Seminggu berlalu sejak kejadian mimpi konyolnya, Canda mulai bisa melupakan dan menganggap itu hanya bunga tidur belaka, Dia sudah tidak lagi gugup berhadapan dengan Caraka, hubungan atasan dan bawahan sudah kembali normal, Dia pun sudah tidak ragu-ragu lagi berperan jadi anak buah pembangkang yang sering menentang titah atasannya, selagi masih dalam batasan yang wajar, mengingat sebenarnya usia mereka tidak terpaut jauh, hanya nasib yang lebih memihak pada Caraka.
Sore itu seperti biasanya, saat tidak ada proyek mendesak yang harus segera diselesaikan, hampir semua karyawan di divisinya bisa pulang tepat waktu, tidak terkecuali Canda. Hari ini Dia ada janji pulang bareng Echa, mereka berencana mau nonton, karena kebetulan saat itu adalah akhir pekan.Namun tiba-tiba Echa membatalkan janjinya, karena Dia harus buru-buru melihat sepupunya yang kecelakaan diluar kota,
Beban kerjaan yang tidak terlalu berat hari ini membuat suasana hati Canda benar-benar bagus, apalagi besok libur kerja, jadi ada perasaan lega dan puas yang Ia rasakan. Dia sampai di halte depan kantor, sambil memperhatikan ponselnya, Dia berencana memesan Ojek Online.
Belum juga membuka aplikasinya, Dia dikagetkan suara motor sport yang berhenti didepannya, ternyata Caraka dengan motor sportnya itu sengaja berhenti,,
"Mau bareng nggak?, Gue mau ke tempat Clara, kalo nggak salah rumahnya searah sama kamu?"
Dikiranya ada urusan kerjaan yang belum selesai, Canda menghembuskan nafas lega, sedetik kemudian dia melirik jok dibelakang Caraka dengan penuh tatapan penghinaan..
"He..hee, makasih deh Pak, biar Saya naik ojol saja, takut ambien!"
Disaat yang lain terpesona sama motor Caraka, gadis absurb dihadapannya justru menganggap motor mahalnya sumber penyakit.
Caraka sebenarnya ingin menanggapinya lebih lama, namun karena lalu lintas sedang ramai, alih-alih berdebat dia hanya menanggapi, "Oke, fine!"
Canda hanya meringis sambil mengayunkan tangannya memberi tanda supaya bosnya itu kembali melanjutkan perjalan menuju rumah pujaan hatinya.
Canda merinding dengan pikirannya sendiri 'Pujaan hati?'.
_______________________
Pukul sepuluh malam Canda sudah kembali ke rumah, setelah gagal nonton bersama Echa, akhirnya Dia pergi ke tempat Vanya, satu hal yang bikin Dia males bareng Vanya, semua hal dijadikan konten. Untungnya hari ini Vanya hanya memaksanya membuat satu buah video tok-tok, setelah itu mereka hunting kuliner sampai disudut kota, membuat Canda benar-benar merasa lebih fresh.
Sebenarnya Vanya masih mau mengajak Canda pergi party sampe pagi, namun Canda merasa itu bukan bagian dari jati dirinya, sekeras apapun Vanya merayu Dia tetap menolak, akhirnya Vanya menyerah dan mengantar Canda pulang.
"Baek-baek deh anak mami, cuci kaki gosok gigi sebelum tidur, jangan lupa berdo'a, biar tidurnya nggak ditemeni setan" Vanya terkekeh sebelum berlalu dengan BMW sportynya menuju dunia malam yang sudah tidak asing baginya.
Sementara Canda, selesai membersihkan tubuhnya, mengaplikasikan skincare diwajah mungilnya, saat itu ponselnya berdering..
LEXY memanggil...
Seharian dihubungi tidak ada respon, kekasih Canda, bekerja di luar kota...
Canda urung mengangkatnya, Dia malah sengaja memperlambat temponya memakai skincare..
Beberapa saat kemudian, ponselnya kembali berdering.. nama yang sama muncul..
Canda meraih ponselnya, membawanya ke atas kasur,,,,
"Halo Bi, selesai kerjaannya?"
"Sudah, ini baru mau balik ke mess. Kamu lagi ngapain? Jawab suara diseberang..
"Biasalah, mumpung lagi nggak ada yang harus diselesaikan, mau tidur lebih awal, kirain kamu bakal lembur sampai pagi."
"Jadi kamu berharap aku lembur sampai pagi nih?"
"Bukan berharap sih, lebih tepatnya karena sudah kebiasaan, jadi kalo enggak malah aneh?!",
Canda berusaha mengklarifikasi ucapannya, meskipun itu bukan kesalahan.
"Oke oke..." Suara diseberang mulai memahami ada yang salah dari caranya merespon.
"Bi, aku ada kabar bagus, minggu depan aku dipindahkan ke kantor pusat, jadi meskipun nanti aku masih sering ditugaskan ke sini, tapi kebanyakan waktu kerjaku akan disana!" Nada bahagia diseberang sangat bisa dirasakan oleh Canda.
"Ini beneran, kamu serius?" Canda memastikan kabar bahagia itu bukan bagian dari mimpinya.
"Iya serius, aku juga barusan lihat SKnya waktu balik dari tambang, makanya aku langsung nelpon kamu"
"Baguslah, jadi nanti kalo kita berantem bisa lebih leluasa, bisa gebuk-gebukan, bisa aku pukul-pukul sepuasnya".
Ujar Canda begitu excited.
"Oh, jadi gitu...?! Jadi aku cuma jadi pelampiasan amarahmu?"
"Iyalah, apalagi emangnya?" Goda Canda.
"Terserah deh, aku sih yang penting deket sama kamu, mau dijadikan samsak tinju juga nggak masalah. Bi Aku udah sampe nih, mau bersih-bersih dulu. Sampai ketemu minggu depan pokoknya I love you, I miss you muach muach muachhhh"
Canda menutup telponnya dengan rasa seperti masih belum percaya, dua tahun menjalani hubungan LDR, dirinya sudah terbiasa hanya berkomunikasi dengan ponsel, sebentar lagi mereka akan bersama disatu kota, semoga saja semua akan baik-baik saja.
Tak ingin berlarut-larut dalam pikiran negatif nya, Canda memutuskan untuk segera tidur malam ini, meskipun dia punya dua hari libur.