, Aarav akan menunjukkan pada Rudy, bahwa ia tidak serendah itu. Irish akan menjadi buktinya.
***