Bab 8. Dan Terjadi Lagi

1157 Words
Cherry menutup mulutnya dengan telapak tangan karena terkejut. "Mister Gilbert!" "Halo, Miss Cherry." Gilbert tersenyum menatap Cherry. "Dunia sempit sekali ya, ternyata kamu adalah guru baru Zania." "Jadi, Daddy dan Miss Cherry sudah saling kenal?" timpal Zania mendongak menatap Gilbert dan Cherry bergantian. Gilbert menunduk dan mengelus puncak kepala Zania. "Tentu saja Daddy sangat mengenali Miss Cherry luar dan dalam. Karena kita dulu pernah bermain bersama." Mata Gilbert kembali menatap Cherry. "Benar kan, Miss Cherry?" Cherry kesusahan menelan salivanya, dia hanya bisa mengangguk karena tak bisa lagi berkata-kata. "Daddy, kata Miss Cherry dia mau ngajakin aku makan malam di sini. Tadi dia nyuruh aku ngajak Kakek dan Nenek juga makan malam di sini, tapi ternyata yang jemput Daddy, kalau begitu Daddy saja yang makan malam di sini bareng kita, ya? Apa Daddy mau?" cicit Zania penuh harap. "Tentu saja aku mau," jawab Gilbert tajam menatap Cherry. "Pasti masakan Miss Cherry sangat enak, lezat dan nikmat. Kebetulan sekali Daddy sudah sangat lapar karena tadi belum makan siang." "Asik." Zania melompat-lompat lalu mengandeng tangan Gilbert. "Ayo masuk, Dad. Dan ayo kita makan malam bersama." Di meja makan, Cherry melayani Gilbert dan Zania dengan baik tanpa mengucapkan sepatah katapun. Sementara pasangan Daddy dan anak itu terlihat asik mengobrol, tapi sesekali mata Gilbert melirik ke arah Cherry. "Semua sudah siap, ayo silahkan dimakan! Semoga kalian suka," ucap Cherry yang memilih duduk di samping Zania. "Terimakasih, Miss Cherry," balas Zania lalu dengan semangat memasukkan sesendok nasi dan sayur sop ke dalam mulut. "Wah, ini enak sekali," imbuhnya dengan mata berbinar-binar. "Miss Cherry pandai memasak. Ayo Daddy cepat dimakan! Daddy pasti juga suka masakan Miss Cherry." "Tentu, Zen. Dari aroma dan tampilannya saja aku tahu jika masakan Miss Cherry sangat enak." Gilbert menatap Cherry yang duduk di depan sebelah kanannya. "Selamat makan, Miss Cherry." "Ya ... selamat makan, Mister Gilbert." Cherry makan perlahan dengan jantung yang berdetak lebih cepat. Saat menguyah makanannya dia hanya menunduk dan membatin, "Bagaimana ini bisa terjadi? Astaga, kalau begini aku takut jika ... jika aku jadi sering bertemu dengan Mister Gilbert. Ternyata dugaanku tadi benar, Zania mirip dengan Mister Gilbert karena dia adalah puterinya." Setelah semua makanan di atas piring habis, Gilbert berkata, "Zania, bisalah kau menonton televisi dan tunggu sebentar? Daddy mau membantu Miss Cherry mencuci piring." "Tidak usah!" seru Cherry cepat. "Lebih baik Anda dan Zania pulang saja, Mister. Aku bisa membereskan ini semua sendirian." "Tidak, Cher," tolak Gilbert bersikeras. "Aku dan anakku sudah merepotkanmu, jadi izinkan aku membantumu untuk sekedar mencuci piring dan membersihkan dapurmu." "Iya, Daddy," imbuh Zania mengangguk setuju. "Aku akan menunggu di sofa sambil menonton kartun di televisi." Cherry menghela napas panjang dan memejamkan mata saat Zania pergi meninggalkan dia dan Gilbert beduaan. "Astaga, kenapa jadi seperti ini, sih?" batinnya merasa kesal. "Kenapa, Cher?" tanya Gilbert sambil membereskan piring di meja makan. "Sedari tadi kau terlihat tegang, apa kehadiranku membuatmu tidak nyaman?" "Sejujurnya iya," jawab Cherry jujur. "Jadi lebih baik Anda mengajak Zania pulang saja sekarang. Tolong biarkan aku sendiri saja yang membereskan ini semua." "Sudah kukatakan tidak!" Gilbert mengangkat piring dane membawanya ke wastafel. Cherry berbalik dan mengekor di belakang Gilbert. "Please, biarkan aku saja yang mencuci piringnya, Mister." Gilbert menoleh ke arah Cherry, satu sudut bibirnya terangkat, lalu dengan cepat tangannya menarik tangan Cherry hingga wanita muda itu berdiri di depannya dan mendudukannya di kitchen zink. "Bagaimana jika ... jika kita mencuci piring bersama?" bisik Gilbert tepat di telinga Cherry. Pupil mata Cherry membesar, wajahnya terlihat panik, dia menoleh ke arah ruang televisi dan mendorong tubuh Gilbert. "Jangan gila! Ada Zania di sini." Hal itu membuat Gilbert terkekeh pelan. "Jadi kalau tidak ada Zania di sini aku dan kamu boleh berbuat gila, ya?" "Tidak!" seru Cherry menggeleng cepat. "Maksudku bukan begitu! Sudahlah tolong minggir, aku mau pergi saja menemani Zania menonton televisi jika Anda mau mencuci piring-piring kotor ini!" "Cium aku dulu!" perintah Gilbert dengan tatapan menggodanya. "Apa!" pekik Cherry dengan mengerutkan keningnya. "Kamu gila, Mister Gilbert! Di sini ada anakmu!" Saat tangan Cherry mendorong d**a Gilbert, pria itu langsung mengengam lengan tangan Cherry dan berkata, "Setelah makan, biasanya Zania akan tertidur, kita aman jika hanya sekedar berciuman, bahkan kita juga akan aman jika melakukan hal itu dengan cepat." "Tidak lepaskan ak—" Sebelum Cherry menyelesaikan kalimatnya, bibir Gilbert dengan cepat membungkam bibir mungil Cherry dengan bibirnya. Tangan Cherry masih digenggam erat oleh Gilbert sehingga Cherry tidak bisa berkutik. Awalnya Cherry menolak dan berusaha keras untuk terus menutup bibirnya rapat-rapat. Namun, pada akhirnya, dia berhasil luluh karena sentuhan Gilbert ternyata bisa membuatnya merasa nyaman nikmat. Dan ... mata Cherry terpejam, dia membalas apa yang dilakukan Gilbert padanya. Sekali lagi, keduanya terhanyut dalam aliran sungai dosa yang sangat besar dan deras. Cukup lama mereka melakukan hal terlarang itu hingga akhirnya mereka berhasil mendapatkan puncak kenikmatan. Saat Cherry dan Gilbert sedang menstabilkan napas mereka, suara bell terdengar nyaring yang membuat mereka terkejut. Cherry mendorong tubuh Gilbert, meloncat turun dari kitchen zink, membernarkan roknya yang tersingkap hingga ke atas paha dan mengancingangkan kemejanya yang terbuka lebar dengan tangan gemetar. "Aku pulang, Sayang." Terdengar suara pintu terbuka. Wajah Cherry semakin panik karena penampilannya masih terlihat berantakan. "Bagaimana ini," gumamnya pelan mendongak menatap Gilbert. "Kamu di sini saja dan rampikan penampilanmu dulu! Aku yang akan menemui Devano dan berkata padanya jika kamu sendang mencuci piring," jawab Gilbert santai sambil membenarkan ritsleting celananya lalu meninggalkan Cherry sendirian di dapur. Devano yang baru masuk ke dalam rumah terkejut saat melihat seorang anak tertidur nyenyak di sofa. "Eh ... ini kan Nona Zania. Kok dia bisa ada di sini?" gumamnya pelan. "Istrimu itu guru anakku yang baru," jawab Gilbert mendekati Devano. "Tadi dia terlambat dijemput karena Grandma dan Grandpanya ke rumah sakit. Pada akhirnya aku yang menjemputnya, ternyata dia dibawa Cherry ke sini. Jadi aku ke sini untuk menjemputnya." "Eh, selamat sore Tuan Gilbert." Devano menunduk dan menyalami suami dari bosnya itu. "Lalu, di mana Cherry?" "Dia sedang mencuci piring di dapur. Maaf ya, aku dan anakku tadi sempat merepotkan dia karena Zania merengek minta makan malam di sini," jelas Gilbert tertawa renyah. "Tidak apa-apa, Tuan. Santai saja dan anggap saja ini rumah sendiri, kami senang karena bisa melayani Anda dan Nona Zania," balas Devano dengan polosnya tanpa adanya rasa curiga sedikitpun. "Terimakasih, Dev." Gilbert lalu menatap ke arah sofa. "Aku akan mengendong Zania dan pulang ke rumah orang tuaku sekarang. Tolong bilang pada Cherry ya." "Owh, baiklah Tuan. Apa saya saja yang mengendong Nona Zania ke dalam mobil?" tawar Devano sopan. "Tidak usah," kekeh Gilbert menepuk pundak Devano lalu berjalan ke sofa dan mengendong putrinya yang tertidur nyenyak. "Hati-hati, Tuan Gilbert," ucap Devano membukakan pintu apartemennya. "Salam untuk Tuan dan Nyonya Taylor." "Oke, sekali lagi terimakasih atas jamuan dari istrimu yang sangat lezat dan nikmat, ya." Gilbert tersenyum lalu keluar dari unit apartemen Devano dan Cherry. Saat berjalan ke dalam mobil, wajah Gilbert terlihat merona, senyum menghiasi wajah tampannya. "Dasar Devano bodoh! Dia tidak curiga sedikitpun padaku, padahal ... aku baru saja menikmati tubuh indah istrinya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD