"Cherry, dengarkan penjelasanku dulu! Jika kau tidak percaya dengan kepalsuan foto ini, aku akan mengajakmu bertemu dengan temanku yang ahli IT sekarang juga!" ucap Devano dengan expresi yang terlihat sangat meyakinkan.
"Baiklah, ayo kita ke sana sekarang!" tantang Cherry dengan tatapan tajam. "Jika foto itu asli maka kita harus bercerai!"
Devano menghela napas panjang, lalu memunguti foto-foto yang berserakan di lantai. Sementara Cherry pergi ke kamar untuk berganti baju dan memakai mantel. Setelah itu keduanya masuk ke dalam mobil Devano yang terparkir di lobby.
Saat perjalanan, suasana terasa tegang dan hening, Cherry melamun, menyandarkan kepala menatap jalanan, sementara Devano berkonsentrasi penuh menjalankan mobilnya dengan kecepatan maksimal yang masih diperbolehkan di jalan raya.
Akhirnya mereka sampai di depan gedung apartemen, Devano hendak membukakan pintu mobil untuk sang istri, tapi terlambat karena Cherry memilih untuk keluar sendiri. Wanita muda itu sudah tidak sabar ingin membuktikan apakah foto ini asli atau palsu.
"Temanku bernama Peter," ucap Devano sebelum menekan bell di salah satu unit apartemen yang ada di lantai lima.
Cherry hanya mengangguk karena dia malas menanggapi ucapan Devano.
Lalu terbukalah pintu, Peter tersenyum ramah dan menyapa, "Selamat malam, ayo masuk!"
Begitu mereka duduk di sofa Cherry langsung berdeham membersihkan tenggorokannya. "Perkenalkan, nama saya Cherry. Mister Peter, maaf tidak ada waktu untuk berbasa-basi dan beramah-tamah. Tolong segera cek foto-foto yang kami bawa apakah itu asli atau hanya editan saja seperti yang dikatakan Devano."
Peter terkekeh pelan. "Oh my God. Wanita memang suka terburu-buru. Kalau begitu ayo ikut aku masuk ke dalam ruangan khususku!" ajaknya lalu berdiri.
"Okey," jawab Cherry semangat lalu mengekori Peter.
Mata Cherry membelalak saat melihat alat-alat tekhnologi canggih milik Peter. "Wow, jadi kau juga bermain di pasar saham selain programmer?"
"Tentu Nona, apapun yang berhubungan dengan komputer dan tekhnologi yang bisa menghasilkan uang aku pasti akan ikuti," jawab Peter lalu duduk di depan monitor berukuran besar.
Tangan Peter terlihat lincah saat meneliti foto-foto Devano dan Bianca. Jantung Cherry berdetak kencang, wajahnya terlihat cemas dan sedikit ada rasa takut, sementara Devano tampak santai dan terlihat datar, tanpa expresi seperti seorang Devano biasanya.
Peter bertepuk tangan satu kali sebelum berkata, "Foto ini editan, lihat ini foto aslinya. Seorang wanita berambut pirang berdarah Eropa dan seorang laki-laki berambut hitam berdarah Asia. Sekilas wajah dan juga postur tubuh keduanya memang mirip dengan Devano dan Nyonya Bianca, jadi itulah yang membuat fotonya terlihat sangat asli. Wajar jika Cherry terkecoh."
Cherry shock, kakinya terasa lemas dan serasa tak bisa menyangga berat badannya. Dia langsung ambruk, yang membuat Devano terkejut dan langsung bersipuh di depan Cherry dengan expresi wajah khawatir.
"Seharusnya aku senang karena foto itu palsu ... tapi ... tapi ... astaga, apa yang aku lakukan dengan Mister Gilbert kemarin? Jadi sekarang ... yang sebenarnya selingkuh adalah aku dan bukan suamiku," batin Cherry, air mata mengalir di pipinya yang mulus.
Devano memegangi pundak Cherry. "Sayang, apa kamu baik-baik saja?"
Cherry menatap wajah Devano lekat-lekat, rasa bersalah teramat sangat seakan menyiksa tubuhnya. "Ta—tapi ... kemarin aku ... aku membuntutimu dan melihat dengan mata kepalaku sendiri saat kau mengendong Bianca dari bar ke kamar hotel."
"Astaga," ujar Devano lalu memejamkan matanya sejenak. "Sudah kubilang padamu kan soal bekas lipstik Nyonya Bianca di bajuku waktu itu? Setiap dia mabuk, dia memang bertingkah seperti itu. Dia suka tiba-tiba memelukku dan aku memang harus menggendongnya karena takut dia menggila mengganggu orang lain dan berbuat onar. Tapi setelah aku menidurkannya di ranjang, aku langsung meninggalkan dia dan pergi ke kamarku sendiri, Cherry."
Cherry justru menangis semakin terisak dan itu membuat Devano panik.
"Sayang, it's okey. Jangan menangis, apa kamu menangis karena merasa lega setelah tahu foto itu palsu dan aku benar-benar tidak berselingkuh dengan Nyonya Bianca?"
Cherry hanya mengangguk, padahal di dalam hati dia merasa sangat bersalah dan membatin, "Maaf, Devano. Maafkan aku, ternyata aku yang sudah berselingkuh di belakangmu. Maafkan aku, aku benar-benar telah menodai pernikahan kita."
"Aku akan tinggalkan kalian berdua di sini untuk membuat minuman agar Cherry merasa lebih tenang," ucap Peter lalu pergi meninggalkan pasangan suami istri yang sedang berpelukan itu.
Setelah Cherry sudah cukup tenang, dia mendorong pelan tubuh Devano. "Maaf karena aku sudah menuduhmu selingkuh, berkata kasar dan meminta cerai darimu, Kak. Maaf karena aku aku bukan istri yang baik."
"Tidak, Sayang." Devano menghapus air mata Cherry dan tersenyum. "Kamu adalah istri terbaik untukku. Terimakasih karena sudah bersabar menjalani mahligai pernikahan denganku yang kurang sempurna ini."
Kata-kata Devano seolah menghantam Cherry.
"Aku yang tidak sempurna, Kak," sanggah Cherry. "Maaf karena aku belum bisa memberikanmu seorang anak."
Devano menghela napas panjang dan menggeleng. "Ada anak ataupun tidak aku akan tetap mencintaimu, Cherry. Bagiku pernikahan adalah tentang dua orang. Masalah anak itu takdir Tuhan, tolong jangan dibahas lagi ya! Aku hanya ingin kita berdua hidup bahagia."
"Iya," Cherry mengangguk. "Ayo kita pulang ke rumah sekarang. Mister Peter pasti ingin istirahat karena ini sudah malam."
Begitu Cherry dan Devano keluar dari ruang kerja Peter, keduanya malah tidak diperbolehkan pulang. Peter meminta mereka untuk menghabiskan minuman dan cemilan yang sudah dia sediakan terlebih dahulu.
"Astaga, Cher. Kenapa kamu bisa percaya banget sih kalau Devano dan Nyonya Bianca selingkuh?" kekeh Peter. "Asal kamu tahu saja ya, suami Nyonya Bianca itu adalah orang yang luar biasa. Dia sangat tampan dan kaya raya, mana mungkin Nyonya Bianca bernafsu dengan Devano."
"Sialan, kamu!" balas Devano cepat. "Tapi emang bener, saat mabuk Nyonya Bianca mengira aku adalah Tuan Gilbert. Jadi dia suka meluk aku gitu tiba-tiba."
"Tentu saja, katanya dulu banyak sekali orang yang ingin menikah dengan Tuan Gilbert. Banyak pengusaha mengenalkan anak perempuannya dan yang bisa mendapatkan Tuan Gilbert adalah Nyonya Bianca," jelas Peter berapi-api. "Saudara Perempuanku sangat menggilai beliau."
"Jadi itu sebabnya Patricia berulang kali memasukan lamaran pekerjaan di Golden Grup?" Devano terkekeh pelan. "Pasti biar dia bisa ketemu sama Tuan Gilbert terus."
"Betul banget." Peter lalu menatap Cherry. "Owh, iya, Cher ... tadi kamu bilang kan kalau kamu membuntuti Devano dan Nyonya Bianca? Kok kamu bisa tahu jadwal mereka?"
Cherry yang sedang minum tersedak dan batuk-batuk. "Itu ... anu ... aku ... itu ...."
Cherry berpikir keras sebelum berkata, "Dari awal mereka berangkat perjalan dinas, aku effort banget ngikutin mereka. Jadi aku seperti seorang mata-mata yang mengawasi mereka dari kejauhan."
"Wah keren." Peter bertepuk tangan. "Kamu sendirian memata-matai mereka?" tanyanya penasaran.
"Iya, dong," dusta Cherry memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Dengan siapa lagi aku memata-matai mereka? Di sini kan aku belum punya teman. Aku baru datang sebulan yang lalu dan belum punya banyak kenalan."
"Astaga, Sayang." Devano mengelus puncak kepala Cherry. "Kamu pasti capek dan bosan pas ngikutin kegiatanku dan Nyonya Bianca."
"Yah lumayan." Cherry kembali memaksakan diri untuk tersenyum. "Saat kamu meeting di gedung kantor, aku hanya bediam diri di dalam mobil sambil memainkan ponsel. Terus pas aku lihat kamu masuk ke hotel itu, aku langsung pulang karena aku sangat kesal dan merasa cemburu jadi aku pikir kamu tidur bersama dengan Nyonya Bianca karena aku enggak lihat kamu keluar kamar itu."
"Wajar sih kamu cemburu." Peter tersenyum tipis. "Aku jadi penasaran saat kamu memata-matai suamimu di hotel itu, gimana kalau kita lihat CCTV di hotel itu? Biar kamu tahu pasti dan yakin apakah Devano keluar dari kamar Nyonya Bianca atau tidak."
"Iya, Sayang." Devano tersenyum dan mengengam tangan Cherry. "Biar kamu lebih yakin kalau aku dan Nyonya Bianca enggak selingkuh. Jadi kayaknya kamu harus lihat rekaman CCTV. Peter itu kan pinter ngehack CCTV. Kita tinggal bilang aja tanggal dan jamnya. Gimana, kamu mau lihat enggak?"
Pupil mata Cherry membesar, jantungnya seakan mencelos. "Mampus aku! Kalau Mister Peter dan Kak Devano lihat CCTV, otomatis mereka akan tahu kalau aku dan Mister Gilbert masuk ke dalam kamar hotel yang ada di samping kamar itu!" batinnya merasa panik.