Pagi Minggu di apartemen Lila dan Raka terasa seperti lukisan yang kehilangan warnanya. Cahaya matahari yang biasanya membawa kehangatan kini hanya terasa pucat, menyelinap melalui celah-celah tirai yang tak pernah diganti sejak mereka pindah tiga tahun lalu. Lila duduk di sofa, memegang cangkir teh chamomile yang sudah dingin, menatap piring nasi goreng sisa semalam yang masih teronggok di meja makan. Bau bawang goreng yang dulu membawa kenangan manis kini terasa seperti pengingat kegagalan percakapan mereka tadi malam.
Raka masih tidur di kamar, atau mungkin pura-pura tidur. Lila tak yakin lagi. Setelah pertengkaran kecil mereka semalam atau lebih tepatnya, monolog Lila yang tak dijawab dia merasa seperti berbicara pada dinding. Kata-kata Raka, “Kamu bisa gak sih ngertiin aku sedikit?” masih bergema di kepalanya, seperti lagu yang terputar berulang-ulang tanpa henti. Lila ingin marah, ingin berteriak, tapi yang tersisa hanya rasa lelah yang menyelimuti tubuhnya seperti selimut tua yang berat.
Dia bangkit, berjalan pelan ke dapur, dan mulai membersihkan meja makan. Setiap gerakan terasa mekanis mengangkat piring, menyeka meja, membuang sisa makanan ke tempat sampah. Dia mencoba fokus pada tugas-tugas kecil ini, berharap rutinitas sederhana itu bisa menahan air mata yang mulai menggenang. Tapi ketika dia membuka kulkas dan melihat kotak brownies yang masih utuh, sesuatu di dalam dirinya pecah. Dia menutup pintu kulkas dengan keras, lalu bersandar pada dinding, menutup wajahnya dengan tangan.
“Kenapa aku gak bisa berhenti berharap?” bisiknya pada dirinya sendiri. Suaranya teredam oleh bunyi detak jam dinding, yang seolah mengingatkannya bahwa waktu terus berjalan, tapi dia dan Raka seperti terjebak di tempat yang sama.
Bunyi pintu kamar yang terbuka membuat Lila tersentak. Dia buru-buru menyeka matanya, berpura-pura sibuk mengelap meja. Raka keluar, mengenakan kaus olahraga dan celana pendek, rambutnya acak-acakan tapi wajahnya terlihat segar. “Pagi, La,” sapanya, suaranya datar seperti biasa. Dia berjalan ke dapur, mengambil sebotol air dari kulkas, dan meneguknya tanpa menatap Lila.
“Pagi, Ka,” balas Lila, mencoba menjaga nada suaranya tetap netral. “Kamu mau ke gym?”
“Iya, sebentar aja. Habis itu aku ke kantor, ada meeting sama tim,” jawab Raka sambil memasukkan botol air kembali ke kulkas. Dia melirik Lila sekilas, tapi tak ada kehangatan di matanya. “Kamu mau ikut? Atau ada rencana lain?”
Lila menggeleng pelan, merasa pertanyaan itu lebih seperti formalitas daripada undangan sungguhan. “Gak, aku di rumah aja. Mungkin nanti ke rumah Ibu lagi.”
Raka mengangguk, lalu mengambil kunci mobilnya. “Oke, aku balik sore. Kalau ada apa-apa, chat aja, ya.”
Lila hanya mengangguk, tak percaya lagi pada janji-janji kecil seperti itu. Ketika pintu tertutup di belakang Raka, apartemen kembali tenggelam dalam keheningan. Lila menatap meja makan yang kini bersih, tapi entah kenapa, dia merasa seperti membersihkan sesuatu yang sudah tak bisa diperbaiki.
Di kantor, Raka duduk di ruang rapat kecil, dikelilingi oleh beberapa anggota timnya, termasuk Nadia. Pagi ini, mereka sedang mendiskusikan strategi baru untuk presentasi besar minggu depan. Ruangan dipenuhi oleh suara ketikan laptop, tawa kecil, dan aroma kopi yang dibawa Nadia dari kafe favoritnya. Raka mencoba fokus pada slide di layar proyektor, tapi pikirannya terus melayang ke percakapan semalam dengan Lila.
“Kamu bisa gak sih ngertiin aku sedikit?” Kata-katanya sendiri terdengar kejam sekarang, seperti pisau yang tak sengaja dia ayunkan. Dia tahu Lila sedang berusaha, tapi entah kenapa, setiap kali Lila membuka pembicaraan, Raka merasa seperti diserang. Dia ingin Lila mengerti tekanan yang dia rasakan tuntutan di kantor, harapan bosnya, mimpi untuk membawa keluarga mereka ke kehidupan yang lebih baik. Tapi setiap kali dia mencoba menjelaskan, kata-katanya malah terdengar seperti alasan.
“Raka, kamu dengar gak?” suara Nadia memecah lamunannya. Dia menatap Raka dengan alis terangkat, tapi senyumnya tetap ramah.
“Eh, maaf, Nad. Lagi mikir apa tadi?” Raka menggosok pelipisnya, mencoba tersenyum untuk menutupi kegalauannya.
Nadia tertawa kecil. “Kamu beneran capek, ya. Aku bilang, kita mungkin perlu tambah satu slide tentang analisis kompetitor. Menurutmu gimana?”
“Iya, bagus. Tambahin aja, aku bantu cek datanya nanti,” jawab Raka, bersyukur Nadia tak menyinggung keterpencilannya tadi. Dia selalu kagum pada kemampuan Nadia untuk menjaga suasana tetap ringan, bahkan di tengah tekanan kerja. Bersamanya, Raka merasa seperti bisa bernapas, tak seperti di rumah, di mana setiap percakapan terasa seperti berjalan di atas ranjau.
Setelah rapat selesai, Nadia mengajak Raka untuk makan siang di kafe kecil di lantai bawah gedung. “Ayo, Ka, sekali-kali refreshing. Aku traktir, deh,” katanya sambil mengedipkan mata.
Raka ragu sejenak, memikirkan Lila yang mungkin sedang menunggunya di rumah. Tapi dia mengangguk, meyakinkan diri bahwa ini cuma makan siang biasa. “Oke, tapi aku yang bayar. Kamu udah traktir kopi tadi.”
Nadia tertawa, memimpin jalan ke kafe. Mereka duduk di dekat jendela, memesan sandwich dan jus jeruk. Percakapan mereka mengalir ringan tentang pekerjaan, film baru yang sedang hits, bahkan candaan tentang bos mereka yang selalu lupa nama karyawan. Untuk pertama kalinya dalam beberapa hari, Raka merasa seperti dirinya yang dulu pria yang bisa tertawa tanpa beban, yang tak perlu memikirkan apa yang salah di rumah.
“Eh, Ka, kamu pernah gak sih ngerasa hidup kayak… stuck?” tanya Nadia tiba-tiba, sambil menyesap jusnya. Matanya menatap Raka dengan serius, tapi ada kelembutan di sana.
Raka terdiam, tak expect pertanyaan itu. “Kadang-kadang,” jawabnya pelan. “Kayak, apa pun yang kamu lakuin, rasanya gak cukup.”
Nadia mengangguk, seolah mengerti. “Aku juga gitu kadang. Makanya aku suka nyanyi karaoke sendirian di rumah, biar stress-nya keluar. Kamu coba deh, works wonders!”
Raka tertawa, membayangkan dirinya bernyanyi sendirian di apartemen. “Aku gak yakin Lila bakal tahan dengar suaraku.”
Nadia tersenyum, tapi ada sesuatu di matanya, mungkin rasa ingin tahu, mungkin simpati. “Lila beruntung punya kamu, Ka. Tapi jangan lupa, kamu juga harus jaga diri sendiri, ya.”
Kata-kata itu terasa hangat, tapi juga membuat Raka merasa bersalah. Dia tahu Nadia hanya berusaha ramah, tapi entah kenapa, perhatian kecil itu terasa seperti sesuatu yang sudah lama tak dia dapatkan di rumah.
Sementara itu, Lila memutuskan untuk kembali ke rumah Ibu Ratna. Dia membutuhkan pelukan ibunya, nasihatnya, atau sekadar kehadiran seseorang yang tak akan menghakiminya. Di perjalanan, dia menyetel lagu-lagu lama di ponselnya, lagu-lagu yang dulu dia dan Raka dengarkan bersama saat pacaran. Salah satu lagu, “Bersamamu” dari Vierra, membuat air matanya hampir jatuh. Dia buru-buru mengganti lagu, tak ingin ojek yang mengantarnya melihatnya menangis.
Di rumah Ibu Ratna, aroma kemangi dan bunga kamboja menyambutnya seperti pelukan lama. Ibu Ratna sedang menyiram tanaman di halaman, mengenakan daster sederhana dan topi jerami yang sedikit miring. “Lila, datang lagi! Ibu kira kamu cuma mampir setahun sekali,” canda ibunya sambil memeluknya.
Lila tersenyum, merasa sedikit lega. “Kangen Ibu, sih. Lagian, Jakarta bikin pusing.”
Mereka duduk di beranda, ditemani teh pandan dan pisang goreng yang masih hangat. Lila menceritakan percakapan semalam dengan Raka, tentang bagaimana dia mencoba membuka hati tapi malah ditutup dengan kata-kata dingin. “Aku gak tahu lagi, Bu. Aku takut… takut dia gak cinta lagi sama aku.”
Ibu Ratna mendengarkan dengan sabar, tangannya memegang tangan Lila. “Nak, cinta itu gak hilang begitu aja. Tapi kadang, orang lupa cara menunjukkannya. Raka mungkin sedang bingung, tapi itu bukan berarti dia gak sayang kamu.”
“Tapi kenapa aku yang selalu harus ngerti dia, Bu?” tanya Lila, suaranya gemetar. “Aku capek, Bu. Aku cuma pengen dia lihat aku, kayak dulu.”
Ibu Ratna tersenyum, keriput di wajahnya seolah menceritakan kisah-kisah yang pernah dia lalui. “Cinta itu bukan cuma perasaan, La. Itu pilihan. Kalau kamu masih pilih Raka, kamu harus kuat, harus berani bicara. Tapi kalau dia gak pilih kamu kembali…” Suaranya pelan, tapi penuh kekuatan. “Kamu harus ingat, kamu cukup berharga untuk berdiri sendiri.”
Kata-kata itu seperti angin sejuk di tengah panasnya hati Lila. Dia menatap ibunya, mencoba menyerap kebijaksanaan itu, tapi ketakutan di dadanya masih ada. Dia ingin percaya pada Raka, pada pernikahan mereka, tapi bayang-bayang yang dia rasakan semakin jelas seperti siluet seseorang yang berdiri di antara dia dan suaminya.
Malam itu, Lila pulang ke apartemen dengan tekad baru. Dia akan mencoba sekali lagi, bukan untuk memohon, tapi untuk memperjuangkan apa yang masih tersisa dari cinta mereka. Dia menyiapkan makan malam sederhana lagi, sop ayam, makanan yang selalu berhasil membuat Raka tersenyum dulu. Dia bahkan menyalakan lilin kecil di meja makan, berharap suasana itu bisa membawa kembali kehangatan.
Raka pulang lebih awal dari biasanya, sekitar pukul enam. Dia terlihat terkejut melihat meja makan yang sudah disiapkan. “Wah, sop ayam? Spesial banget ini,” katanya, tersenyum kecil.
Lila merasa hatinya menghangat, meski hanya sedikit. “Iya, aku pikir kita bisa makan bareng malam ini. Udah lama, kan?”
Raka mengangguk, duduk di meja. Mereka makan dalam diam untuk beberapa saat, hanya bunyi sendok yang menyentuh mangkuk. Lila mencuri pandang ke arah Raka, mencoba mencari tanda-tanda suami yang dulu dia kenal. Tapi matanya tertuju pada ponsel Raka, yang bergetar di samping piringnya. Layar menyala, menampilkan nama “Nadia” dan pesan singkat: “Ka, tadi seru ya. Besok lanjut brainstorming?”
Lila merasa jantungannya berhenti. Dia menunduk, mencoba fokus pada sop di depannya, tapi rasanya seperti menelan pasir. “Siapa itu, Ka?” tanyanya, suaranya pelan tapi penuh ketegangan.
Raka melirik ponselnya, lalu buru-buru mematikannya. “Oh, cuma Nadia, temen di kantor. Kita lagi bahas proyek,” jawabnya, tapi nadanya terlalu cepat, terlalu defensif.
Lila mengangguk, tak ingin memulai pertengkaran lagi. Tapi di dalam hatinya, bayang-bayang itu kini punya nama Nadia. Dan untuk pertama kalinya, Lila merasa seperti cahaya di antara dia dan Raka benar-benar memudar, meninggalkan mereka dalam kegelapan yang semakin pekat.