Sofia mengenakan mantel putih yang halus, anting mutiara putih di telinga nya membuatnya terlihat lembut dan elegan. Sementara Davin menatap Alma dingin seakan pria itu menganggap Alma adalah orang asing, pandangan pria itu lantas dilayangkan pada cincin pernikahannya. Cincin yang akan dijual oleh Alma pada nyonya Linda.
Alma melihat pada Davin dan Sofia, lalu dia cepat mengulurkan tangan dan menyambar kembali cincin pernikahannya dari genggaman tangan Sofia.
Alma mengepalkan tangannya sambil berpikir,"Mengapa aku bertemu dengan orang yang tidak ingin kutemui di saat paling menyedihkan."
Alma menatap Davin menguatkan hati dan dengan tegas berkata,"Aku tidak jadi menjual perhiasan ini."
Nyonya Linda menjadi tersinggung dan mencibir,"Kamu sungguh sudah membuang waktuku, lain kali aku tidak akan datang lagi dan memesan baju disini, kamu punya emosi yang tidak stabil nona Alma!"
Linda segera beranjak pergi dari toko Alma. Tinggal Alma, Davin dan Sofia.
Namun...Sofia berkata lembut, "Tidak jadi menjualnya? Sayang sekali. Padahal aku cukup menyukai cincin ini. Sebenarnya aku berencana membelinya dengan harga tinggi melebihi dari yang kau tawarkan dari wanita tadi."
"Cobalah pahami nona Alma,bila kamu ingin menjual cincin yang berkualitas tinggi ini dengan terburu-buru, maka kamu akan rugi banyak "
"Bukankah nona Alma sedang kekurangan uang?"
Alma terdiam sesaat mencoba mencerna ucapan Sofia, ya dia sedang kekurangan uang dan wanita simpanan Davin itu mengetahuinya, hingga Sofia menginjak-injak harga dirinya tanpa belas kasihan.
Satu hembusan lelah keluar dari bibir kering Alma. Dia menatap Davin.
"Jadi kau akan segera mempublikasikan hubungan kalian berdua, kamu sudah tak perduli lagi pada ikatan pernikahan kita?"
"Dan kamu pasti Sofia kan, wanita perebut suami orang, apa kamu nggak malu berduaan dengan lelaki yang sudah punya istri?!"
"Tutup mulutmu Alma, jangan berani merendahkan Sofia!"
Davin merangkul mesra bahu Sofia di depan Alma, yang mana hal itu sukses membuat hati Alma terkoyak.
"Nona Alma, rupanya aku tidak perlu lagi repot-repot memperkenalkan diri..iya aku Sofia, kekasih pertama Davin."
Selesai bicara Sofia mengerling genit pada Davin.
"Davin, aku ingin cincin itu, bilang padanya agar menjual nya padaku," rengek Sofia manja.
Lalu dengan gerakan cepat Sofia merebut kembali cincin berlian dari pegangan Alma, tapi Alma menyadarinya, diapun semakin erat menggenggam cincin nikahnya. Tarik-menarik cincin terjadi diantara Alma dan Sofia,tapi... perhiasan itu lepas dan melayang, lalu terdengar suara 'tringg' saat cincin menghantam lantai.
Alma dengan cepat mengejarnya, tapi rupanya cincin itu menggelinding ke arah kaki Davin. Wajah Davin sontak menggelap, lalu dia menginjak perhiasan di bawah kakinya ,benda pengikat pernikahan antara Alma dan dirinya.
Alma tercekat, melihat benda yang dianggapnya sangat berharga tapi ternyata dianggap sampah oleh orang lain.
Sementara,wajah Davin yang sedingin es itu menatap ke arah wajah Alma dengan penuh marah. Lalu bertanya dengan nada bicara yang dingin.
"Kamu, menjual cincin ini,Alma?"
Alma menahan air matanya, sambil menggigit bibirnya untuk menahan diri agar tidak menangis.
"Ya, apakah tuan Davin ingin membelinya?"
Davin tersenyum dingin sambil berkata,"Aku masih ingat nona Alma pernah berkata, betapa pentingnya cincin ini bagimu. Tetapi sepertinya ketulusanmu tidak sampai sebesar itu. Benda yang sudah tidak ada ketulusan bagiku hanyalah sampah."
Alma tiba-tiba tak memiliki lagi kekuatan untuk berdebat.
"Apapun yang telah kamu berikan pada pria yang telah berubah hatinya,dia takkan perduli lagi padamu, meskipun kamu membuka hatimu sepenuhnya untuk dirinya," pikir Alma.
