Langit Milan sejak tadi masih baik-baik saja. Namun, setelah Julie melakukan koneksi dengan memanggil Bella. Petir mulai membelah bumi. Langit gelap itu tiba-tiba mengeluarkan cahaya dalam sekejap.
“Astaga, ada apa ini?” tanya Reynold sambil membuka dasinya.
Lelaki itu melihat ke arah luar jendela. Dia menatap langit yang terus bergemuruh. Padahal saat dia pulang langit masih cerah. Julie merasa tubuhnya teramat lelah. Dia tidak bisa menjaga tubuh Bella.
“Bella, cepat ke sini!” batin Julie sambil membuka pintu koneksinya.
Arwah Bella masih belum menampakkan diri. Sedangkan beberapa penghuni tak kasat mata sudah mulai mencium aroma tubuh seorang manusia yang meninggalkan raganya.
Lampu mulai redup lalu menyala. Angin berembus semakin kencang. Bella merasakan sebuah tarikan entah dari mana. Arwah Bella baru menyadari jika dia berada jauh dari raganya.
Bella melihat sebuah dimensi yang semakin berbeda dari dunia nyata. Pandangannya berubah menjadi senja. Semua pandangannya terlihat oranye. Suasana tiba-tiba riuh oleh banyak orang berlalu lalang. Semua penuh sesak. Hanya saja orang yang Bella lihat wajahnya itu terlihat sangat berbeda dengan manusia pada umumnya.
“Kenapa dengan orang-orang ini?” batin Bella sambil terus berjalan menelusuri Lorong menuju lift.
Wajah yang melintas semakin terlihat menyeramkan. Bella merasa tidak nyaman. Beberapa wajah dari berbagai macam suku bangsa ada di sana.
Julie merasa koneksinya dengan Bella melemah. Tenaga intinya terkuras habis melakukan koneksi seperti ini. Angin berembus semakin kencang,
“Bella, cepatlah datang!” panggil Julie. Dia melihat banyak arwah penasaran yang menatap ke arahnya.
“Bisa-bisanya kamu menguasai tubuh manusia?” tanya salah seorang arwah penasaran.
“Jangan ikut campur urusanku!” balas Julie.
Lampu tiba-tiba saja mati. Reynold panik. Dia segera mengambil ponsel yang ada di atas nakas. Angin berembus sangat kencang. Padahal jika kondisi ruangan berAC tidak mungkin ada angin. Apalagi AC hanya bisa menyala jika ada listrik yang mengalir.
“Bella, kamu baik-baik saja?” tanya Reynold sambil menyalakan senter di ponselnya.
Tiba-tiba saja ada bau aroma asap menyengat, ada bau busuk, tiba-tiba saja ada wangi bunga yang teramat wangi. Bulu kuduk Reynold berdiri. Dia merasakan ada hal yang aneh. Rasa panik mulai tumbuh di hatinya.
Bella tidak menjawab pangilan Reynold. Lelaki itu tidak percaya dengan yang terjadi. Dia berada di tempat yang berbeda.
Julie terus melakukan koneksi. Dia bertahan untuk membuat tubuh Bella tidak dirasuki oleh hal lain. Nenek itu kesulitan memanggil arwah Bella.
Reynold terkejut saat melihat Bella yang terdiam mematung sambil menatap pintu. Julie tidak bisa menggerakkan tubuhnya.
“Bella, bangun, Bella,” panggil Reynold sambil mengguncang tubuhnya.
Arwah Bella mendengar jelas panggilan seseorang menuntunnya menuju sebuah jalan yang terlihat terang. Perempuan itu terus berjalan, bahkan sampai berlari menuju asal suara itu. Bella berhenti tepat di depan Lorong yang penuh sesak dengan orang.
Bella melihat kanan dan kiri, tidak ada celah yang tersisa untuknya lewat. “Bagaimana cara aku ke sana?” batin Bella.
Sampai di depan, tiba-tiba ada yang menarik tangannya menjauh dari jarak Lorong terang itu. Bella panik.
“Nenek, tolong!” panggil Bella.
Reynold mendengar sebuah suara samar. Suara Bella yang merintih meminta tolong. Sontak Reynold memandangi wajah Bella yang terlihat kosong.
“Bella, bangun!” Reynold kembali mengguncang tubuhnya.
Suara Reynold terdengar tulus. Arwah Bella seperti dibantu menarik menuju Lorong terang. Orang yang memenuhi ruangan itu tiba-tiba saja menghilang. Bella dengan mudah melihat tubuhnya yang sedang duduk dan Reynold tengah mengguncang tubuhnya.
“Reynold, ternyata kamu.” Arwah Bella tidak bisa menolak tarikan yang membuat Bella malah kembali masuk ke tubuhnya.
Bella merasakan tubuhnya merinding. Dia menarik napas panjang sekali lalu diembuskan. Netranya menatap Reynold nanar.
“Aku kenapa?” tanya Bella dengan gemetar.
Reynold langsung merengkuh tubuh Bella. “Kenapa kamu tiba-tiba saja mematung dan tidak menjawab panggilanku?”
“Aku juga tidak tahu. Aku takut,” ucap Bella sambil merengkuh tubuh Reynold.
Lampu kembali menyala. Bella tidak melihat ada sosok Julie yang biasanya nampak dalam penglihatannya.
“Katanya hotel mewah, kenapa listrik mati?” gerutu Reynold sambil melepaskan pelukan tubuhnya.
Bella menatap Reynold yang terus mengkhawatirkannya. “Terima kasih, ya,” ucapnya sambil meraih jemari suaminya.
“Terima kasih kenapa?” tanya Reynold dengan alis yang menukik.
“Karena suaramu itu membuatku bisa kembali,” terang Bella.
Reynold bersikap dingin. Dia menurunkan lututnya di depan Bella. “Tolong ganti pakaianku!”
Bella membuka satu per satu kancing kemeja Reynold. Jantungnya berdebar sangat kencang saat menatap mata hazel itu.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apa kamu mulai menyukaiku?” tanya Reynold.
“Tentu saja aku suka,” jawab Bella. Dia tidak mau membuat suaminya kecewa.
Reynold tersenyum lebar. Lelaki itu memegang wajah Bella kemudian mengecup keningnya dengan lembut.
“Aku harus mandi. Apa kamu mau mandi bersama?” tanya Reynold.
Bella tidak bisa menolak. Dia mengangguk malu-malu, tetapi meraih jemari Reynold yang terulur di depan wajahnya.
Mereka masuk ke kamar mandi. Reynold memperlakukan Bella sangat baik. Perempuan itu tersanjung, Reynold memberikan sentuhan lembut yang membuatnya melayang.
Selepas mandi. Bella tidak bisa berjalan dengan benar. Kakinya terasa sakit dan perih. Reynold tahu jika kaki Bella terluka. Dia menggendong Bella menuju kamarnya. Lelaki itu mengambilkan pakaian untuk Bella, memakaikannya seperti boneka barbie.
“Aku bisa melakukannya,” ucap Bella.
“Kamu pakaiakan aku saja.” Reynold selesai memakaikan baju untuk Bella. Lelaki itu melihat ada kotak P3K yang ada di dalam nakas.
Lelaki itu kembali menghampiri istrinya. Dia mengoleskan obat luka untuk kaki Bella. Dia tutupi dengan plester untuk menutupi lukanya.
“Bella, sebaiknya kamu beristirahat. Tidur yang nyenyak,” pungkas Reynold sambil mencium kening Bella.
Untuk sejenak Bella lupa jika Reynold pernah melakukan hal yang buruk kepadanya. Lelaki yang hampir menghilangkan nyawanya tiba-tiba berubah dengan baik. Bella tidak mau banyak bicara. Sikap Reynold saat ini membuat perempuan itu bisa berisitrahat dengan nyaman.
Keesokan harinya
Pagi sekali Reynold sudah bangun. Ketika tangannya menggeliat, dia melihat Bella tengah berdiri di dekat jendela. Perempuan itu memegang secangkir minuman sambil menatap pemandangan Milan di pagi hari.
“Pagi,” sapa Reynold sambil mencium pipi Bella dengan lembut. Satu tangannya bertengger di pinggang Bella. Netranya penasaran dengan pemandangan apa yang dilihat oleh istrinya itu.
“Pagi, apa tidurmu nyenyak?” sapa Bella balik.
“Hari ini ada pertunjukkan orchestra. Kamu harus bersiap-siap!” bisiknya sambil pergi menuju meja makan.
Bella masih belum melihat arwah Julie ada di sekitarnya. Dia mencari keberadaannya tetapi tidak bisa.
Sementara itu Arwah Julie terluka cukup parah. Koneksi terakhir dengan Bella membuat kondisinya memburuk. Ada sebuah perlindungan yang terjadi dalam tubuh Bella. Julie harus kembali membuat tenaganya terkumpul.
Acara pertunjukkan orchestra itu memang terjadi pada malam hari. Sepanjang hari Reynold mengajaknya pergi ke sebuah perkumpulan para pengusaha untuk memamerkan karyanya. Bella tidak paham dengan hal itu semua.
Malam hari pun tiba, Bella dan Reynold sama-sama memasuki ruangan pertunjukkan. Dua lembar tiket VVIP dalam genggaman lelaki itu. Keduanya duduk di tempat yang terlihat jelas panggungnya.
Lampu mulai padam. Satu per satu pemain orchestra itu memasuki area panggung. Bella dan Reynold bertepuk tangan seperti seharusnya. Salah satu komposernya mengambil mikropon kemudian dia mengumumkan.
“Perhatian semuanya, terima kasih sudah datang ke pertunjukkan kami. Malam hari ini kami akan mengenalkan pianis baru kita. Mari kita sambut, Alex Quartararo!”