Kebetulan yang meresahkan

775 Words
Setelah tragedi jeep merah yang menghantui mimpinya, Canda mengira hari-harinya akan terganggu, mengingat mimpi lanjutannya benar-benar menyeramkan bagi Canda. Namun untungnya, sudah hampir seminggu Bos laknat itu tidak muncul di kantor, kata Mutia, sekretaris Caraka, Bosnya itu sedang ada pertemuan penting dengan rekan kerja sekaligus teman lamanya di Jepang. Namun di antara karyawan di sana tidak ada yang tertarik dengan itu, mereka hanya butuh informasi berapa lama Bos reinkarnasi pinguin kutub itu tidak datang ke kantor. Sayangnya Mutia hanya menjawab entahlah. Meskipun semua yakin sebenarnya Mutia juga senang atas kealpaan Bos dinginnya itu. Seminggu berlalu, meskipun tanpa Caraka, pekerjaan di kantor selesai dengan semestinya, tak kurang, tak telat, bertambah iya. Hanya raga Caraka yang tidak datang, tapi pekerjaan selalu terpantau bahkan lebih ketat dibanding biasanya. Hampir setiap jam Dia meminta laporan pekerjaan setiap divisi. Hari itu, Canda sedikit sumringah, karena Laxy hari ini janji akan menjemputnya, Ia sedang mengurus surat kepindahannya sekaligus mencari apartemen yang dekat sama tempat kerjanya. Ia mengajak Canda untuk melihat-lihat apartemen yang akan Ia tempati nantinya. Dengan pendapatannya, Laxy cukup mudah untuk menyewa ataupun membeli apartemen yang Ia kehendaki, mengingat posisinya di pertambangan juga tidak main-main. Meskipun karena orang dalam, tapi kemampuan Laxy memang mumpuni, apalagi jurusan yang Ia ambil saat kuliah juga sesuai posisinya saat ini. Jam 5 Canda sudah menunggu di halte depan kantor, Ia tak perlu menunggu jam 5 tepat untuk keluar kantor, selain karena Caraka tidak ada, pekerjaannya juga sudah selesai dan di acc Bos via email. Hari-hari biasa Ia dan karyawan yang lain akan sungkan untuk pulang duluan sebelum Caraka keluar kantor, mumpung Bos kulkas itu tidak ada, semua bisa pulang lebih cepat. Laxy sempat menelpon agak telat datang karena jalanan macet, Canda menawarkan untuk naik ojol saja ke apartemen yang akan mereka tuju, dan ketemu di sana, namun Laxy menolak karena Ia akan melewati tempat Canda, jadi sekalian saja. Candapun nurut, Ia memasukkan HP ke dalam tas, sambil melihat kendaraan berlalu-lalang. Tak lama, ada sebuah jeep merah berhenti di depannya, Ia mengira Laxy, namun ternyata sosok di dalam mobil tersebut membuat jantung Canda hampir melompat dari tempatnya. Namun dengan kemampuan akting yang seadanya, Ia bersikap seolah biasa saja.. "Wuaahh, mobil baru Bos? " Canda pura-pura berdiri mengagumi mobil yang dikendarai Caraka. Hanya memberikan penghargaan biasa sebagai karyawan yang hormat dan menjilat Bos yang barangkali saja butuh validasi. Tapi yang benar saja, kenapa harus jeep merah, pikiran Canda jadi berkelana entah kemana.. Cowok sok cool di dalamnya hanya berdehem, dengan senyum yang jelas Ia sembunyikan. "Mau nyobain?, kuat kok kalo cuma buat ngantar kamu pulang?! " Tawar Caraka ragu-ragu. Canda berpikir sejenak, jawaban dalam hatinya jelas tidak mau, tapi Ia ingat WAnya tempo hari.. "Sebenarnya mau Pak, tapi Saya sudah janji sama Laxy, Dia mau jemput Saya". Sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Kebetulan dari belakang muncul mobil BMW dan membunyikan klakson, Canda menengok ke belakang ternyata Laxy.. " Oh itu jemputan Saya Pak, Saya pergi dulu, heheee... " Canda berlari masuk ke mobil BMW di belakangnya, meninggalkan Caraka dengan seribu pertanyaan di kepalanya. Di dalam mobil, Laxy dan Canda saling melepas kerinduan mereka. Meskipun Laxy sering datang, tapi kali ini terasa lain. Laxy dengan kebiasaannya mengacak-acak rambut cewek tomboi di sampingnya hingga cewek itu marah-marah. Kebiasaan yang selalu dilakukan Laxy, cowok tampan yang sebenarnya juga pendiam, namun menjadi konyol saat bersama Canda. Mereka dulu teman sekampus, tapi berbeda jurusan. Dulu mereka teman dekat, tapi setelah lulus kuliah mereka memutuskan untuk berpacaran. "Lapar, makan dulu yukk? " Ajak Laxy yang merasakan cacing-cacing di perutnya mulai merajuk. "Oke, mau ke tempat biasa atau cari yang lain? " Usul Canda sambil menyalakan pemutar musik di mobil. "Kemaren Pak Hasan ngasih tau, anaknya baru buka restoran di sekitar sini, Aku udah janji mau datang. Kesana aja yuk, biar nggak berhutang janji sama Pak Hasan! " Canda memahami relasi antara bawahan dan atasan, memang kadang butuh basa-basi, Ia yang sudah terbiasa dengan dunia seperti itu pun tidak bisa menolak. "Oke, Aku juga penasaran". Lalu Laxy membuka HP, melihat nama restoran dan shareloc dari atasannya yang pernah Ia terima. Tak lama kemudian, Canda dan Laxy sudah sampai di restoran yang di maksud, Ia kemudian membukakan pintu untuk Canda, padahal Canda sudah hampir membuka sendiri pintu di sampingnya. Alhasil, kepala Laxy hampir kena pintu. " Lagian ngapain bukain pintu segala? nanti dikira yang keluar Cinderela, padahal mah nenek sihir". Perempuan memang tak mau di salahkan, tapi Canda mencoba sadar diri juga. "Mak lampir dong! " Laxy pun mengimbangi. "Ih jahat banget sih grandong! " Mereka pun tersenyum sambil masuk ke dalam restoran. Dari kejauhan, mobil jeep merah baru memasuki parkiran restoran yang sama, sang pemilik sempat menyaksikan adegan norak dua sejoli tadi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD