Mengkhawatirkanmu

1068 Words
Bukannya tidak mau menunggu, Bella sudah berulang kali berteriak meminta tolong. Dia tidak bisa membayangkan jika Reynold akan mati di depannya. “Tolong bertahanlah,” pinta Bella lirih. Reynold melihat Bella menitikkan air mata. Lelaki itu terenyuh ada wanita yang menangisinya. Hatinya merasa aneh. Padahal dia orang yang paling membenci tangisan. Namun, kali ini dia melihat Bella menangisinya. “Tolong!” teriak Bella sambil memeluk suaminya. Lengannya penuh dengan darah yang mengalir dari benda tajam tersebut. Bella gemetar bukan main. “Bella, jangan menangis! Sudah kubilang kamu tidak boleh menangis!” tegur Reynold sambil menghapus air mata istrinya. “Aku enggak bisa. Jangan marahi aku karena menangisimu,” tutur Bella sambil memeluk Reynold dengan erat. “Arrgghh,” Reynold mengaduh saat Bella memeluknya dengan erat. Tidak lama ada sebuah mobil melintas. Kaca mobil itu terbuka. Pengendara di dalamnya ternyata Alex. Dia mendengar teriakan Bella dan pada akhirnya lelaki itu mengendarai mobilnya menghampiri Bella. “Tuan, cepat masuk!” pinta Alex. “Tidak! Tidak di mobil dia!” tolak Reynold dengan tegas. “Ini bukan waktunya untuk gengsi, cepat kita ke rumah sakit karena kamu bisa kehabisan darah, tolonglah. Ini demi kemanusiaan, bukan karena hal lain,” pinta Alex. Bella tidak bisa menganjurkan apapun. Dia bisa membuat Reynold meradang. Sementara itu, Reynold melihat ke arah istrinya yang terus menundukkan pandangannya. “Tidak, lebih baik aku mati di sini dari pada naik mobilmu!” tolak Reynold sekali lagi. Bella menengadahkan kepala, memandangi wajah suaminya. “Jangan mati,” ucapnya lirih. Untuk pertama kalinya ada orang yang memintanya jangan mati. Reynold tidak bisa mengatakan apa-apa. “Lakukan demi Bella, Tuan,” ucap Alex. Dengan terpaksa, Reynold akhirnya menurunkan ego dan masuk ke mobil Alex. Lelaki itu duduk di belakang bersama Bella. Hati Alex sebenarnya sangat sakit saat bella mengatakan jangan mati kepada suaminya. Seharusnya Bella mengatakan itu kepadanya. “Tuhan, tolong kuatkan aku,” doa Alex dalam hati. Reynold terus melihat Bella. Dia tidak mau istrinya menatap mantan kekasihnya yangs edang mengendarai mobil. Ternyata Bella tidak menatap Alex. Perempuan itu memejamkan mata dengan hidung yang mengernyit seperti orang ketakutan. “Bella, kamu kenapa?” tanya Reynold dengan suara tertahan. Untuk menarik napas pun dia harus perlahan agar rasa nyerinya berkurang. “Tolong bertahanlah,” pinta Bella dengan suara parau. Alex harus mengatur napasnya dengan benar. Rasanya sangat menyesakkan melihat Bella dengan mudah menangisi suaminya. Padahal selama ini dirinyalah yang selalu ada di saat Bella mengalami kesulitan. Sesampainya di rumah sakit, Alex memanggil tenaga medis untuk segera menangani Reynold. Di sana Dia melihat Bella terlalu cemas dengan kondisi suaminya. Alex tidak mau membuat Bella berada dalam kesulitan jika dia terus berada di dekatnya. Lelaki itu hendak pergi tanpa berpamitan. “Tunggu,” tahan Bella dengan tangan gemetar. Alex membalikkan tubuhnya lalu menatap Bella nanar. “Cepat temani suamimu. Jangan sampai kamu mendapatkan masalah karena ini,” ucap Alex melepas kekasihnya untuk pergi. “Terima kasih,” ucap Bella sambil pergi menuju ruang IGD. Alex tidak bisa menahan air matanya yang terus mendesak turun. Hatinya perih, sangat perih. Rasanya dunia sudah tidak berpihak kepadanya. Melepaskan orang yang disayang, membuat Alex harus tetap bertahan. “Aku harap kamu bisa berbahagia, Bella,” doanya sambil kembali ke mobil lalu pergi meninggalkan rumah sakit. Bella menangis saat melihat banyak darah bercucuran di lantai rumah sakit. Kemeja Reynold bersimbah darah. Lelaki yang biasanya tegas dan pemarah kini berbaring di ranjang rumah sakit hanya untuk melindunginya. Di alam baka, Julie yang terluka parah harus kembali mengumpulkan tenaga untuk bisa kembali menguasai tubuh Bella lagi. Dia bertapa untuk mendapatkan kekuatan besar. Ilmu yang dia dapati sudah dikotori dengan niat yang tidak baik. “Kenapa kekuatanku tidak bertambah, padahal aku sudah bertapa cukup lama?” keluh Julie. “Apa kamu mau menjadi pengikutku?” tanya seseorang yang wujudnya tidak terlihat. Hanya ada kepulan asap hitam yang tiba-tiba saja menyelimuti tempat Julie berada. “Kalau jadi pengikutmu, apa yang akan kudapat?” tanya Julie. “Kamu bisa menguasai tubuh itu tanpa harus sering ke luar dan masuk sesuai kondisi. Kamu bisa mengontrol semuanya dan bisa mengambil ingatan Bella dengan mudah tanpa menguras tenaga,” tawar suara itu. “Kalau begitu aku mau menjadi pengikutmu,” ucap Julie tanpa memikirkan apa yang akan terjadi ke depannya. Angin berembus sangat cepat. Julie di kelilingi kepulan asap tebal berwarna hitam. Nenek tua itu seperti tertelan tak bersisa. Suara petir mulai menyambar sana-sini. Suara gemuruh angin mulai memenuhi tempat Julie berada. Di tempat lain, Ponsel Reynold berdering begitu nyaring. Bella terpaksa menjawab panggilan teleponnya. “Halo,” “Nyonya dan Tuan ada di mana?” “Saya di rumah sakit. Tuan Reynold tertusuk dan sekarang berada di rumah sakit,” “Saya segera ke sana.” Brian dengan cepat membawa mobilnya yang sejak tadi selalu saja ada masalahnya. Pada saat dia hendak menjemput Reynold, ban mobil meledak sehingga dia harus mengganti ban serep dan itu membutuhkan waktu lama. Bella resah, melihat Reynold dibawa ke ruangan khusus untuk melihat kondisinya lebih jelas. Perempuan itu resah lalu berdoa. “Tuhan, tolong selamatkan suamiku. Sebenarnya dia masih ada kebaikan di dalam hatinya. Tolonglah selamatkan,” Sekarang Bella tidak bisa duduk tenang, Reynold masuk ke rumah sakit dan dai tidak tahu apapun kata yang dijelaskan oleh tenaga medisnya. Bella malu, dia terlalu sibuk untuk bersedih dan kecewa sehingga tidak pernah belajar dengan benar. Perempuan itu selalu murung dan tidak mencoba membuka hati menikmati suasana baru. Tidak lama, Brian datang menghampiri Bella. Istri bosnya itu terlihat ketakutan dan gemetar. Untung saja dia membawa mantel dari dalam mobil. “Nyonya, bagaimana kondisi Tuan?” tanya Brian sambil memberikan mantel tersebut. “Terima kasih Brian.” Bella mengambil mantel tersebut dari tangan Brian. “Kondisinya aku tidak tahu. Tadi dijelaskan oleh dokter dan aku hanya mengangguk saja karena tidak mengerti apa yang mereka ucapkan. Coba saja kamu hampiri dokter tersebut dan menanyakannya,” tuturnya. Brian kemudian pergi ke tempat dokter itu berkumpul. Dia menanyakan kondisi Reynold. Setelahnya dia menjelaskan apa yang dokter itu katakana kepada Bella. Mereka kemudian pergi ke ruang tunggu. Setelah menunggu lama, operasi Reynold berjalan lancar. Lelaki itu dipindahkan ke ruang ICU. Reynold sempat kehilangan banyak darah, untung saja stok darah masih mencukupi. “Terima kasih Tuhan sudah menyelamatkannya,” ucap Bella dalam hatinya. Keesokan harinya, Reynold dipindahkan ke ruang perawatan setelah kondisinya stabil. Saat dipindahkan ke ruangan, Reynold sudah tersadar. Dia melihat Bella berjalan mengiringinya. Matanya sembab. Reynold menarik sedikit garis bibirnya. Dia pikir Bella benar-benar tulus mengkhawatirkannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD