"Dasar menyebalkan!" Cherry yang sangat kesal keluar terlebih dulu dari kamar hotel.
Dia berjalan cepat menuju restoran hotel itu karena tidak kuat menahan lapar. "Dia pikir dia siapa? Mentang-mentang dia seorang CEO dan kata raya, dia pikir dia bisa seenaknya saja mengatur aku! Pokoknya habis makan aku mau langsung pulang sendirian naik kereta bawah tanah."
Gilbert yang berjalan di belakang Cherry hanya tersenyum saat mendengar gumaman wanita muda cantik nan mungil itu. "Jadi dia benar-benar menolakku untuk bermalam sekali lagi? Padahal semalam dia yang minta lagi dan lagi," batinnya terasa menggelitik.
"Dia sepertinya menganggap aku w************n yang bisa dia sentuh sesuka hati!" gerutu Cherry menekan tombol lift.
"Bukan begitu," timpal Gilbert cepat. "Aku hanya candu dengan tubuhmu. Jujur saja kau terasa sangat enak dan nikmat dibandingkan dengan Bianca. Entah kenapa Devano malah menyelingkuhimu."
Pipi Cherry memerah saat mendengar pujian dari Gilbert. "Diamlah! Nanti ada orang yang tahu. Pokoknya kau harus jaga rahasia kita rapat-rapat! Jangan katakan pada siapapun jika kita pernah bermalam bersama."
"Tapi aku perlu sesuatu untuk menutup mulutku." Gilbert menarik tangan Cherry masuk ke dalam lift dan mendorongnya ke dinding. "Semalam lagi! Aku ingin bermalam denganmu sekali lagi untuk menutup mulutku agar rahasia tersimpan rapi."
"Enggak mau dan jangan berharap kau bisa menyentuhku lagi!" Cherry mendorong tubuh Gilbert dengan kasar. "Aku mau pulang sendirian setelah makan nanti. Jadi mendingan kamu undang wanita lain untuk menemanimu bermalam lagi di sini!"
Begitu sampai restoran, Cherry memakan sarapannya yang lebih pantas disebut makan siang karena memang sudah mendekati jam makan siang dengan cepat. Dia tak lagi peduli dengan keanggunan table manner karena perutnya memang sudah sangat lapar.
"Pelan-pelan, Cherry!" Gilbert mengingatkan. "Kau seperti anak kecil saja, tenanglah tidak ada yang mau meminta makananmu."
Cherry tidak menjawab ucapan Gilbert, dia hanya terus mengunyah.
"Apa kau suka pantai?" tanya Gilbert menatap Cherry dengan senyuman menggodanya. "Di dekat sini ada pantai yang sangat indah."
"Berkunjung ke pantai saat musim dingin?" Cherry mengerutkan keningnya. "Tidak! Aku bisa kedinginan nanti, aku benar-benar benci musim dingin. Pokoknya rencanaku setelah makan aku mau pulang."
Gilbert menghela napas panjang. "Oke baiklah. Kamu jangan pulang sendiri, aku yang akan mengantarmu pulang."
Cherry tersenyum puas. "Baguslah. Memang itu yang aku harapkan Mister Gilbert."
Setelah selesai makan, Gilbert benar-benar mengantar Cherry pulang ke apartemen. Wanita muda itu segera berganti pakaian, mencuci pakaian itu dan menyembunyikan wig seolah sedang menghilangkan jejak kebersamaannya bersama pria lain yang semalam sudah berbagi peluh dengannya.
Saat melihat mesin cuci berputar, Cherry terdiam dan merenung. "Aku salah, aku sudah mengkhianati suamiku dan aku ... sudah menjadi w************n sekarang."
Cherry menyibakkan rambutnya yang panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. "Kejadian semalam harus menjadi yang pertama dan terakhir di hidupku. Setelah ini, aku mau bercerai dengan Devano saja dan pulang ke Indonesia."
Sambil menunggu Devano pulang, Cherry sengaja memasak makanan khas Indonesia yang sangat disukai suaminya. Berulang kali rasa bersalah terus muncul saat bayangan malam panas itu berputar di otaknya.
"Ah, sialan! Mister Gilbert benar-benar sudah menguasai otakku sekarang!" Cherry menjambak rambutnya sendiri karena frustasi. "Entah kenapa Bianca menyelingkuhinya dengan Devano, padahal permainan Mister Gilbert terasa lebih nikmat."
Cherry melamun saat duduk di meja makan, bau masakannya begitu menggoda, tapi kali ini dia merasa tidak lapar. Wanita muda itu sedang memikirkan nasib pernikahannya yang seminggu lagi akan memasuki usia ke 4 tahun. Dia bimbang, apakah harus bercerai atau tetap mempertahankan pernikahannya.
Suara pintu yang terbuka menyadarkan lamunan Cherry. "Astaga."
Lalu disusul dengan suara bariton yang sangat dia kenali. "Aku pulang, Cherry. Selamat sore." Itu adalah suara Devano.
Cherry segera bangkit dan berlari kecil, mencium punggung tangan Devano dan membantunya melepaskan mantel, sepatu, lalu membawanya ke meja makan.
"Wow, kau benar-benar masak ini semua?" ucap Devano dengan mata berbinar-binar.
"Ya," Cherry memaksakan dirinya untuk tersenyum. "Makanlah yang banyak, aku tahu kamu pasti lapar setelah perjalanan dinasmu."
Devano tersenyum lalu mencium pipi Cherry. "Terimakasih, kau benar-benar istri terbaik," balasnya lalu duduk di kursi.
Cherry memutar bola matanya dengan malas. "Dasar pria badjingan! Jika aku istri terbaik kenapa kau menyelingkuhi aku!" batinnya merasa sangat kesal dan muak.
"Ini enak sekali, Cherry," puji Devano setelah menguyah suapan pertamanya. "Aku menyesal kenapa baru membawamu ke Amerika, seharusnya setelah kita menikah aku langsung membawamu ke Amerika saja kemarin. Jadi aku bisa lebih sering memakan makanan khas Indonesia yang enak-enak."
"Makanlah dulu, Kak Devano!" Cherry kembali memaksakan diri untuk tersenyum. "Setelah ini aku ingin membicarakan hal yang sangat penting denganmu."
"Hal apa?" tanya Devano menghentikan sendok yang ingin masuk ke dalam mulut.
"Habiskan makananmu dulu!" jawab Cherry singkat lalu memasukan sendok ke dalam makanannya.
Devano mengangkat alisnya, menatap Cherry dengan rasa penasaran yang menggebu-gebu. "Tumben Cherry seperti ini. Apa ada berita penting dari Indonesia?" batinnya merasa gelisah.
Setelah selesai makan, keduanya duduk di sofa depan ruang TV. Expresi wajah Cherry terlihat sangat tegang dengan amplop cokelat di tangannya. Sementara expresi wajah Devano justru terlihat datar di mata Cherry, hal itu membuatnya semakin kesal.
"Bukalah amplop ini!" perintah Cherry meletakkan amplop cokelat ke pangkuan Devano.
"Amplop apa ini, Cher?" Kedua alis Devano terangkat. "Kenapa aku harus membukanya?"
Cherry mengepalkan tangan dan memejamkan mata sejenak agar tidak meledak. "Bukalah dulu!" perintahnya dengan suara selembut mungkin.
"Owh, apakah ini kado anniversary kita? Tapi bukannya itu terjadi Minggu depan ya? Kau kecepatan, Sayang." Devano terkekeh pelan sambil membuka amplop itu.
"Ya, bisa dikatakan begitu," jawab Cherry tersenyum smirk.
Mata Devano langsung membola saat melihat isi amplop yang diberikan istrinya. "Siapa yang memberikanmu foto-foto ini, Cher?"
"Tidak penting siapa yang memberikan itu padaku!" Mata Cherry melotot dengan rahang mengeras. "Tapi kenapa kau tega melakukan hal menjijikan itu di belakangku?"
"Ini foto editan!" Devano membuang semua foto-foto itu ke lantai. "Percayalah padaku, Cher. Aku tak mungkin mengkhianati kamu dan menodai pernikahan kita."
"Foto-foto itu sangat jelas, Kak!" bentak Cherry lalu berdiri. "Kamu pikir aku bodoh!"
Devano berdiri, mencoba meraih tubuh Cherry, tapi Cherry mundur. "Aku serius, itu foto editan. Aku dan Nyonya Bianca tidak mungkin melakukan hal seperti itu."
"Tidak mungkin bagaimana, kemarin aku dan ...." Cherry langsung menghentikan ucapannya dan memejamkan mata, karena dia hampir saja membocorkan rahasianya sendiri di hadapan Devano.
"Dan apa?" tanya Devano, dia melangkah maju dan memegangi pundak Cherry.
Cherry menepis tangan Devano dengan kasar. "Pokoknya aku mau kita cerai dan pulangkan aku ke Indonesia! Aku tidak sudi lagi disentuh sama kamu pria Badjingan!"