“Hentikan tangisan mu itu, tidak ada gunanya kamu menangis dan terus menyakiti dirimu sendiri selama berbulan-bulan,” ucap Reyhan, sebagai orang yang lebih tua dan bahkan lebih berpengalaman dalam hidup, Reyhan tak ingin pria muda mengalami masa sulit berkepanjangan seperti itu.
Terlebih lagi semua masalah yang terjadi disebabkan oleh putri kandungnya sendiri, sebaik apapun sebuah alasan, pergi adalah solusi terburuk dalam sebuah pernikahan.
Tidak ada perpisahan yang didasari dengan niat baik, karena jika itu memang cinta mengapa harus berpisah? Niat baik hanyalah sebuah penenang yang memang sebenarnya bukanlah hal baik.
“Dua kali kehilangan istri dalam berumah tangga, saya bahkan tidak pernah berhenti menyalahkan diri sendiri, kamu tahu itu bukan? Saya bahkan lebih hancur dari apa yang kamu alami sekarang,” ucap Reyhan lagi berusaha untuk mencari jalan keluar untuk masalah yang terjadi.
Apapun yang berusaha Reyhan katakan dan jelaskan, cinta memanglah buta dan tuli, bahkan semua orang di dunia berkata-kata pun tidak akan bisa dimengerti oleh seseorang yang sedang jatuh cinta.
Ardian tidak percaya dengan isi surat tersebut, dia memang mengenali tulisan istrinya karena bagaimanapun juga dia seorang guru yang selalu memperhatikan setiap tulisan murid-muridnya terlebih lagi murid special seperti istrinya itu.
Apakah mungkin Key menulis surat seperti itu karena paksaan? Tapi siapa yang mencoba memaksanya? Apakah mungkin Key mengalami sesuatu dan merasa tidak sanggup menghadapinya dan membuatnya menjadi kalut.
Sebesar apapun cinta yang Ardian berikan untuk istrinya, tetap tidak bisa membuatnya merasakan kebahagiaan yang dia inginkan selama ini.
“Dimana surat itu? Dimana saya membuangnya dulu dimana aaaaaaaa!” teriak Ardian dan berusaha mengacak-acak semua tumpukan buku bahkan map kerja pun dia jatuhkan semuanya ke lantai hingga berserakan.
Reyhan ingin membantu tetapi dia juga sudah lupa dimana surat itu setelah terakhir kalinya Ardian membuangnya dengan asal karena rasa kesalnya yang tak terbendung, bahkan sampai hari ini pun Reyhan tidak mengetahui apapun tentang isi surat tersebut, Ardian tidak ingin memberitahu isinya kepada siapapun bahkan kepada Reyhan sebagai mertuanya sendiri.
Pencarian yang selalu berakhir sia-sia karena apa yang dicari tidak pernah berhasil ditemukan, apartemen itu masih Ardian tempati karena sebelum surat tersebut berhasil ditemukan, sampai kapanpun Ardian tidak akan mau pindah apalagi sampai menjual apartemen seperti yang sudah disarankan oleh kedua orang tua angkatnya.
“Ardian, hentikan sekarang, atau saya pun benar-benar kehilangan batas memperlakukan mu, saya sudah katakan berkali-kali surat itu tidak ada lagi di sini, mungkin saat itu terbuang bersama tumpukan sampah, jadi tolong hentikan pencarian itu.”
Mendengar kata tumpukan sampah kala itu, membuat isi kepalanya kembali bekerja dengan berpikir keras, berusaha mengingat tetapi setelah berbulan-bulan lamanya, sudah banyak sampah yang dia buang tanpa memikirkan apa saja yang dibuang olehnya.
***
Sedangkan di tempat lain, seorang wanita yang sudah terlihat tak muda lagi terus membaca surat itu dengan tawanya yang sangat puas, tentu saja dia sangat puas karena melihat orang-orang yang ingin dia hancurkan sudah hancur satu-persatu tanpa harus dia melakukan sesuatu.
“Ha ha, sangat bodoh gadis itu, benar kata pepatah lama buah jatuh tidak akan jauh dari pohon nya, gadis itu memiliki sikap polos nan bodoh seperti ibu kandungnya dulu, rasakan itu!”
Rahasia satu-persatu memang sudah terbongkar karena sebelum pria bernama Fatih menyerahkan dirinya ke polisi, semua rahasia sudah berhasil diungkapkan, bahkan di luar rencana yang sudah Aulia rencanakan selama ini.
Merasa sedikit terbantu walaupun Aulia tidak pernah bisa berhenti dengan sikap obsesinya itu untuk memiliki pria yang sangat dia cintai selama hampir puluhan tahun.
“Jika aku masih belum bisa memilikinya, akan ku hancurkan hidup anak-anaknya, sedikit demi sedikit kehancuran itu akan mereka rasakan.”
Tidak ingin lagi membuang waktu terlalu lama, Aulia mengambil tas nya di kamar lalu melenggang pergi, tak lama dari itu mobil yang dia kemudikan pun melaju dengan cepat menuju tempat tujuannya hari ini.
Kota Bandung benar-benar sudah menjadi kota yang membuatnya merasa dipermainkan, tidak hanya membenci beberapa orang yang tinggal di kota tersebut, Aulia pun menjadi sangat risih ketika dirinya harus memaksakan diri untuk datang lagi ke kota itu.
Sesampainya di desa, Aulia mencoba untuk bertanya kepada beberapa tetangga dan mencoba untuk mencari tahu informasi yang mungkin saja sudah lama dia tidak ketahui.
“Oh begitu ya, Bu? Jadi sekarang keluarga mereka tidak lagi tinggal di rumah lama?” tanya Aulia untuk memastikan lagi.
“Ya benar, tapi yang kami tahu setelah operasi jantungnya berhasil dan pulang dari rumah sakit, Karey pergi ke kota lain untuk bekerja, dan memang tidak lagi melanjutkan sekolah nya,” jawab salah satu tetangga mencoba memberikan informasi.
Selama berbulan-bulan, mungkin hampir sudah 6 bulan jika terhitung dengan hari ini, Aulia benar-benar ingin sekali mengutuk dirinya sendiri karena sudah sangat tertinggal jauh dari semua informasi penting dan membuatnya kesulitan lebih banyak lagi.
“Memangnya Mbak ini siapanya mereka ya? Jika memang penting kami bisa saja memberikan alamat Karey sekarang, karena kakek dan neneknya masih tinggal di dekat-dekat sini walaupun beda gang saja.”
Merasa mendapatkan peluang baru, Aulia pun kembali mengatakan hal-hal palsu kepada orang-orang tersebut, memanfaatkan ketidak tahuan orang desa memanglah sangat mudah pikirnya.
Hanya dengan menunjukkan beberapa hal palsu dan memperlihatkan wajah sedih, bisa dengan mudah membuat Aulia hampir mencapai kesuksesan rencananya.
Setelah ibu-ibu di desa itu sudah memberikan informasi tentang keberadaan Karey, tidak lama dari itu Aulia pun segera pergi mencari alamat tersebut karena memang kota lain itu masih cukup dekat dengan kota Bandung.
“Sial, kenapa harus macet, si? Keburu malam nanti, lagian ngapain juga itu anak sosoan kerja dan ninggalin kakek neneknya, so kuat,” cicitnya ketika dirinya terus-menerus dibuat kesal hari ini, terjebak macet dengan jumlah kendaraan yang lumayan mungkin akan membuatnya sampai nanti malam ke alamat tujuannya.
Tanpa disadari oleh Aulia, pemilik mobil lain yang sama sepertinya terjebak macet pun melihatnya dengan rasa terkejut.
“Loh? Itu, kan Tante Aulia? Ibu kandungnya Mahesa? Ngapain dia? Kebetulan kah ini?”
“Hah? Kenapa?”
“Gapapa, kamu lanjut fokus ke depan siapa tahu nanti macet nya berakhir.”
Benar-benar tidak ingin lagi berurusan dengan orang-orang di masa lalunya, membuat Karey tidak tahan lagi ingin segera mengakhiri kemacetan hari ini.
“Ini sampai kapan, sih, akan begini? Kira-kira lama gak?!” pekik Karey, dia mulai tidak sabar.
Disisi lain juga Karey tidak ingin Aulia menyadari kehadirannya yang cukup dekat, mobil mereka hanya terhalang oleh satu mobil lain dan ada dua motor yang sedang berada di tengah-tengah kemacetan hari ini.
“Oke, aku ke luar aja, aku mau jalan kaki,” ucap Karey, dia memutuskan hal itu.
Namun, pria yang sedang bersamanya sekarang masih tidak mengerti apa yang sedang Karey alami, berusaha mencegah walaupun cegahan nya terlambat, Karey sudah keluar dari mobil dan terlihat sedikit berlari di luar sana.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Biasanya juga dia kok yang sabar kalau ada macet panjang kayak begini, aneh.”