Rivaldi keluar dari kamar mandinya dengan hanya melilitkan handuk di bagian bawahnya. Ia baru saja menyelesaikan mandinya setelah berolahraga dan sekarang bersiap untuk ke kantor. Pintunya diketuk dari luar dan tanpa aba-aba, wanita itu masuk ke dalam kamar Rivaldi.
“Mama, mengapa tidak menunggu?” kata Rivaldi dengan sedikit jengkel karena Ibunya terbiasa masuk tanpa seizinnya.
Viona duduk di sisi ranjang Rivaldi. Rivaldi memilih pakaian yang akan ia kenakan lalu membawanya ke ruang ganti di dekat lemari pakaiannya.
“Mama sengaja pagi ini ke kamarmu untuk memperingatkanmu sesuatu, Riva.”
Di dalam ruangan gantinya, Rivaldi mengernyit. Ia tidak memahami apa yang Viona maksud.
“Memperingatkan akan apa maksud Mama?” tanya Rivaldi sambil memasangkan kancing kemejanya satu per satu.
“Mama hanya ingin kau berhati-hati dengan Anya.”
“Anya? Mengapa Mama bisa mencurigai Anya?”
Rivaldi keluar dari ruangan gantinya lalu memasangkan kancing lengan kemejanya. Viona menghela nafas.
“Mama lihat gadis itu sering sekali memandangimu tanpa kau sadari. Entah mengapa perasaan Mama mengatakan gadis itu bukan gadis yang baik-baik. Jika kau tidak berhati-hati, Mama kuatir dia bisa membahayakan pernikahanmu dan Celline.”
Menyadari ucapan ibunya yang tidak masuk akal, Rivaldi terkekeh.
“Mama… Mama… Mama mencemaskan hal-hal yang tidak masuk akal. Mama tahu putra Mama yang satu ini selalu memegang teguh janji dan komitmennya. Mengapa Mama meragukan hal itu?”
Viona berdiri dan membantu memasangkan dasi Rivaldi.
“Mama hanya takut kau goyah. Situasi seperti ini sangat rentan untuk menggoyahkan prinsipmu. Yah, kau tahu… Roh itu memang penurut tapi tubuh itu lemah. Kau bisa mengatakan kau menjaga prinsip dan komitmen, tapi keinginan tubuhmu sangat mungkin berbeda dengan prinsipmu.”
Rivaldi memegang pundak Viona dan menatapnya serius.
“Mama, aku hanya akan menikahi satu orang wanita dan itu hanya Celline hingga maut yang memisahkan. Aku tidak akan meninggalkannya bahkan dalam kondisinya saat ini.”
Viona menghela nafasnya.
“Entahlah, mungkin ini hanya perasaan Mama saja. Sudahlah, mari kita sarapan. Mama akan memanggil Becca untuk turun.”
Rivaldi tersenyum lalu mengambil jas dan tas kerjanya lalu turun ke bawah.
Makan pagi mereka benar-benar penuh dengan kehangatan. Becca mengisi makan pagi mereka dengan cerita pengalamannya saat berkuliah di Belanda beberapa waktu yang lalu. Seluruh orang yang duduk di meja makan menikmati cerita Becca. Anya pun juga ikut menambahi cerita Becca. Ia mulai terbiasa dengan situasi makan yang hangat seperti ini. Sesekali ketika tidak ada orang yang memperhatikannya, ia melirik Rivaldi daan tersenyum sendiri. Tapi lagi-lagi gerak-gerik Anya itu tertangkap oleh mata Viona.
Viona berusaha mengenyahkan pikiran buruk dari otaknya tentang Anya, namun firasatnya sebagai seorang wanita sekaligus Ibu merasakan gelagat yang aneh dari Anya. Ia makin was-was.
Makan pagi itu akhirnya berakhir dan ketiga orang itu berangkat ke kantor bersama. Anya membuka pintu belakang mobil sedan yang akan mereka kendarai, tapi tiba-tiba Becca menyelanya.
“Aku ingin di belakang. Aku ingin menyelonjorkan kakiku. Entah mengapa kakiku terasa pegal setelah aku bangun tidur. Anya, kau duduk di depan ya!”
Terkadang Becca suka bertindak semaunya sendiri. Tapi, apa yang bisa Anya lakukan. Ia hanya menumpang dan Becca adalah tuan rumahnya. Ia hanya bisa menurut. PR besar bagi Anya sekarang adalah berusaha mengatur irama jantungnya yang tidak karuan ketika di sebelah Rivaldi.
Anya masih terpaku di luar sementara Rivaldi dan Becca sudah berada di dalam.
“Apa yang kau lakukan, Anya? Ayo segera masuk! Kita bisa terlambat nanti,” ujar Rivaldi menyadarkan Anya.
“Oh, iya.” Anya memasukkan badannya ke dalam mobil. Ia memasang sabuk pengamannya. Matanya menangkap Rivaldi yang mengamatinya memasang sabuk pengaman. Anya merasa wajahnya memanas karena dilihat Rivaldi seperti itu padahal ia tidak tahu bahwa Rivaldi hanya menunggunya selesai memasang sabuk pengaman sebelum menjalankan mobilnya. Pria itu hanya ingi memastikan Anya siap.
“Sudah?” Anya mengangguk.
Rivaldi lalu menjalankan mobilnya. Becca menguap di jok belakang sana. Ia mengangkat kakinya ke atas jok mobil dan menyandarkan punggungnya di pintu mobil. Sepertinya ia masih mengantuk. Dinginnya AC membuat Becca menjadi tertidur.
Rivaldi memandang Becca dari spion depan.
“Becca… Becca… Apakah dia juga sering begitu ketika sekolah dulu, Anya?”
Anya terbangun dari lamunannya.
“Oh, uhmm… pernah beberapa kali dia seperti itu hingga suatu kali seorang guru melemparinya dengan spidol yang ujungnya tidak ditutup dan mencoret pipinya.”
Rivaldi tertawa kecil membayangkan putrinya bertingkah konyol saat itu.
“Bagaimana denganmu, Anya? Apakah kau pernah tertidur juga?”
“Sa-saya? Uhm… tidak pernah.”
Rivaldi tersenyum.
“Sungguh? Wah, kau sungguh pelajar teladan rupanya.”
Anya ikut tersenyum mendengar tanggapan Rivaldi. Tak terasa mobil Rivaldi sudah sampai di atas perusahaan. Rivaldi membangunkan Becca dan mereka bertiga turun dari mobil.
“Selamat pagi, Pak!” sapa Aaron yang ternyata sudah menunggu di depan lobby. Becca langsung menggandeng lengan Aaron dengan mesra. Rivaldi hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat ulah putrinya. Anya juga hanya bisa tersenyum melihat tingkah Becca.
“Ayo Anya, kita masuk!” ajak Rivaldi untuk ikut masuk ke dalan lift.
Anya, Becca dan Aaron sekarang telah berada di ruangan HRD. Mereka akan mendapatkan orientasi langsung dari Manajer HRD tentang peraturan perusahaan, tugas-tugas dan prosedur kerja mereka. Setiap orang diberikan tiga buah binder berukuran besar berisi semua hal yang terkait perusahaan yang perlu mereka pelajari.
“Ini adalah peraturan perusahaan, job description dan prosedur kerja perusahaan. Kalian perlu pelajari baik-baik semua hal yang tertera di dalamnya. Karena satu buah kesalahan akan merusak seluruh rangkaian proses kerja yang lain. Dan, saya ingatkan bahwa meskipun kalian adalah lulusan terbaik dari universitas terkemuka, itu tidak menjadikan kalian anak emas.
Kalian tetap berpotensi untuk mendapatkan sanksi jika melakukan pelanggaran kerja…” ceramah Ratih, Manajer HRD GD Corp. Wanita itu memang terkenal sangat tegas, sedikit arogan dan jangan lupakan sisi perfeksionisnya. Semua orang yang dipanggil ke ruangannya pasti merasakan buku kuduknya berdiri terlebih dahulu karena mereka akan mendapatkan sanksi tegas dan tentu saja ceramah yang panjang lebar dan lama dari wanita ini.
Becca melihat tumpukan berkas itu dengan tatapan lesu. Ia merasa tidak sanggup harus mempelajari banyak hal sekaligus apalagi harus membaca semuanya. Becca menatap Aaron dan Anya bergantian dengan tatapan lelahnya. Anya memahami apa maksud Becca. Ia ingin Anya yang mempelajari lalu menceritakan pada Becca apa isi dokumen-dokumen itu.
“Baik, apa ada pertanyaan?” tanya Ratih mengakhiri ceramahnya.
Ketiga pemuda itu menggeleng.
“Bagus. Silakan kembali ke ruangan masing-masing.”
Ketika beranjak dari tempat duduk mereka, tiba-tiba Ratih memanggil Anya. Aaron dan Becca menoleh ke arah Anya. Mereka bertanya-tanya mengapa hanya Anya yang ditahan. Namun, apapun yang terjadi seharusnya bukan jadi urusan mereka. Anya memberi tanda agar mereka berdua pergi lebih dulu dan pasangan itu pergi lebih dulu.
Tak lama kemudian Ratih datang dengan membawa sekardus berisi berkas-berkas yang entah apa isinya dan memberikannya pada Anya. Ia menjelaskan bahwa semua itu adalah berkas kerja yang ditinggalkan oleh sekretaris Rivaldi sebelumnya yang belum sempat ia selesaikan sebelum mengundurkan diri. Ia berharap Anya yang akan menyelesaikannya karena data itu dibutuhkan oleh Direktur. Anya hanya menerima berkas itu dengan pasrah.
Setelah prosesi orientasi itu selesai, Anya kembali ke ruangannya dengan membawa satu kardus penuh berisi binder - binder perusahaan serta berkas yang harus ia selesaikan. Sejenak ia merasa hari pertamanya di kantor terasa berat, tapi inilah kenyataan yang harus ia jalani. Tidak akan semudah ketika ia masih berkuliah.
Pintu lift’nya terbuka dan Anya masuk ke dalam lift yang juga penuh sesak dengan staff lainnya. Ia berdiri di tengah dengan sedikit mendorong orang-orang di sebelah kanan dan kirinya dengan kardusnya yang berukuran besar.
Lift akhirnya sampai di lantai 20, ruangan direktur. Ia keluar dari lift dengan sedikit menunduk untuk memperhatikan ujung kardusnya agar tidak mengganggu orang lain di dalam lift. Tanpa ia sadari ia menabrak seseorang di hadapannya.
BRUKK!!!
Seluruh berkas itu berhamburan ke lantai.
“Ahh… maafkan aku…maafkan aku! Aku akan segera membereskannya,” kata Anya, meminta maaf tanpa memandang wajah pria yang ditabraknya barusan. Ia langsung berjongkok dan memungut lembaran-lembaran yang tercecer itu.
Pria di hadapannya hanya tersenyum lalu ikut berjongkok dan bersama dengan Anya, memungut semua kertas yang tercecer. Melihat tingkah pria yang baik hati itu, Anya mendongak. Matanya terbelalak tak percaya siapa yang membantunya saat ini.
“A-Anda…”
A/N: Siapa yang bisa jawab? Siapa nih yang ditabrak Anya? Jangan lupa tinggalkan jejak dan tap love untuk cerita ini ya. Author janji akan upload tiap hari. Makin lama akan makin seru pastinya.