Tatapan Reynold yang tajam membuat Bella merasa terintimidasi. Bagaimanapun juga dia tidak sekuat Julie. Nyalinya mudah menciut hanya dengan dipelototi orang saja.
“Dari kemarin aku memang Bella. Apanya yang aneh?” tanya Bella.
Reynold melepaskan gendongannya. Dia merasa seperti dipermainkan oleh Bella. “Heh, dari tadi perkataanmu terus ketus. Apa kamu tidak sayang nyawa kamu, hah?”
“Ampun, tolonglah, aku ingin beristirahat!” pinta Bella dengan memelas.
Hari berganti begitu cepat, Reynold kesal, dia harus menunda keberangkatannya ke Milan karena Bella saat itu tengah koma di rumah sakit. Semua urusannya dia tunda. Namun, setelah melihat kondisi Bella yang semakin membaik, Reynold akhirnya memutuskan untuk berangkat ke Milan hari ini.
Pagi itu, Reynold sudah bangun lebih awal. Dia melihat istrinya masih tertidur dengan pulas. Pada awalnya lelaki itu mengusap rambut Bella dengan lembut. Namun, ketika ada angin berembus begitu kencang ke bagian tengkuknya, Bulu kuduknya berdiri. Adrenalinnya langsung meningkat seiring dengan tatapannya yang berubah tajam.
“Heh, bangun!” panggil Reynold sambil mengguncang tubuh Bella dengan keras.
Bella terkejut, Dia ternyata masih berada di dunia nyata, bukan alam baka seperti yang dia harapkan. Perempuan itu mengira ketika tertidur, Julie bisa memasuki tubuhnya, ternyata tidak.
“Aku di mana?” tanya Bella dengan wajah kebingungan.
“Ini kamarmu, dasar wanita dengan IQ jongkok!” umpat Reynold sambil menurunkan kakinya ke lantai.
“Aku memang tidak pintar,” sahut Bella seadanya. Dia berusaha untuk bangkit dari tempat tidur, tetapi kepalanya masih pusing. Tanpa sengaja Bella bersandar di punggung suaminya.
Reynold terkejut. Dia tidak senang Bella bersandar di punggungnya. Lelaki itu dengan cepat membalikkan tubuhnya, menatap istrinya dengan alis yang menukik tajam.
“Apa-apaan ini? Kenapa kamu bersandar tanpa seizinku, mau mati hah?” kesalnya.
Terang saja Bella ketakutan. Dia mengatupkan kedua tangannya sambil memohon ampun. “Maaf, aku tidak sengaja. Tadi kepalaku pusing.”
“Alasan!” Reynold mendorong tubuh Stella dengan kasar.
Lelaki itu berdiri dari tempat tidur. Lengan kekarnya menarik paksa pergelangan tangan Bella. Sudah Jelas dia tidak menyukai alasan dan bantahan, atapun pembelaan.
“Karena pagi-pagi kamu sudah merusak suasana hatiku, kamu harus memandikanku!” perintahnya dengan tegas.
Bella awalnya tidak mau, tetapi lelaki itu tetap memaksanya hingga masuk pintu kamar mandi.
“Buka bajuku!” Reynold merentangkan tangannya. Dia ingin Bella melucuti seluruh pakaiannya.
Bella kembali teringat saat hari pertama mereka menikah, Reynold dengan kasar ingin dimandikan olehnya, padahal Bella belum pernah melakukan ini. Sekarang dia harus mengulanginya.
“Bella, ini sudah kewajibanmu!” batinnya memberi semangat pada diri sendiri.
Bella telah selesai membuka seluruh pakaian Reynold. Perempuan itu memulai untuk membersihkan seluruh tubuh suaminya. Lelaki itu sangat sempurna. Setiap bagian tubuhnya itu kencang dan kekar. Bukannya kagum, Bella malah takut.
“Apa kamu rajin berolahraga?” tanya Bella membuka pembicaraan.
“Rajin, memangnya kenapa?” balas Reynold ketus.
“Tubuhmu bagus,” puji Bella.
“Apa-apaan, kamu coba merayuku?” kesal Reynold.
“Ma-maaf,” tutur Bella gemetar.
Lelaki itu terlihat berbeda dengan saat tadi malam. Aura kebencian terlihat begitu kuat di matanya. Bella bisa merasakan hal itu. Namun, Bella tidak tahu, alasan dari rasa itu.
Setelah selesai memandikan Reynold, Bella hendak ke luar dari kamar mandi. Tentu saja lelaki itu tidak akan melepaskan begitu saja. Dia menarik Bella, lalu melakukan hal sebaliknya. Dia buka pakaian istrinya lalu memandikannya juga.
“Kamu mau apa?” tanya Bella khawatir. Dia terus menutupi tubuh dengan pakaiannya, malu.
“Kamu juga harus mandi. Biar cepat aku yang akan melakukannya!” Reynold tidak memberikan kesempatan untuk Bella membuka pakaiannya sendiri. Semua dilakukan oleh lelaki itu.
Bella pasrah saat suaminya terus menjamah tubuhnya. Sentuhan lelaki itu kasar, tetapi membuat sesuatu dalam diri Bella tiba-tiba membuncah.
“Tolong, hentikan,” lirih Bella sambil menggelinjang.
Reynold tersenyum. Dia berhasil membuat istrinya tidak nyaman. Lelaki itu terus saja membuat Bella tidak karuan. Perempuan itu bahkan sampai mengejang.
“Cepat basuh tubuhmu, kita akan pergi ke Milan sekarang!” perintah Reynold sambil pergi meninggalkan Bella yang sedang tersungkur selepas merasakan hal yang sangat aneh dalam tubuhnya.
Tidak ingin menjadi sasaran amukan Reynold, Bella bergegas pergi ke ruang ganti. Dia membuka pintu lalu melihat jajaran pakaian serba indah, berbeda dengan yang dia miliki sebelumnya. Semua perlengkapan ada di sana. Bella takjub, Reynold sangat kaya, pikirnya.
Semakin masuk, Bella bertemu dengan Reynold yang sudah berganti pakaian. Lelaki itu terlihat sangat tampan. Setelan jas hitam dengan dasi bercorak berwarna navy blue. Rambut yang tertata rapi ala classic cut membuat kesan maskulin dan juga formal. Tatapan Reynold yang tajam dan tegas membuat Bella selalu tertekan.
“Kamu sedang apa melihatku seperti itu? Kagum atau takut?” tanyanya sambil menggunakan jam tangan.
Bella yang tertegun, akhirnya meneruskan langkah menghampiri suaminya.
“Aku harus pakai pakaian yang mana?” tanya Bella dengan gugup.
Reynold memperhatikan Bella dari ujung rambut hingga kaki. Lelaki itu kemudian membuka salah satu lemari pakaian. Dia ambil salah satu gaun yang cocok dengannya.
“Pakai ini!”
Bella segera meraih pakaiannya. Dia membuka handuk yang melilit tubuhnya dan segera berpakaian di tempat yangt erlihat seperti ruang untuk berpakaian.
Diam-diam Reynod sudah memilihkan sepatu, tas dan juga perhiasan yang cocok dikenakan oleh istrinya.
Dalam waktu singkat, Bella sudah selesai berpakaian. Reynold memakaikan kalung dan anting-anting untuk Bella. Lelaki itu sangat teliti, bahkan dia keringkan rambut istrinya dan membantu menatanya.
“Sudah cantik. Poles wajahmu secantik mungkin. Aku tunggu dalam lima menit!” Reynold menekan bahu Bella untuk melakukannya secepat yang dia bisa.
Setelah selesai memoles wajah, Bella ke luar dari ruang ganti, memakai barang yang telah dipilihkan oleh Reynold.
Reynold mengulum senyum. Bella sudah terlihat cantik sesuai dengan harapannya. Kini mereka hendak pergi menuju bandara tempat jet pribadinya berada. Bella hanya bisa menunduk. Dia tidak mau membuat Reynold kesal jika dia terlihat seperti memandangi sesuatu.
Sesampainya di bandara, Reynold meminta anak buahnya membawakan semua barang yang sudah dikemas. Tidak banyak, hanya satu koper saja. Lelaki itu memang tidak berniat membawa baju banyak karena akan membeli pakaian di sana.
“Kita akan pergi ke Milan, semua surat paspor dan visamu sudah disiapkan oleh anak buahku. Kamu tidak boleh melirik atau melihat lelaki manapun. Jangan ada kontak mata. Jika itu terjadi aku akan mencongkel matamu sekarang juga!” ancam Reynold.
Selama dalam pesawat, Bella ketakutan. Dia lupa bagaimana rasanya naik pesawat. Air matanya tiba-tiba menetes begitu saja.
“Astaga! Sudah kubilang jangan pernah menangis di hadapanku. Kamu bebal sekali, Bella!” bentak Reynold sambil melayangkan tangannya ke pipi Bella hingga perempuan itu pingsan.
Kesadaran Bella yang menghilang memberikan kesempatan buat Julie untuk memasuki raga Bella. Dalam sekejap, Julie masuk ke raga itu. Dia membuka mata sehingga membuat Reynold yang duduk di sampingnya terkejut.
"Bukannya tadi kamu pingsan?" tanya Reynold sambil memegang rahang Bella dengan kencang.
Julie langsung menepis tangan Reynold dengan kasar. Dia pelototi lelaki itu sambil menarik dasi Reynold.
"Lelaki berengsek! Bisanya pakai kekerasan, hah!" balas Julie sambil mendorong tubuh Reynold sekuat tenaga.
Reynold terkejut melihat Bella begitu kuat mendorongnya. Dia bahkan enggan membahasnya dan memilih untuk duduk di tempatnya semula.
Lama mereka dalam pesawat, hingga akhirnya mereka sampai setelah hampir setengah hari perjalanan. Julie dan Reynold berjalan menuju tempat menunggu kedatangan mobil jemputan. Reynold terlihat masih kesal.
Ketika hampir sampai di pintu ke luar, Reynold dan Julie bertemu degan Alex. Arwah Bella melihat jelas, Alex menatapnya nanar. Air matanya berkaca-kaca seolah kecewa.
"Bella," panggil Alex dengan suara parau.
Julie menoleh, menatap sosok yang memanggilnya dengan lembut. Reynold tidak suka. Tidak boleh ada yang menatap istrinya dengan tatapan seperti itu.
"Siapa kamu?" tanya Reynold.
Julie terus mengingat, siapa lelaki yang memanggilnya seperti itu. Dia sangat tampan, tetapi penampilannya biasa saja. Sebagai perempuan yang haus kasih sayang, Julie dengan sengaja ingin membuat Reynold cemburu.
"Sudah lama kita tidak bertemu," ucap Julie dengan genit. Kepalanya tegak, menatap dengan penuh percaya diri.
Alex tidak pernah melihat Bella yang bertindak seperti ini. Dia malah berpikir Bella yang dia lihat sekarang bukanlah Bella yang dia kenal.