Kembalinya Julie

1093 Words
Reynold biasanya tidak suka melihat orang lemah di hadapannya. Namun, kali ini dia bisa memaklumi. Bukan Reynold kalau tidak memikirkan hal lain. “Bella kenapa matamu sembab?” tanyanya ketus. “Aku sedih, takut kamu meninggal,” tutur Bella sambil menggenggam jemari suaminya. “Astaga, benarkah itu? Atau kamu senang kalau aku mati, kamu bisa kembali bersama mantanmu,” tukas Reynold dengan mata memicing. Air muka Bella langsung memerah. “Kenapa bibirmu itu selalu mengatakan hal buruk?” Reynold langsung tercekat. Ternyata apa yang terlintas dalam pikirannya tidak sesuai dengan yang dipikirkan oleh Bella. “Aku ingin minum,” pinta Reynold. Lelaki itu bahkan belum bisa menggerakkan tubuhnya seleluasa dulu. Netra lelaki itu terus melihat ke kanan dan kiri. Dia mencari sosok yang harus bertanggung jawab. “Ini minumlah,” ucap Bella sambil memberikan segelas minuman air mineral. Reynold minum dengan gelas yang dipegangi oleh Bella. Retinanya tidak pernah lepas dari menatap istrinya. Ceklek! Pintu terbuka, masuklah seorang lelaki bertubuh tinggi memasuki ruangan. “Selamat siang Tuan,” sapa Brian dengan wajah yang ditekuk. “Siang,” jawab Bella sambil mengurai senyum. Reynold tidak suka Bella bersikap ramah kepada orang lain. “Jangan tersenyum kepadanya!” Bella mengangkat kedua alisnya. Dia bingung, kenapa Reynold terus memarahinya. “Aku salah apa?” tanya Bella tidak mengerti. Reynold tidak menjawabnya. Tatapannya kini beralih pada sosok anak buahnya itu. “Sejak kapan kamu jadi seceroboh ini, Brian? Gara-gara keterlambatanmu, nyawa saya hampir melayang! Apa kamu bsia mempertanggungjawabkan kelalaianmu itu?” Reynold mencecar anak buahnya dengan banyak pertanyaan. “Maaf Tuan. Kemarin itu mobil yang saya bawa mogok. Oleh sebab itu saya memperbaikinya dan tidak sempat melihat jam di ponsel. Setelah Tuan menghubungi saya, ban mobil pecah sehingga saya harus mengganti ban terlebih dahulu,” jelas Brian. Lelaki itu tidak mau membela diri, akan tetapi dia harus menjelaskan kejadian yang sebenarnya. “Alasan!” geram Reynold sambil menahan nyeri di perutnya. Lelaki itu tidak boleh banyak melakukan tekanan pada perut karena jahitannya bisa terbuka kembali bila ada penekanan yang cukup keras. “Maaf saya telah lalai,” jawab Brian dengan kepala tertunduk. “Apakah kamu melihat ada indikasi sabotase atas kejadian ini? Kalau tidak, kenapa ban dan mobil bisa mogok di waktu yang tepat?” tanya Reynold. “Saya sudah cek, sepertinya tidak ada upaya sabotase. Akan tetapi , memang mobil yang kita gunakan jarang mendapatkan perawatan berkala karena kondisi mesin terlihat tidak terlalu baik.” “Saya benci orang yang tidak teliti. Cepat kamu suruh anak buah kita yang mengurus semua akomodasi di sini dan berikan dia pelajaran!” perintah Reynold sambil memejamkan matanya. Bella hanya bisa terdiam. Dia takut, tetapi dia bisa apa. Perempuan itu hanya duduk sambil memegang pinggiran tempat tidur dengan erat. Brian telah pergi sesuai dengan perintah Reynold. Kini hanya ada Bella dan Reynold. Lelaki itu meminta Bella untuk menaikkan sedikit tempat tidurnya. Dia ingin posisi seperti duduk. Setelah Bella menaikan sedikit posisi tempat tidur, Reynold meminta Bella untuk duduk di samping tempat tidurnya. Di alam lain, Julie sudah berhasil mendapatkan apa yang dia mau. Nenek itu harus membuat Bella tidak betah berada di dalam raganya sendiri. Dia mengerahkan sebuah kekuatan. Embusan angin kembali menyeruak ke ruangan tersebut. Reynold lagi-lagi kesal. “Ini rumah sakit apa? Kenapa tempatnya tidak steril seperti ini? Angin bisa tembus padahal jendela tidak terbuka sama sekali?” gerutu Reynold. Bulu kuduk lelaki itu berdiri semua. Dia merasa semakin tidak enak badan. Rasa kantuk menyerang keduanya. Bella pun ikut tertidur. “Kenapa aku mengantuk sekali?” keluh Reynold. Padahal dia belum meminum obat, tetapi rasanya seperti meminum obat tidur dalam jumlah banyak. Bella sudah tidak kuat. Dia memejamkan mata sambil memeluk suaminya. Perempuan itu akhirnya kembali ke alam yang berbeda dengan alam nyata. “Aku berada di tempat ini lagi,” ucap Bella sambil melihat kanan dan kiri. Dia tidak menemukan siapapun. Julie kemudian menghampiri Bella. Wajahnya berseri, seolah dia tidak mengetahui keberadaan Bella di alam ini. “Bella, kenapa kamu di sini, cucuku?” tanya Julie sambil meraih tubuh Bella. “Aku tidak tahu.” Bella menggeleng. Entah kenapa hatinya merasa aneh ketika berada di tempat ini. “Apa kamu memang ingin kembali ke dunia ini? Memangnya suamimu itu berbuat kasar kepadamu?” tanya Julie sambil mengusap kepala Bella. “Aku tidak tahu, yang aku tahu Reynold tengah sakit. Aku benar-benar membawa sial. Rasanya orang begitu banyak celaka karenaku,” ratap Bella. “kalau begitu, Nenek akan membantumu terlepas dari semua kesialan yang terjadi padamu. Nenek ingin kamu berada di dekat ragamu. Jiwa Nenek tidak kuat menahan tekanan dari dimensi lain jika jauh dari tubuhmu.” Julie mengulum senyum. Semua hal yang diinginkan sudah berada di depan mata. Bella hanya mengangguk. Perempuan itu memang tidak menginginkan hal yang bersifat duniawi. Sebuah kilatan terjadi membelah langit dimensi. Bella masih berada di dunia lain sementara Julie memasuki raga Bella. Setelah Julie memasuki raga Bella, rasa kantuk Reynold menghilang begitu saja. Lelaki itu membuka mata, Retinanya beralih pada sosok istrinya yang memandanginya penuh kagum. “Kenapa kamu memandangku seperti itu?” tanya Reynold ketus. “Kamu tampan, apa lagi yang harus kulihat?” balas Julie sambil mengusap d**a Reynold. Lelaki itu semakin bingung. Istrinya semakin berani menyentuh dengan seenaknya. Tentu saja Reynold susah menjelaskan apa yangmenjadi keresahannya ini. “Sejak kapan keberanianmu terus tumbuh seperti ini?” tanya Reynold sambil mencium tangan Bella. “Sejak aku membuka mata saat di rumah sakit. Kamu itu belum mengenalku dengan baik, Suamiku! Cepatlah sembuh, kalau tidak aku akan mengejar mantan kekasihku!” ancam Julie sambil cekikikkan. Reynold tidak suka istrinya memancing emosinya seolah itu hal biasa saja. Lelaki itu mengumpulkan seluruh tenaganya untuk membalas Bella. “Jangan kamu pikir aku sedang sakit, aku tidak bisa menyakitimu!” balas Reynold sambil mencengkram pergelangan tangan Bella. Julie dengan mudah melepaskan cengkraman tangan Reynold. Kekuatan wanita itu tumbuh berkali lipat setelah melakukan penyatuan dnegan penguasa dunia hitam. “Coba saja kalau berani!” Julie memicingkan mata dengan seringai meremehkan Reynold yang masih terbaring lemah. Julie meninggalkan Reynold yang masih terbaring di rumah sakit. Sebelum pergi, dia mengambil kartu dan uang yang ada di dalam saku jas suami Bella. “Apa yang kamu lakukan?” tegur Reynold. “Bersenang-senang dengan ini!” Julie pergi lalu menutup pintu kamar Reynold. Julie tersenyum cerah. Dia bisa menggunakan apa yang menjadi keinginannya selama ini. Wanita itu meminta Brian untuk tidak masuk ke kamar karena Reynold harus beristirahat. Sementara itu, dirinya pergi berjalan menuruni gedung dengan lift. Julie menyetop taksi yang ada di depan rumah sakit. Dia harus menemui seseorang yang bisa membuatnya semakin kuat, sesuai dengan arahan Penguasa Dunia Hitam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD