Bab 6. Jadi Terbayang-bayang

1095 Words
"Enggak usah." Cherry menggeleng, lalu berpura-pura melihat jam tangan. "Aku sudah percaya dengan denganmu, Kak Devano, lebih baik kita pulang sekarang saja. Aku sangat mengantuk karena tadi aku tak tidur siang gara-gara masak banyak makanan." "Oke kalau maumu begitu, Sayang," jawab Devano lembut lalu menatap Peter. "Kami pulang dulu ya, Pet. Terimakasih atas bantuanmu, berkat kamu Cherry tidak jadi menceraikan aku." Peter tersenyum lebar. "Aku ikut senang, semoga hubungan kalian semakin mesra." Devano memeluk pundak Cherry. "Amin, terimakasih doanya, Pet. Kamu sahabat yang baik. Semoga kamu segera menemukan jodohmu, biar kamu bisa mesra-mesraan seperti aku dan Cherry." "Ish kau ini!" balas Peter memutar bola matanya dengan malas. "Sana kalian pulang saja! Dasar bikin iri jomblo saja." Di dalam mobil, suasana terasa sunyi dan hening seperti tadi. Namun kali ini mobil berjalan lebih lambat, beberapa kali Devano melirik sekilas ke arah Cherry yang terlihat sedang melamun menatap jalanan kota New York yang padat merayap. "Sayang, apa kau mau ice cream? Atau kue cokelat?" tawar Devano mencoba memecah keheningan. Cherry menoleh dan tersenyum tipis. "Tidak, Kak. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai ke apartemen dan tidur di kamar." "Baiklah, yang terpenting sekarang kamu percaya padaku. Aku akan mempercepat laju mobilku agar cepat sampai apartemen." Devano tersenyum puas, tangannya terulur mengelus puncak kepala Cherry. Saat sampai di apartemen, Cherry langsung masuk ke kamar mandi dan membiarkan air hangat dari shower membasahi tubuhnya. Matanya terpejam, lalu bayangan malam panas bersama Gilbert berputar di pikirannya. "Tidak!" Cherry menggelengkan kepala cepat dan membuka matanya. "Kenapa bisa begini?" Cherry memilih duduk meringkuk memeluk lutut. "Kenapa kemarin aku bisa melakukan hal yang sangat bodoh? Aku merendahkan harga diriku sendiri, aku membiarkan laki-laki lain menjamahku. Ya Tuhan ... ampunilah aku." Cherry menangis, menyembunyikan kepalanya di sela-sela lutut. "Apa aku harus jujur pada Devano? Tidak! Jangan bodoh Cherry! Kamu harus menyimpannya rapat-rapat! Dan yang terpenting kamu jangan mengulanginya lagi. Toh kamu melakuan itu bukan karena cinta. Ingat, kamu tidak cinta pada Mister Gilbert dan kamu hanya cinta pada Devano seorang." Cherry bangkit berdiri, dia memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Sudah cukup rasa bersalahmu. Intinya mulai sekarang kamu harus membuka lembaran baru, Cherry. Lupakan! Lupakan! Pokoknya kamu harus melupakan kekhilafanmu dan jangan pernah bertemu lagi dengan Mister Gilbert!" "Sayang!" seru Devano dari luar kamar mandi. "Are you okey?" "Eh iya. I'am okey, Kak. Sebentar lagi aku keluar," balas Cherry dengan sedikit berteriak lalu cepat-cepat mengambil handuk dan keluar dari kamar mandi. "Kalau malam jangan mandi lama-lama! Nanti kamu bisa masuk angin," ucap Devano perhatikan. Dia mengandeng Cherry dan mendudukannya di depan meja rias lalu mengeringkan rambut Cherry dengan hair dryer. "Sayang, apa kau menginginkan sesuatu untuk hadiah anniversary kita?" Cherry menatap bayangan Devano di cermin. "Tidak ada, bagiku kau selalu setia di sisiku saja itu sudah cukup, Kak." Devano tersenyum, tangan kanan memegang hair dryer sementara tangan kirinya mengelus elus rambut panjang Cherry. "Kau tidak mau tas, sepatu atau barang apapun yang biasanya disukai wanita? Atau perhiasan?" "Tidak usah, Kak." Cherry menggeleng pelan. "Uangnya di tabung saja, biar kita bisa sering pulang ke Indonesia ketemu sama keluarga yang ada di sana." "Terimakasih, Sayang." Devano mengecup puncak kepala Cherry. "Kamu adalah istri yang baik, aku senang bisa memilikimu." Cherry mengerjap, ada perasaan aneh yang menganggu perasaanya. "Mana sini hair dryernya! Biar aku keringin sendiri rambutku, lebih baik Kakak bersih-bersih dan tidur! Kakak pasti capek habis perjalanan dinas." "Baiklah," jawab Devano memberikan hair dryer pada Cherry. "Aku mandi dulu ya, Sayang. Tunggu aku di atas ranjang!" "Iya," balas Cherry berpura-pura terkekeh kecil. "Jangan lama-lama ya, mandinya!" Setelah Devano masuk ke dalam kamar mandi, Cherry mematikan hair dryer dan menatap wajahnya di cermin. "Aku ... aku harus melayani Kak Devano dengan maksimal malam ini! Agar aku bisa melupakan kegiatan malam menjijikan itu." Wanita muda itu bangkit, berjalan ke almari dan memilih salah satu lingerie berwarna merah dan memakainya. Dengan lingerie yang memperlihatkan keindahan bentuk tubuhnya, dia terlihat sangat menggoda. "Semoga Kak Devano suka," gumam Cherry menatap pantulan dirinya di cermin. "Tentu saja aku suka, Sayang." Devano yang baru saja keluar dari kamar mandi langsung berjalan cepat dan memeluk pinggang ramping Cherry. "Apapun yang kau kenalan aku pasti suka, apalagi saat kau tidak menggunakan pakaian apapun," bisik Devano tepat di telinga Cherry. "Banar kah?" Cherry tertawa karena merasa geli, dia langsung berbalik dan mendongak menatap Devano. "Kalau begitu, bagaimana jika kita—" "Kita tidur saja, ya!" timpal Devano mengecup cepat bibir mungil Cherry. "Maaf, Sayang. Hari ini aku sangat lelah. Kita lakukan hal itu besok saja, ya? Aku berjanji besok akan pulang lebih awal, jadi kita bisa bermesraan lebih lama." "Owh ... iya, baiklah." Cherry mengerjap dan tersenyum. "Ayo kita tidur saja sekarang." Di ranjang, Devano memeluk tubuh Cherry dengan erat hingga akhirnya pria itu tertidur nyenyak. Cherry yang tidak bisa tidur perlahan-lahan dan depan lembut melepaskan pelukan sang suami, lalu merubah posisi mensejajarkan wajah mereka. "Selalu seperti ini. Kamu sering menolakku saat aku meminta nafkah batin," ucap Cherry dalam hati. "Itulah salah satu sebabnya aku mengira jika kamu benar-benar berselingkuh dengan Bianca." Cherry mengelus pipi Devano dengan lembut dan hati-hati agar pria itu tidak terbangun. "Apa kamu mencintaiku dengan tulus, Kak? Atau ... kamu mencintaiku karena terpaksa karena kita dijodohkan?" Suara ponsel yang bergetar di atas nakas membuat Cherry terkejut. Dia berbalik, tangannya terulur untuk mengambil ponsel miliknya. Mata wanita muda itu langsung membelalak saat melihat pesan singkat dari seseorang yang nomornya belum dia simpan. "Apa kau sudah tidur? Aku tak bisa tidur malam ini karena merindukanmu, Cherry. Ayolah kita lakukan lagi, sepertinya aku sudah candu dengan tubuhmu." "Sialan!" Cherry refleks terduduk. "Bisa-bisanya dia mengirimiku pesan seperti ini! Dia memang gila! Aku blokir saja nomornya!" batin Cherry lalu jarinya dengan lancar bergerak menekan tombol blokir. *** Sementara di seberang sana, seorang pria tampan terkekeh pelan saat melihat nomornya diblokir. "Baru kali ini loh nomorku diblokir. Biasanya orang-orang memohon untuk memiliki nomorku." Pria itu adalah Gilbert yang saat itu sedang duduk bersandar di ranjangnya bersama sang istri—Bianca yang sudah tertidur lelap. "Aku tahu dia belum tidur pasti sedang memikirkan aku, sama seperti aku yang saat ini sedang memikirkan dia," batin Gilbert percaya diri. "Karena dia sudah memblokir nomorku, pasti dia sudah tahu yang sebenarnya. Tapi tenang saja, aku akan temukan banyak cara agar bisa menikahi tubuhnya yang lezat, nikmat dan semanis buah cherry itu ... sama seperti namanya." Gilbert mengengam erat ponselnya dan tersenyum smirk. Gilbert lalu meletakkan ponselnya di atas nakas, merebahkan diri di samping Bianca, menatapnya dan membatin, "Maaf istriku, sayang. Sepertinya aku sudah punya mainan baru sekarang. Jadi ... kau harus sering-sering mengajak sekretarismu itu perjalan dinas agar aku bisa bermain-main bersama istri dari sekretarismu itu."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD