Bayangan di Ujung Meja

1564 Words
Hujan semalam telah reda, meninggalkan udara pagi yang sejuk dan aroma tanah basah yang samar-samar tercium di jalanan Jakarta. Lila berdiri di balkon kecil apartemennya, memegang cangkir teh jahe yang masih mengepul. Cahaya matahari pagi menyelinap di antara gedung-gedung tinggi, menyentuh wajahnya dengan kehangatan lembut. Tapi hatinya tetap dingin, seperti sisa-sisa brownies yang tak tersentuh di meja dapur, menunggu Raka yang tak kunjung pulang tepat waktu. Malam tadi, Raka baru tiba lewat tengah malam, dengan alasan klise yang sama: “Meeting dadakan, La. Maaf, lupa bales pesanmu.” Lila hanya mengangguk, tak punya tenaga untuk memulai pertengkaran. Dia merasa seperti aktor dalam drama yang terpaksa menghafal dialog, berulang-ulang tanpa makna. Brownies yang dia bawa dari kafe *Senja* kini teronggok di kulkas, simbol harapan kecil yang mulai layu. Lila menyesap tehnya, mencoba mengusir rasa sesak yang kembali menjalar. Hari ini adalah hari Sabtu, hari yang seharusnya mereka habiskan bersama mungkin pergi ke pasar pagi, membeli sayuran segar, atau sekadar duduk di taman sambil minum kopi. Tapi Raka sudah mengatakan kemarin bahwa dia harus ke kantor untuk “menyelesaikan beberapa hal.” Lila tak bertanya apa, takut jawabannya hanya akan menambah beban di dadanya. Bunyi pintu kamar mandi terbuka, mengalihkan perhatiannya. Raka keluar, rambutnya masih basah, mengenakan kaus polo biru tua yang dulu Lila pilihkan untuknya. Dia terlihat segar, tapi matanya menunduk, menghindari kontak dengan Lila. “Aku berangkat dulu, La,” katanya sambil mengambil kunci mobil dari meja. “Mungkin agak lama di kantor, proyek ini lagi hectic.” Lila memutar cangkir di tangannya, jari-jarinya merasakan panas yang mulai memudar. “Oh, oke,” jawabnya pelan. Dia ingin mengatakan lebih banyak meminta Raka tinggal, meminta dia menatapnya seperti dulu, meminta penjelasan mengapa mereka seperti dua orang asing yang berbagi atap. Tapi kata-kata itu terjebak di tenggorokannya, seperti burung yang tak tahu cara terbang. Raka berhenti di pintu, seolah ragu. “Kamu gak apa-apa, kan, La?” tanyanya, suaranya terdengar setengah hati. Lila memaksakan senyum. “Gak apa-apa, Ka. Kerja yang fokus, ya.” Raka mengangguk, lalu pergi. Pintu tertutup dengan bunyi pelan, tapi bagi Lila, bunyi itu seperti palu yang memukul dadanya. Dia menatap cangkir tehnya, uapnya kini hilang, meninggalkan cairan yang mulai dingin. “Apa aku harus terus begini?” gumamnya, suaranya hampir tak terdengar. Di kantor, Raka duduk di bilik kerjanya, menatap layar komputer yang penuh dengan email dan dokumen. Kantor pada hari Sabtu terasa lebih sepi, hanya beberapa karyawan yang datang untuk menyelesaikan pekerjaan tertunda. Di sudut ruangan, mesin kopi berdengung pelan, mengisi keheningan dengan suara mekanis yang monoton. Raka sebenarnya bisa menyelesaikan tugas-tugas ini dari rumah, tapi entah kenapa, dia merasa lebih nyaman di sini. Di kantor, dia bisa melarikan diri dari tatapan Lila yang penuh pertanyaan, dari keheningan yang menyesakkan di apartemen mereka. “Pagi, Ka!” suara ceria Nadia menyapa dari ambang pintu biliknya. Dia mengenakan blazer abu-abu dan rok pensil, rambutnya digerai dengan ikal lembut di ujungnya. Di tangannya, dia membawa dua gelas kopi takeaway dari kafe di lobi gedung. “Aku bawa kopi, nih. Cappuccino, kan, favoritmu?” Raka tersenyum kecil, menerima gelas yang ditawarkan Nadia. “Wah, makasih, Nad. Kamu juga masuk hari ini?” “Iya, mau ngejar revisi presentasi buat Senin. Klien kita yang satu ini rewel banget,” jawab Nadia sambil menarik kursi dan duduk di dekat meja Raka. “Kamu apa kabar? Muka kok kayak orang kurang tidur.” Raka menghela napas, memutar gelas kopi di tangannya. “Biasa, capek aja. Proyek ini bikin pusing.” Nadia mengangguk, matanya menatap Raka dengan penuh perhatian. “Aku tahu, Ka. Tapi kamu jangan push diri terlalu keras, lho. Nanti malah sakit.” Dia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada ringan, “Atau mungkin kamu butuh libur bareng keluarga? Quality time gitu.” Kata “keluarga” membuat Raka sedikit tersentak. Dia teringat Lila, wajahnya yang pucat pagi tadi, senyumnya yang dipaksakan. Rasa bersalah menyelinap di dadanya, tapi dia cepat-cepat mengusirnya. “Iya, mungkin nanti,” jawabnya singkat, lalu mengalihkan pembicaraan. “Gimana progress revisi presentasinya? Butuh bantuan?” Nadia tersenyum, menerima perubahan topik itu tanpa protes. “Aku udah bikin draft baru, tapi butuh mata kedua. Mau lihat sekarang?” Raka mengangguk, dan mereka mulai bekerja bersama, meneliti slide demi slide, berdiskusi tentang strategi dan data. Ada kenyamanan dalam ritme kerja mereka Nadia dengan idenya yang mengalir, Raka dengan analisanya yang tajam. Untuk sesaat, Raka merasa seperti dirinya yang dulu: pria yang penuh percaya diri, yang tahu apa yang dia inginkan. Bukan suami yang bingung menghadapi pernikahannya sendiri. Sementara itu, Lila memutuskan untuk mengunjungi Ibu Ratna, ibunya, yang tinggal di pinggiran Jakarta. Dia naik ojek online, membawa sekotak kue dari kulkas sebagai oleh-oleh. Rumah ibunya adalah bangunan sederhana dengan halaman kecil penuh tanaman kemangi, cabai, dan bunga kamboja yang harum. Begitu sampai, Lila disambut oleh pelukan hangat Ibu Ratna, yang wajahnya selalu tampak tenang meski penuh keriput. “Wah, anak Ibu datang! Kapan terakhir ke sini, La? Ibu kira kamu lupa jalan ke rumah,” canda Ibu Ratna sambil mengajak Lila masuk. Lila tersenyum, merasa sedikit lega di bawah kehangatan ibunya. “Maaf, Bu, akhir-akhir ini sibuk. Ini kue buat Ibu, brownies dari kafe.” Ibu Ratna menerima kotak itu dengan senyum lebar. “Aduh, makasih, Nak. Ayo, duduk. Ibu bikin teh pandan, ya.” Mereka duduk di ruang tamu, di atas tikar pandan yang harum. Ibu Ratna menuang teh ke dalam cangkir-cangkir kecil, uapnya membawa aroma pandan yang menenangkan. Lila menyesap tehnya, merasa kenangan masa kecilnya kembali hari-hari ketika dia akan duduk di sini, bercerita tentang sekolah, tentang mimpi-mimpinya. “Gimana kabar Raka, La?” tanya Ibu Ratna, suaranya lembut tapi penuh perhatian. Lila ragu sejenak, jari-jarinya memainkan pinggir cangkir. “Baik, Bu. Dia… sibuk banget sama kerjaan.” Ibu Ratna menatapnya lama, matanya seolah bisa melihat melewati senyum Lila. “Dan kamu, La? Kamu baik-baik aja?” Pertanyaan itu seperti kunci yang membuka bendungan di hati Lila. Dia menunduk, mencoba menahan air mata yang tiba-tiba menggenang. “Aku gak tahu, Bu,” bisiknya. “Aku ngerasa… kayak sendirian. Raka selalu bilang dia kerja buat kita, tapi aku cuma pengen dia ada di sini, ngobrol sama aku, kayak dulu.” Ibu Ratna meraih tangan Lila, mematiknya dengan lembut. “Pernikahan itu seperti tanaman, Nak. Kalau gak disiram, gak dirawat, dia akan layu. Tapi kalau kamu sabar, kalau kamu mau berusaha, dia bisa tumbuh lagi, lebih kuat.” Lila mengangguk, tapi hatinya masih penuh keraguan. “Tapi kalau cuma aku yang usaha, Bu? Kalau dia… gak peduli?” Ibu Ratna tersenyum, keriput di wajahnya seolah menceritakan kisah-kisah hidupnya sendiri. “Kamu gak bisa mengubah hati orang lain, La. Tapi kamu bisa mulai dari dirimu sendiri. Bicara sama Raka, dari hati ke hati. Dan kalau dia gak dengar…” Suaranya pelan, tapi tegas. “Kamu harus ingat, kamu berharga, Nak. Jangan pernah lupa itu.” Kata-kata itu terasa seperti pelukan, tapi juga seperti tamparan lembut. Lila menatap ibunya, merasa campur aduk antara harapan dan ketakutan. Dia ingin percaya bahwa semuanya bisa baik-baik saja, bahwa Raka masih mencintainya. Tapi di sudut hatinya, ada bayang-bayang yang semakin jelas bayang-bayang seseorang yang tak dia kenal, yang mungkin sedang mengisi ruang yang dulu miliknya. Malam itu, Lila pulang ke apartemen dengan hati yang sedikit lebih teguh. Dia memutuskan untuk mencoba bicara dengan Raka, seperti yang disarankan Sari dan Ibu Ratna. Dia menyiapkan makan malam sederhana—nasi goreng dengan telur ceplok, makanan favorit Raka waktu mereka masih pacaran. Aroma bawang goreng memenuhi dapur, membawa sedikit kehangatan ke ruangan yang terasa kosong. Raka pulang lebih awal dari biasanya, sekitar pukul tujuh. Dia terlihat lelah, tapi ada sedikit senyum di wajahnya ketika mencium bau makanan. “Wah, nasi goreng? Spesial nih,” katanya sambil meletakkan tasnya. Lila tersenyum, merasa sedikit harapan kembali. “Iya, kangen masak buat kamu. Duduk, yuk, makan bareng.” Mereka duduk di meja makan, untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu. Lila memperhatikan Raka mengambil suapan pertama, berharap dia akan mengatakan sesuatu apa saja yang bisa memecah keheningan. Tapi Raka hanya makan dalam diam, sesekali mengecek ponselnya. “Ka,” Lila akhirnya memberanikan diri, suaranya pelan tapi tegas. “Aku mau ngomong.” Raka menoleh, alisnya sedikit terangkat. “Ngomong apa, La?” Lila menarik napas dalam-dalam, mencoba menjaga suaranya tetap tenang. “Aku ngerasa kita… kayak gak lagi bareng, Ka. Kamu selalu sibuk, dan aku… aku kangen kita yang dulu.” Raka meletakkan sendoknya, wajahnya menegang. “La, aku kerja buat kita, lho. Proyek ini penting, kalau berhasil, kita bisa punya tabungan lebih. Kamu tahu kan aku gak main-main?” “Aku tahu, Ka,” balas Lila, suaranya mulai gemetar. “Tapi aku cuma pengen kamu ada di sini, ngobrol sama aku, kayak dulu. Aku ngerasa… sendirian.” Raka menghela napas, menggosok pelipisnya. “La, aku capek. Aku pulang kerja, pengen istirahat, bukan denger keluhan. Kamu bisa gak sih ngertiin aku sedikit?” Kata-kata itu seperti pisau, memotong harapan Lila yang baru saja tumbuh. Dia menunduk, air matanya jatuh ke piring nasi goreng yang tak lagi disentuh. “Aku cuma pengen kita baikan, Ka,” bisiknya. Raka tak menjawab. Dia bangkit, meninggalkan piringnya setengah penuh, dan berjalan ke kamar. “Aku mandi dulu,” katanya singkat. Lila menatap meja makan yang kini sepi, nasi goreng yang dingin, dan bayang-bayang di ujung meja yang terasa semakin nyata. Dia tahu, malam ini, dia kehilangan sesuatu lagi, mungkin keberaniannya, mungkin harapannya, atau mungkin sepotong hati yang masih percaya pada Raka.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD