Pagi itu, sinar matahari menyelinap melalui celah-celah tirai kamar Lila, membentuk garis-garis emas di lantai kayu. Dia terbangun dengan kepala yang terasa berat, sisa-sisa malam sebelumnya masih melekat seperti kabut. Bau rendang yang disimpan di kulkas semalam seolah mengingatkannya pada makan malam yang tak tersentuh, pada harapan yang perlahan memudar. Lila menoleh ke sisi ranjangnya kosong. Raka sudah bangun, atau mungkin tak pernah benar-benar tidur di sampingnya semalam. Dia tak yakin lagi.
Lila menghela napas, bangkit dari ranjang, dan menyeret langkahnya ke kamar mandi. Air dingin yang mengalir dari keran membasahi wajahnya, tapi tak mampu menghapus rasa sesak di dadanya. Cermin di depannya memantulkan wajahnya sendiri: mata yang sedikit sembab, rambut yang kusut, dan senyum yang terpaksa dia pakai seperti topeng. “Ayo, Lila, hari ini harus lebih baik,” gumamnya, mencoba meyakinkan diri sendiri. Tapi suaranya terdengar rapuh, seperti daun kering yang mudah hancur.
Di ruang tamu, Raka sudah duduk di sofa, memegang secangkir kopi hitam yang masih mengepul. Laptopnya terbuka di meja kecil, layarnya menampilkan spreadsheet penuh angka dan grafik. Dia mengenakan kemeja putih yang sudah disetrika rapi, dasinya masih tergantung longgar di lehernya. Lila memperhatikan punggung Raka dari ambang pintu, mencoba mencari tanda-tanda suami yang dulu dia kenal pria yang akan menoleh dengan senyum hangat begitu mendengar langkahnya. Tapi Raka tak bergerak, fokus pada layar, seolah dunia di sekitarnya tak ada.
“Pagi, Ka,” sapa Lila pelan, suaranya hampir tenggelam oleh bunyi ketikan jari Raka di keyboard.
Raka menoleh sekilas, matanya bertemu dengan Lila hanya sesaat sebelum kembali ke laptop. “Pagi, La. Aku harus ke kantor lebih awal hari ini. Ada presentasi sama klien.”
Lila mengangguk, meski Raka tak melihatnya. “Oh, oke. Mau sarapan apa? Aku bisa bikin telur atau...”
“Gak usah, La,” potong Raka, suaranya datar. “Aku beli di jalan aja. Lebih cepat.”
Kata-kata itu sederhana, tapi entah kenapa terasa seperti tusukan kecil di hati Lila. Dia menelan rasa kecewa yang mulai menggumpal di tenggorokannya, berjalan ke dapur untuk menyibukkan diri. Dia mengeluarkan roti tawar dari lemari, memasukkan dua lembar ke pemanggang, meski tahu dia tak benar-benar lapar. Bunyi brum-brum toaster terasa seperti satu-satunya suara yang hidup di apartemen itu.
Di benaknya, Lila teringat masa-masa awal pernikahan mereka. Dulu, pagi adalah waktu favorit mereka. Raka akan duduk di meja makan, menggoda Lila tentang telur goreng yang kadang terlalu matang, sementara Lila akan membalas dengan candaan tentang kopi Raka yang selalu keasinan. Mereka akan tertawa, berbagi cerita kecil, dan saling menatap dengan cara yang membuat dunia terasa milik mereka berdua. Kini, meja makan itu hanya dipenuhi keheningan, seperti monumen bagi kenangan yang mulai pudar.
Lila membawa roti panggang ke meja, duduk sendirian, dan menggigit sepotong kecil. Rasanya hambar, atau mungkin hatinya yang tak lagi bisa menikmati apa pun. Dia melirik ponselnya, berharap ada pesan dari Raka, mungkin permintaan maaf atas malam tadi, atau sekadar ucapan sederhana yang menunjukkan dia masih peduli. Tapi layar ponselnya kosong, hanya menampilkan wallpaper foto mereka berdua di Pantai Kuta, tersenyum di bawah matahari Bali dua tahun lalu. Lila menatap foto itu lama, mencoba mengingat rasa bahagia yang dulu begitu nyata.
Bunyi pintu depan yang tertutup membuyarkan lamunannya. Raka sudah pergi, tanpa pamit. Lila menatap pintu itu, merasa seperti ada bagian dari dirinya yang ikut keluar bersama Raka, meninggalkannya semakin kosong.
Di kantor, Raka duduk di ruang rapat, menatap proyektor yang menampilkan slide presentasi tentang strategi pemasaran baru. Ruangan itu penuh dengan suara diskusi, tawa kecil, dan aroma kopi yang menguar dari cangkir-cangkir di meja. Tapi pikiran Raka tak sepenuhnya ada di sana. Dia merasa lelah, bukan hanya karena kerja, tapi karena sesuatu yang tak bisa dia jelaskan. Ada beban di dadanya, seperti tali yang menariknya ke dua arah berlawanan dengan karier yang menuntut dan pernikahan yang entah sejak kapan mulai terasa asing.
“Raka, kamu setuju sama timeline ini?” suara Nadia, rekan kerjanya, memecah lamunannya.
Raka menoleh, sedikit tersentak. Nadia duduk di seberang meja, rambut panjangnya yang dikuncir rapi berkilau di bawah lampu neon. Matanya tajam, penuh percaya diri, tapi ada kehangatan di senyumnya yang membuat orang merasa nyaman. Raka mengangguk cepat, mencoba fokus. “Iya, setuju. Tapi kita harus pastikan tim kreatif bisa kejar deadline.”
Nadia mengangguk, mencatat sesuatu di tabletnya. “Oke, aku koordinasi sama mereka. Nanti kita review bareng, ya? Kayaknya butuh brainstorming lagi buat campaign ini.”
“Deal,” jawab Raka, tersenyum kecil. Dia selalu kagum pada energi Nadia, bagaimana dia bisa begitu terorganisir, begitu penuh ide, tanpa terlihat lelah. Bekerja dengannya terasa seperti napas segar di tengah tekanan kantor yang kadang mencekik.
Setelah rapat selesai, Raka dan Nadia berjalan bersama ke pantry kantor, mengambil segelas air dingin. “Kamu kelihatan capek, Ka,” kata Nadia sambil menyandarkan pinggulnya ke meja pantry. “Semuanya oke?”
Raka menghela napas, memutar gelas di tangannya. “Biasa, kerjaan numpuk. Proyek ini bikin kepala mau pecah.”
Nadia mengangguk, matanya menatap Raka dengan penuh perhatian. “Aku tahu rasanya. Tapi kamu kuat, kok. Keren banget tadi ngomong di depan klien, lho. Aku sampai mikir, ‘Wah, ini bos masa depan!’”
Raka tertawa kecil, merasa sedikit ringan. “Jangan gombal, deh. Aku cuma berusaha gak bikin tim kita malu.”
“Serius, lho,” balas Nadia, tersenyum lebar. “Kamu punya bakat buat lead. Cuma, jangan lupa istirahat, ya. Gak enak kalau burnout.”
Kata-kata Nadia sederhana, tapi entah kenapa terasa hangat di hati Raka. Dia tak terbiasa mendengar pujian akhir-akhir ini, apalagi dari Lila, yang sepertinya selalu punya keluhan setiap kali mereka bicara. Raka mengangguk, menyesap airnya, dan untuk sesaat, dia merasa seperti orang yang berbeda bukan suami yang gagal pulang tepat waktu, bukan pria yang lupa mengucap pamit, tapi seseorang yang dihargai.
Sementara itu, Lila memutuskan untuk keluar dari apartemen, mencari udara segar yang mungkin bisa mencerahkan pikirannya. Dia mengendarai motor maticnya ke sebuah kafe kecil di Kemang, tempat favoritnya untuk melarikan diri dari keheningan rumah. Kafe itu bernama Senja, dengan dinding penuh tanaman merambat dan lampu-lampu gantung yang menghadirkan suasana hangat. Lila duduk di sudut dekat jendela, memesan teh chamomile dan sepotong kue red velvet.
Dia mengeluarkan buku catatan kecil dari tasnya, berharap menulis bisa membantu mengurai kekacauan di kepalanya. Tapi setelah menatap halaman kosong selama lima menit, pena di tangannya tak bergerak. Pikirannya melayang kembali ke malam tadi, ke wajah Raka yang tak menatapnya, ke suaranya yang dingin. “Apa aku yang terlalu menuntut?” tanyanya pada diri sendiri. “Atau dia yang berubah?”
Lila menutup buku catatannya, menyerah. Dia mengambil ponsel, membuka aplikasi pesan, dan mengetik nama Sari, kakaknya. “Sar, free gak? Butuh temen ngobrol.” Pesan itu terkirim, dan tak lama kemudian, ponselnya bergetar.
“La, apa kabar? Aku lagi di rumah, anak-anak sekolah. Mau ke sana?” balas Sari.
Lila tersenyum kecil, merasa sedikit lega. “Aku di Senja, Kemang. Kalo gak repot, mampir dong.”
“Dua puluh menit, aku sampe. Tunggu ya,” jawab Sari.
Lila menyesap tehnya, menatap jalan di luar jendela. Orang-orang berlalu-lalang, beberapa berpasangan, tertawa bersama. Dia teringat bagaimana dulu dia dan Raka suka jalan-jalan tanpa tujuan, berhenti di warung pinggir jalan untuk makan bakso, atau duduk di taman sambil berbagi es krim. Kini, mereka bahkan jarang duduk bersama di meja makan.
Sari tiba tepat waktu, mengenakan kaus sederhana dan celana jeans, rambutnya dikuncir asal. Dia langsung memeluk Lila sebelum duduk di depannya. “Wah, muka kamu kenapa kayak orang keabisan baterai, La?” candanya, tapi matanya penuh perhatian.
Lila tersenyum tipis, mencoba menyembunyikan rasa sedihnya. “Biasa, capek aja. Maklum, istri pekerja keras.”
Sari memesan kopi, lalu menatap Lila dengan pandangan yang tak bisa ditipu. “Jangan bohong, La. Aku tahu muka orang galau. Cerita dong, apa yang bikin adikku kesayangan ini murung?”
Lila ragu sejenak, tapi akhirnya menghela napas dan mulai bercerita. Dia menceritakan malam tadi, tentang makan malam yang sia-sia, tentang Raka yang semakin jauh, tentang rasa takut yang mulai menggerogoti hatinya. “Aku gak tahu, Sar. Apa aku yang lebay, atau dia yang… entah kenapa, aku ngerasa dia gak lagi di sini, meski tiap hari aku lihat dia.”
Sari mendengarkan dengan sabar, sesekali mengangguk. Ketika Lila selesai, dia menghela napas panjang. “La, pernikahan itu gak selalu gampang, apalagi setelah beberapa tahun. Aku sama Mas Andi juga pernah gitu, rasanya kayak hidup sama temen sekamar, bukan suami. Tapi kamu harus bicara sama Raka. Jangan simpen sendiri.”
“Aku coba, Sar,” jawab Lila, suaranya pelan. “Tapi setiap kali aku buka mulut, dia kayak… gak dengar. Atau malah balik nanya, ‘Kamu kenapa sih, La? Aku kan cuma kerja.’ Aku capek dengar itu.”
Sari meraih tangan Lila, mematiknya lembut. “Kamu harus tegas, La. Bukan berarti ngomel, tapi bikin dia ngerti apa yang kamu rasain. Kalau dia gak tahu, dia gak akan berubah. Dan kalau dia gak mau dengar…” Sari berhenti, memilih kata-katanya dengan hati-hati. “Kamu juga harus mikirin apa yang terbaik buat kamu.”
Kata-kata itu membuat Lila terdiam. Dia tahu Sari benar, tapi memikirkan kemungkinan terburuk kehilangan Raka akan terasa seperti menatap jurang yang terlalu dalam. “Aku cuma pengen dia balik, Sar. Balik jadi Raka yang dulu.”
Sari tersenyum lembut. “Mungkin dia gak akan pernah jadi Raka yang dulu, La. Tapi kalian bisa jadi versi baru, yang lebih kuat. Asal kalian mau berjuang bareng.”
Lila mengangguk, meski hatinya masih penuh keraguan. Dia menyesap tehnya yang sudah dingin, menatap Sari dengan rasa terima kasih yang tak terucap. Untuk pertama kalinya hari itu, dia merasa sedikit kurang sendirian.
Malam itu, Lila pulang ke apartemen dengan hati yang sedikit lebih ringan. Dia membawa pulang kue brownies dari kafe, berharap bisa memulai percakapan kecil dengan Raka. Tapi ketika dia membuka pintu, apartemen itu gelap. Raka belum pulang. Jam di dinding menunjukkan pukul delapan lewat, dan ponsel Lila masih kosong dari pesan.
Dia duduk di sofa, menatap kotak brownies di tangannya. Rasa lelah menyelimuti tubuhnya, tapi dia tak mau menyerah. Dia mengetik pesan untuk Raka: “Ka, aku bawa brownies dari Senja. Pulang cepet ya, kita makan bareng.” Pesan itu terkirim, tapi seperti malam sebelumnya, tak ada tanda centang biru.
Lila menutup matanya, mencoba menahan air mata yang mulai menggenang. Di luar, hujan mulai turun, membasahi jendela dengan tetesan-tetesan kecil. Suara hujan itu terasa seperti lagu pengantar tidur yang sedih, mengiringi Lila ke dalam malam yang penuh pertanyaan tanpa jawaban.