Menjauh tapi mendekat

841 Words
Hari Senin pagi, Canda tiba di kantor lebih awal, sengaja mengendap-endap takut berpapasan dengan bosnya. Dia sudah mengira hari ini bakal diperlakukan tidak menyenangkan karena ulahnya sendiri berani-beraninya meroasting sang bos di depan pacarnya. Sudah tau punya bos pendendam, tapi tetap cari perkara. Untungnya dia sampe ke divisinya dengan aman, hanya kebetulan bertemu Echa yang penasaran melihat temennya sembunyi-sembunyi tidak jelas. "Lu mau maling ya Can? " Tegurnya.. "Astaghfirullahaladzim" Tapi sapaan ringan Echa ternyata cukup membuat jantung Canda hampir terlepas. "Eh, Lu kaget sampe segitunya, beneran mau maling ya? " Selidik Echa makin penasaran. "Bibir Lu suruh sekolah dulu kalo ngomong suka asal, kalo didenger orang kan bisa berabe, heran deh!! " Canda memasang muka jengkel. "Habisnya Lu sembunyi-sembunyi mengendap-endap kaya mau maling tau nggak?! " Bukan Echa namanya kalo tidak membalas ucapan Canda. "Gue lagi menghindari Pak Caraka, bos idaman Lu tuh". Bisik Canda.. Echa pun mendekat penasaran, " Emang Lu punya dosa apa sama Pak Bos? " Canda menarik Echa menuju ke arah kubikel miliknya, karena jam kerja belum dimulai, mereka masih bebas ngobrol tanpa rasa bersalah. "Gue sama Lexy pergi ke restoran milik anak bosnya Lexy, ternyata anaknya tuh Clara, nah di sana kita ketemu sama Si bos kulkas itu, dan mulut Gue tanpa sadar terus-terusan cengin dia, emang dasar mulut Gue juga agak dendam sama tuh bos, jadi kayak ngalir aja gitu jelek-jelekin dia". Ada nada puas dari intonasi Canda. "Lagian Elu, sama bos sendiri sekejam itu, dah tau bos Lu pandai menyimpan dendam, hati-hati aja Lu, nggak dipecat hari ini aja mestinya dah bersyukur banget Lu. Punya bos sekeren itu nggak ada bersyukur-bersyukurnya, emang pantas dikutuk Lu". Sebagai penggemar Caraka nomor wahid, Echa siap membela idolanya, meski pertemanan mereka taruhannya. " Lagian jangan terlalu benci sama orang, jodoh rasain sendiri entar". Seloroh Echa. "Amit-amit dah". Jawab Canda bergidik. " Sekarang amit-amit, besok-besok kagak ada yang tau Lu bucin mampus sama Pak Caraka". Kutuk Echa.. "Yang ada juga Elu yang bucin sama dia, jangan suka ngasal nyumpahin orang kenapa?! ". Canda tidak terima. Untunglah teman-teman se divisi Canda mulai berdatangan dan mereka terpaksa mengakhiri perdebatan tidak penting pagi itu. Echa pun kembali ke divisinya sambil dengan penuh percaya diri membawa cappucino yang dibeli Canda dari cafe depan kantor. Sementara Canda pura-pura jengkel pada bestienya itu, padahalmah dalam hatinya sayang banget, cuma Echa yang tau rahasia Canda luar dan dalam. Kembalinya Echa bukan berarti selesai drama Canda pagi itu. Terbukti, tidak lama kemudian ada notice dari sekretaris Caraka, akan ada rapat mendadak, setiap divisi harus mengirim dua perwakilan selain manager. Dan seperti biasa, Canda selalu jadi wakil dari divisinya. Beberapa karyawan mulai terlihat keluar dari divisi masing-masing, naik ke ruang rapat yang ada di lantai atas, satu lantai dengan ruangan Caraka. Setelah keluar dari lift, mereka akan melihat meja kerja sekretaris Caraka, tepat di depan ruang besar dan tampak mewah, yang tak lain ruang Caraka, sementara di sebelahnya terdapat ruang yang tak kalah besar, namun tak sebesar ruang Caraka, ruangan personal assistant Caraka, dimana sebagian besar berkas-berkas penting perusahaan tersimpan di sana sebelum mendapat persetujuan Caraka. Hampir semua yang keluar dari lift langsung menanyakan pada Cindy, sang sekretaris Caraka perihal rapat mendadak yang diadakan pagi ini, karena tidak ada satupun yang tahu bahwa pagi ini akan diadakan rapat. Cindy sendiri hanya mengangkat bahu menandakan dia juga tidak tahu-menahu tentang yang mereka pertanyakan. "Sebentar lagi juga kalian pasti akan tahu". Ujar Cindy menyemangati. " Masalahnya sekarang lagi marak-maraknya PHK Kak Cindy, takutnya rapat pagi ini arahnya kesana". Rosa menunjukkan kekhawatirannya. "Saham perusahaan kita lagi gacor-gacornya kali Ros, nggak relevanlah kalo mau bahas PHK". Canda berusaha lebih realistis, meskipun tetap penasaran Cindy pun mengarahkan mereka ke ruang rapat yang sudah dipersiapkan sebelumnya. Setelah semua berkumpul, Caraka dan PAnya masuk ke ruangan, Diko, sang PA pun membuka rapat pagi itu. Intinya, karena perusahaan beberapa bulan ini mendapatkan laba yang cukup besar dan sahampun terus meroket, maka para direksi memutuskan untuk melebarkan sayap, mengembangkan usaha di bidang yang lain. Sebenarnya para petinggi perusahaan sudah mendapatkan gambaran usaha yang akan dikembangkan, namun Caraka mengusulkan untuk mengumpulkan masukan dari para karyawan, masing-masing divisi di tugaskan untuk membuat sebuah proposal, meskipun belum tentu masukan dari karyawan bisa diterima, setidaknya jika ada yang diterima, maka divisi mereka akan mendapatkan bonus. "Waktu kalian menyiapkan proposal hanya tiga hari, dan nanti para direksi sendiri yang menentukan apakah proposal kalian diterima atau tidak" Tambah Caraka datar diakhir rapatnya. Meskipun agak bikin gelagapan, tapi masih mending daripada membahas tentang PHK. Setelah selesai rapat mereka berkemas dengan pikiran yang berkecamuk, dan siap membahas dengan yang lain. Tak terkecuali Canda, sikap dingin dan datar Caraka yang tidak meunjukkan adanya tanda-tanda balas dendam membuatnya bertanya-tanya. Tapi pikiran itu segera tergantikan dengan ide proposal yang akan mereka kerjakan. Memang Canda seprofesional itu, masalah pribadinya tidak seberharga pekerjaannya. Setelah selesai diskusi ringan dengan anggota divisinya, Canda memutuskan untuk beristirahat sebentar, mereka akan melanjutkan sesi brainstorming sehabis istirahat. Tapi belum juga Ia turun ke kantin, ada panggilan dari Cindy. 'Halo Bu Canda, Pak Caraka meminta Bu Canda ke ruangannya sekarang juga' Tukas suara di seberang. DEGGGGG...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD