Mengejar Cita-Cita

1119 Words
Reynold sengaja merangkai kata yang membuat Julie penasaran. Jangan hanya Julie yang terus membuatnya penasaran. “Ah aku tidak akan memberitahukanmu,” ujar Reynold menarik garis bibirnya sedikit. “Wah, jadi tidak menarik lagi,” tutur Julie sambil cemberut menatap Reynold. Lelaki itu kemudian pergi menuju sebuah hotel mewah yang ada di Milan. Mobil berhenti tepat di depan pintu masuk. Reynold ke luar dari mobil lebih dulu dari Julie. Lelaki itu menunggu bellboy membuka pintu lalu dia menggendong istrinya seperti pengantin baru. Terang saja Julie besar kepala. Hanya dengan melakukan seperti ini bisa membuat Reynold memperlakukannya dengan romantis seperti ini. Arwah Bella seikit lebih lega karena tubuhnya tidak mengalami penyiksaan kembali. Reynold memanggil asistennya, Brian untuk melakukan reservasi di hotel tersebut. “Brian, tolong lakukan reservasi cepat! Kamarnya harus paling mewah dan paling nyaman!” perintah Reynold sambil berjalan perlahan. “Memangnya kamu tidak keberatan menggendong tubuhku seperti ini?” tanya Julie berpura-pura khawatir. Padahal dalam hatinya dia senang telah mengerjai Reynold. “Kamu istriku, sudah seharusnya aku melakukan ini. Tidak mungkin kubiarkan Brian melakukan hal ini!” tegasnya dengan tatapan lurus. Arwah Bella mengikuti Julie dari belakang. Perempuan yang murung itu terus saja takut jika Reynold akan melakukan hal yang buruk terhadap tubuhnya. “Nek kumohon, kamu jangan pancing kemarahan suamiku!” tutur Bella berusaha melakukan kontak batin. Lampu di sekitar hotel mulai meredup. Sebagian orang menengadah melihat keanehan yang terjadi. Pasalnya di tempat mereka tidak pernah mengalami turun tegangan listrik alias spaneng. Julie kesal, Bella terus membatasi kegiatannya. “Sudahlah Bella, kamu harus tenang dan menyelesaikan semua masalah ini kepada nenek, ya,” balasnya dalam bahasa batin. “Baiklah,” pungkas Bella. Entah mengapa sikap Julie dirasa berbeda saat pertama kali mereka melakukan perjanjian. Bella berusaha untuk bersikap positif. Setelah Brian selesai melakukan reservasi, Reynold dan Julie meneruskan langkahnya menuju lift. Bella merasa sepi. Dia terjebak dalam dimensi yang tidak bisa membawanya ke alam selanjutnya. Netranya melihat ke sekeliling lobi hotel. Tidak ada ruh lain berkeliaran di tempat Bella berada. Di saat Julie dan Reynold sedang naik lift menuju kamar hotel yang dipesan, Arwah Bella melihat ada sosok Alex sedang membaca majalah yang ada di atas meja lobi hotel. Bella menghampiri Alex, berharap lelaki itu menyadari kehadirannya. “Alex,” panggil Bella lirih. Perbedaan dimensi yang terjadi membuat sedikit percikan di dunia nyata. Alex merasakan bulu kuduknya mulai berdiri. Lelaki itu merasakan ada embusan angin yang menyeruak ke seluruh tubuhnya. “Alex, apa kamu sakit?” tanya Bella. Alex mendengar samar-samar suara yang terdengar lirih memanggil namanya. “Suara siapa ya?” gumam Alex. Alex menoleh ke kanan dan kiri, tidak ditemukan siapapun orang yang dikenalinya. Bella berusaha menggapai Alex. Dia mengangkat tangannya, mengusap bahu Alex dengan lembut. Alex merasa seperti ada yang menyentuh bahunya. Bulu kuduknya merinding kembali, kali ini terasa sangat berat. “Alex, aku rindu kamu,” lirih Bella sambil berurai air mata. Meskipun dia sudah menikah, hatinya tetaplah tertuju pada sosok Alex. Alex kembali mendengar sayup suara itu. Suaranya terdengar sangat jauh dan lirih. Namun, lagi-lagi dia tidak menemukan apapun. Alex pergi menghampiri resepsionis yang ada di lobi dekat pintu masuk. “Permisi apakah Tuan Elmer yang tinggal di kamar VIP nomor Tujuh sudah kembali ke hotel? Saya sudah menunggu satu jam. Jika memang sudah ada tolong bilang Alex sudah menunggu di lobi,” pesan Alex dalam Bahasa asing. “Maaf, sebentar ya.” Resepsionis itu menghubungi kamar tempat Elmer menginap. Setelah menghubungi Tuan Elmer, resepsionis itu tersenyum. “Tuan Elmer sudah ada di ruangannya. Anda diperbolehkan untuk pergi menemuinya sekarang.” “Terima kasih,” ucap Alex. Lelaki itu berjalan menaiki lift tempat orang itu berada. Bella masih mengikutinya dari belakang. Dia masih penasaran untuk apa Alex berada di negara ini. Sesampainya di lantai yang diinginkan, Alex berjalan menuju kamar VIP nomor tujuh. Setelah mengetuk pintu beberapa kali. Ada orang membuka pintu tersebut. “Hai Alex akhirnya saya bertemu denganmu,” sambut orang itu sambil meraih tubuh Alex. “Iya, saya memutuskan untuk pergi meraih cita-cita saya. Semoga Anda tidak mengurungkan niat Anda untuk merekrut saya,” ucap Alex. Bella teringat jika saat itu Alex sempat menunda keberangkatannya ke Milan dikarenakan Bella masuk ke rumah sakit setelah dipukuli oleh ayahnya. Bella merasa berdosa telah membuat cita-cita Alex tertunda karenanya. Setidaknya dengan kedatangan Alex kali ini peluangnya menjadi pianis terkenal akan terwujud. Alex berbincang dengan Elmer yang tidak pernah menyerah mengajak orang berbakat masuk dalam manajemennya. “Akhirnya kamu datang, apakah kamu sudah siap untuk bersinar Alex?” tanya Elmer sambil duduk dengan tenang. Senyumnya sumringah membuat Alex merasa nyaman. “Iya, kali ini saya siap untuk bersinar di bawah kepemimpinan Anda,” jelas Alex. Elmer kemudian mengambil sebuah berkas yang ada di dalam tasnya. Sebuah berkas kontrak kerjasama dengan Alex yang sudah dipersiapkan sejak lama. “Kalau begitu kita bisa menandatanganinya sekarang?” tanya Elmer. Alex mengangguk. Dia kemudian membaca isi dalam kontrak tersebut. Butuh waktu agak lama untuk mencerna setiap klausul dalam perjanjian tersebut. Elmer memberikan dia sebuah pulpen tinta yang selalu dia bawa untuk menandatangani berkas penting. Dalam sekejap, berkas tersebut sudah sah ditandatangani Alex. Lelaki itu menggantungkan harapan besar. Dia ingin membawa namanya melambung tinggi hanya demi membuat Bella terbebas dari Reynold si pengusaha kaya yang berkuasa di negaranya. “Terima kasih Alex, mulai hari ini Anda resmi menjadi salah satu pianis andalan manajemen saya. Mulai besok Anda bisa melakukan Latihan karena besok malam ada pertunjukkan besar. Pianis yang biasa memandu acara sedang sakit. Apa kamu siap?” tanya Elmer. “Apa … besok?” tanya Alex dengan mata terbelalak. “Iya, besok. Hari ini sudah terlalu larut. Saya harap kamu memang bisa mengiringi orchestra. Kita bisa melakukan Latihan full sampai malam jika kamu meragu. Akan tetapi, saya butuh orang yang professional dan berbakat. Jadi saya tanya sekali lagi, Apa kamu siap?” Elmer mengulurkan tangan kepada Alex. Alex mengangguk dia menjawab uluran tangan Elmer dan berjabat tangan dengan bosnya itu. “Terima kasih sudah percaya dengan saya. Saya tunggu Anda di area konser besok jam tujuh pagi.” Alex mengangguk. Dia pergi dari kamar Elmer. Lelaki itu mengulum senyum bahagia karena akan menyongsong harinya yang baru. Debut pertama di kancah internasional. Meskipun manajemen Elmer tidak sebesar manajemen yang lain, tetapi ini sebagai batu loncatan Alex. Arwah Bella terharu melihat semangat Alex yang ingin meraih cita-citanya. Arwah Bella merengkuh Alex dengan erat. Rasanya hanya ini yang bisa dia lakukan sebab raganya sudah dimiliki lelaki lain. Jarak arwah Bella dengan raganya cukup jauh. Julie merasa lemas dan kehilangan separuh kekuatannya. Ini tidak baik karena dia tidak boleh berjauhan dengan pemilik resmi tubuhnya itu. “Bella, kamu ke mana?” tanya Julie saat melakukan kontak batin. Suara gemuruh langsung memenuhi ruangan tersebut. Lampu mulai meredup. Seolah melakukan koneksi antara dua dunia.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD