"Jangan bawa-bawa mantan! Itu sudah masa lalu, Gilbert," sanggah Bianca menahan emosi. "Aku hanya lebih nyaman tinggal di apartemen kita karena dekat dengan kantorku."
"Keputusanku sudah bulat. Mulai hari ini dan seterusnya kita akan tinggal di rumah ini menemani Zania," ujar Gilbert pergi ke kamar mandi meninggalkan Bianca sendirian.
"Sial!" Bianca merasa kesal dan menjambak rambutnya sendiri. "Entah kapan aku dan Gilbert bisa seperti pasangan normal pada umumnya yang ... saling mencintai."
Bianca duduk di meja rias, mengeluarkan alat-alat make up yang selalu ada di tas untuk membersihkan wajahnya. Dan pikiran Bianca melayang ke kejadian masa lampau bersama Gilbert, yang tidak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya.
***
New York, 8 tahun yang lalu.
"Saya hamil," ucap Bianca memberikan tespek bergaris dua. "Ini anak Anda, Tuan Gilbert."
Mata Gilbert membelalak sempurna. "Kau bercanda! Kita hanya melakukan seks satu kali. Mana mungkin itu anakku, kau pasti berbohong, Bianca! Itupun karena saat itu aku sedang tidak 100% sadar karena mabuk!"
"Tentu saja bisa, karena saat itu saya sedang di masa subur," balas Bianca dengan expresi serius dan terlihat sangat meyakinkan.
"Tapi itu ter—"
Bianca dengan cepat memotong ucapan Gilbert. "Anda melihat sendiri kan, saat itu ada darah di atas sprei putih. Saya virgin dan saya hanya pernah berhubungan seks dengan Anda, Tuan. Jika Anda tidak percaya, setelah anak ini lahir, Anda bisa melakukan tes DNA."
"Kau bukannya punya pacar? Bisa jadi setelah kau berhubungan denganku kau berhubungan dengan pacarmu," tuduh Gilbert dengan satu sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Sudah kubilang tadi jika saya hanya berhubungan dengan Anda." Bianca menghela napas panjang. "Pacar saya dari Indonesia yang masih menjunjung tinggi adat ketimuran. Dia tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Itu sebabnya saya masih virgin meski kami sudah lama berpacaran. Saya juga berhubungan dengan Anda gara-gara mabuk. Kalau tidak, jelas saya akan menolak Anda mentah-mentah!"
"Kau pikir aku mau menyentuhmu kalau aku tidak mabuk!" Gilbert memutar bola matanya dengan malas dan memasang expresi jijik. "Jujur saja kamu bukan tipeku. Aku lebih suka cewek pendek yang tubuhnya sedikit berisi. Tidak seperti kamu yang kurus kering!"
"Anda juga bukan tipeku! Saya suka pria asia, tahu! Tapi meskipun begitu, Anda harus tanggung jawab, Tuan Gilbert yang terhormat! Apapun yang akan terjadi saya tidak mau mengugurkan anak di dalam kandunganku. Dia tidak bersalah dan dia pantas untuk hidup," sembur Bianca merasa kesal.
"Baiklah. Sebagai lelaki terhormat aku akan bertanggungjawab. Tapi ... ayo kita buat surat perjanjian pranikah! Bila perlu aku ingin pernikahan terbuka, apa kau setuju?" tanya Gilbert menai turunkan alisnya.
Bianca terpejam sejenak dan menghela napas panjang. "Untuk membuat surat perjanjian pranikah saya setuju. Tapi ... saya tidak mau pernikahan terbuka, bagiku itu sangat menjijikkan."
"Lalu gimana? Kita berdua kan tidak saling mencintai." Gilbert memijat pelipis karena kepalanya tiba-tiba terasa pening. "Astaga, mana bisa aku menikah dengan orang yang tidak kucintai."
"Jawabannya cuma satu, Tuan Gilbert yang terhormat. Saya dan Anda harus belajar saling mencintai dan menerima. Mungkin saja anak ini bisa membuat kita saling jatuh cinta. Saya berjanji akan melupakan mantanku dan Anda juga harus berjanji untuk tidak menjamah wanita lain selain saya!" pinta Bianca dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah kalau begitu." Gilbert mengulurkan tangan. "Deal. Ayo kita berusaha dan membesarkan anak kita bersama-sama."
***
"Kamu mandilah, Bianca!" perintah Gilbert membuat Bianca tersadar dari lamunannya.
"Eh, iya," jawab Bianca, dia berdiri lalu berjalan ke kamar mandi.
Bianca melepas baju, tapi saat dia hendak memasukkan bajunya ke dalam keranjang yang dikhususkan untuk pakaian kotor, tangan wanita itu berhenti bergerak dan matanya memicing ke arah baju Gilbert yang ada di dalam keranjang.
"Bekas lipstik," gumam Bianca pelan.
Bianca lalu mengambil baju Gilbert, merentangkannya dan mengelus cap bibir berwarna pink. "Dia ... dia pasti selingkuh di belakangku."
Wanita itu memakai bajunya kembali dengan cepat, keluar dari kamar mandi dan berteriak lantang, "Gilbert!"
Gilbert yang sedang memainkan ponsel tersentak hingga ponsel itu terjatuh dari tangannya. "Ada apa, Banca? Jangan teriak-teriak! Nanti semua orang dengar."
"Sialan kamu!" Bianca melempar baju yang dia pegang ke arah Gilbert. "Kamu pasti selingkuh di belakangku!"
"Apa maksudmu, Sayang? Kenapa kamu menuduhku? Aku tidak mungkin selingkuh." Gilbert berdiri, dia memasang wajah datar meski jantungnya berdebar-debar karena dia ketahuan.
"Di bajumu ada bekas cap bibir wanita lain! Aroma parfum di bajumu mu juga tercampur dengan parfum wanita. Jangan menyangkal! Kamu pasti selingkuh di belakangku!" sembur Bianca, dadanya naik turun dia benar-benar emosi, kesal dan kecewa.
"Owh soal itu." jawab Gilbert santai sambil terkekeh pelan. "Coba kamu temui Zania dan tanyakan padanya dengan siapa tadi kami menikmati makan malam!"
"Zania?" beo Bianca. "Kenapa kamu bawa-bawa Zania? Ini masalah dewasa, mana tau anak kecil masalah seperti ini!"
Gilbert menghela napas kasar lalu mengandeng Bianca keluar kamar. "Tanyalah padanya agar kamu percaya padaku dan tidak menuduhku selingkuh."
Bianca memilih diam saja dan berjalan cepat mengimbangi langkah kaki Gilbert yang lebar. Keduanya masuk ke dalam kamar anak mereka, untunglah Zania belum tidur, dia yang sedang asik membaca buku menoleh saat mendengar suara pintu yang terbuka.
"Loh, kenapa Mommy dan Daddy malah ke sini?" tanya Zania penasaran dengan kening berkerut.
"Zania," ujar Gilbert duduk di samping ranjang. "Coba ceritakan pada Mommymu apa yang kita lakukan tadi!"
Alis Zania menyatu, jari telunjuk tangan kanannya menyentuh dagu. "Tentang kita yang tadi makan malam di rumah Miss Cherry?" tanyanya memastikan.
Gilbert baru membuka mulutnya, tapi Bianca langsung menimpali, "Siapa Miss Cherry?"
"Guruku yang baru, Mommy. Tadi Mommy enggak dengar ya pas aku bilang enggak mau pindah sekolah karena guruku yang baru sangat baik dan cantik. Tadi dia menemani aku menunggu jemputan, terus dia membawaku ke apartemennya karena jemputanku lama, dia takut aku kedinginan, nah pas di apartemen, aku dan Daddy disuruh makan malam bersama sebelum pulang. Masakan Miss Cherry sangat enak, dia juga memberikan aku cokelat panas khas Indonesia yang rasanya paling enak yang pernah aku minum," jelas Zania panjang lebar.
Mata Bianca mengerjap dia sedang memproses penjelasan Zania, lalu matanya menatap ke arah Gilbert. "Apa cap berwarna pink itu milik gurunya Zania?" tanyanya sengaja memakai kode.
Gilbert yang mendongak menatap Bianca mengangguk. "Iya benar, pas aku bantu dia nyuci piring dan membersihkan dapur, kami tak sengaja bertabrakan."
"Kamu? Mencuci piring?" Bianca mengeryit, memasang expresi heran dan merasa tidak percaya.
"Tanyalah pada Zania kalau kamu enggak percaya!" Gilbert menatap ke arah Zania. "Tadi Papa bantu Miss Cherry cuci piring kan, ya? Coba kamu cerita ke Mommymu!"
"Iya, Mommy." Zania mengangguk. "Tadi aku bahkan sampai ketiduran di sofa gara-gara nungguin Daddy cuci piring. Kata Daddy dia tidak enak kalau langsung pulang, padahal kita berdia sudah makan malam gratis."
"Owh," gumam Bianca pelan, sambil menganggukkan kepalanya. "Bener sih."
"Kau sudah percaya 'kan?" Tanya Gilbert mendongak memastikan, dia tersenyum tipis karena bisa mendengar gumaman Bianca, hatinya merasa lega.
"Iya, aku percaya," balas Bianca yakin. "Ya sudah ayo kita kembali ke kamar dan biarkan Zania tidur!"
Gilbert tersenyum puas lalu memeluk dan mencium kening anak semata wayangnya. "Selamat tidur, my little cupcake. Have a nice dream. Maaf ya sudah mengganggumu."
Bianca juga melakukan hal yang sama. "Jangan membaca buku dan tidurlah, cantik. Ini sudah malam, mimpi indah."
Saat keluar dari kamar Zania, Gilbert berjalan di belakang Bianca seraya membatin, "Untunglah dia percaya, jadi ... sepertinya ... aku bisa lebih sering menikmati tubuh Cherryku yang manis dan nikmat."