9. Bad Feeling

1290 Words
    Rivaldi sekarang sudah berada di dalam mobil bersama Anya. Becca dan Aaron sudah pulang lebih dulu dan mereka meminta izin untuk berkencan setelah bekerja dan Rivaldi mengizinkan. Kini kedua orang itu pulang bersama.     Suasana ketegangan di antara mereka lenyap seperti angin. Dan, kini Rivaldi dengan terbukanya menceritakan pengalaman-pengalamannya selama bekerja pada Anya. Ia bermaksud mengajari Anya etika-etika kerja yang harus Anya kuasai. Ia juga menceritakan seperti apa para pimpinan di GD Corp agar Anya memahami karakter mereka.     Anya menikmati momen itu. Ia merasa lebih dekat dengan Rivaldi dan apa yang disampaikan Rivaldi tadi menjadi pembelajaran bagi Anya. Di sela-sela obrolan mereka itu terkadang terselip canda. Rivaldi memang pada dasarnya pria yang humoris namun semua itu terkubur sejak lima tahun lalu. Kini dengan ajaibnya, rasa humor itu muncul kembali ketika ia mengobrol dengan Anya.     Tanpa terasa mobil mereka sudah sampai di rumah Rivaldi. Security segera membuka pintu pagar untuk mobil itu. Sesampainya di halaman depan, keduanya turun dari mobil. Dengan wajah berseri-seri, keduanya turun dari mobil.     Rivaldi memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celananya. Ia masih meneruskan leluconnya pada Anya. Anya tertawa menanggapi cerita Rivaldi yang lucu.     Tanpa mereka sangka, sepasang mata mengawasi mereka dari balkon atas. Hatinya merasa was-was dengan kedua orang di bawah yang terlihat sangat akrab itu.     “Oke, Anya. Semoga semua yang aku ceritakan tadi bisa memberikanmu gambaran seperti apa situasi kerja di GD Corp. Aku masuk dulu,” kata Rivaldi berpamitan untuk segera masuk ke dalam. Tubuhnya terasa gerah dan ia ingin beristirahat sejenak. Anya mengerti dan mengangguk pada Rivaldi. Ia mempersilakan Rivaldi berjalan mendahuluinya.     Di dalam rumah Viona sudah menyambut putranya yang datang dengan pelukan. Anya menyusul di belakang Rivaldi. Viona melepas pelukannya dari Rivaldi dan memandang Anya dengan tatapan sulit diartikan.     “Kau juga sudah pulang, Anya?” tanya Viona berbasa-basi. Ia berusaha untuk tidak menampilkan wajah curiganya pada Anya. Ia tetap tersenyum tulus namun sepertinya Anya menangkap sinyal yang berbeda. Tapi apapun itu, ia harus bersikap sopan karena ia hanya menumpang sementara di rumah ini.     “Selamat sore, Grandma,” sapa Anya dengan tersenyum. Ia memanggil Viona dengan “Grandma” karena mengikuti Becca. Setelah menyapa Viona, Anya meminta izin untuk kembali ke dalam kamarnya.     Sepeninggal Anya, Viona membantu putranya dengan membawakan jasnya. Sementara pria itu berusaha mengurai dasinya.     “Mama lihat kalian berbicara seru sekali tadi. Apa yang kalian bicarakan?” tanya Viona dengan tersenyum. Ia tidak ingin membuat putranya tidak nyaman dengan pertanyaannya.     Rivaldi melirik Viona.     “Oh itu. Aku hanya menceritakan beberapa hal tentang pekerjaan pada Anya. Ada beberapa kejadian lucu yang kami perbincangkan. Itu saja,” jawab Rivaldi dengan enteng dan ia memang mengatakan yang sebenarnya. Tapi Viona masih merasa janggal dengan pemandangan yang ia lihat.     “Oh… begitu,” jawab Viona singkat.     Rivaldi mengambil jasnya dari tangan Viona lalu mengecup pipi Ibunya dan masuk ke dalam kamarnya.     Malam pun tiba dan meja makan bundar itu hanya terisi tiga orang. Rivaldi, Viona dan tentu saja Anya. Becca belum pulang dan mungkin akan kembali saat malam. Begitulah Becca, sekali ke mall ia tidak akan pulang hingga mall tutup.     Ketiganya makan dalam diam. Sesekali Viona menanyakan bagaimana hari mereka di kantor dan Rivaldi menjawabnya dengan singkat. Tidak seperti ketika ia berbicara dengan Anya tadi. Diam-diam Viona menangkap mata Anya yang melirik Rivaldi diam-diam. Ia merasa ada yang tidak beres dengan Anya.     Rivaldi bermaksud mengambil sup di tengah meja. Ia mendorong mangkok kecilnya dan berdiri. Tiba-tiba Anya dengan sigap berdiri lalu mengambil sendok kuah itu sebelum tangan Rivaldi mampu menggapainya.     “Saya ambilkan, Pak,” kata Anya lalu dengan sigap mengambilkan sup itu di mangkok Rivaldi dan membawa mangkok itu ke hadapan Rivaldi sambil tersenyum.     Rivaldi mengucapkan terima kasih dengan tersenyum.     Lagi-lagi perasaan Viona tidak enak dengan kedua orang ini. Ia bertanya-tanya apakah ada sesuatu di antara mereka. Ia hanya diam. Menunggu waktu yang tepat untuk menanyakan langsung pada yang bersangkutan.     Setelah makan malam, Anya kembali ke dalam kamarnya. Sementara Rivaldi dan Viona duduk di ruang tengah sambil menikmati tontonan dari televisi. Viona melirik Rivaldi.     “Riva, apa Mama bisa bertanya serius padamu?”     Rivaldi menoleh kea rah Ibunya dengan wajah penuh pertanyaan.     “Ya, Ma? Ada apa?”     Viona meneguk ludahnya dan bersusah payah mengatur kata-katanya. Ia tidak ingin menyinggung perasaan putranya.     “Mama hanya ingin tahu, seperti apa hubunganmu dengan Anya? Mama rasa kalian cukup dekat.”     Rivaldi terkekeh. Ia sepertinya bisa menebak arah pembicaraan Ibunya.     “Apakah Mama berpikir aku memiliki hubungan khusus dengan Anya?”     “Mama hanya tidak ingin ada pihak ketiga di dalam pernikahanmu dan Celline. Itu saja.”     Rivaldi merangkul pundak Ibunya.     “Mama… Mama… Mama berpikiran terlalu negatif. Aku dan Anya hanya sebatas atasan dan sekretaris. Itu saja. Sebatas rekan kerja. Tidak ada hubungan seperti yang Mama pikirkan dan tidak mungkin itu terjadi.”     Viona mendongak melihat putranya.     “Mama hanya merasa ada yang aneh dengan gerak-gerik Anya padamu. Mama hanya tidak ingin ada apa-apa dengan kalian.”     “Mama terlalu banyak berpikir sepertinya. Aku janji pada Mama bahwa aku tidak akan menjalin hubungan dengan wanita manapun selain Celline, Becca dan Mama. Puas?”     Viona mengangguk dan tersenyum. Semoga ini hanya perasaannya saja dan bukan kenyataan. ***     Pagi hari ketika Rivaldi, Anya dan Becca hendak berangkat ke kantor. Lagi-lagi Viona menyaksikan gerak-gerik yang tidak wajar dari Anya. Firasat buruknya itu kembali lagi. Ia sungguh tidak tenang membiarkan Anya di sisi Rivaldi, tapi ia juga tidak ingin cucunya tersinggung jika ia menyuruh Anya menyingkir dari rumah mereka.     Belum lagi berhadapan dengan Anya, ia juga tidak mau menimbulkan konflik dengan wanita itu terlebih Anya adalah sahabat baik cucunya. Ia tidak mau merusak persahabatan mereka. Tapi ia tidak bisa menahan perasaan janggalnya lebih lama lagi. Ia harus melakukan sesuatu.     Sore harinya Anya berpamitan untuk keluar dan mencari kos sepulang dari kantor. Ia belum pulang hingga makan malam.     Kini hanya ada keluarga Kurniawan di dalam rumah itu dan ketiganya sekarang duduk di ruang tengah bersama seusai makan malam bersama. Viona mencari waktu yang tepat untuk mencari informasi tentang Anya dari cucunya. Mungkin ia bisa mendapatkan sesuatu yang menguatkan firasatnya.     Rivaldi tiba-tiba berdiri dan mengejutkan kedua wanita itu.     “Aku akan ke rumah sakit. Hari ini tugasku menjaga Celline, menggantikan Mama Marianne,” kata Rivaldi dan langsung mendapat anggukan dari Viona. Becca juga ikut berdiri, ia bermaksud ikut dengan ayahnya    ke rumah sakit.     “Papa, aku ikut!”     Tangan Becca ditahan oleh Viona.     “Ada apa, Grandma Vi? Grandma membutuhkanku?”     Viona tersenyum.     “Tinggallah di sini, Becca. Grandma sedang ingin ditemani seseorang.”     Rivaldi melihat kedua orang itu.     “Becca, kau di sini saja bersama dengan Grandma. Papa akan kembali tengah malam saat semuanya baik-baik saja. Lagipula Grandma lebih membutuhkanmu di sini. Benar kan, Ma?” kata Rivaldi sambil mengedipkan sebelah matanya pada Viona.     Viona membalas dengan kedipan juga. Ia tahu putranya pasti memihaknya. Wajah Becca berubah jadi cemberut. Ia melirik ayah dan Grandmanya bergantian dengan curiga.     “Ini pasti rencana kalian berdua kan?” sahut Becca dengan tidak terima.     “Sudah… Sini duduk dan temani Grandma. Grandma ingin kau menceritakan sesuatu,” kata Viona lalu menarik tangan Becca kembali duduk. Becca menurut. Rivaldi menggeleng-gelengkan kepalanya dan bersiap menuju ke rumah sakit.     Setelah dirasa putranya tidak bisa mendengar pembicaraannya dengan Becca. Ia baru mulai angkat suara.     “Grandma ingin tahu tentang Anya.”     “Anya? Mengapa Grandma tiba-tiba bertanya tentang itu?”     Viona terdiam sejenak dan berpikir. Ia tidak mungkin menyatakan perasaan tidak enaknya pada Becca. Bisa-bisa Becca akan salah paham.     “Anya kan sudah beberapa hari tinggal di sini. Ya, Grandma hanya ingin mengenalnya lebih jauh saja.”     Tanpa berpikir negatif, Becca langsung menceritakan siapa Anya dengan gamblangnya.     “Anya itu sahabat terbaikku. Ya, Grandma sudah tahu kan? Ia putri tunggal dari keluarga Raffles. Ayah dan Ibunya bercerai saat ia berusia 5 tahun. Lalu…” Becca menceritakan semuanya pada Viona dan Viona menyimak cerita Becca dengan seksama. Saat Becca menjeda ucapannya, Viona menyelanya.     “Apakah selama ini Anya pernah bercerita padamu tentang pria yang ia sukai mungkin? Atau mungkin saat ini ia sedang berpacaran dengan seseorang?”     Becca terlihat berpikir. Pikirannya tiba-tiba teringat sesuatu dan ia menimbang bagaimana ia menjawab pertanyaan Viona itu.   A/N: Jawaban dari pertanyaan Author di Chapter 8 adalah…. “The Cars 3”. Ucapan maafnya si Lightning McQueen ke Cruz Ramirez dengan jogged-joged di atas truknya. Siapa yang bener nih? Author ucapkan… “Selamat! Kalian ternyata penggemar film kartun sama kaya anak Author.” Hehe… Saya juga sama sih, suka film kartun juga gara-gara nemenin anak nonton film. Uda cukup…mari lanjutkan bacanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD