Bab 9. Merasa Semakin Kotor

1295 Words
"Halo, Sayang." Devano tiba-tiba memeluk pinggang Cherry yang sedang mencuci piring dari belakang. Cherry langsung menepis tangan Devano dengan kasar, berbalik dan mendorong tubuhnya. "Jangan peluk aku!" Suaranya terdengar sedikit keras dengan expresi panik. "Kenapa, Cher?" Kening Devano berkerut karena baru kali ini istrinya menolak sentuhannya. "Itu ... aku ... em ... anu ...." Mata Cherry terpejam sebentar untuk berpikir. "Aku belum mandi, badanku bau, Kak. Jadi aku mandi dulu ya, sekarang kan aku kerja." "Astaga, Sayang!" seru Devano terkekeh pelan. "Aku pikir kamu marah sama aku gara-gara aku pulang terlambat terus kamu jadi enggak mau aku sentuh. Padahal mandi atau enggak, bagiku kamu tetap terlihat cantik di mataku dan berbau harum di hidungku." "Kamu apaan sih, Kak. Jangan gombal!" Cherry memaksakan diri untuk tersenyum. "Pokoknya aku mau mandi dulu ya, gerah banget soalnya, badanku terasa lengket." Tanpa menunggu jawaban dari sang suami, Cherry bergegas pergi ke kamar mandi. Hal itu membuat Devano mengeryit karena selama 4 tahun berumah tangga, baru kali ini Cherry bertingkah aneh di hadapannya. "Hari ini dia tidak menyambutku dan mencium tanganku. Dia juga menolak pelukanku, biasanya dia malah lebih dulu memelukku dan bergelayut manja. Ada apa dengan Cherry? Apa dia ...." Devano menghela napas panjang sebelum melanjutkan, "Dia pasti marah karena aku pulang terlambat." Di dalam kamar mandi, Cherry menggosok badannya dengan keras hingga kulitnya memerah. "Kotor aku kotor, aku benar-benar manusia hina menjijikan. Bodoh kau Cherry! Seharusnya kau menolak, berteriak, memukul atau mencekik Mister Gilbert, tapi kenapa ... kenapa tadi aku menikmati permainannya?" Setelah merasa kedinginan, Cherry keluar dari kamar mandi. Dia melihat Devano duduk di pinggir ranjang, tersenyum lalu, tangan kanan pria itu terulur untuk memberikan Cherry sebuah lingerie berwarna hitam dan g-string berenda dengan warna senada. "Aku ingin melihatmu memakai ini, Sayang," ucap Devano penuh harap. Mata Cherry mengerjap, dia mengigit bibir bawahnya. "Maaf, Kak. Hari ini aku sedang tidak mood. Bagaimana jika kita melakukannya besok saja?" "Owh, baiklah." Devano memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Kalau begitu aku ambilkan piyama, ya. Terus tidurlah, mungkin kamu lelah karena ini hari pertamamu bekerja." Cherry hanya mengangguk dia melihat Devano yang sedang sibuk memilihkan baju di almari untuknya dengan rasa bersalah. "Pakailah ini!" perintah Devano menyerahkan piyama berwarna putih dengan motif bunga. "Terimakasih, Kak. Dan ... maaf." Cherry menunduk, rasanya dia tak berani menatap mata sang suami. "Maafkan aku karena tidak bisa melayanimu malam ini." "Tidak apa-apa." Tangan Gilbert terulur mengelus rambut Cherry yang masih basah. "Aku tahu kau tidak mood karena aku tiba-tiba pulang terlambat. Seharusnya aku yang minta maaf padamu, Sayang. Lagi pula malam ini tim bola favoritku sedang bertanding, jadi lebih baik aku menonton bola, boleh kan?" "Tentu saja boleh," jawab Cherry mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku siapkan cemilan dan cola untuk Kakak setelah aku pakai baju dan mengeringkan rambutku ya." "Oke, Sayang." Devano mengecup singkat bibir Cherry sebelum pergi keluar kamar. Begitu pintu tertutup, tubuh Cherry ambruk. Dia menjambak rambut panjangnya sendiri karena merasa frustasi. "Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan? Kenapa Mister Gilbert mengajakku untuk melakukan hal terlarang itu lagi?" Lalu tiba-tiba pikiran Cherry teringat dengan sesuatu. "Ah iya, pasti Mister Gilbert masih mengira jika Bianca menyelingkuhinya. Aku harus mengatakan hal yang sebenarnya padanya besok jika ternyata suami istri kita tidak selingkuh. Dengan begitu, pasti dia merasa bersalah dan tidak akan menyetuhku atau menggodaku lagi." *** Sementara itu di kediaman megah nan mewah milik kepala keluarga Taylor, semua anggota keluarga inti sudah berkumpul untuk menjenguk salah satu anggota keluarga mereka yang sedang sakit. "Grandma." Zania yang baru turun turun dari mobil bersama Gilbert langsung berlari dan memeluk seorang wanita paruh baya yang duduk di sofa ruang tamu. "Apa Grandma sekarang sudah sehat setelah bertemu dengan dokter?" tanyanya perhatian. "Apa yang Dokter katakan, Mom?" imbuh Gilbert dengan expresi wajah khawatir. "Kata dokter aku hanya kelelahan saja," jawab Irish—nenek Zania dan ibu Gilbert. "Sepertinya kamu kelelahan menjaga Zania, Mommy." Gilbert duduk di samping kiri Irish. "Mulai sekarang dia akan tinggal bersamaku dan Bianca di apartemen kami saja." Bianca yang tadi datang terlebih dahulu dari Gilbert dan Zania mengangguk setuju. "Ya, Mommy. Aku rasa itu adalah hal terbaik, aku takut nanti kamu kecapean dan sakit lagi." "Tidak mau!" bantah Zania mengerucutkan bibir. "Aku mau tinggal sama Grandma dan Grandpa, terus aku tetap mau sekolah di sekolahku yang sekarang. Apalagi aku baru dapat Bu Guru baru yang cantik dan baik hati." Eiser—kakek Zania terkekeh mendengar ucapan sang cucu. "Iya tidak apa-apa Zania tetap tinggal di sini. Lagi pula karena dia rumah ini menjadi ramai dan tidak sepi." "Jangan pisahkan kami dengan Zania, Gilbert," pinta Irish memeluk erat tubuh cucunya yang duduk di sebelah kanannya. "Dia itu bukan faktor yang membuatku lelah, kemarin kan aku habis berjalan-jalan dengan teman-teman jompoku, jadi faktornya karena itu, apalagi ini sedang musim dingin." Gilbert menghela napas panjang lalu berkata, "Kalau begitu biar aku dan Bianca yang pindah ke sini saja. Mulai sekarang aku yang akan antar jemput dia ke sekolah." "Hore." Zania yang tadi duduk langsung berdiri dan melompat-lompat. "Akhirnya kita berkumpul dan tinggal bersama di rumah ini." Sementara Bianca memasang expresi kesal dan membatin, "Bisa-bisanya Gilbert mengambil keputusan secara sepihak tanpa bertanya dulu pendapatku. Aku tidak suka tinggal di sini karena—" "Gimana Bianca?" tanya Gilbert yang membuat Bianca terkejut dari pikirannya sendiri. "Kamu setuju 'kan?" "Ya, aku setuju." Bianca memaksakan diri untuk tersenyum. "Karena yang terpenting adalah kebahagiaan Zania, juga kesehatan Mommy dan Daddy. Tapi, lebih baik Zania diantar supir saja, Gilbert. Kalau kamu anter jemput dia, kamu pasti akan kelelahan, kantormu kan cukup jauh dari sini, apalagi sekolah Zania dan kantormu tidak searah." "Tidak akan," balas Gilbert dengan expresi yang terlihat sangat senang meski dia tidak tersenyum. "Anggap saja aku sedang menebus waktu kebersamaanku yang kurang dulu. Sekarang kan perusahaanku sudah stabil dan aku lebih banyak punya waktu luang. Jadi, mulai besok aku akan lebih mendekatkan diri pada Zania." Eiser mengangguk setuju, menatap anak semata wayangnya dengan perasaan bangga dan haru. "Ya, Gilbert. Berkat kamu sekarang perusahaan kita sudah berada di atas puncak. Jadi memang sekarang kau harus lebih banyak menghabiskan waktumu bersama Zania. Jujur saja aku terkadang sedih saat melihat teman-temannya Zania bergandengan tangan bersama Daddy mereka, tapi Zania hanya bersama Grandpanya." "Apa kalian tahu?" Irish menatap Eiser, Gilbert, Bianca dan Zania bergantian. "Aku rasa aku sudah sehat 100% sekarang setelah aku mendengar jika pada akhirnya anakku, menantuku dan cucuku akan tinggal di rumah ini bersamaku. Hidupku pasti lebih berwarna." "Kalau begitu kita pergi ke apartemen dulu, Gilbert. Ayo, ambil pakaian kita!" ajak Bianca. "Tidak perlu, Bianca," balas Gilbert cepat. "Malam ini aku sangat lelah. Aku akan tidur di sini, untuk soal pakaian dan barang-barang pribadi kita, aku akan menyuruh pelayan untuk membawanya ke sini." Gilbert berjalan ke kamar dan Bianca mengikutinya. Wajah kedua suami istri itu tampak lelah, saat menaiki tangga berulang kali Bianca menghela napas panjang karena merasa tidak nyaman. Dan begitu pintu ditutup, Bianca berkata, "Gilbert, apa yang kamu lakukan? Saat menikah kan kamu berjanji kita akan tinggal terpisah dengan orang tuamu." "Sudahlah, Bianca! Debatnya besok saja. Aku sangat lelah dan ingin segera tidur," balas Gilbert terlihat cuek. Bianca mengepalkan tangan dengan rahang mengeras. "Kamu selalu seperti itu, Gilbert. Lelah, ngantuk, capek! Kamu tidak pernah ada waktu buat aku!" "Bukannya terbalik?" Gilbert terkekeh pelan. "Kau yang lebih sibuk daripada aku. Kau yang lebih sering perjalanan dinas dan pulang terlambat, Bianca." "Aku pulang terlambat, aku perjalanan dinas karena memang itulah pekerjaanku. Perusahaan keluargaku belum sesukses dan sebesar perusahaan milik keluargamu, jadi aku memang harus bekerja lebih keras. Apalagi aku anak tunggal dan hanya aku yang bisa mengatur dan menjalankan perusahaanku," jelas Bianca dengan nada yang terdengar sedikit keras. Mata Gilbert terpejam untuk sesaat dengan rahang yang mengeras. "Jangan membawa alasan tentang pekerjaan. Aku tahu kamu tidak mau tinggal di sini karena tidak mau bertemu dengan tetangga sebelah rumah yang merupakan mantan pacar terindahmu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD