Part 3

1059 Words
Irish memejamkan matanya lelah saat ia sampai di pintu restoran Jepang, tempat ia dan keluarganya akan makan malam. Ia sudah lelah karen bekerja seharian, ditambah insiden pencopetan tadi, membuatnya ingin pulang saja. Tapi, tentu saja, ia tidak punya pilihan lain. "Reservasi atas nama Daffa Darmawan," ucapnya, dan pelayan mengantarnya pada ruangan tertutup di restoran itu. "Irish," sapa Daniel, Ibu Daren. Namun, seketika wanita itu terkejut melihat bercak darah di baju Irish. "Astaga, apa kamu baik-baik saja?" Irish memutar bola matanya malas. Sangat palsu. Bahkan, orangtuanya saja tidak bereaksi apa-apa. Irish tersenyum tipis. "Aku baik-baik saja." Dia tahu apa yang ditanyakan oleh Daniel adalah formalitas belaka, jadi dia membalasnya dengan senyuman formalitas belaka juga. Daren yang sudah ada di sana lebih dulu, bangkit dari duduknya dan menghampiri Irish. "Sayang, kenapa bisa begini?" tanyanya seraya menggenggam tangan Irish. Irish menolak pelan. Gerakannya sangat jelas dan semua orang melihatnya. Irish menoleh ke sisi lain, menolak untuk menatap wajah Daren. Suasana jadi canggung. Daren berdeham dan kembali duduk, diikuti Irish yang duduk di samping Ibunya. "Kamu terlambat," ujar Ibunya. Tidak mau repot-repot menoleh, Irish menjawab datar. "Maaf." Daniel yang tidak tahan dengan situasi canggung ini, akhirnya buka suara. "Ah iya, tentang pernikahan kalian, lebih baik kita bicarakan sekarang." Irish menghela napas diam-diam. Kirana, Ibunya, mengangguk. "Aku dan suamiku sudah membicarakannya. Bagaimana jika tanggal 4 bulan depan?" Irish diam. Daniel terlihat sangat sumringah. "Aku setuju. Bagaimana, Daren?" Irish tersenyum miring. Ia sudah hapal kelakuan Daren, pria itu pasti mengundur kembali pertunangan mereka seperti yang sudah-sudah. Daren sudah menunda pernikahan mereka dari lima tahun yang lalu. "Aku..." Benar saja. Irish tetap tersenyum miring dalam diam. "Sebenarnya, ada proyek yang akan aku kerjakan di Denmark. Bagaimana jika--" Irish berdeham cukup keras. Tentu saja disengaja. Ia tidak bisa menahan lagi untuk memojokkan Daren. Daren menatap Irish. Namun, Irish memalingkan wajah dan meminum green tea di depannya. "Bagaimana kita jadwalkan ulang?" Kirana terlihat kecewa. Tapi, wanita paruh baya itu tetap mengangguk. "Baiklah. Irish, kamu bagaimana?" Akhirnya, Irish menatap wajah ibu dan ayahnya, lalu Daniel dan Daren bergantian. "Apa aku punya pilihan lain?" ucapnya sarkas. Irish mendengkus dan meminum green tea-nya lagi. "Irish," tegur Ayahnya. "Aku akan mengikuti apapun yang kalian inginkan." Ia mengusap ujung bibirnya dengan serbet di pangkuannya. Ia bangkit perlahan dan menunduk hormat pada mereka. "Terimakasih untuk makan malamnya." Hentakan high heels menggiring langkahnya penuh percaya diri. "Irish." Irish memutar bola matanya malas begitu tau Daren mengikutinya. Pria itu menahan pergelangan tangannya. Irish menoleh malas dan tidak mengatakan apapun, hanya menatap Daren saja. "Aku minta maaf," ucapnya. Irish mendengkus mengejek. "Daren, apa yang dimaafkan? Kamu saja tidak pernah sungguh-sungguh." Daren menghela napas lelah. Sepertinya sangat lelah menghadapi sikap tunangannya ini. "Irish, aku mohon. Jangan seperti ini." "Tidak ada yang perlu dipermasalahkan, Daren." Irish biasa saja, namun jelas sekali ucapannya mampu membuat Daren dirundung rasa bersalah. Ini memang bukan pertama kalinya terjadi, tapi tiap kali terjadi, Daren selalu merasakan hal yang sama. "Apa yang terjadi? Kenapa baju kamu ada bercak darah?" Lagi, kenapa Daren bersikap sangat peduli padanya bahkan saat Daren mengerti kalau Irish saja tau ini semua hanya kepalsuan belaka. "Hm? Kenapa, Sayang?" tanyanya lagi ketika menyadari Irish tidak menjawab dan hanya menatap wajahnya. "Berhenti, Daren." "Hm?" "Berhenti. Aku tau ini semua palsu. Jangan berusaha terlalu keras." Irish tersenyum tipis, namun mampu membuat bulu kuduk Daren meremang. "Aku antar kamu pulang." "Tidak perlu." "Irish, ayolah." Irish menghela napas. Ia menahan kekesalannya dan menutupinya dengan wajah datarnya. "Daren, aku lelah. Please." Irish bersyukur Daren tidak memaksa lagi, dan melepaskan pergelangan tangannya. Irish lelah. Sangat lelah. *** Esok harinya, Irish dikejutkan dengan kehadiran Daren di depan pintu apartemennya. "Pagi," sapanya dan akan mengecup pipinya. Irish menghindar dengan sigap. Ia berkata dengan dingin, "Tidak ada siapapun di sini. Kita tidak perlu berpura-pura." Muka Daren masam dan pria itu berdeham canggung. "Ayo, aku antar kamu ke kantor." Karena Irish terlalu lelah untuk berdebat, Irish hanya mengangguk dan menuruti perintah Daren. "Ayo," ajak Daren sebelum pria itu membuka pintu mobil untuk Irish. Tiba-tiba Irish tersentak ketika melihat beberapa bungkus kondom ada di kursi penumpang. Irish terdiam. Wajahnya tidak menunjukkan amarah, masih sama datarnya seperti ia membaca dokumen kantor, Irish tidak menunjukkan ekspresi apapun. Daren yang menyadari apa yang dilihat Irish langsung kelimpungan dan mengambil semua bungkus kondom itu dengan kasar. Irish sampai tersentak. "Ini--" Sebelum Daren menjelaskan, Irish sudah masuk ke mobil dan menutup pintunya di depan muka Daren. Ia sudah bilang, bukan? Sudah biasa. Ini bukan pertama kalinya. Irish tidak mempermasalahkan Daren yang sering jajan kesana kemari, ia juga tidak masalah soal Daren yang tukang selingkuh. Ia tidak memiliki hak untuk mengekang Daren, toh semuanya hanya kepalsuan belaka. Pertunangan mereka akan berujung pada pernikahan bisnis yang menguntungkan kedua orangtua mereka. Irish sudah hapal. "Apa bedanya?" tanya Irish tiba-tiba saat mobil sudah berjalan. Daren tersentak. "Hm?" "Semua kondom itu memiliki rasa, apa bedanya?" Daren membelalakan matanya, tidak percaya Irish bisa menanyakan hal seperti itu. "Apa wanginya beda? Apa ada rasanya?" Astaga. Bunuh saja Daren sekarang juga. Daren kembali berdeham canggung. Baru saja ia akan membuka suara, Irish sudah memotongnya. "Tidak perlu dijawab," Irish memalingkan wajah. "Aku akan mencari tahu sendiri." "Irish." Dari nada bicaranya, Daren kedengaran tidak suka. Irish mengangkat sebelah tangannya, menyuruh Daren untuk diam. *** "Kamu yakin baik-baik saja?" Aarav meringis. Memegangi bekas lukanya yang masih baru. "Hm, jika tidak bekerja aku tidak bisa bayar sewa kontrakan." Rudy menghela napas. "Tidak perlu begitu, kamu ijin satu hari saja dan tetap akan aku gaji." Semenyebalkan apapun Aarav, Rudy tetap saja tidak tega padanya. Aarav menggeleng. Pria itu kembali berjalan ke belakang meja kasir dan menghembuskan napasnya pelan. Rudy berdecak. "Jangan asal membantu orang, Aarav. Sekarang lihat akibatnya, kamu yang susah sendiri." Aarav terdiam. Ia tersenyum kecil. "Irish." Rudy menatap pegawainya heran. "Namanya Irish. Perempuan yang aku bantu." Menyadari bicaranya semakin melantur, Rudy menggelengkan kepalanya dan meninggalkan Aarav sendiri. Aarav mengantarkan pesanan kopi dari pelanggannya di pelataran toko. "Silakan," ujarnya dengan senyuman dan dibalas ketawa malu-malu dari pelanggan wanitanya. Aarav akan masuk kembali ke toko, tapi langkahnya terhenti ketika melihat Irish berjalan di depan toko tempatnya bekerja. Mulut Aarav ingin sekali memanggil namanya, namun mulutnya kelu. Irish terlihat mencari-cari sesuatu, dan ketika tatapan mereka bertemu, Irish diam. Jantung Aarav berdegup tidak karuan saat Irish melangkah, mendekat ke arahnya. "Apa kamu baik-baik saja?" tanyanya, wajahnya dingin dan datar, tidak menunjukkan emosi apapun. Bahkan hanya dengan seperti itu, jantung Aarav tetap menggila. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD