Godaan Julie

1120 Words
Arwah Bella terkejut melihat Julie pergi entah ke mana. Dia terpaksa mengikuti karena tubuhnya tidak boleh berjauhan dengan arwahnya. Bella duduk di samping Julie. Perempuan itu terus saja menatap wajahnya sendiri. “Kamu tidak usah banyak bertanya, karena aku harus pergi menemui seseorang, Bella,” ucap Julie dalam hati. “Baiklah,” jawab Bella dengan lesu. Setelah mendapatkan Sebagian dari kekuatan Penguasa Dunia Hitam, Julie memiliki kekuatan dalam berbahasa. Dia tiba-tiba saja mahir dalam bahasa asing. Bella membuka mulutnya lebar, sejauh ini dia tidak pernah belajar bahasa asing sebelumnya. Julie meminta supir untuk mengantarkannya ke sebuah jalan. Ternyata jarak rumahnya sangat jauh dari rumah sakit. Butuh waktu dua jam untuk mencapai tempat yang dimaksud. Sesampainya di tempat tujuan, Julie mengeluarkan sejumlah uang dari saku bajunya. Mereka berhenti di sebuah bangunan kuno yang terlihat menyeramkan. Manusia pada umumnya pasti tidak mau tinggal di tempat itu. “Tempat apa ini?” batin Bella sambil melihat ke sekeliling. Julie mengulum senyum. Dia dengan penuh percaya diri, masuk ke rumah itu. Tidak ada rasa takut, Bella yang seorang arwah pun enggan masuk ke tempat yang auranya sangat gelap. Ternyata Bella tidak bisa memasuki ke Gedung itu lebih dalam lagi. Ada sebuah perisai yang menghalanginya masuk. Di dalam sana, Julie bertemu dengan seorang lelaki bertubuh tinggi. Tatapannya tajam dengan iris mata hitam pekat. Rambutnya panjang sebahu, sedikit ikal. Ada rambut halus di sekitar wajahnya. “Selamat siang, Tuan Mehmet,” sapa Julie sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Mehmet memicingkan matanya. Dalam pandangannya, sosok wanita cantik dengan jiwa seorang nenek-nenek. Dia merasa jijik karena dia bisa melihat seluruh isi dalam hati Julie. “Kenapa kamu ke sini? Apa urusan duniamu masih belum terselesaikan hingga kamu menguasai tubuh perempuan ini?” tanya Mehmet dingin. “Saya datang ke sini atas perintah Penguasa Dunia Hitam. Saya butuh kekuatan yang sempurna untuk membuat jiwa pemilik tubuh ini tidak bisa kembali dengan mudah!” Julie benar-benar tidak ingin melepaskan tubuh Bella dengan mudah. “Omong kosong! Kamu sudah mati, tidak boleh menguasai tubuh manusia yang masih hidup. Apa kamu tahu hukum karma? Jangan memancing kemurkaan Tuhan!” geram Mehmet sambil menarik rahang Julie dengan erat. “Kata Penguasa Dunia Hitam kamu bisa membantuku. Kenapa sekarang kamu malah memarahiku seperti ini?” tanya Julie sambil menahan diri. “Perjanjian kalian itu melanggar ketentuan Tuhan. Saya hanya bisa membantu kalian dengan ini saja.” Mehmet mengeluarkan sebuah kertas kecil. Lelaki itu mengucapkan beberapa mantra kemudian kertas itu menghilang seperti tertelan tubuh Bella. “Jadi bagaimana?” tanya Julie karena tidak merasakan apa-apa. “Sudah selesai. Kamu bisa dengan leluasa menggunakan tubuh ini.” Mehmet membiarkan Julie pergi. Lelaki itu mengantarkan Julie ke depan rumah, di sana dia melihat Bella seperti jiwa tersesat pada umumnya. Dia melihat kanan dan kiri tetapi tidak bisa menembus perisai ini. Mehmet melakukan kontak batin dengan Bella tanpa diketahui oleh Julie. Nenek tua itu pun tidak bisa mencuri dengar atau mengambil ingatannya tentang ini. “Hei Jiwa yang tersesat!” panggil Mehmet sambil menyilangkan tangannya. Bella melihat Mehmet. Dia terkejut dan lumayan takut melihat Mehmet yang begitu tegas. “Ada apa?” tanyanya mengambil satu langkah mundur. “Kenapa kamu memberikan tubuhmu kepada jiwa yang tersesat? Apa yang dia tawarkan kepadamu?” tanya Mehmet. “Saya sudah enggan berada di dunia nyata. Saya ingin mati, tetapi Nenekku ingin membantu. Jadi kami bertukar tubuh,” tutur Stella apa adanya. Mehmet menggeleng. Dia terkekeh karena perempuan ini tidak tahu apa-apa soal bertukar arwah. “Saya akan memberikanmu perlindungan, terima saja ini hadiah dariku!” Mehmet kemudian melemparkan sebuah batu merah ke dalam arwah Bella. Batu itu bisa menjaga arwah Bella yang bisa menghilang setelah terlalu lama menjauh dari tubuhnya sendiri. Setelah itu, Mehmet menyuruh Bella segera menghampiri Julie. Dia sudah membuka perisai waktu yang bisa dia gunakan dalam keadaan tertentu. Bella kembali duduk di samping Julie. Perempuan itu hanya bisa diam dan tidak mengatakan apapun kepada Julie. Julie tidak berhenti sampai di sini saja. Perempuan itu pergi ke sebuah tempat yang dipenuhi dengan toko makanan dan minuman. Nenek tua itu membeli banyak makanan yang belum pernah dia makan sebelumnya. Dia tidak bisa pergi berbelanja pakaian karena dia ingin Reynold yang menemaninya berbelanja. Puas berbelanja, Julie akhirnya pulang ke rumah sakit. Reynold sudah marah besar. Dia kesal, istrinya pergi dengan seenak hati. “Bella! Hebat sekali kamu pergi begitu saja. Apa kamu sudah meremehkanku hah?” tegur Reynold dengan napas yang tertahan. Julie tersenyum. Dia berjalan mendekati Reynold. Jemarinya mengusap lembut d**a suami Bella. “Suamiku, kenapa kamu marah? Aku membeli barang ini untuk kita makan. Apa aku salah?” tanya Julie dengan manja. Reynold memicingkan matanya. Sentuhan Julie membuat sensasi yang sangat aneh dalam tubuhnya. “Berjam-jam kamu pergi dan baru pulang saat makan siang? Apa kamu sudah hilang akal?” Reynold mencoba menepis tangan istrinya dengan kasar. Tentu saja Julie tidak akan membiarkan Reynold berbuat kasar padanya. Dia langsung menggenggam pergelangan jemari lelaki itu. “Memangnya kamu pikir aku akan diam saja? Suamiku, kamu itu sedang sakit. Jangan berani berbuat kasar kepadaku.” Julie menyeringai puas. Matanya memicing dengan senyum menggoda. “Apa kamu mau—” Julie melepas genggamannya lalu memindahkan tangannya ke perut Reynold yang baru saja dioperasi. “Mau apa kamu?” tanya Reynold mulai panik. “Apa kamu mau aku sentuh bagian yang ini? Atau kamu mau aku sentuh bagian yang ini.” Julie menunjuk bibir Reynold. Reynold tidak banyak bicara. Dia langsung menyambar bibir istrinya tanpa ampun. Tangannya yang kekar dan besar menekan tengkuk Bella hingga kepala wanita itu sangat dekat dengannya. Julie tidak akan menolak setiap Reynold memberikannya rasa puas di hatinya. Nenek tua itu bahkan ikut memegang leher Reynold, membiarkan penyatuan bibir itu semakin dalam. Bella yang ada di dalam ruangan itu tidak nyaman. Arwah Bella memilih untuk pergi meninggalkan ruangan itu. Julie menjeda sejenak untuk mengambil napas. Dia menyeringai di depan Reynold. “Hei, Istriku, aku sedang sakit kamu malah terus membuat adik kecilku bangun. Memangnya kamu mau tanggung jawab hah?” tantang Reynold. “Apa? Aku akan membiarkanmu pusing karena tidak tersalurkan, hahahah,” ucap Julie puas. Reynold cemberut dengan alis yang menukik. Setelah membuatnya bernapsu, istrinya lalu menjaga jarak. Tentu saja dia tidak suka. “Awas kamu! Setelah aku sembuh, habis kamu!” ancam Reynold sambil menunjuk istrinya. “Coba saja, aku ingin tahu sampai mana kamu bisa memuaskan aku, suamiku!” tantang balik Julie sambil membuka sedikit reslesting gaunnya yang ada di dekat tangannya. Julie sengaja membuat Reynold menggila karena harus menahan diri selama mungkin. Lelaki itu melihat Julie terus menggodanya. Pikirannya semakin pusing. Rasanya ingin dia lahap habis istrinya itu. Mau tidak mau Reynold bangun dari tempat tidur walau perutnya terasa sangat sakit. Di saat Reynold akan menghampiri Julie, pintu ruangan terbuka. Seseorang masuk yang membuat keduanya terkejut.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD