Part 4

1066 Words
Saat sampai ke kantornya, pikiran Irish tiba-tiba memikirkan pria yang sudah menolongnya kemarin. Apakah lukanya sudah sembuh? Apa pria itu baik-baik saja? Bagaimana jika pencopetnya kembali berulah? Irish memijit pelipisnya pelan. Ia harus bekerja, tapi pikirannya kacau hanya karena memikirkan pria yang belum ia kenal dengan baik. Tapi masalahnya, pria itu terluka karena dia dan bukankah wajah jika Irish merasa bersalah? "Bu Irish, investor dari China akan kemari dua jam lag--" "Tunda jadwalnya." Ucapan Irish membuat sekretarisnya tidak percaya. Janji temu ini sudah direncanakan dua minggu lalu, tidak mungkin dibatalkan begitu saja. Irish bangkit dari duduknya dan langsung melangkah tidak peduli. Sekretarisnya menghela napas pelan. "Baik," ujarnya walaupun tau Irish tidak akan mendengarnya. Langkah Irish terhenti ketika Tania tiba-tiba muncul di hadapannya dengan senyum menyebalkan. "Irish!" serunya. Irish menghela napas lelah. Ia tidak menjawabnya dan hanya menatap Tania malas. Tania langsung menggandeng Irish dan membuat Irish risih. "Ini." Tania memberikan undangan padanya. "Acara baby shower-ku. Pastikan kamu datang, oke?" Irish tidak menjawab, ia hanya mengambil undangannya dan melepaskan tangan Tania darinya. Tanpa berkata apapun lagi, ia berjalan menjauhi Tania. "Jangan lupa ya, Irish?!" teriaknya saat Irish sudah agak jauh darinya. "Astaga, dia memang tidak sopan. Pantas saja hidupnya sangat mengerikan," lirih Tania mengejek Irish. *** Irish kembali berjalan di blok pertokoan itu. Matanya menyisir sekitar, mencari pria itu. Ia sangat yakin pria yang membantunya bekerja di blok pertokoan ini. Saat ia berdiri di depan supermarket 24 jam, tidak sengaja ia menemukan pria yang ia cari. Mereka bertatapan sebentar, sebelum Irish menyadari apa yang mereka lakukan adalah tindakan bodoh. Irish melangkah mendekati pria itu. "Apa kamu baik-baik saja?" Pria itu tampak grogi. Hanya ditanya seperti itu, dia grogi. "Iya...hm, a-pa kamu mau--mau duduk di sini dulu?" Benar saja. Dia gugup. Irish mengangguk. "Mau pesan kopi? Mie instan?" Irish menoleh untuk melihat toko itu. Benar, hanya ada kopi dan mie instan yang bisa dibuat langsung di situ. "Kopi." Sebenarnya Irish tidak mau mengatakan ini, tapi ini pertama kalinya ia mencoba kopi instan murah di supermarket. "Silakan," ujarnya beberapa saat kemudian seraya memberikan kopi pesanannya. Saat pria itu akan meninggalkannya, Irish langsung menahannya, "Tunggu." Pria itu menoleh, masih dengan tatapan sexgugupnya. "Bisa bicara sebentar?" *** Aarav duduk di depan Irish dengan gugup. Masalahnya, wanita ini memiliki wajah yang datar dan dingin, sangat mengintimidasi, dan terlihat menakutkan. "Bagaimana luka kamu?" tanya Irish. Aarav langsung teringat lukanya yang sebelumnya terasa sangat sakit. Ia mengangkat kaos kerjanya dan memperlihatkan perban dengan noda darah yang cukup banyak. "Baik-baik saja." Irish mengeryit heran. "Kamu yakin?" Lukanya terlihat sangat-tidak-baik-baik-saja. "Hm." Aarav mengangguk meyakinkan. "Kamu ke sini, ada apa?" Aarav tau, dari pakaiannya, Irish bukan wanita sembarangan. Pasti dia dari keluarga kaya, dan jarang sekali Aarav menemukan wanita seperti Irish berjalan melewati blok pertokoan ini hanya untuk memesan kopi instan. "Masalah kemarin, apa kamu mau melaporkannya ke polisi?" tanya Irish tiba-tiba dan membuat Aarav mengeryit tidak mengerti. "Aku akan membantumu. Itu maksudku." "Ah, aku mengerti." Aarav manggut-manggut. "Tidak perlu. Lagipula, sepertinya di sini sudah biasa ada insiden seperti itu." "Tapi--" "Aku tidak ingin membesarkan masalahnya." Irish langsung mengangguk. Ia masih menatap pria itu, yang ia lupa namanya siapa. "Ada apa?" tanya Aarav saat merasa Irish memperhatikannya, membuat ia gugup. "Siapa namamu?" Aarav tersenyum canggung. "Kamu pasti lupa, Irish." "Hm, aku susah menghapal nama orang." Astaga, apa harus dijawab seperti itu? Wanita ini sangat sarkas, batin Aarav. "Aarav. Namaku Aarav. Pastikan kamu mengingatnya baik-baik." Irish mendengkus, namun bibirnya membentuk senyum kecil. "Kenapa?" Ia menyeruput kopinya. "Karena sepertinya kita akan sering bertemu." Irish menoleh langsung pada Aarav. Tidak mengerti dengan ucapannya. "Maaf?" Menyadari bicaranya melantur, Aarav langsung membalas, "Tidak perlu dipikirkan. Sepertinya luka ini berefek pada omonganku yang melantur. Maaf." Irish tertawa kecil. Pria ini sangat gugup, dan itu lucu. "Aku harus membalas kebaikan kamu." Irish paling tidak suka jiika dia harus berhutang budi pada seseorang dan karena itu juga dia ingin membalas Aarav. "Hm?" Aarav tidak mengerti. "Ini." Irish memberikannya kartu nama miliknya. "Hubungi aku jika perlu sesuatu." Aarav mengangguk mengerti. "Terimakasih." Irish mengangguk dan bangkit dari duduknya, berniat meninggalkan Aarav. "Tapi," ucap Aarav yang membuat langkah Irish terhenti. "Apa kamu tidak takut nama kamu dipergunakan olehku?" Irish tersenyum tipis. "Kamu kelihatan seperti orang baik...dan tulus," ucap Irish seraya menunduk. Tidak mau menatap Aarav langsung. Sesaat kemudian, ia kembali menatap Aarav. "Pastikan anggapanku tentang kamu benar, Aarav. Sampai jumpa." Aarav memerhatikan Irish melangkah menjauh darinya, dan debar jantungnya masih menggila. Irish memiliki pesona yang memikat tersembunyi di balik wajah dingin dan datarnya. *** Irish kembali ke kantor dan mengadakan rapat seperti yang sudah dijadwalkan. Setelah rapat selesai, Irish kedatangan tamu yang tidak ia sangka-sangka. "Delonix," ucapnya malas. Kakak perempuan yang sangat membencinya itu tiba-tiba datang dan membuat sisa hari Irish memburuk. Delonix menghampirinya dengan gaya angkuh andalannya. "Bisa kita bicara?" Irish membawa Delonix ke ruangannya dan menunggu apa yang akan dibicarakan Delonix. "Apa maksudmu?" Irish mengerutkan keningnya tidak mengerti. "Maaf?" "Kenapa kamu merebut tempat yang seharusnya punya aku, Irish?! Harusnya aku yang jadi pemegang saham ter--" "Ayah yang menunjukku." "Bohong." "Tanya saja Ayah, kamu tidak begitu kompeten untuk memimpin perusahaan." Irish tidak segan-segan untuk memanasi kakaknya sendiri. Masalahnya, Delonix harus tau posisinya. Ia tidak boleh sembrono dan angkuh menganggap dirinya mampu, bisa-bisa perusahaan keluarga mereka anjlok dalam hitungan hari jika Delonix yang memimpin. "Irish, aku kakak kamu dan aku anak sulung keluarga ki--" "Tapi, kamu terlalu lemah untuk mendapatkan posisi itu, Delonix." Irish tidak menunjukkan amarah dan emosinya. Wajahnya, tentu saja, datar. Delonix mendengkus. Dengan kesal, ia menghentak high heels-nya keluar dari ruangan ini. "Kamu akan menyesal!" Irish menghela napas. Delonix sangat membuang waktunya hanya untuk hal yang sia-sia. Jika ia memiliki pilihan lain, Irish akan memberikan posisi itu pada Delonix, ia tidak peduli. Irish akan pergi dari kota ini, dan memiliki kehidupannya sendiri. Semuanya seolah sia-sia, jika ia merasa hidupnya bukan miliknya. Karena penat dan amarah yang ia rasakan, Irish pergi ke taman kota yang sepi di malam hari. Ia tidak berniat untuk pulang ke apartemennya, ia hanya ingin berdiam diri di sini untuk sementara. Semua kekuasaan dan kekayaan yang ia punya serasa tidak ada gunanya. Hidupnya bukan miliknya, Irish tidak memiliki gairah untuk hidup. Mungkin semua orang menganggap ia sangat beruntung; terlahir dari keluarga kaya, memiliki kekayaan yang tidak bisa dihitung jumlahnya, dan memiliki tunangan idaman semua orang. Andai Irish bisa memilih, ia rela menukar apa yang ia punya hanya untuk bisa hidup atas kemauannya sendiri. Irish lelah dengan semua kepalsuan ini. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD