Alma terbangun di pagi hari dengan kedua mata yang bengkak, sungguh tragis sekali nasibnya, ditinggal pergi oleh suami di malam pertama perkawinannya.
Alma mengingat kembali kejadian semalam, dia telah merencanakan sesuatu.
Maka, tanpa sepengetahuan Davin, Alma memutuskan untuk menyewa seorang detektif swasta bernama Eric. Ia berharap Eric bisa mengungkap kebenaran, apa pun itu. Alma ingin tahu apakah kecurigaan Davin benar, ataukah ini hanya luapan emosi seorang suami yang kehilangan adik tercinta.
Alma mencoba duduk dan bersandar di belakang ranjang, dia memeriksa pesan masuk di ponselnya. Ternyata informasi dari Eric.
Eric mulai bekerja dengan cepat. Ia mewawancarai teman-teman Vanya dan Irvan, memeriksa catatan telepon dan media sosial Vanya, serta mencari tahu tentang hubungan kerja mereka. Eric menemukan bahwa Irvan dan Vanya memang dekat, lebih jelasnya mereka tampak mesra,bahkan sering bertemu di beberapa tempat.
Besar dugaan kalau Irvan menjalin cinta dengan Vanya.Namun, ia belum menemukan bukti yang mengarah pada perselingkuhan atau keterlibatan Irvan dalam kematian Vanya. Malah ternyata Irvan menghilang seakan ditelan bumi, tidak bisa ditemukan keberadaannya.
Eric berjanji pada Alma akan berusaha segera menemukan Irvan.
Alma merenung sejenak, kemudian dia berpikir akan segera mandi dan berangkat ke kantornya.
Tapi kemudian ponselnya berbunyi, rupanya telepon dari rumah sakit tempat ayah Alma dirawat.
"Ya hallo, ada apa?"
Alma mendengarkan dengan seksama apa yang diucapkan tim rumah sakit. Sesaat kemudian wajahnya menjadi pucat.
"Baik, terimakasih kasih untuk informasinya,saya akan segera kesana dan membayar sisa biayanya."
Alma tak buang waktu dia segera berangkat menemui ayahnya.
Kali ini Alma berada di sisi ranjang Bram, ayahnya. Suara mesin monitor di samping tempat tidur ayahnya berdetak monoton, seolah menghitung mundur waktu. Alma menggenggam tangan ayahnya yang kurus, air mata tak henti membasahi pipinya. Dokter baru saja menjelaskan bahwa kondisi jantung ayahnya memburuk dan memerlukan tindakan medis segera.
Lalu baru saja perawat datang menemuinya menyerahkan setumpuk kertas sambil berkata.
"Bu Alma, ini adalah biaya perawatan darurat serta operasi untuk kejadian yang mendadak pada ayahmu barusan."
Alma melihat rincian biayanya ternyata mencapai 300-an juta rupiah. Biaya pemulihan hanya setiap bulan mencapai 100 juta rupiah. Alma telah mengambil proyek-proyek desain yang melelahkan untuk bisa menutupi semuanya. Alma baru saja membayar biaya rawat inap bulan ini. Sekarang hanya tinggal tersisa uang 20 juta di atm-nya mana cukup untuk biaya operasi?
Alma terpaksa menelpon Davin. Suami yang baru saja dinikahinya, bukan atas dasar cinta, melainkan sebuah kesepakatan yang terasa seperti jerat.
Dengan tangan gemetar, Alma meraih ponselnya. Jantungnya berdebar kencang, bukan karena cinta, melainkan karena ketakutan dan harga diri yang terinjak. Pernikahan mereka adalah sebuah ironi, sebuah pembalasan dendam yang Davin rancang dengan sempurna.
"Halo?" Suara Davin terdengar dingin, seperti es.
"Davin... ini aku," suara Alma serak. "Ayah... kondisi Ayah memburuk. Dokter bilang butuh operasi segera. Aku... aku butuh uang, Davin. Banyak sekali."
Hening sejenak. Alma bisa merasakan Davin di ujung sana sedang menimbang-nimbang, mungkin menikmati setiap detiknya.
"Uang?" Davin akhirnya berucap, nadanya meremehkan. "Kenapa bukan kau saja yang mencari sendiri, lakukan apa yang kau bisa, termasuk bila ingin menjual dirimu."
Kata-kata itu menghantam Alma seperti cambuk. Alma terkesiap, dadanya sesak. "Davin! Kamu sungguh keterlaluan. Jangan bicara seperti itu! Ayahku sekarat! Ini bukan waktunya untuk membicarakan dendam tak jelasmu itu.
"Oh, benarkah?" Davin tertawa sinis. "Justru ini waktu yang tepat, Alma. Kau pikir kenapa aku menikahimu? Kau pikir aku benar-benar mencintaimu? Betapa naifnya kau."
Alma menahan napas, air mata mengalir semakin deras. Ia sudah tahu, tapi mendengarnya langsung tetap menghancurkan.
"Aku menikahimu untuk melihatmu menderita, Alma," lanjut Davin, suaranya kini penuh kepuasan yang kejam. "Untuk melihatmu memohon, untuk melihatmu berlutut. Seperti yang adikku rasakan, karena perbuatan kakakmu dulu."
"Itu tidak benar! Kamu tidak jelaskan dengan detail, kakakku tidak pernah..." Alma mencoba membela diri, tapi Davin memotongnya.
"Diam! Aku tidak mau mendengar omong kosongmu! Jadi, kau butuh uang untuk ayahmu? Baik aku akan berikan, tapi ada syaratnya !" Davin membentak, suaranya menggelegar.
"A-apa syarat nya, Davin jangan membuang waktu, aku sangat butuh uang itu sekarang."
"Berlutut padaku dan katakan kalau Irvan itu b******n yang lebih hina dari binatang."
Alma tak percaya dengan apa yang dia dengar barusan. Dia merasa aneh sekali dengan pemikiran Davin, sungguh tega. Alma terdiam agak lama dan tak berucap sepatah katapun. Dia sedang merenung, apa mungkin kebangkrutan keluarganya ada hubungannya dengan Davin. Ayahnya sakit jantung karena depresi, lalu kakaknya menghilang entah kemana.
Sementara Davin menjadi tidak sabar menunggu, lantas berkata sinis.
"Kau tak mau melakukannya kan, sudah kuduga, well...tak ada lagi yang perlu kita bicarakan," sahut Davin, suaranya final.
"Aku tidak akan memberimu sepeser pun. Kau bisa mencarinya sendiri, seperti yang selalu kau lakukan. Dan jangan pernah menghubungiku lagi untuk hal sepele seperti ini. Kau bukanlah orang penting lagi bagiku."
"Tut!" Sambungan telepon terputus.
Ponsel terlepas dari genggaman Alma, jatuh ke lantai. Kakinya lemas, tubuh lelahnya merosot di samping ranjang ayahnya. Tangisnya pecah, bukan hanya karena keputusasaan akan nasib ayahnya, tapi juga karena luka menganga yang kembali dikoyak oleh pria yang berstatus suaminya. Dendam Davin telah merenggut segalanya, bahkan harapan terakhirnya untuk menyelamatkan nyawa sang ayah. Alma merasa hancur, sendirian, dan terjebak dalam pernikahan yang terasa seperti neraka.
Sekarang Alma menunggu di depan pintu ruang operasi, dan saat pintu itu dibuka. Alma bergegas melangkah maju dan bertanya.
"Dokter Bram bagaimana dengan kondisi ayahku
Bu Alma jangan khawatir tuan Riki sungguh beruntung bisa melewati kondisi kritis. Tapi secara psikologis dia masih terlalu lemah. Untuk sementara waktu ini, jangan sampai emosinya terguncang lagi."
"Aku mengerti,"Alma menghela nafas lega, "Terimakasih dokter Bram."
Walaupun dalam hati Alma bertanya-tanya, beberapa hari sebelumnya kondisi mental ayahnya cukup baik, mengapa dia tiba-tiba mengalami serangan jantung.
Alma merasa bahwa hal ini tidak sesederhana yang terlihat. Setelah dia meminta pada perawat agar merawat ayahnya dengan baik. Lalu Alma berjalan dengan cepat menuju ruang perawat untuk menanyakan registrasi pengunjung.
"Bu Alma, tidak ada yang mengunjungi tuan Riki pagi ini."
"Oh iya
"Terima kasih."
"Oh, iya Bu Alma, apakah biaya tuan Riki sudah dilunasi?"
Dengan wajah yang terlihat canggung, Alma berkata, "Aku akan segera melunasinya,maaf."
***
Alma saat ini sedang duduk berjongkok di halte bus, sambil melihat jalanan yang penuh orang lalu lalang.
Guyuran hujan yang lebat bagaikan jaring besar mengurung diri Alma. Hal ini membuatnya tidak bisa bernafas di dalamnya.
Alma terlihat menyesal, kalau saja dia dulu meneruskan kuliahnya hingga jenjang yang lebih tinggi, padahal dengan kemampuan dan pendidikan nya dia akan memiliki masa depan yang sangat cerah. Siapa sangka keluarganya bangkrut? Davin yang pada awalnya memperlakukannya seperti harta yang berharga, tiba-tiba berubah. Alma kehilangan segalanya dalam waktu yang singkat. Sedangkan ibu Alma sudah lama meninggal.
Sehari sebelum pernikahan Davin menyuruh asisten nya untuk mengambil semua perhiasan dan tas bermerek yang pernah Davin berikan pada Alma selama keduanya berpacaran. Satu-satunya barang berharga di tubuhnya saat ini adalah cincin kawin mereka berdua.
Alma memutuskan kembali ke kantor dia sudah menghubungi kliennya, nyonya Linda yang beras dari keluarga kaya. Alma berencana untuk menjual cincin berlian dengan desain kustom. Cincin itu hadiah pernikahan dari Davin yang sudah dibuat dari beberapa bulan yang lalu. Karena Alma telah kehilangan segalanya, satu-satunya yang bisa dia harapkan adalah sang ayah bisa hidup baik.
Tepat pada saat Alma tiba di kantor sekaligus toko fashion miliknya, detik itu nyonya Linda pun datang, wanita paruh baya kelas atas itu turun dari sedan mewah dengan tatapan pongah. Dia memperhatikan pakaian sederhana Alma yang basah kuyup, karena tak sempat berganti baju.
"Mari silahkan masuk nyonya Linda," sambut Alma di depan pintu masuk.
"Ya, baiklah..tapi ingat aku tak punya waktu, segera saja perlihatkan perhiasan yang ingin kau jual itu," timpal Linda datar.
Linda dan Alma duduk di ruang tamu, Linda sedang mengamati cincin yang ditawarkan oleh Alma.
Tanpa disadari Alma ternyata diluar pintu sedang berjalan masuk Sofia bersama dengan Davin. Sofia merengek pada Davin ingin mengunjungi toko Alma dan minta Davin agar memberikannya juga sebuah butik mewah di mall terbesar di kota Selatan.
Setelah selesai memandangi cincin itu Linda tersenyum tipis, "Aku hanya akan menawar 500 juta untuk cincin ini, kalau kau berikan maka aku akan membayarnya sekarang juga."
Alma mengernyit, harga cincin ini mencapai satu milyar lebih, dengan desain unik dan bahan yang berkualitas tinggi.
"Tapi nyonya Linda, bukankah sebelumnya kita sepakat dengan harga 800 juta?"
"Aku berubah pikiran, kilau berlianya terasa kurang indah, 500 juta, aku bayar sekarang. Kalau tidak aku akan pulang," tukas Linda menyeringai dingin.
Tepat pada saat itu terdengar suara wanita berkata.
"Bila nona Alma ingin menjualnya aku akan membelinya, cincin ini sangat indah, aku sangat menginginkannya."
Jemari lentik berkuku ungu dengan cepat mengambil cincin berlian yang terletak di meja.
Saat Alma mendongak terlihat wajah wanita sedang berdiri di samping Davin, yang membuatnya jijik.
Alana berpikir, wanita ular itu sudah pasti Sofia. Pacar pertama Davin.