"Jadi ... apa kita benar-benar akan balas dendam pada mereka, Mister?" tanya Cherry dengan suara bergetar.
Gilbert menyandarkan punggungnya ke dinding, tangannya terlipat di bawah d**a. "Ya, karena bagiku darah harus dibalas dengan darah. Jika kau tidak mau tidur denganku ... aku akan tidur dengan orang lain untuk membalas penghianatan Bianca."
Cherry menoleh, lalu tersebut tipis sebelum berkata, "Kau benar, aku juga tidak akan membiarkan Devano bersenang-senang di kamar sebelah, sementara aku menangis ... karena darah harus dibalas dengan darah."
"Jadi .... " Gilbert melangkah mendekati Cherry yang duduk di pinggir ranjang. "Apa kau siap untuk menghabiskan malam panas bersamaku kali ini?"
Cherry terkesiap ketika Gilbert duduk di sampingnya. Jantungnya berdegup lebih cepat, bukan karena marah, tapi karena pria di sampingnya itu memancarkan sesuatu yang berbahaya—sesuatu uang selama ini tak pernah dia rasakan dari Devano.
"Apa kau ingin tahu alasanku kenapa aku setuju dengan tawaranmu?" tanya Cherry menatap mata hazel Gilbert yang menurutnya terlihat indah.
"Apa?" Tangan Gilbert terulur, mengelus pipi chubby Cherry dan mengangkat dagunya. "Katakan yang sejujurnya padaku, Cherry!"
Cherry mengigit bibir bawahnya. Tatapan pria yang bukan suaminya itu membuat tubuhnya bergetar dan merasakan gelayar aneh. Hal yang tidak pernah dia rasakan saat bersama Devano. Tatapan Gilbert semakin menusuk, hingga ke bagian terdalam dari dirinya yang selama ini dia abaikan.
"Aku menikah dengan Devano karena dijodohkan," jelas Cherry dengan mata berkaca-kaca.
Cherry menelan salivanya sebelum menlanjutkan, "Mungkin itulah alasan kenapa Devano berselingkuh di belakangku, Mister. Sebenernya dia tidak mencintaiku."
"Sebenarnya aku dan Bianca juga dijodohkan. Pernikahan kami karena pernikahan bisnis," balas Gilbert tersenyum tipis. "Tapi aku benar-benar mencintainya. Namun, siapa sangka dia berkhianat di belakangku."
"Mereka memang tidak punya perasaan!" rutuk Cherry mengeraskan rahangnya.
"Sudahlah, Cherry! Lebih baik kita lupakan mereka dan ayo kita berdua bersenang-senang malam ini!" balas Gilbert tidak sabaran.
Lalu, pupil mata Cherry melebar dan dia menahan napas saat Gilbert tiba-tiba mengangkat tangan, melepaskan topi dan wig yang dia pakai hingga terpampanglah rambut hitam panjang yang indah tampak berkilau di bawah lampu miliknya.
"Kau tak butuh penyamaran di sini," bisik Gilbert yang membuat bulu kuduk Cherry meremang.
Jari Gilbert bergerak pelan, menyentuh pipi, turun ke rahang, lalu berhenti di tengkuk wanita mungil nan menggemaskan di hadapannya. "Karena aku ingin tahu lebih banyak tentangmu, Cherry."
Hati nurani Cherry tahu, dia seharusnya menepis tangan Gilbert dan kabur dari kamar itu karena hal yang mereka ingub lakukan nanti merupakan hal yang sangat kotor dan terlarang. Tapi aneh, tubuhnya malah seolah menerima dan menyukai sentuhan pria yang bukan suaminya itu.
Lalu, tanpa peringatan, Gilbert menariknya lebih dekat.
Cherry terkesiap, saat dadanya bertemu dengan d**a Gilbert. "Bisakah kau melakukannya dengan lembut dan hati-hati? Sejujurnya aku takut," pintanya dengan suara yang terdengar seperti bisikan.
Gilbert terkekeh pelan, tangannya semakin berani mengelus lembut tubuh Cherry. "Tentu. Aku sangat tau pengalamanmu sangat kurang. Jadi ... aku akan mengajarimu nanti. Aku pastikan kau akan nyaman dan merasakan rasa nikmat saat berada di kungkunganku."
Cherry bersusah payah menelan salivanya. "Ayo buktikan!"
Gilbert tersenyum miring karena merasa sangat tertantang. "Baik, Nona Cherry. Selamat menikmati."
Dan Cherry mendapatkan ciuman pertama dari Gilbert. Ciuman itu terasa sangat pelan, lembut, tapi juga terasa membakar sesuatu yang ada di dalam diri Cherry.
Wanita muda itu mengerang pelan di antara lumatan bibir pria asing yang baru dia temui beberapa hari yang lalu, dia merasa tersentak seolah baru saja mendapatkan sesuatu yang belum pernah dia rasakan dari sang suami sebelumnya.
"Ciuman Devano tidak pernah seperti ini," batin Cherry yang saat ini matanya terpejam karena sedang menikmati.
Gilbert, pria yang jauh lebih tua dari Cherry memperlakukannya dengan tidak terburu-buru. Dia tidak sekedar menuntut kenikmatan sesaat, tapi ingin mencoba menguasai Cherry dengan cara membuat wanita muda itu hanyut dalam pusaran perasaan seperti terbang di atas awan.
Jemari Gilbert bergerak di sepanjang pinggang Cherry, menarik jaket kulit yang dia kenakan dan melepaskannya dengan mudah. "So damn so hot. Kau benar-benar istimewa," bisiknya tepat di telinga Cherry.
Bulu kuduk Cherry meremang ketika sorot mata Gilbert semakin dalam. Pria tampan di hadapannya tampak sangat menginginkan tubuhnya. Dan ketika Gilbert menidurkannya di atas ranjang, Cherry tau jika tidak akan ada jalan untuk kembali.
"Ah ... Mister Gilbert, kau—"
"Ya, Cherry! Teruslah panggil namaku! Aku menyukai desahanmu."
Malam ini, mereka sangat sadar saat sedang tenggelam dalam dosa ... dosa yang nikmat dan indah, dosa yang didasari dengan rasa balas dendam yang membara.
***
Matahari sudah bersinar cerah dan Cherry terbangun terlebih dahulu daripada Gilbert. Tubuh wanita muda itu terasa remuk redam karena permainan semalam bersama Gilbert sangat menguras tenaganya. Mereka bahkan berhenti di saat matahari hampir terbit.
"Aku lapar," gumam Cherry pelan lalu berjalan tertatih menuju kamar mandi.
"Sial! Aku sampai tak bisa berjalan dengan normal! Mister Gilbert memang monter mengerikan," rutuk Cherry dalam hati.
Cherry berendam dengan air hangat dan menghirup aroma aromaterapi, di dalam bathtub dia memejamkan mata menikmati rasa rileks yang perlahan menjalar ke seluruh tubuh. Dia berharap setelah mandi tubuhnya akan bugar kembali seperti sedia kala.
"Aku ... apa yang kulakukan semalam?" Cherry menghela napas panjang. "Aku sudah berbuat dosa. Bodoh! Kau benar-benar bodoh Cherry!"
"Tapi!" Cherry mengigit bibir bawahnya. "Devano yang mulai duluan! Kau hanya mengikuti apa yang Devano lakukan! Pokoknya kau tidak bersalah! Yang bersalah adalah Devano!"
Cherry sedang bergelut dengan hati nuraninya. Rasanya dia sangat menyesal, tapi saat mengingat bayangan Devano dan Bianca tadi malam hatinya merasa sangat panas dan menganggap apa yang dia lakukan bersama Gilbert itu sudah sangat benar.
Namun, Gilbert tiba-tiba muncul membuyarkan lamunan Cherry, pria itu ikut bergabung ke dalam bathtub dan langsung memposisikan diri di belakang Cherry, dia memeluk pinggang rampingnya.
"Morning," sapa Gilbert dengan suara yang terdengar sangat renyah.
"Morning," balas Cherry dengan malas.
"Kau benar-benar terlihat menggemaskan tanpa make up. Aku lebih suka kau seperti ini, terlihat sangat polos," gombal Gilbert mencium pundak Cherry berulang kali.
"Jangan gombal!" balas Cherry memutar bola matanya dengan malas. "Ayo selesaikan mandimu dan kita cari makan! Aku sangat lapar, Mister."
Cherry hendak berdiri, tapi Gilbert menahannya. "Tahan sebentar ya! Aku hanya ingin mandi bersamamu lebih lama. Setelah ini aku akan membawamu ke restoran yang sangat enak. Kau boleh memesan apapun."
"Lepaskan!" renggek Cherry mencoba memberontak. "Aku ingin pergi secepatnya!"
Hal itu membuat Gilbert semakin gemas. "Aku akan melepaskanmu, Cherry. Tapi—"
"Tapi apa?" balas Cherry cepat dengan nada galak. "Jangan coba-coba kau mempermainkan aku, ya!"
"Come on!" Gilbert semakin mengeratkan pelukannya. "Semalam kita memang bermain-main dan aku tahu kamu sangat menikmatinya."
"Mister Gilbert!" bentak Cherry dan kembali memberontak. "Lepaskan!"
"Aku akan melepaskan kamu, tapi menginaplah semalam lagi di kamar ini bersamaku!" bisik Gilbert dengan suara yang terdengar berat dan menggoda.