Kilas Balik Ke Masa Lalu

1598 Words
Langit Jakarta pagi itu diselimuti awan tipis, menyaring sinar matahari hingga hanya menyisakan cahaya lembut yang jatuh di balkon apartemen Lila. Dia berdiri di sana, memegang cangkir kopi yang sudah mulai dingin, menatap hiruk-pikuk kota yang tak pernah benar-benar tidur. Pikirannya melayang, bukan ke kebisingan jalanan di bawah, tapi ke sebuah desa kecil di Jawa Tengah, tempat dia dan Raka pertama kali bertemu enam tahun lalu. Kenangan itu terasa seperti film lama, penuh warna namun sedikit buram di tepiannya. Lila menyesap kopinya, rasanya pahit di lidah, tapi dia tak peduli. Setelah momen canggung di meja makan tadi malam, ketika nama “Nadia” muncul di ponsel Raka, dia merasa seperti kehilangan pijakan. Dia ingin mempercayai Raka, ingin percaya bahwa itu hanya urusan kerja, tapi ada sesuatu di nada suara Raka terlalu cepat, terlalu defensif yang membuat hatinya gelisah. Untuk menenangkan diri, Lila membiarkan pikirannya melayang ke masa lalu, ke hari-hari ketika cinta mereka masih sederhana, tak ternoda oleh bayang-bayang orang lain. Enam tahun lalu, Lila masih mahasiswi semester akhir di sebuah universitas di Yogyakarta, jurusan seni rupa. Dia sering menghabiskan akhir pekan di desa kecil tempat bibinya tinggal, membantu di warung makan sederhana yang menyajikan gudeg dan ayam goreng. Di sanalah dia bertemu Raka, seorang mahasiswa teknik yang sedang magang di proyek irigasi desa. Raka bukan tipe pria yang langsung mencuri perhatian dia pendiam, sedikit canggung, tapi ada kehangatan di matanya yang membuat Lila merasa nyaman. Lila tersenyum kecil mengingat hari itu. Dia sedang menyajikan gudeg di warung ketika Raka masuk, kemejahnya sedikit basah oleh keringat, rambutnya acak-acakan karena angin sawah. “Mbak, ada es teh?” tanyanya, suaranya pelan tapi sopan. Lila mengangguk, menahan tawa karena Raka terlihat seperti anak kota yang tersesat di desa. Dia menyodorkan segelas es teh, dan entah bagaimana, percakapan kecil dimulai tentang cuaca, tentang gudeg yang terlalu manis, tentang Yogyakarta yang selalu punya cara membuat orang jatuh cinta. Hari-hari berikutnya, Raka sering mampir ke warung, selalu dengan alasan yang sama: “Cuma mau es teh, Mbak.” Tapi Lila tahu dia datang untuk lebih dari itu. Mereka mulai berbagi cerita Lila tentang lukisannya yang selalu gagal menang lomba, Raka tentang mimpinya jadi insinyur yang bisa bikin perubahan. Ada malam ketika mereka duduk di pinggir sawah, di bawah bintang-bintang, berbagi sebungkus kacang goreng sambil tertawa tentang hal-hal kecil. Saat itulah Lila merasa, untuk pertama kalinya, bahwa dia menemukan seseorang yang benar-benar melihatnya. “La, kamu ngapain di balkon? Dingin, lho,” suara Raka membuyarkan lamunan Lila. Dia tersentak, hampir menumpahkan kopinya. Raka berdiri di ambang pintu balkon, sudah rapi dengan kemeja biru tua dan celana bahan, siap berangkat ke kantor meski hari ini Minggu. Lila memaksakan senyum, berusaha menyembunyikan kegelisahan yang kembali muncul. “Cuma nyari udara segar, Ka. Kamu berangkat sekarang?” “Iya, ada meeting dadakan. Maaf, ya, akhir pekan gini masih sibuk,” jawab Raka, tapi matanya tak menatap Lila. Dia sibuk memeriksa ponselnya, jari-jarinya bergerak cepat mengetik sesuatu. Lila mengangguk, mencoba mengabaikan rasa sesak di dadanya. “Gak apa-apa. Hati-hati di jalan, ya.” Raka mengangguk singkat, lalu berbalik menuju pintu. Tapi sebelum dia keluar, Lila memberanikan diri. “Ka, nanti malem kita ngobrol, ya? Kayak… kayak dulu.” Raka berhenti, menoleh dengan ekspresi yang sulit dibaca. “Iya, La, nanti malem. Aku usahain pulang cepet.” Dia tersenyum kecil, tapi senyum itu terasa kosong, seperti formalitas. Ketika pintu tertutup, Lila merasa seperti kehilangan sesuatu lagi. Dia menatap cangkir kopinya, lalu kembali ke kenangan di desa itu, berharap bisa menemukan petunjuk tentang bagaimana caranya mengembalikan Raka yang dulu. Di kantor, Raka duduk di biliknya, menatap layar laptop yang penuh dengan dokumen dan grafik. Suasana kantor pada hari Minggu lebih sepi dari biasanya, hanya diisi oleh beberapa karyawan yang rela mengorbankan akhir pekan mereka. Raka sebenarnya tak harus datang pekerjaannya bisa diselesaikan secara remote tapi dia merasa lebih tenang di sini, jauh dari tatapan Lila yang penuh pertanyaan, jauh dari keheningan apartemen yang terasa seperti tuduhan. “Pagi, Ka!” suara ceria Nadia menyapa dari pintu biliknya. Dia mengenakan kemeja putih yang sedikit longgar, rambutnya dikuncir tinggi, dan membawa dua gelas kopi takeaway. “Cappuccino lagi, nih. Jangan bilang kamu udah minum kopi di rumah.” Raka tersenyum, menerima gelas itu dengan rasa bersyukur yang tak dia ucapkan. “Makasih, Nad. Kamu gak capek masuk tiap hari?” Nadia mengangkat bahu, duduk di kursi tamu di bilik Raka. “Biasa, kerjaan numpuk. Lagian, lebih enak kerja di kantor, kan? Di rumah cuma bikin males.” Dia menyesap kopinya, lalu menatap Raka dengan senyum nakal. “Eh, kamu kok kelihatan stres? Cerita dong, apa yang bikin muka kamu kayak orang kehilangan dompet?” Raka tertawa kecil, tapi ada ketegangan di dadanya. Dia ingin mengabaikan pertanyaan itu, tapi ada sesuatu di mata Nadia—kehangatan, keterbukaan—yang membuatnya sulit menolak. “Gak apa-apa, cuma… capek aja. Kerjaan, rumah, semua numpuk.” Nadia mengangguk, seolah mengerti tanpa perlu penjelasan panjang. “Aku tahu rasanya, Ka. Kadang hidup kayak lari marathon, tapi finish line-nya gak kelihatan. Makanya aku suka nyanyi di karaoke, biar otak reset. Kamu pernah coba?” Raka menggeleng, tersenyum membayangkan dirinya bernyanyi sendirian. “Gak, Nad. Aku gak punya bakat nyanyi. Lila yang suka nyanyi, dulu dia sering nyanyi lagu-lagu Vierra pas kita pacaran.” Nadia tersenyum, tapi ada kilatan rasa ingin tahu di matanya. “Lila kedengeran seru, ya. Kalian kenal dari mana sih? Cerita dong, biar aku gak penasaran.” Raka ragu sejenak, tapi akhirnya menyerah. Dia menceritakan sekilas tentang pertemuan mereka di desa, tentang warung gudeg, tentang malam-malam di pinggir sawah. Dia tak menyadari betapa wajahnya melembut saat menceritakan Lila—Lila yang dulu, yang selalu tertawa lepas, yang membuatnya merasa seperti pria terbaik di dunia. “Wah, romantis banget,” kata Nadia, tersenyum lebar. “Kalian kayak cerita di novel. Tapi sekarang gimana? Masih romantis gitu?” Pertanyaan itu seperti jarum kecil yang menusuk hati Raka. Dia menunduk, memutar gelas kopinya. “Ya… biasa aja. Hidup kan gak selalu kayak novel.” Nadia mengangguk, tak memaksa. “Bener juga. Tapi, Ka, jangan lupa kasih waktu buat Lila, ya. Cewek suka diperhatiin, lho.” Dia berkedip, nadanya ringan, tapi ada kelembutan di balik kata-katanya. Raka hanya mengangguk, merasa bersalah tapi tak tahu bagaimana mengungkapkannya. Dia kembali ke laptopnya, mencoba fokus pada pekerjaan, tapi pikirannya terus melayang ke Lila dan ke rasa bersalah yang semakin menumpuk di dadanya. Sementara itu, Lila memutuskan untuk menghabiskan hari di apartemen, mencoba mengalihkan perhatian dari kegelisahannya. Dia mengeluarkan kanvas dan cat air dari lemari, alat-alat yang sudah lama tak disentuh sejak dia sibuk jadi istri dan mengurus rumah. Dulu, melukis adalah caranya melarikan diri, menuangkan perasaan yang tak bisa diucapkan. Sekarang, dia berharap kuas dan warna-warna itu bisa membantunya menemukan dirinya lagi. Lila duduk di lantai ruang tamu, menatap kanvas kosong di depannya. Dia mencampur warna biru dan kuning, mencoba melukis langit senja seperti yang dia lihat di desa dulu. Tapi setiap goresan kuas terasa salah, seperti lukisannya tak bisa menangkap keindahan kenangan itu. Dia menghela napas, meletakkan kuasnya, dan menatap hasilnya—coretan biru yang kacau, seperti perasaannya saat ini. Ponselnya bergetar di samping, menampilkan pesan dari Sari: *“La, free gak? Aku mau mampir, bawa bakso kesukaanmu.”Lila tersenyum, merasa sedikit lega. Dia membalas cepat: “Free, Sar! Aku di rumah. Buruan ya.”* Sari tiba setengah jam kemudian, membawa semangkuk bakso panas yang dibungkus plastik dan sebungkus kerupuk. Mereka duduk di lantai, makan bakso sambil mengobrol tentang hal-hal ringan anak-anak Sari, drama kantor, dan acara TV yang sedang hits. Tapi seperti biasa, Sari selalu tahu kapan Lila menyembunyikan sesuatu. “La, kamu kenapa sih? Mukanya kayak orang lagi mikirin utang,” canda Sari, tapi matanya penuh perhatian. Lila menghela napas, meletakkan mangkuk baksonya. “Aku gak tahu, Sar. Tadi malam aku coba ngomong sama Raka, tapi… gagal lagi. Dan tiba-tiba ada pesan dari cewek di kantornya, namanya Nadia. Dia bilang cuma urusan kerja, tapi aku… aku takut.” Sari mengangguk, mengunyah kerupuk dengan pelan. “Nadia siapa? Temen kantor biasa, atau…?” “Aku gak tahu, Sar,” jawab Lila, suaranya gemetar. “Tapi aku ngerasa dia… dia kayak ngambil tempatku. Aku tahu ini lebay, tapi aku gak bisa berhenti mikirin itu.” Sari meraih tangan Lila, mematiknya lembut. “La, kamu gak lebay. Perasaanmu valid. Tapi kamu harus bicara sama Raka, beneran bicara. Bukan cuma bilang ‘aku kangen kita’, tapi tanya dia, apa yang bikin dia jauh. Dan kalau dia gak mau terbuka…” Sari berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Kamu harus mikirin apa yang terbaik buat kamu.” Lila menunduk, air matanya jatuh ke mangkuk bakso. “Aku cuma pengen dia balik, Sar. Aku kangen Raka yang dulu, yang nyanyi bareng aku di mobil, yang bikin aku ketawa sampe sakit perut.” Sari memeluknya, membiarkan Lila menangis di bahunya. “Aku tahu, La. Tapi kadang, orang berubah. Yang penting, kamu jangan lupa siapa kamu. Kamu Lila, yang kuat, yang selalu bikin orang lain tersenyum. Jangan biarin siapa pun, termasuk Raka, bikin kamu lupa itu.” Lila mengangguk, meski hatinya masih penuh keraguan. Dia menatap kanvas di lantai, coretan birunya yang kacau. Mungkin, pikirnya, dia tak bisa mengembalikan langit senja itu. Tapi mungkin, dia masih bisa melukis sesuatu yang baru jika saja dia tahu caranya. Malam itu, ketika Raka pulang, Lila sudah tidur, atau pura-pura tidur. Dia mendengar langkah Raka di ruang tamu, bunyi kulkas yang dibuka, dan desahan pelan yang mungkin penuh lelah, atau mungkin rasa bersalah. Tapi Lila tak bangun. Dia memejamkan mata, mencoba menggenggam kenangan desa itu, berharap esok hari akan membawa jawaban yang tak pernah dia temukan malam ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD