Dosa Masa Lalu

1110 Words
“Apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya pikir semudah itu menerima kenyataan tapi tidak,” ucap Ardian. “Pria memang harus selalu terlihat kuat bukan? Walaupun kenyataannya tidak.” Reyhan masih mendengarkan tanpa menjawab apapun yang dikatakan oleh menantunya itu. Diam adalah cara Reyhan untuk tetap bersikap dewasa dalam menghadapi setiap masalah, dia tidak ingin ceroboh ataupun melakukan hal-hal salah seperti hidupnya di masa lalu. “Saya sudah memesan makanan untukmu, tolong makan lah dan kembali lah bangkit seperti dulu, setiap masalah akan ada solusinya, dan setiap ada salah pasti ada alasan serta sebabnya,” ucap Reyhan, akhirnya dia mulai berbicara dan itulah ucapan dia sebelum pergi dari apartemen tersebut. Membiarkan Ardian sendiri mungkin itulah yang terbaik untuk saat ini, apapun akan tetap diabaikan oleh orang yang benar-benar patah hati, waktu menyendiri lah hal yang terbaik. Di tempat lain, seorang wanita yang kini sedang berlarian kecil menuju tempat yang menurutnya sangat aman untuk bersembunyi, nafasnya pun sesak karena perjalanan dari mobil sampai ke tujuan cukup jauh. “Syukur lah, akhirnya sudah cukup jauh dan mungkin aman, lagian ngapain juga pake acara ketemu segala sama itu orang, bisa kesebar juga di mana aku sekarang.” Karey, dia tidak hanya selalu ingin lari dari masa lalu tetapi dia juga ingin lari dari kenyataan bahwa kehidupannya sebelum dan sesudah operasi tetaplah sama, tidak ada perubahan ataupun kebahagiaan yang dia rasakan. Terlebih lagi hidupnya semakin rumit setelah kepergian saudara kembarnya beberapa bulan yang lalu, tanpa sebuah kabar dan tidak ada satu pun orang yang bisa menjelaskan ke mana perginya Key, yang tak lain adalah saudara kembarnya Karey. Karey terduduk lemas pada sebuah kursi panjang yang ada pada ruangan kecil itu, tempat di mana dia selalu memilih pergi ke sana ketika dia mulai merasa stres ataupun sakit kepala karena semua masalah nya. Kareysha Putri Dirgantara, yang lebih dikenal dengan sebutan Karey untuk membedakannya dengan saudara kembarnya yang tak lain adalah Kareyshi Putri Dirgantara, dan orang-orang sering memanggilnya Key. Sudah berbulan-bulan terpisah dari sang adik, membuat Karey merasakan kehilangan, walaupun selama hidup mereka tidak pernah akur, tetap saja jauh dalam lubuk hatinya sangat mencintai bahkan tidak bisa hidup bahagia tanpa kehadirannya. “Di mana kamu, Dek? Apa sebodoh itu kamu, bukankah selama ini kamu yang selalu disanjung pintar, dikatain gadis paling cerdas di sekolah ataupun di semua tempat, tapi kenapa sekarang begini? Sejahat itukah aku? Sampe kabur dan ninggalin aku gitu aja, hiks.” Mengingat kembali bagaimana mereka selalu bertengkar dan Key selalu mengalah bahkan membimbing Karey ke jalan yang benar ketika melakukan kesalahan, tak ada satupun hal baik yang dilupakan oleh Karey, karena adiknya adalah orang yang sangat dia sayangi. “Jadi, apa bedanya kamu dengan adikmu hmm? Pergi gitu aja dari mobil dan bikin khawatir!” Suara itu, membuat Karey menghapus air matanya dan kembali ingin terlihat kuat bahkan terlihat acuh. “Sosoan dihapus, air matamu itu dari dulu juga gak akan bisa bohongi aku.” Pria itu ikut duduk di samping Karey dan mencoba untuk memeluknya tetapi Karey menghindar, seperti yang selama ini Karey lakukan setelah tahu bahwa Mahesa masih satu ayah dengannya. “Ck, masih gitu aja, bukankah selama ini aku selalu ajak kamu ke dokter untuk tes DNA kita berdua ya? Tapi kamu selalu menolak dan beralasan seorang ibu tidak mungkin berbohong tentang anaknya, halah wanita itu dipercaya,” cicit Mahesa, dia tidak sedikitpun percaya pada semua isi pada map di masa lalu atau semua ucapan yang diucapkan ibu kandungnya, karena baginya Aulia adalah pembohong besar. Ibu kandung memang seharusnya dihormati tapi bagi Mahesa wanita seperti Aulia sangat berbahaya jika terlalu diperlakukan baik ataupun terlalu dipercaya. Andai Karey bisa paham, rasa cintaku padanya tidak akan pernah luntur apapun kenyataan yang menimpa kita berdua, aku memang selalu merasakan rasa keluarga di dekatnya tapi itu bukan seperti adik kakak, ada hal lain. “Karey ....” panggil Mahesa. “Hmm?” “Percayalah padaku, jangan percaya pada wanita itu, tidak peduli apakah dia ibu kandungku atau bukan, tapi memang kenyataannya tidak ada satupun orang yang bisa mempercayainya,” ucap Mahesa masih meyakinkan. “Aku melihatnya di jalanan tadi, ketika macet,” tegas Karey. “Aku tahu, bahkan sangat tahu, makanya kamu kabur ke sini, kan? Bersikaplah sepertiku, melihat tapi tidak terlihat, jangan kamu pikir aku tidak melihatnya, bahkan itu sangat tidak penting,” tukas Mahesa. Karey mengubah posisi duduknya dan dia menatap wajah Mahesa dengan tatapan sangat emosi, “Yakin kamu akan terus seperti itu? Dia ibu kandungmu, Kak, dia ....” Mahesa membungkam mulut itu dengan mulutnya, tak akan dia biarkan kata-kata lain ke luar dari mulut Karey jika itu masih tentang Aulia. “Lepas! Apaan, sih, aku gak suka!” bentak Karey seraya melepaskan panggutan pada bibir mereka. *** Setelah kejadian di tempat itu, Karey masih mendiamkan Mahesa walaupun mobil mereka sudah terparkir di halaman kos putri di mana Karey tinggal sekarang. “Maaf, aku hanya ingin kamu berhenti membicarakan wanita itu dan berhenti percaya padanya,” ucap Mahesa. “Lihat mobil ini, hanya dengan beberapa bulan bisa aku beli bukan? Bahkan aku belum lama lulus dari SMA,” ucap Mahesa lagi. “Ah, gak usah dibahas terus, itu hanya keberuntungan aja,” tukas Karey, dia tidak ingin bersikap baik sekarang. Dia melakukan itu bukan karena ciuman yang mereka lakukan beberapa jam yang lalu, tapi Karey tidak memiliki tenaga untuk berurusan dengan siapapun sampai dia bisa bertemu kembali dengan adiknya. “Baik lah, kamu istirahat, aku harus melanjutkan pekerjaan lagi malam ini, besok kita ketemu lagi.” Mahesa pun ke luar dan membukakan pintu mobil untuk Karey. Karey hanya menatap wajah pria itu dengan tatapan tanpa ekspresi, dan melenggang pergi tanpa mengatakan sepatah kata pun walaupun Mahesa masih diam di tempat. “Tidur, dan jangan lupa besok kerja, jangan lupa apa niatmu bekerja dan tidak melanjutkan sekolah!” teriak Mahesa, walaupun Karey mendengar sangat jelas, tetapi dia tetap mengabaikannya. Terima kasih, tapi cinta yang kita miliki selama ini cinta yang salah, dan mungkin berdosa, karena sebesar apapun usaha untuk melupakan, cinta itu tetap saja mengalahkan segalanya, maaf Mahesa. Setelah perginya Karey, dan memastikan Karey benar-benar aman, kini Mahesa mengemudikan mobil nya untuk kembali menyelesaikan beberapa hal yang baginya sangat menganggu. “Aku harus kembali ke kantor polisi, aku harus mendapatkan banyak informasi lagi dari Om Fatih, dia akan menjadi saksi bahkan menjadi bukti kuat bahwa sebenarnya wanita itu berbohong, dan aku bukanlah anak pak Reyhan.” Mahesa tidak habis pikir dengan dirinya sendiri, mengapa harus wanita itu yang menjadi ibu kandungnya? Mengapa wanita sejahat dan sekejam itu yang melahirkan dia ke dunia, mengapa tidak wanita baik seperti bundanya di panti asuhan? Pertanyaan itu masih saja dia pertanyakan pada dirinya sendiri, Mahesa benar-benar sangat membenci Aulia, walaupun itu ibu kandungnya sendiri.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD