Semakin Cemburu

1094 Words
Semua penonton riuh menepuk tangan menyambut pianis baru. Ini adalah debut pertama Alex sebagai pianis di kancah internasional. Lelaki itu memasuki area pertunjukkan. Dia memakai setelan jas yang warnanya senada dengan para pemusik lainnya. “Alex, ayo ucapkan sepatah kata kepada hadirin,” ajak Konduktor tersebut. Alex membungkukkan tubuh dengan tangan kanan yang berada di depan perut. “Terima kasih atas sambutannya, semoga hadirin semua terhibur.” Alex pergi meninggalkan podium kemudian dia berjalan menuju kursi pianis. Semua menjadi hening saat konduktor memulai pertunjukkan. Alunan musik indah Mozart piano concerto n No. 21 in C Mayor, K.467. Reynold yang pada dasarnya ingin menikmati setiap alunan musik menjadi tidak menikmati musik tersebut karena pemain musiknya itu Alex, mantan kekasih Bella. Tentu saja lelaki itu tidak terima, hanya dengan modal permainan cantik dari seorang pianis mampu membuat hati istrinya terpaut. Netra Reynold menatap Bella yang menikmati musiknya. Lelaki itu menggenggam erat jemari Bella, sangat erat bahkan terasa menyakiti jemari istrinya. “Sakit,” batin Bella. Dia tidak bisa bersuara di tengah acara tengah berlangsung. Perempuan itu menoleh ke arah Reynold. Retinanya pas menatap pemilik mata hazel itu. Bella mengurai senyum lalu mengusap pipi suaminya. Semua itu dia lakukan agar suaminya tidak menyakitinya di depan umum seperti ini. Dia tahu lelaki itu pasti tengah meradang saat tahu Alex di sana. Sentuhan lembut di pipinya, membuat Reynold sedikit bernapas lega. Ingin rasanya dia pergi meninggalkan tempat konser itu, hanya saja dia harus menyelesaikan satu pertunjukkan itu sampai selesai. Terlalu lama bagi seorang lelaki yang sudah terbakar cemburu. “Kenapa dia yang harus menjadi pianisnya. Awas saja, aku akan menghabisimu!” batin Reynold yang terus menggerutu. Satu hal yang Bella khawatirkan, Reynold terus cemburu. Perempuan itu kemudian menyandarkan kepala di d**a suaminya. Dia alihkan tangan Reynold yang mencengkram jemarinya dengan erat hingga berpindah ke bahunya saja. “Ada apa dengan perempuan ini? Kenapa dia malah bertindak seperti ini? Apa dia sudah mulai menyukaiku?” gumam Reynold. Pikirannya berkecamuk, tidak bisa fokus. Bella terus menggenggam jemari Reynold, bukan karena dia mencintai lelaki itu. Hanya untuk membuat suasana hati lelaki itu tetap cerah. Setelah dua jam setengah menikmati kecemburuan, akhirnya konser itu selesai. Riuh penonton memberikan tepuk tangan atas pertunjukkan yang menghibur bagi Sebagian penonton, tidak bagi Reynold dan Bella. Setelah penonton mulai membubarkan diri, Reynold masih berdiam di area konser. Lelaki itu menunggu sampai semua orang sudah pulang. “Ayo pulang,” ajak Bella. “Tunggu!” tahan Reynold sambil mencengkram pergelangan tangan Bella. “Ada apa?” tanya Bella sambil melihat paras suaminya. Reynold mendelik. Alisnya menukik tajam dengan skelera yang memerah. “Enak ya, menikmati konser mantan kekasihmu!” sindir Reynold sambil tersenyum remeh. Bella tidak mau menjawab pertanyaan yang tidak usah dijawab. Dia senang. Kalau boleh ingin sekali dia berlari memeluk Alex tetapi tidak bisa. Mereka sudah tidak berhubungan lagi. “Yang ajak aku ke sini ‘kan kamu,” balas Bella. Reynold tidak suka Bella berani membalas perkataannya itu. Dia cengkram rahang Bella, mengangkatnya sedikit. “Jangan besar kepala kamu! Ingat, aku adalah suamimu.” “Iya, aku kan istrimu, jadi tidak usah cemburu. Kamu sudah memilikiku, apalagi yang kurang?” tutur Bella sambil berusaha memeluk suaminya. Satu hal yang dia tahu, ketika orang sedang marah, satu pelukan bisa meredakan sebuah emosi yang bisa saja meledak. Reynold heran, Bella memeluknya, bermanja kepadanya. Emosi yang sudah tertahan sejak tadi, mereda begitu saja. Setiap orang ada cara tersendiri dalam menyelesaikan masalah. Suasana area konser semakin hening. Mereka memutuskan untuk kembali ke hotel. Sayangnya saat itu mobil yang akan menjemput Reynold belum juga datang. “Brian pergi ke mana? Dia tidak profesional!” gerutu Reynold sambil menunggu di depan pintu masuk gedung konser. “Memangnya sudah diberitahu akan pulang jam segini? Coba saja hubungi dia,” anjur Bella sambil menggandeng tangan suaminya. Lelaki itu mengambil ponsel dari saku jas yang dia pakai. Lelaki itu memainkan ponsel di jalanan yang sepi. Tentu saja mengundang beberapa orang jahat untuk merampasnya. Ada segerombolan orang yang terlihat seperti penguasa jalanan melihat Reynold dan Bella tengah berdiri berdua saja. Mereka melihat ada mangsa yang cocok untuk mereka rampas harta bendanya. Apalagi melihat Bella yang cantik, mereka seperti mendapatkan untung dua kali lipat. Lima orang datang merampas telepon genggam Reynold, mereka mengalihkan perhatian lelaki itu untuk menculik Bella. Reynold yang mudah terpancing begitu kesal saat ponselnya direbut. “Tolong!” teriak Bella sambil meronta. Reynold tidak mau kehilangan keduanya. Ponsel juga berharga di saat seperti ini. Lelaki itu akan sangat kesulitan menghubungi rekan bisnisnya. “Jangan berisik!” maki salah satu gerombolan itu sambil menampar Bella. Reynold tidak terima. Lelaki itu bahkan sempat terkena pukulan salah satu dari gerombolan itu. “Hentikan!” teriak Reynold sambil melepaskan jasnya. “Hahaha, kalian bisa apa? Kita banyak, kalian hanya sedikit saja,” ucap pemimpin gerombolan itu sambil tertawa puas. Reynold menarik sedikit garis bibirnya. Lelaki itu membalas satu per satu gerombolan itu. Apalagi orang yang telah berani menampar istrinya. Bella sangat takut. Dia berlari, berlindung dalam punggung suaminya. Keahlian Reynold dalam bertinju membuat dia tidak kesulitan melumpuhkan orang itu. Beberapa orang sudah mulai tumbang. Lelaki itu mengambil ponselnya yang ada di tangan salah satu gerombolan tersebut. “Kamu enggak apa-apa?” tanya Reynold sambil membalik tubuhnya. Dia melihat wajah Bella yang baru saja terkena tamparan keras dari gerombolan tersebut. “Iya, aku enggak apa-apa,” ucap Bella. Di saat Reynold lengah karena mengkhawatirkan Bella, salah satu dari gerombolan itu tidak terima lalu membuat serangan balasan. Satu tusukan benda tajam mengenai perut Reynold. Lelaki itu membalikkan tubuhnya. Dia melihat orang yang telah berani menikamnya. “Dasar tidak berguna!” Reynold langsung membalas orang itu dengan memberikannya satu upper cut hingga lelaki itu K.O dan tumbang tidak sadarkan diri. “Suamiku!” teriak Bella sambil meraih tubuh Reynold yang masih tegak berdiri. Dia melihat ada tetesan darah dari tubuhnya. Reynold bukan lelaki yang lemah. Meskipun ada luka tusuk di perutnya dia masih bisa berdiri sambil menahan nyeri. “Cepat hubungi Brian!” perintah Reynold sambil memberikan ponselnya kepada Bella. Perempuan itu dengan tangan gemetar menghubungi Brian. Nada sambung terasa sangat lama, padahal baru dua kali berbunyi. Setelah menunggu beberapa saat, Brian akhirnya menjawab panggilan teleponnya. “Iya, Bos,” “Cepat ke sini,” Reynold segera merebut ponsel itu dari tangan Bella. Dia mengambil alih pembicaraan tersebut. “Jangan buang waktu tiga menit harus sudah sampai mengerti!” Lelaki itu menutup panggilan teleponnya. Dia terus berusaha bertahan, dan merangkul istrinya. Dia tidak bisa menahan lebih lama karena takut ada serangan lebih lagi. Di saat seperti ini, ada sebuah mobil melintas. Pintu mobil terbuka, Reynold melihat pengemudinya, membuatnya langsung terbelalak.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD