Di Restoran

855 Words
Canda dan Lexypun memasuki restoran diiringi tatapan sinis penuh tanya dari sang bos, tanpa diketahui oleh Canda. Setelah mereka masuk, Caraka pun berjalan menyusul mereka dari belakang, namun bedanya dia tidak mencari kursi, tapi langsung masuk kedalam. Rupa-rupanya restoran tersebut milik Clara, kekasih hati sang Caraka, dan ternyata dia adalah anak dari atasan Lexy. Lexy mengabari Pak Hasan bahwa dia sudah datang ke restoran.. "Iya Pak, ini baru order, belum datang makanannya, tempatnya sih jangan ditanya lagi, mencerminkan karakter ownernya". Canda sudah hafal dunia kapitalis, percakapan semacam itu bukan hal yang aneh baginya. Kebetulan dia dan Lexy sama-sama b***k kapitalis, meskipun cacing-cacing di perutnya hampir menyembur keluar, dia sudah terlatih bertahan. 'Oo gitu, kalo gitu Bapak telpon Vanya dulu biar dia datang ketemu kamu, sekalian tadi katanya ada Caraka di sana, calon suami Clara' . Ucap suara bariton di seberang. " Oh iya Pak, tapi apa nggak ngrepotin nanti?! " basa-basi basi banget. 'Kamu kan tamu Bapak, harus diperlakukan spesial dong'. Sepertinya laki-laki di seberang begitu respect pada Lexy. "Ahhaaha, Bapak bisa aja, baiklah, saya tunggu Pak, ini saya juga lagi sama kekasih hati" Lexy cengar-cengir melirik Canda sambil mengusap rambutnya yang tidak berantakan. Canda disebelahnya malu-malu gengsi. Setelah menutup panggilan, Canda dan Lexy menunggu Clara dan yang penting adalah makanan yang mereka pesan. Tak lama dari dalam muncul sosok wanita cantik nan anggun yang sudah Canda kenal, dia berjalan beriringan dengan siapa lagi kalo bukan bosnya yang tampan rupawan, tapi diberi gratispun Canda ogah. Pemandangan surgawi yang ditampilkan di bumi, begitulah gambaran Clara saat berjalan beriringan dengan Caraka, siapapun yang melihat pasti akan terpukau, terpesona, yang hamil pasti akan mengelus-elus perut berharap bayi mereka seperti rupa dua sosok di sana. Canda yang tidak ada sungkan-sungkannya langsung berseloroh, "Gimana Bi, cantik Aku apa dia? ", Canda coba mengetes kewarasan Lexy. " Jangan ditanya, jelas cantikan dia", bisiknya sambil tertawa. Canda pun hanya menjawab "Oke! " sambil ikut tertawa, menertawakan paras mereka yang tak se perfect sosok di depan mereka. padahal sebenarnya Canda juga tak kalah cantik, hanya saja Clara selalu tampil full make up, terlebih ada beberapa bagian yang sudah dia rubah, namun tetap terlihat natural, kebetulan dia dapat dokter yang oke. Clara dan Caraka menghampiri mereka, dan menyapa.. "Loh ternyata kalian pacaran?, halo Gue Clara" Clara menjabat tangan Lexy. "Gue juga heran, ternyata Elu". Canda yang memang sudah agak akrab karena pernah satu project bareng Clara, tepatnya Clara jadi BA perusahaannya. Sementara Caraka menjabat tangan Lexy dengan senyum tipis, setipis tisu dibagi tujuh. Entah ada apa di hati bos Canda itu, mukanya nggak ada ramah-ramahnya. " Jadi kamu kerja di tambang papaku? kok kebetulan banget sih, Canda ini kerja di kantor Caraka". Clara memang terbiasa bergaul dengan semua kalangan, jadi menemui orang baru bukan hal yang sulit baginya. begitupun Canda, tapi yang aneh adalah Caraka, kali ini dia datang dengan mode beruang kutub, diam-diam tapi seperti mau menerkam. "Iya sih, jadi kalo ada Si Bos auranya jadi menyeramkan kayak di kantor. Yakin kuat Lu pacaran sama dia? " Canda berusaha mencairkan suasana, perkara besok dimaki-maki bosnya, itu urusan nanti, dia harus konsisten jadi karyawan pembangkang baik di dalam maupun luar kantor. "Kadang Gue kepikiran mau ditukerin martabak aja". Clara menanggapi Candaan Canda dengan tertawa sambil menyentil tangan Caraka manja. "Memang laki-laki harus punya jati diri sih, nggak boleh gampangan, harus punya prinsip yang harus dipegang. Saya juga kalo tabungan Saya sebanyak Pak Caraka, mungkin Saya pasang mode anglerfish". Lexy mencoba menetralisir, atas nama solidaritas lelaki. Caraka pun mengangguk senyum. "Karena kita suka berfikir dulu sebelum bicara". Entah kenapa seolah Caraka satu tim sama Lexy, padahal jauh dalam hatinya ada rasa kesal tak terdeskripsikan mengendap di hatinya. " Ah bilang saja kalian bingung kan mau ngomong apa?! Jiwa-jiwa introvert memang sudah biasa berkamuflase atas nama cool, padahal mah bingung bagaimana mau mengatasi makhluk-makhluk menggemaskan seperti kita". Canda mencoba mengajak perang. 'Tunggu hari Senin kamu' Ancam Caraka dalam hati. "Sudah-sudah, Kamu masih mau kerjakan Bi?" Lexy seolah menyadarkan kembali kekasihnya itu, bahwa yang Ia coba lawan adalah atasannya. "Bercanda saja Bi, Pak Caraka mah baik, suka menolong, suka ngasih bonus". Canda masih saja cari gara-gara. Clara yang sudah hafal sifat Canda pun memaklumi, hanya tersenyum dan menepuk pundak Caraka. Mereka lalu membicarakan restoran baru Clara, tak lupa mereka berfoto di sana dan mengunggahnya di media sosial, sebagai tanda penghargaan kepada usaha anak atasan Lexy tersebut. "Makasih banget atas jamuannya, niatnya mau makan malah ditraktir" Ucap Lexy ketika mau membayar ternyata sudah di bayar duluan oleh Caraka. "Nevermind, kamu adalah tamu Om Hasan, jadi sudah selayaknya". Jawab Caraka. " Habis ini kalian mau kemana? " Tanya Clara basa-basi. "Rencana sih mau nyari apartement buat Lexy, katanya minggu depan dia pindah kantor pusat, Gue jadi nggak bisa macem-macem deh" Jawab Canda, sesuai namanya, bercanda mulu. "Oh ya, wahh bisa deketan terus dong ya, kapan-kapan kita bisa double date dong?! " Clara melirik Caraka. Entah kenapa Caraka malah tak suka ide itu. "Boleh.. bolehh" Jawab Lexy sekenanya. Batin Canda mereka belum sedekat itu buat bisa ngedate bareng, apalagi bareng bosnya, ngedate kagak, lembur iya. Setelah berbasa-basi ria akhirnya mereka berpamitan, diiringi dengan tatapan dingin Caraka, yang entahlah apa maksudnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD