"Aarav, pindahkan kotak itu ke sini!" Pria berbadan besar itu meneriaki karyawannya yang sedang mengintip-- entah apa--di gudang tokonya.
Aarav menghela napas dan menuruti perintah Rudy, bos-nya.
Setelah memindahkan kotak tadi, Aarav tidak sengaja menangkap basah segerombolan siswi yang tersenyum malu-malu ke arahnya. Astaga, Aarav tau mereka sedang membicarakannya.
Dengan senyum memesonanya, Aarav menghampiri siswi-siswi tersebut seraya membawa beberapa snack yang ada di tokonya.
"Permisi." Benar saja, mereka tertarik dengan Aarav.
Aarav mendekat ke mereka. "Boleh minta foto bareng?" tanya salah satu siswi dengan polos dan tidak tau malu. Aarav ingin tertawa tapi ia tahan.
Aarav mengangguk. Ia memberikan snack yang ia bawa. "Jangan lupa, promosikan ini juga ya," ucapnya seraya tersenyum. Strategi pemasaran yang bagus! Aarav bangga pada dirinya sendiri.
Setelah lelah tersenyum hingga mati gaya, segerombolan siswi itu berterimakasih dan pergi dari sana. Aarav tertawa kecil mengingat tindakan bodohnya. Ia langsung masuk ke toko dan tiba-tiba melihat Rudy berkacak pinggang menatapnya.
"Aarav," tegurnya.
Aarav tersenyum. "Strategi promosi, Pak. Harusnya Bapak beruntung punya pegawai ganteng kayak saya--"
Rudy memukul lengan Aarav, tidak segan-segan. "Tapi mereka tidak membeli barang kita, Bodoh!"
Aarav berdecak. "Setelah ini, mereka akan jadi pelanggan toko ini, Pak. Tunggu saja," ucapnya percaya diri.
Rudy menghela napas. Ingin sekali ia memecat karyawan yang sudah satu tahun bekerja di supermarket-nya ini, tapi hanya Aarav saja yang bisa menggaet pelanggan dengan wajah tampannya. Rudy tidak punya pilihan.
"Stok mie instan yang dipesan sudah datang di gudang, tolong ambil," titah Rudy yang langsung diangguki Aarav.
Aarav berjalan menuju gudang di gang ujung blok pertokoan itu, dan tiba-tiba seseorang menabraknya cukup keras.
"Hei!" teriak Aarav tidak terima. Namun, ia lebih terkejut saat seorang wanita dengan high heels-nya berlari mengejar pria yang menabraknya tadi.
"Sialan," lirihnya, yang masih bisa didengar Aarav.
Aarav sigap membaca situasi. "Kamu dicopet?" Wanita itu menoleh ke arahnya dengan wajah datar seolah tidak terjadi apa-apa.
"Hm," gumamnya membenarkan. Astaga, ini pertama kalinya Aarav melihat seseorang yang dicopet dan bisa tenang seperti ini.
Aarav panik dan langsung mengejar pria tadi. Untungnya, ia pernah juara lomba lari saat acara 17 Agustus-an di SD-nya, jadi ia bisa mengejar pencopet itu.
Suasana blok pertokoan yang ramai, sedikit menyulitkan Aarav untuk menangkap pencopet itu.
***
Hari sudah sore saat Irish keluar dari kantornya. 3 jam lagi ia harus kembali membuang waktunya untuk makan malam sialan dengan orangtua dan keluarga Daren. Andai Irish bisa menghilang, ia ingin sekali tidak menghadiri makan malam itu.
Irish memilih untuk berjalan sendiri ke blok pertokoan dekat kantornya. Di sana ada berbagai macam makanan jalanan, yang sebenarnya sangat Irish suka.
Irish tidak sengaja melihat anak-anak kecil, sepertinya usia 7-9 tahun, di pinggir jalan yang sedang merundung salah satu temannya. Irish berdecak. Ia paling tidak suka melihat hal yang seperti ini. Ia menghampiri anak-anak itu. Mukanya masih datar, dan tangannya ia lipat di depan d**a.
Irish berdeham. Anak-anak itu tersentak dan menatap Irish takut. "Apa ini membuat kalian puas?"
Mereka menunduk. "Kalian memukuli dia, apa itu membuat kalian lebih baik?"
Anak-anak itu menggeleng. "Pecudang," ledek Irish. "Tindakan kalian seperti pecundang, apa kalian tidak malu?" Hanya seperti itu, dan Irish berhasil mengusir anak-anak tersebut pergi.
Irish menghela napas. Sepertinya etika, toleransi, dan pendidikan moral harus ditanamkan dengan benar di sekolah. Tanpa berkata apapun pada anak laki-laki yang tadi dirundung oleh teman-temannya, Irish pergi begitu saja.
"Terimakasih."
Irish menghentikan langkahnya.
Anak laki-laki itu mendekat ke arahnya, dan menggenggam tangan kanannya. "Terimakasih, Tante."
Irish akhirnya menoleh dan tersenyum.
Setelah drama perundungan tadi, Irish kembali berjalan ke blok pertokoan yang ramai sore ini. Belum juga ia membeli apa yang ia mau, tiba-tiba tasnya direbut paksa oleh seseorang. Irish tidak sempat menahan dan melawan pencopet itu. Tasnya sudah dibawa kabur.
Irish menghela napas dan mencoba tenang. Ia tidak akan jatuh miskin hanya karena tasnya dicopet, tapi, ia tidak punya pilihan selain mengejar pencopet itu.
High heels-nya menyusahkannya untuk berlari kencang. "Sialan," lirihnya. Ia melihat si pencopet pergi ke gang ujung di blok itu.
"Kamu dicopet?" tanya seorang pria padanya. Irish mengerutkan dahinya. Apa pria ini buta? Tanpa Irish menjawab pun, harusnya pria ini tau.
"Hm."
Mimik muka pria itu langsung terkejut dan panik. Tanpa Irish sangka, pria itu menolongnya untuk mengejar pencopet tersebut. Irish memejamkan matanya sebentar, mencoba tenang. Seharusnya ia biarkan saja tasnya diambil. Seharusnya pria itu tidak perlu membantunya. Sial, Irish tidak suka keributan.
Irish kembali mengikuti pria itu. Ia berjalan cepat, terlalu malas berlari kencang. Untungnya, pencopet itu bodoh karena memilih jalan buntu di ujung gang. Irish ingin tertawa mengejek, namun, tetap saja ia tidak menunjukkannya.
Pria yang menolongnya tadi memukul habis-habisan pencopet itu. Irish yakin pria itu hebat berkelahi. Baiklah, tasnya akan kembali dan pria itu akan baik-baik saja.
Irish menonton perkelahian itu. Menunggu pencopet itu menyerah dan tasnya kembali.
Pria itu menghembuskan napas keras. Puas mengambil tas milik Irish dan membuat pencopet itu babak belur.
"Ini."
"Makasi--"
Irish tersentak ketika pencopet itu bangun dan menusuk pria itu dengan pisau. Astaga. Ini pasti tidak benar. Ia pasti bermimpi.
Pria tadi tersungkur di hadapan Irish. Tubuhnya limbung dan hanya Irish penyangganya. Irish mencoba tenang, masih mencoba tenang. Ia melihat pencopet tadi tersenyum mengejek dan tertatih pergi dari sana.
Kenapa semuanya semakin memburuk?
Irish menidurkan kepala pria tadi di pahanya. "Hei." Irish menepuk pipi pria itu. "Bangunlah."
Irish tidak kuat melihat darah yang mengalir dari perut pria itu. "Lihat aku." Irish memerintah. Wajahnya sama sekali tidak panik, masih sama datarnya. Namun, jantungnya menggila.
"Aku akan memanggil ambulans. Kamu akan baik-baik saja."
Cukup lama menunggu ambulans datang ke tempat mereka, sementara orang-orang sudah mengerubungi di sekelilingnya. Irish benci situasi ini.
Saat pria itu masuk ke ambulans, Irish bisa bernapas lega. "Apa Anda temannya?"
Irish menoleh. Wajah dinginnya tidak menunjuk ketertarikan untuk ikut juga ke rumah sakit.
Bukan. Jawab, Irish. Kamu bukan--
"Iya." Mulut sialan!
Irish menghela napas untuk ke sekian kalinya dan masuk ke ambulans. Ia melihat pria itu tidak berdaya dan memejamkan matanya. Irish menatapnya dengan wajah datarnya.
"Dia tidak akan mati, kan?" tanya Irish datar.
Petugas kesehatan itu menoleh tidak percaya. Astaga, pertanyaan yang sangat tidak sopan. Petugas itu hanya berdeham dan pura-pura tidak mendengar.
Seharusnya Irish langsung pergi begitu pria tersebut mendapat penanganan. Seharusnya ia tidak harus begitu peduli padanya. Seharusnya Irish tidak menunggu sampai pria itu sadar!
Irish menyesal.
Jika bukan karena rasa bersalahnya, Irish tidak akan duduk di kursi samping brankas rumah sakit ini, menunggu pria itu membuka matanya.
"Lukanya tidak parah untungnya, sebentar lagi dia akan bangun."
Irish tidak peduli. Ia diam saja dan membiarkan dokter meninggalkan mereka.
Oke, pria ini baik-baik saja. Waktunya Irish pergi.
Namun, langkahnya terhenti ketika ia mendengar ringisan dari pria itu. Ternyata sudah sadar.
Pria itu menatap Irish. Irish balas menatapnya. "Terimakasih, sudah menolongku." Hanya itu yang dikatakan Irish, dan ia akan pergi dari sana jika saja...
"Tunggu," ucap pria itu.
Irish menghela napas dan menunggu pria itu melanjutkan.
"Aarav." Pria itu mengulurkan tangannya.
Irish mengerutkan dahi, tidak paham. "Siapa namamu?" tanya pria itu.
"Irish."
***