Lantas Davin berjalan sambil menggandeng lengan Sofia, dia sama sekali tak melihat lagi pada Alma yang tertegun.
"Mari kita pergi dari sini Sofia, keinginanmu untuk melihat kantor jelek ini sudah ku penuhi."
"Tapi Davin, aku ingin cincin itu, Alma nggak layak memakainya," tutur Sofia yang tak mau berjalan mengikuti Davin.
"Kita akan membeli lagi perhiasan yang lain, yang lebih mahal dan lebih bagus dari barang usang itu."
Sebelum melangkah ke pintu keluar tanpa sadar Davin kembali menoleh ke belakang, dia mendapati wajah Alma yang sayu dan hancur. Hanya dalam sekejap, Alma yang biasanya cantik,segar dan berenergi telah berubah menjadi perempuan yang tak b*******h, pandangannya kosong menerawang. Seakan rasa sakit di hatinya telah menelan jiwanya hidup-hidup.
Davin memicingkan matanya, jelas-jelas dia sendiri yang telah mencampakkan Alma, tapi mengapa sekarang Davin malah merasa sakit hati.
Suara Sofia yang lembut membuyarkan lamunan Davin.
"Ayo sayang, kenapa kamu malah diam. Kamu kan sudah janji mau belikan aku perhiasan baru," desah Sofia manja berbisik di telinga Davin.
Davin lalu membuang pandangannya dari Alma, memilih mengusap rambut Sofia, dia mengangguk dan tersenyum lembut.
"Tentu saja,ayo kita pergi sekarang."
Alma hanya bisa diam membeku melihat kepergian kedua orang yang telah begitu menyakiti hatinya.
Namun kemudian...kepalanya terasa berputar, dan suhu tubuh nya naik. Mungkin karena masuk angin, sedari tadi dia masih mengenakan pakaian yang basah.
Alma melangkah gontai menuju ruangannya.
Dari dalam toko keluar Amelie, yang tak lain adalah karyawannya Alma.
"Bu Alma, wajah anda tampak pucat sekali, apa anda baik-baik saja?"
Alma hanya mengangguk pelan dan tersenyum sendu.
"Aku tidak apa-apa, tolong buatkan teh herbal hangat ke ruangan ku," tutur Alma.
"Baiklah Bu Alma."
Setelah selesai mengganti bajunya dengan yang kering, Alma duduk di sofa sambil meneguk teh hangat, perasaannya sedikit lebih baik, tapi badannya masih demam. Karena merasa tidak nyaman dengan suhu tubuhnya yang semakin naik, Alma memutuskan untuk meminum obat penurun demam.
Alma menyandarkan tubuh lemahnya di sofa, pikirannya berkecamuk.
"Vanya... adik Davin, dan adik iparku. Kematianmu menyisakan tanda tanya besar. Aku bersumpah akan mengungkap kebenaran di balik ini semua, demi keadilan untukmu dan ketenangan hatiku.
"Davin... suamiku. Aku tahu kau menyimpan dendam dan luka tapi aku tak akan menyerah. Aku akan berjuang sekuat tenaga untuk mempertahankanmu, untuk cinta kita. Sofia tak akan kubiarkan merebutmu. Kamu adalah hidupku, masa depanku.
Perasaan Alma yang tadinya sudah hampir menyerah pada Davin mulai mengalami perubahan, itu karena pada dasarnya dia masih sangat mencintai Davin.
"Tapi bagaimana dengan sisa biaya kekurangan operasi ayahku, aku masih belum mendapatkan nya."
"Apa aku harus pergi ke toko perhiasan dan menjual cincinku ini disana," keluh Alma resah.
Dia teringat kembali pada saat Davin menginjak cincin pernikahan mereka dengan wajah yang sama sekali tak merasa bersalah.
"Kamu benar Davin, baru saja sehari kita menikah, aku telah merasakan neraka di perkawinan kita."
Drtt..drtt
Alma melihat ada pesan masuk di ponselnya, ternyata itu dari Eric, detektif yang Alma sewa untuk menyelidiki kasus kematian Vanya.
[Bu Alma, ada berita baru yang saya temukan mengenai mendiang Vanya]
[Cepat kirim kan padaku]
Eric mengirim gambar
Alma lalu membuka gambar photo, terlihat di area pemakaman, sebuah batu nisan yang bertuliskan 'Vanya Hayes'
Tatapan Alma membeku melihat foto yang dikirim Eric itu.