bc

Selingkuh Itu ... Nikmat

book_age18+
183
FOLLOW
3.3K
READ
revenge
dark
forbidden
love-triangle
BE
one-night stand
family
escape while being pregnant
age gap
forced
opposites attract
arranged marriage
playboy
boss
heir/heiress
blue collar
drama
sweet
bxg
lighthearted
bold
city
office/work place
cheating
childhood crush
rejected
secrets
love at the first sight
affair
friends with benefits
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Area dewasa 18+++Cherry dan Devano adalah sepasang suami istri asal Indonesia yang tinggal di Amerika. Sementara Gilbert dan Bianca adalah sepasang suami-isteri yang sangat berpower dan kaya raya berdarah Eropa.Karena amplop cokelat misterius, Cherry mengira suaminya selingkuh dengan Bianca—bos Devano di kantor.Tanpa pikir panjang, dia menemui Gilbert—suami Bianca. Lalu ... hal yang tidak disangka-sangka justru terjadi. Cherry dan Gilbert malah menikmati malam panas yang nikmat untuk balas dendam.Bagaimana kelanjutan hubungan kedua pasangan suami istri itu? "Selingkuh itu nikmat, Cherry! Ayo kita lakukan lagi!" bisik Gilbert menggoda yang membuat bulu kuduk Cherry meremang. "Aku tahu kamu lebih menikmati bermain denganku.""Stop! Jangan sentuh aku lagi, Mister Gilbert!" Cherry berlari secepat mungkin, dia berharap bisa lepas dari Gilbert, tapi ....

chap-preview
Free preview
Bab 1. Amplop Cokelat Misterius
"Aku benci musim dingin!" Cherry duduk di depan jendela apartemen, menyeruput cokelat panas sambil melihat salju yang turun di kota New York. Namun, pagi itu, suara bel pintu berbunyi. "Siapa ya? Tumben pagi-pagi kedatangan tamu." Cherry bangkit dan berjalan ke pintu. Begitu dibuka, dia menemukan seorang pengantar paket. “Untuk Nyonya Cherry Abimana," ucap pengantar paket dengan wajah tanpa ekspresi. Cherry mengernyit, karena dia tidak ingat memesan barang apa pun. “Yakin untukku? Itu, dari siapa?” tanyanya curiga. Pengantar itu hanya mengangkat bahu. “Tidak ada nama pengirimnya, Nyonya. Saya hanya disuruh mengantarkan paket ini.” "Owh, mungkin dokumen dari Indonesia. Ya sudah sini, saya terima saja." Cherry menerima paket itu—sebuah amplop cokelat yang cukup tebal. "Baik, Nyonya. Tolong tanda tangani ini!" perintah pengantar paket menyerahkan selembar kertas. Cherry tersenyum, dengan cepat dia menandatangani kertas itu. "Terimakasih, Sir. Semoga harimu menyenangkan." "Sama-sama, Nyonya," balas Pengantar paket itu menunduk, masih dengan tanpa expresi, lalu pergi meninggalkan unit apartemen Cherry. "Apa ya, isinya? Langsung buka aja ah." Cherry menutup pintu apartemennya, dia duduk di sofa ruang tamu. Lalu, dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu, dia segera merobek bagian atas amplop itu dan menarik isinya. "Apa-apaan ini!?" Mata Cherry membelalak saat melihat foto-foto yang ada di dalamnya. "Dasar para badjingan tengik!" Tangan Cherry gemetar saat meneliti satu per satu foto yang berhamburan di lantai. Di sana, terlihat jelas suaminya sedang di atas ranjang hotel dengan seorang wanita yang sangat Cherry kenali. Devano—suaminya dan Bianca—atasan Devano berpose tak senonoh, mereka berciuman, berpelukan tanpa pakaian, dalam berbagai posisi yang tidak perlu dijelaskan lebih lanjut di balik selimut putih. Darah Cherry mendidih. Matanya memerah. Tangannya mencengkeram foto-foto itu erat hingga hampir merobeknya. "Berengsek, tega sekali mereka bermain di belakangku!" Tanpa pikir panjang, dia mengambil jaketnya dan meraih kunci mobil. Ada satu orang yang harus dia temui, jika Devano benar-benar selingkuh dengan Bianca, maka Gilbert—suami Bianca—harus tahu. Cherry melangkah cepat ke dalam gedung pencakar langit di kota New York, mengenakan mantel bulu berwarna hitam. Matanya penuh amarah, dia melangkah matap dengan stiletto berwarna hitam yang tampak cantik di kakinya. Begitu sampai di meja resepsionis, Cherry, dengan nada angkuh berkata, "Di mana ruangan Gilbert Taylor? Aku ingin bertemu dengannya." Seorang wanita berambut pirang dengan seragam hitam tersenyum ramah. "Maaf, Nona, Anda tidak bisa masuk tanpa janji temu dengan beliau." Cherry mendengus dan tersenyum smirk. "Tolong dengarkan baik-baik perkataanku! Aku enggak butuh janji temu. Aku harus ketemu Gilbert sekarang juga!" Resepsionis itu tetap tersenyum ramah meskipun rasanya dia ingin memaki Cherry yang tampak sangat tidak sopan di hadapannya. "Maaf, Nona, Tuan Gilbert sedang sibuk. Jika Anda ingin bertemu, Anda harus membuat janji lebih dulu." Cherry menghela napas panjang, mengerahkan semua kesabaran yang tersisa. "Apa kamu tuli? Kau tidak mendengar ucapanku tadi?" ucapnya dengan nada lebih rendah, tetapi penuh anncaman. "Apapun yang terjadi aku harus ketemu Gilbert Taylor sekarang juga!" Resepsionis itu menghela napas panjang, dan masih terus memaksakan diri untuk tersenyum ramah dan menggeleng. "Maaf, Nona. Ta—" Kebetulan sekali Cherry melihat lift terbuka. Dengan gesit, dia meninggalkan meja resepsionis dan langsung berlari ke arah lift. "Nona! Anda tidak bisa—!" Resepsionis itu berlari mengejar Cherry. Tapi sayang sekali, dia terlambat, karena pintu lift sudah tertutup. "Sial! Nanti pasti aku kena hukuman," gumam resepsionis itu merasa kesal sambil menghentakkan kaki di lantai. Cherry menekan tombol ke lantai tertinggi, dia hanya mengira-ngira saja bahwa ruangan CEO pasti ada di lantai tertinggi. Begitu pintu terbuka, dua pria keamanan mencoba menghentikannya. Namun, Cherry yang terbakar amarah dengan lincah menghindar, mendorong salah satu dari mereka, lalu menerobos masuk ke dalam ruangan besar dan mewah itu. Di dalam, seorang pria duduk dengan tenang di balik meja kaca besar. "Hay, Mister Gilbert!" bentak Cherry. Pria berambut pirang dan bermata hazel itu mengangkat wajahnya dari dokumen yang sedang dia baca. Dengan setelan jas mahal berwarna hitam, postur tubuh yang kekar, tegap dan maskulin, pria itu terlihat seperti sosok CEO yang dingin dan berwibawa. Cherry menghempaskan amplop cokelat ke atas mejanya. "Cepat buka ini!" Gilbert hanya menatapnya dengan ekspresi datar. "Maaf, Nona. Anda siapa, ya?" Cherry menyilangkan tangan dan langsung duduk di hadapan Gilbert meski belum dipersilahkan. "Aku Cherry, istri Devano, sekretaris istrimu." Gilbert mengangkat alis. “Dan kenapa Anda menerobos masuk ke kantor saya seperti ini?” Cherry menjentikkan jarinya ke amplop itu. “Karena istrimu itu sudah menggoda suamiku! Dan aku mau kamu lihat bukti ini dengan matamu sendiri, Mister!" "Owh, benarkah?" Gilbert membuka amplop itu dengan tenang. Matanya meneliti foto-foto yang berserakan di atas meja. Lalu, sesuatu yang tidak Cherry duga terjadi. Gilbert … malah tertawa. Hal itu membuat Cherry mendelik dan mengerucutkan bibirnya. "Apa yang lucu, hah!? Itu istrimu sama suamiku lagi telanjang bareng di ranjang! Kamu nggak marah!?" Gilbert menyandarkan punggungnya ke kursi, masih tersenyum tipis. “Foto ini palsu, Nona." Cherry mendecak keras. "Palsu? Kamu pikir aku bodoh? Jelas-jelas itu adalah foto Bianca sama Devano! Lihat wajah mereka! Itu pasti asli!" Gilbert menghela napas panjang. “Teknologi sekarang itu sangat canggih, Nona Cherry. Siapa pun bisa membuat foto seperti ini.” Cherry melemparkan satu foto tepat ke wajah Gilbert. “Kamu bisa menyangkal sepuasmu, tapi aku enggak bodoh seperti kamu. Aku tahu betul seperti apa expresi wajah Devano saat lagi bernafsu! Lagi pula aku pernah menemukan bekas lipstick Bianca di kemeja putih suamiku.” Gilbert terdiam, menatap Cherry dengan tatapan tajam. "Bekas lipstick?" ulangnya. Cherry mengangguk mantap. "Devano tidak menyangkalnya, dia bilang memang itu cap bibir dari Bianca karena saat itu Bianca sedang mabuk dan tak sengaja memeluknya. Tapi dia meyakinkan aku, jika hubungannya dengan Bianca hanyalah sekertaris dan bos saja." Akhirnya, Gilbert mengambil satu foto lagi dan menelitinya lebih dekat. Lalu, dengan nada lebih serius, dia berkata, “Jadi, menurutmu, mereka benar-benar berselingkuh?” “Seratus persen," balas Cherry memajukan tubuhnya dan menaruh dua telapak tangan di meja. "Mereka benar-benar bermain di belakang kita, Mister." Gilbert mengusap dagunya. “Kalau begitu, ayo kita berdua bekerja sama cari tahu kebenarannya!” Cherry menatapnya curiga. “Jadi kamu mau bekerja sama denganku? Kamu sudah percaya jika pasangan kita berselingkuh?" Gilbert tersenyum tipis. “Belum 100% percaya, sih. Tapi aku hanya ingin mencari bukti lebih lanjut. Karena bagiku bukti foto ini saja tidaklah cukup." Cherry menyilangkan tangan, menatap Gilbert tajam. “Bagus, ayo kita bersama-sama mencari bukti perselingkuhan mereka! Pokoknya kalau suamiku benar-benar selingkuh sama istrimu, aku bakal bikin hidupnya hancur! Bila perlu aku akan memotong burungnya.” Gilbert terkekeh, menatap Cherry dengan ekspresi penuh ketertarikan. "Kau benar-benar mengerikan, Nona. Aku bahkan sampai merinding." “Kamu baru lihat permulaannya, Mister. Yang jelas aku bisa berbuat nekat dan kejam jika aku disakiti." Cherry menyeringai, dan menatap mata Gilbert dengan tajam. "Sekarang, ayo kita menyusun rencana untuk memata-matai mereka!"

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.1K
bc

TERNODA

read
199.2K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
67.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook