Hanya Tuhan Yang Bisa

1078 Words
Julie terus memancing Reynold untuk bangkit dan mendekatinya. Reynold yang harga dirinya tinggi tidak terima. Sambil menahan nyeri di perutnya, lelaki itu menuruni tempat tidur. Rasa ngilu mulai terasa di perutnya. “Kamu terus memancing macan yang tertidur. Apa kamu tidak sadar apa yang bisa aku lakukan kepadamu, hah?” tanya Reynold. Julie tersenyum puas. Jemarinya terus menurunkan resleting itu hingga setengahnya. Netranya melihat Reynold menelan salivanya dengan kasar. Di saat seperti ini, tiba-tiba ada yang membuka pintu. Sontak Julie kembali menarik resleting ke atas. Tidak lama ada orang yang memasuki ruang perawatan Reynold. “Halo,” sapa Alex yang mengunjungi Reynold. Sontak Alis mata kedua orang itu terangkat. Matanya membulat sempurna. Arwah Bella tidak pernah menyangka jika Alex akan memberanikan diri datang menjenguk Reynold. “Untuk apa kamu ke sini?” tanya Reynold dengan tangan yang mengepal kuat. “Saya datang untuk menjenguk Anda, Tuan,” ucap Alex dengan rendah hati. Alis Reynold menukik tajam, rahangnya mengeras dan tatapannya menyipit tajam. Mendapat kunjungan dari mantan kekasih istrinya sudah tentu tidak menyenangkan sama sekali. Darah yang mengalir tenang tiba-tiba mendidih dengan arus deras. Setiap aliran darahnya terhimpit oleh urat yang menyempit. “Halo, Alex. Kamu baik sekali menjenguk suamiku. Padahal kemarin sudah repot mengantar ke rumah sakit. Kalau enggak ada kamu, suamiku bisa mati kehabisan darah,” ucap Julie sambil mengusap bahu Alex dengan lembut. Alex dan Reynold sama-sama mengerutkan kening. Meskipun mereka pernah berpacaran, Bella tidak pernah melakukan ini kepadanya. Alex semakin merasa dia bukan kekasih yang dulu pernah bersamanya. “Maaf Bella, jangan seperti ini,” tolak Alex sambil menepis tangan Bella dengan sopan. Julie menyeringai menatap Reynold yang sudah kebakaran jenggot. Lelaki itu memaksakan diri untuk menghampiri istrinya yang terlihat menggoda Alex di depan matanya langsung. Arwah Bella merasa kasihan kepada Reynold. Lukanya bahkan masih basah, akan tetapi dia terus memaksakan diri untuk tetap berjalan. Arwah Bella langsung memeluk Reynold. Berharap lelaki itu merasakannya dan mengurungkan untuk memaksakan diri seperti itu. “Kumohon, jangan Reynold! Jangan paksakan dirimu,” pinta Bella lirih. Atas kekuasaan Tuhan, keinginan arwah Bella menahan Reynold terkabul. Reynold merasakan tubuhnya seperti ada yang memeluk. Lelaki itu mengerutkan kening dengan mata yang fokus melihat arah perutnya. Dia merasa ada yang melingkari tubuhnya, tetapi membuat perutnya terasa nyaman. Untuk sejenak Reynold terdiam. Kakinya seolah terpaku. Dia masih heran mengapa dia merasa seperti ada yang memeluknya erat. Sementara itu Julie melihat arwah Bella tengah memeluk Reynold dengan erat. Julie sempat heran, mengapa Bella bisa membuat Reynold terdiam seperti itu. Julie mencoba melakukan kontak batin dengan Bella. Waktu seakan berjalan lambat, suasana berubah menjadi sangat hening. Julie telah berhasil memasuki alam baka yang sama dengan Bella. “Bella, kenapa kamu tahan Reynold. Biarkan saja dia terus marah dan kesal. Lelaki itu harus diberi pelajaran karena telah membuatmu hampir mati,” ucap Julie. “Tapi Nek, dia sedang sakit. Kalau bukan karena dia yang menolong Bella, mungkin Bella juga sudah lewat atau bahkan dinodai oleh orang lain,” tampik Bella. “Apa kamu tidak ingat, dia menamparmu dan membenturkan kepalamu sampai kamu harus operasi kepala? Ingatlah Bella, jadi kamu bisa bertahan dan terus membencinya!” Julie mengojok-ojok Bella untuk tetap membenci Reynold meskipun dia tidak boleh melakukan itu. Bella tidak bisa membantah apa yang Julie katakan. Memang benar, Reynold telah menyebabkan dia hampir meninggal, tetapi dia juga tidak bisa menutup mata begitu saja. Semakin hari Stella merasa Julie bertindak semakin jauh. Julie kembali ke raga Bella dengan cepat. Di saat seperti ini, Bella masih bertahan merengkuh Reynold, Dengan susah payah, Bella mencoba menyentuh pipi Reynold. Lelaki itu merasa pipinya merinding sekali. Dia sentuh pipinya sendiri. Anehnya dia merasakan seperti ada tangan yang dia sentuh, hangat dan membuat tenang. “Apa yang aku sentuh? Kenapa rasanya hangat dan menenangkan? Apakah aku sudah mulai halusinasi?” tanya Reynold dalam hatinya. Alex melihat Reynold seperti orang kebingungan. Lelaki itu menatap ke bawah seperti orang yang sedang mengamati sesuatu. “Kenapa dengan lelaki itu?” batinnya sambil terus memandangi dengan serius. "Aku rasa terjadi sesuatu hal pada Bella yang tidak aku ketahui," gumamnya kembali. Julie melihat Alex memperhatikan Reynold, netranya kemudian beralih pada suami Bella. Julie kesal bukan main saat melihat arwah Bella tengah memegang wajah Reynold. Tangan mereka saling bersentuhan. “Ini tidak boleh terjadi! Kalau mereka saling jatuh cinta, maka, ah tidak boleh. Pokoknya tidak boleh!” gerutu Julie dalam hatinya. “Kamu harus mendapatkan cinta salah satu dari mereka, lalu habisi orang itu!” Julie mendengar suara bisikan dari sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan kasat mata. Julie mencoba masuk kembali ke alam baka, Terlihat ada kepulan asap hitam. Julie langsung menunduk hormat. “Ada apa Tuan mengunjungi saya?” tanya Julie. “Kamu harus menumbalkan seorang lelaki yang jatuh cinta sama kamu. Jika itu berhasil maka kamu akan kekal berada dalam tubuh perempuan itu, mengerti!” ucap Penguasa Dunia Hitam “Kalau saya tidak berhasil menumbalkannya bagaimana?” tanya Julie. “Kalau kamu tidak bisa, ya kamu akan menerima akibatnya sendiri!” Kabut asap hitam itu pergi begitu saja. Julie kembali ke dunia nyata secepat mungkin. Alex melihat suasana menjadi sangat aneh. Bulu kuduknya terus merinding membuatnya tidak nyaman. “Tuan, saya akan pulang. Semoga Anda cepat sehat,” pungkas Alex sambil pergi menutup pintu kamar. Alex masih bingung. Dia harus mencari apa yang sebenarnya terjadi. Lagi pula dia harus melakukan latihan untuk pertunjukkan hari ini. Beberapa hari kemudian, Reynold diperbolehkan pulang ke rumah. Lukanya sudah rapat dan sudah boleh aktifitas seperti biasa. Julie sudah menyiapkan semua barang Reynold. Lelaki itu pulang dengan menggunakan setelan jas hitam dan juga kemeja putih. Lelaki itu terlihat sangat tampan. Julie begitu menyukai paras Reynold yang memanglah tampan. “Suamiku tampan sekali,” puji Julie sambil memasangkan dasi. “Jangan memuji! Apa-apaan, aku sudah tampan seperti ini, kamu tetap saja menggoda lelaki lain di depan mataku,” kesalnya. “Aku hanya ingin menguji seberapa besar cintamu padamu, Sayang!” Julie menyentuh bibir Reynold dengan telunjuknya. Perempuan itu dengan sengaja mendekatkan dirinya kepada lelaki itu. Reynold memicingkan mata. Lelaki itu langsung menggigit bibir istrinya gemas. “Kamu terus saja menggodaku seperti ini!” kesalnya. Julie menyentuh area terlarang milik Reynold. Lelaki itu menghembuskan napas panjang. Di saat dia akan pergi menemui beberapa klien yang sempat tertunda karena sakit, rasanya dia enggan menahan diri lagi. “Hentikan!” kesal Reynold sambil membalas istrinya dengan menyentuh bongkahan kembar miliknya. “Ayolah sekali saja!” bujuk Julie. Reynold melepaskan tangannya. Dia pergi meninggalkan istrinya sendiri. Lelaki itu puas telah membalas perbuatan istrinya tempo hari.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD