Bab 7. Membuka Lembaran Baru

1118 Words
"Sayang, apa kau yakin tidak kecapean nanti?" tanya Devano dengan wajah khawatir saat dia duduk di meja makan. "Tentu saja tidak, Kak." Cherry memberikan Devano sepiring nasi goreng dan segelas teh hangat. "Ayo cepat makan dan jangan khawatirkan aku!" "Bekerja mengajari anak-anak itu butuh tenaga extra. Aku tak mau kamu kelelahan," lanjut Devano sebelum memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Cherry duduk di samping Devano dan berkata, "Enggak, justru aku akan senang karena mungkin nanti jadi punya banyak teman bermain. Jujur saja aku sering merasa bosan saat sendirian di rumah. Apalagi sekolahnya kan deket banget dari gedung apartemen ini, aku bisa sambil berolahraga saat berangkat dan pulang dari sekolah." "Ya sudah kalau begitu. Yang penting kamu happy, aku juga akan ikut happy." Devano mengalah lalu menikmati sarapannya. "Makasih, Kak." Cherry tersenyum puas sebelum memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya. Setelah menghabiskan sarapan mereka, sepasang suami istri itu kompak keluar unit apartemen, lalu berepelukan dan berciuman sebelum mereka berpisah saat keduanya sampai di lobby apartemen. "Semoga anak-anak nanti suka denganku," gumam Cherry, pipinya memerah karena terkena angin musim dingin. "Sebentar lagi musim semi." Cherry menghela napas panjang. "Bunga-bunga akan mekar, dan aku berharap lembaran baruku akan mekar juga. Meski aku tidak bisa melupakan kejadian menjijikan itu, tapi yang terpenting adalah aku tidak akan mengulanginya lagi!" Begitu sampai di sekolah, Cherry langsung berkenan dengan para guru sambil menunggu jam belajar tiba. Sebagai gadis yang cerewet dan extrovert, dia senang karena akhirnya memiliki teman di kota ini. "Halo, anak-anak. Kenalkan namaku Cherry. Aku adalah guru baru kalian. Mari kita bekerja sama dan saling tolong menolong dan mengasihi, ya," sapa Cherry saat di depan kelas anak-anak berusia 4 sampai 5 tahun. "Hello, Miss Cherry, nice to meet you," jawab anak-anak kompak. "Okey, aku akan mengabsen nama kalian satu persatu ya. Nanti kalian angkat tangan biar saya bisa bisa kenal lebih dekat dengan kalian," ucap Cherry semangat. Namun, saat mengucapkan nama anak yang berada di nomor terakhir, kening Cherry mengerut. "Zania Taylor?" "Saya, Miss." Seorang anak cantik berambut pirang dan bermata hazel yang duduk di belakang mengangkat tangan. Cherry mengamati anak itu, dirinya refleks memabatin, "Kok mirip sama seseorang ya? Ah tapi ... nggak-nggak! Nama Taylor di sini banyak, lagi pula ini sekolah biasa, pasti anaknya sekolah di sekolah elit, atau bisa jadi malah home schooling." "Miss Cherry?" Suara kompak anak-anak menyadarkan Cherry. "Ah, sorry." Cherry terkekeh pelan. "Aku sedang memikirkan apa yang harus saya lakukan selanjutnya, sepertinya aku grogi. Baiklah mari kita mulai pelajaran hari ini." Saat pulang jam pulang sekolah tiba, Cherry menemani murid-murid menunggu jemputan orang tua mereka. Dia juga mengenalkan diri pada para wali murid dan menyerahkan kartu namanya. Namun, setelah sekolah sepi, ada satu orang muridnya yang belum dijemput. "Zania, kenapa kamu belum dijemput ?" tanya Cherry dengan suara lembut. "Aku tidak tahu, Miss." Zania mengangkat bahunya. "Mungkin Nenek dan Kakekku masih di rumah sakit, soalnya mereka tadi bilang akan pergi menemui dokter." "Kalau begitu, aku akan meminta Miss Teresa untuk meminta nomor walimu." Cherry mengusap rambut pirang Zania lalu mengambil ponsel dan menaruhnya di telinga. Zania mengangguk, dia mengamati Cherry yang sedang menelpon guru lamanya. "Miss Cherry cantik banget, lebih cantik dari Miss Teresa, aku suka diajarin sama Miss Cherry," batinnya dengan mata berbinar-binar. "Zania, bagaimana kalau kamu menunggu jemputan di apartemenku? Nenekmu bilang antriannya masih lama. Terus juga di sini sangat dingin, aku khawatir nanti kamu sakit. Apartemenku sangat dekat kok dari sini, Nenekmu sudah setuju," tanya Cherry dengan senyum ramahnya. "Baiklah, Miss. Ayo kita ke apartemenmu," jawab Zania girang. "Aku juga pernah menunggu jemputan Nenekku di apartemen Miss Teresa." "Owh, ya?" Cherry mengandeng tangan mungil Zania dan mulai berjalan ke gedung apartemennya. "Pantas Nenekmu langsung setuju tadi. Apa kamu tinggal bersama Nenek dan Kakekmu? Lalu di mana orang tuamu?" "Iya, aku memilih tinggal di rumah Nenek dan Kakekku yang ada di dekat sini karena kalau di rumah Daddy dan Mommy aku sering merasa kesepian karena mereka sibuk bekerja. Kalau sama Nenek dan Kakek aku merasa senang karena ada teman mengobrol," jelas Zania mendongak menatap Cherry. "Kalau Miss Cherry tinggal sama siapa di apartemen?" "Tinggal sama suamiku," jawab Cherry. "Wow, aku pikir Miss Cherry belum menikah. Miss Cherry bahkan terlihat imut dan masih cocok sekolah di SMA, sama seperti kakak sepupuku." Pujian Zania terdengar sangat menggemaskan bagi Cherry. Hal itu membuat Cherry tertawa dan mencubit pipi Zania dengan gemas. "Kau ini jago menggombal." Karena asik mengobrol, tak terasa keduanya sudah sampai di dalam unit apartemen. Cherry bergegas membuatkan cokelat panas dan menyajikan kue untuk tamu kecilnya. "Silahkan diminum dan dimakan Zania, semoga kamu suka," ucap Cherry lalu duduk di samping Zania yang sedang asik menonton televisi. "Terimakasih, Miss Cherry." Zania mengambil secangkir cokelat panas dengan hati-hati. "Wah, cokelat ini aromanya enak, aku baru pertama kali mencium aroma seperti ini." Cherry mengangkat alisnya dan tersenyum. "Itu minuman cokelat instan favoritku dari Indonesia, Zania. Coba minumlah dan nilai apakah itu enak atau tidak!" "Wow, ini enak banget." Mata hazel Zania berbinar-binar. "Aku suka banget." "Syukurlah jika kau suka. Sekarang kamu menonton televisi sambil ngemil ya. Aku aku masak untuk suamiku. Tidak apa-apakan jika aku tinggal sendirian di sini?" tanya Cherry memastikan. "Iya, tidak apa-apa, Mis." Zania mengangkat satu jempolnya dan meringis memperlihatkan gigi susunya. Saat sedang asik memasak, ponsel Cherry berdering. Cherry buru-buru mencuci tangan yang kotor terkena bumbu masakan karena di layar ponsel tertulis nama Kak Devano, lalu meletakkan ponsel di telinganya. "Ada apa, Kak?" "Maaf, Cherry. Aku ada meeting mendakak. Sepertinya hari ini aku terlambat pulang ke rumah. Owh iya tidak usah memasakan makan malam untukku ya, nanti aku akan makan malam di kantor." Wajah Cherry yang tadinya ceria langsung meredup saat dia meletakkan kembali ponselnya di kitchen zink. "Lagi-lagi ingkar janji dan pulang terlambat," batinnya. Cherry menatap sup ayam, tempe goreng dan sambel tomat yang sudah matang. "Terlambat, aku sudah masak banyak. Eh tapi sekarang kan ada Zania. Aku minta dia dan Neneknya makan di sini ah." Cherry buru-buru menata masakannya di meja makan lalu menghampiri Zania. "Kamu makan malam di sini, ya. Aku masak banyak, tapi suamiku mendadak lembur dan akan makan malam di kantor, apa kamu mau, Zania?" Zania mengangguk mantap. "Tentu saja aku mau, Miss. Jujur saja aku menyukai aroma masakanmu dan aku penasaran ingin memakannya. Apa yang kamu makan adalah masakan Indonesia?" "Betul sekali," jawab Cherry mengacungkan dua jari jempolnya. Lalu, terdengar suara bell. "Itu pasti Nenek dan Kakekku," cicit Zania girang. "Biar aku saja yang buka pintunya, Miss. Boleh kan?" "Tentu saja, ayo buka pintunya, sambut mereka dan ajak juga Kakek Nenekmu makan malam di sini bersama kita!" perintah Cherry lalu berjalan di belakang Zania. Namun, begitu pintu dibuka oleh tangan mungil Zania, yang muncul bukanlah sepasang lansia seperti yang Cherry kira. "Papa!" seru Zania dengan mata membelalak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD