5. Little Help

1843 Words
    Anya mengoleskan antiseptic pada semua luka Erica dengan terisak. Wajah Erica yang mulus itu sekarang penuh dengan luka. Erica menatap Anya.     “Mama tidak apa - apa,” ucap Erica lembut sambil tersenyum. Ia berusaha menenangkan Anya yang pasti merasakan kuatir pada dirinya. Anya makin terisak.     “Bagaimana luka seperti ini dibilang baik-baik saja, Ma? Hiks… Mengapa pria itu datang kembali dalam hidup kita? Mengapa dia melakukan ini semua? Aku benci Papa!” tangisan Anya makin menjadi.     Erica menarik tangan Anya lalu mendekap putrinya. Keduanya saling bertangisan. Mereka hanya memiliki satu sama lain.     Anya melepaskan pelukannya dari Erica.     “Ma, ayo kita pindah dari sini. Kita tidak boleh lagi berada di kota ini atau Papa akan datang kembali dan melakukan semuanya ini lagi. Ya?” kata Anya serius dengan air mata menggenang di pelupuk matanya.     Erica mengangguk.     “Aku akan mulai bekerja beberapa hari lagi dan aku bisa mencari kos untuk kita berdua. Dengan gajiku kita akan hidup bersama tanpa perlu ketakutan.”     Erica lagi-lagi mengangguk menyetujui ucapan Anya. Ia juga ingin lari sejauh mungkin dari pria b******n yang tak lain tak bukan adalah mantan suaminya.     “Tapi, sebelum itu Mama harus menyelesaikan beberapa hal di sini lebih dulu. Mama akan memproses penutupan toko kita di sini dan menyelesaikan seluruh tagihan yang belum terbayar. Kau berangkatlah lebih dulu ke Surabaya. Beberapa hari kemudian Mama akan menyusulmu.”     Kali ini Anya mengangguk. Ia melanjutkan mengobati luka Ibunya. Sampai dering ponsel membuyarkan konsentrasinya untuk membersihkan luka.     Anya mengambil ponselnya dan ternyata itu Becca.     “Hai, Anya. Kau sampai dengan selamat?” suara dari seberang sungguh meneduhkannya.     “Selamat? Oh, tidak! Sepertinya kakiku… kakiku…”     “APA? APA?? KENAPA? KENAPA?” tanya Becca dengan nada paniknya. Anya tertawa melihat sahabatnya yang sangat peduli dengannya bahkan dengan mudahnya ia mengelabui Becca.     Mendengar tawa Anya, Becca mencebikkan bibirnya. Ia merasa dibohongi.     “Kau mengerjaiku kan?”     Anya makin tertawa lebar.     “Tidak… tidak… kau saja yang sudah panik sebelum aku menyelesaikan kalimatnya. Hahahahaha”     “Lalu, kenapa kakimu?”     Anya menghapus setitik air matanya karena geli mendengar ucapan Becca yang polos seperti anak kecil.     “Kakiku ada dua. Hahahahahha”     Becca ikut tertawa terbahak. Ia tidak menyangka sahabatnya begitu senang mengerjainya. Mereka pun larut dalam pembicaraan tentang apa yang mereka alami sepanjang hari ini. Keduanya saling menceritakan apa yang mereka rasakan. Sejujurnya Anya ingin menceritakan apa yang terjadi siang tadi tapi ceritanya tertahan di kerongkongannya. Ia tak mampu menceritakannya. Atau mungkin tidak sekarang.     Anya terkekeh mendengarkan semua cerita Becca yang polos itu. Hingga pembicaraan mereka terhenti sejenak. Memberi jeda agar keduanya bernafas dan mencerna apa yang mereka bicarakan barusan.     “Jadi kau akan kembali hari Minggu malam?” tanya Becca lagi.     “Kurasa begitu.”     “Kau akan tinggal di mana? Seingatku kau belum menemukan kos yang sesuai.”     “Entahlah. Aku berpikir untuk menumpang beberapa hari di rumahmu sampai aku mendapatkan kos. Tapi, apakah…”     “TENTU SAJA BOLEH! Aku mengizinkanmu tinggal di rumahku,” potong Becca seolah mengerti apa yang Anya bicarakan.     “Ta-tapi? Bagaimana dengan Papa dan Grandma’mu? Aku sungguh tidak enak jika tinggal di sana tanpa seizin mereka.”     “Kau tenang saja. Ada Becca di sini! Semuanya akan baik-baik saja. Aku yang akan meminta izin pada Papa dan Grandma Vi.”     “Becca…”     Di seberang sana terdengar suara memanggil Becca.     “I’m coming!!! Anya, aku tutup dulu telponnya. Hari Minggu malam aku akan menjemputmu di terminal bersama Aaron. Oke? Bye!”     Panggilan itu terputus begitu saja tanpa ada persetujuan dari Anya. Anya hanya tersenyum lalu menghela nafasnya. Ia bersyukur memiliki sahabat seperti Becca. Sahabat yang sudah seperti seorang saudara. Gadis itu selalu ada dan siap membantu di sisi Anya bahkan dalam masa sulitnya seperti ini. ***     Mobil SUV biru metalix itu masuk ke dalam kediaman Kurniawan. Tiga orang dari dalam mobil keluar sambil melontarkan tawa dan candanya. Viona melihat kedatangan tiga orang tersebut lalu berjalan keluar.     “Grandma Vi, kenalkan ini sahabatku Anastasia. Kami biasa memanggilnya Anya,” kata Becca memperkenalkan Anya. Anya langsung mengangguk sambil tersenyum pada Viona. Viona mendekati Anya dan menjabat tangan gadis itu sambil ikut tersenyum.     Becca lalu menggamit tangan Aaron dengan mesra. Aaron merasa tidak enak dilihat oleh Viona.     “Lalu, siapa pria tampan di sampingmu ini? Oh… Grandma tahu… ini pasti Aaron. Betul kan?” tanya Viona dengan senyuman penuh kelembutan tersungging di bibirnya.     Aaron menggaruk lehernya yang tidak gatal sambil memberikan jabat tangan pada Viona.     “Iya, Grandma.”     “Akhirnya aku bisa bertemu dengan putra bungsu Chef Hari yang telah memikat cucu kesayanganku. Selamat datang… selamat datang!”     “Grandma….”     Dari belakang sana datanglah Rivaldi dengan kaus dan celana pendeknya. Menampilkan tubuh kekarnya dan jangan lupakan otot-otot kaki dan lengannya yang terbentuk sempurna.     “Kalian sudah datang?” sapa Rivaldi sambil tersenyum. Becca langsung memeluk Rivaldi dengan hangat dan Aaron berjabat tangan dengan Rivaldi. Sedangnya Anya? Jantung Anya lagi-lagi berdetak cepat seakan sedang naik roller coaster melihat pria di hadapannya ini. Wajah yang matang, fisik yang sempurna dan senyum yang menawan. Sejenak ia terpaku hingga suara Rivaldi membuyarkan lamunannya.     “Anya, kamarmu ada di lantai dua. Di sebelah kamar Becca. Anggaplah ini rumahmu dan jangan sungkan untuk meminta bantuan,” ujar Rivaldi sambil tersenyum.     “Oh iya, Pak. Terima kasih,” jawab Anya dengan gugup. Tanpa basa-basi, Rivaldi mengambil koper yang Anya bawa.     “Eh, Pak…saya akan bawa sendiri saja!”     Rivaldi langsung membawa koper itu masuk tanpa mempedulikan apa yang Anya katakan. Rivaldi masuk diikuti semua orang yang di luar sana dan menyisakan Anya sendirian. Wajahnya merona dan ia tersenyum. Ia merasa mendapatkan perhatian dari pria yang dikaguminya itu. ***     Meja makan bundar itu sudah berisi beraneka hidangan lezat. Wangi setiap hidangan merebak ke seluruh ruangan dan membuat setiap perut keroncongan ingin segera diisi. Viona datang dari dapur dengan membawa semangkuk besar sup kepala ikan ke atas meja makan.     Rivaldi memegang pundak Viona dengan lembut.     “Ma, ada banyak asisten rumah tangga yang bisa memasak di sini. Mengapa Mama harus repot-repot memasak sendiri?”     Viona menepuk-nepuk tangan Rivaldi di pundaknya.     “Sesekali Mama ingin memasak. Sudah lama sekali Mama tidak berkutat dengan panci atau penggorengan. Selama di Amerika, Sally juga tidak membiarkan Mama memasak. Sekalian saja Mama melepas kangen dengan dapur kesayangan Mama. Sudah, ayo panggil semuanya untuk makan!”     Seulas senyum terpatri di wajah Rivaldi. Ia merasakan kehangatan yang ia tidak dapatkan selama beberapa tahun terakhir. Dan, sekarang seolah seperti mimpi ia merasakan dirinya tidak kesepian lagi. Walau hatinya masih terasa kosong.     Ia duduk di kursinya dan memandang kursi di sampingnya yang kosong. Itu kursi Celline.     ‘Seandainya kau di sini, Sayang. Seandainya kau di sini. Kau pasti akan menyukai makan malam keluarga kecil kita yang akhirnya berkumpul setelah sekian lama. Aku merindukanmu.’     Lamunannya buyar ketika semua anak muda itu turun dan mengambil tempat masing-masing. Anya terlihat kebingungan untuk mencari tempat duduk. Yang tersisa hanya kursi di sebelah Rivaldi yang paling ia hindari. Ia tidak bisa menetralkan jantungnya yang terus berdebar jika di sebelah Rivaldi.     Becca melihat Anya yang berdiri mematung. Ia beranjak dari kursinya dan menarik tangan Anya untuk duduk di kursi sebelah Rivaldi yang kosong. Rivaldi menoleh ke arah Anya sambil tersenyum. Anya pun membalas senyuman itu namun benar dugaannya, jantungnya berdebar.     Mereka menikmati makan malam dengan penuh kehangatan. Cerita, canda tawa dan sesekali mengerjai Becca yang polos mengisi sesi makan malam itu. Tapi, Anya terlihat diam. Tanpa seisi ruangan itu sadari, ia mencuri pandang ke arah Rivaldi yang ada di sampingnya. Ia tersenyum.     “Senin ini kalian akan mulai bekerja di GD Corp. Aku umumkan saja jabatan kalian setelah fit dan proper test yang lalu. Aaron, kau akan kutempatkan di divisi produksi dan pengembangan sebagai Manajer. Aku percaya dengan kompetensi dan bakat warisan ayahmu, kau bisa membuat divisi itu berkembang dan banyak inovasi yang akan kalian buat.”     Aaron tersenyum dan mengangguk. Ia mendapatkan posisi yang memang sesuai dengan bidangnya. Rivaldi memang memahaminya.     “Becca, kau akan memimpin divisi operasional dan bertanggung jawab di bawahku langsung.”     “Tunggu! Maksud Papa, aku akan menjadi General Manager?”     Rivaldi mengangguk dan Becca melongo. Itu jabatan yang sangat tinggi di GD Corp dan ayahnya tidak segan memberikannya jabatan itu.     “Pa-Papa yakin?”     “Putri Papa lulusan terbaik bukan? Mengapa Papa harus ragu padamu? Papa tahu kau mampu. Papa akan mengawasimu langsung jadi lakukan dengan sebaik mungkin dan buat Papa bangga.”     Becca mengangguk dengan mata berbinarnya. Ia berjanji dalam dirinya, ia akan melakukan yang terbaik.     Pandangan Rivaldi beralih ke Anya yang duduk di sampingnya. Wanita itu sedang menunduk untuk menutupi wajahnya yang sudah merah karena malu. Gadis itu tampak memotong daging di atas piringnya.     “Dan kau, Anya… Aku masih belum menemukan posisi yang pas untukmu.”     Anya terlonjak kaget ketika Rivaldi menyebut namanya.     “Oh, Pa. Bukankah Papa kemarin berkata kalau sekretaris Papa mengundurkan diri karena akan membawa orangtuanya berobat keluar kota. Bagaimana jika Anya saja yang menjadi sekretaris Papa? Dengan begitu aku akan lebih sering berinteraksi dengan Anya. Bukan begitu, Anya?” tanya Becca dengan semangat. Becca mendengar cerita tentang sekretaris ayahnya yang akan mengundurkan diri waktu itu.     Selama ini Rivaldi memang sengaja memilih sekretaris pria untuk dirinya. Ataupun, jika tidak ada pelamar pria di posisi itu, biasanya ia memilih sekretaris wanita yang sudah berkeluarga. Ia sadar betul dalam posisinya yang sekarang sangat membutuhkan bantuan sekretaris dan tugas utama sekretarisnya adalah selalu mendampinginya ke manapun ia pergi. Dengan kata lain, posisi ini akan membuatnya akan selalu dekat dengan sekretarisnya dan bisa saja terlibat perasaan satu sama lain. Ia jelas tidak akan membiarkan segala sesuatu yang merusak pernikahannya dengan Celline.     Namun malam ini sepertinya Rivaldi punya pemikiran yang berbeda. Ia berpikir sejenak.         “Ide bagus. Oke, Anya kau akan menjadi sekretaris pribadiku,” putus Rivaldi. Ia berpikir mungkin jika sahabat putrinya sendiri yang mengisi posisi itu sepertinya tidak akan masalah. Toh, putrinya bisa mengawasinya. Jadi, seharusnya tidak mungkin ada perasaan yang timbul karena itu. Dan lagi, usia mereka terpaut sangat jauh. Jadi ia berpikir situasinya aman.         “Oh... baik,” jawab Anya dengan menghela nafas. Jawaban yang Anya lontarkan seperti topeng yang ia pakai padahal dalam hatinya sekarang sedang bersorak-sorai karena itu berarti ia bisa memandangi pria yang ia kagumi itu dari dekat setiap hari.     Anya tidak berani menatap Rivaldi langsung. Ia hanya menunduk dan melanjutkan makannya. Ketika suasana di meja makan itu kembali tidak sekaku barusan dan semua orang larut dalam pembicaraan santai mereka, Anya mencuri pandang ke arah Rivaldi lagi.  Ia tersenyum seolah mendapatkan tiket emas. Ia akan lebih sering bertemu dengan pria itu. Tapi, mampukah Anya mengendalikan dirinya? Ia sadar Rivaldi bukanlah pria yang bisa ia miliki dan mungkin tidak akan ia miliki.     Entahlah. Yang pasti Anya hanya mencoba menikmati saat-saat istimewa ini. Ia tersenyum lagi sambil tidak melepaskan pandangannya dari Rivaldi.     Tanpa Anya sadari sebuah tatapan mata tajam dari orang yang ada di hadapannya saat ini menangkap sinyal aneh yang Anya tunjukkan pada Rivaldi. Dan, ini artinya ia harus mulai mengawasi gadis muda ini dari sekarang.   A/N: Yak, mulai ada yang curiga. Siapa dia?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD