Pesta Dansa

1349 Words
Pancingan dari Julie malah membuat Reynold melakukan hal gila. Ruang ganti yang berukuran tidak luas pun menjadi tempat melampiaskan napsunya kepada istrinya. Bella merasa malu terhadap Julie yang terus memancing Reynold melakukan hubungan seperti itu tidak pada tempatnya. Lantai mulai basah, Julie merasakan sensasi yang luar biasa. Zaman dia masih hidup, tidak pernah seperti ini sebelumnya, Menemukan jiwa Bella yang tersesat bagai oase di padang tandus. Reynold menarik rambut istrinya dengan cukup kuat. Dia berbisik, “Sejak kapan kamu belajar menggodaku seperti ini?” “Kenapa? Suka atau tidak?” balas Julie sambil tertawa puas. Napasnya pendek, dia terus mengatur napas di sela Reynold terus menggerakkan tubuhnya dengan cepat. “Suka.” Reynold menggigit daun telinga Julie gemas. Lelaki itu menggila. “Sudah kubilang kamu akan bertekuk lutut kepadaku,” ucap Julie sambil terus mengatur napas. Ruangan yang terbatas membuat Julie dan Reynold semakin tertantang. Arwah Bella mendengar setiap desahan yang ke luar dari dinding ruang ganti. Bella menelan salivanya. Perasaannya aneh. Julie yang melakukannya, Bella merasa ada yang ngilu di sekujur tubuhnya. “Kenapa nenek terus memancing Reynold melakukan itu di sini?” gumam Bella. Dia menunggu seperti petugas keamanan. Berharap tidak ada orang yang mengunjungi tempat itu. Setelah mendapatkan apa yang dia mau, Reynold membantu Bella memilihkan pakaian yang akan dikenakannya malam ini. Sebuah gaun malam offshoulder berwarna hitam menjadi pilihan dari Reynold sendiri. Dia tidak memperbolehkan Bella mengenakan pakaian pilihannya yang terlewat seksi. Kecantikan tubuh Bella hanya boleh dinikmati olehnya saja. “Sekarang kita harus membayar semua ini. Ada beberapa tempat lagi yang harus kita datangi, Bella. Jangan kamu terus mengulur waktuku yang berharga!” tegasnya. “Baik, suamiku,” jawab Julie sambil menggandeng tangan Reynold dengan mesra. Arwah Bella yang melihat tingkah Julie yang aneh dan juga terlalu berani membuatnya malu. “Tuhan, semoga dia tidak menggunakan tubuhku dengan seenaknya. Saya tidak mau tubuhku ternoda hanya karena sebuah perbuatan buruk.” Reynold dengan gayanya mengeluarkan sebuah kartu kredit berwarna hitam. Tentu saja Julie yang hidup di zaman dulu, tidak tahu kegunaannya untuk apa. “Itu apa?” tanya Julie sambil berbisik kepada suaminya. “Kartu kredit. Memangnya kamu tidak tahu?” tanya Reynold dengan ketusnya. Julie menggeleng. Jelas dia tidak tahu karena dia hidup di zaman ratusan tahun lalu. “Tidak apa ‘kan aku tidak tahu. Kamu harus mengajariku menggunakan hartamu itu,” goda Julie sambil menggigit daun telinga suaminya lembut. Pegawai toko tersebut berusaha tenang saat melihat Julie terus menggoda suaminya di depan umun seperti ini. Reynold pun tidak terlihat keberatan dengan sikap Julie karena ini bukan di tempat di mana ada koleganya berada. Bella tidak terima Julie menggunakan tubuhnya dengan serampangan seperti itu. Bella mencoba melakukan kontak batin dengan Julie. “Nek, kenapa kamu melakukan hal memalukan seperti itu di depan umum?” tanya Bella. “Katamu, Nenek boleh menggunakan tubuhmu karena kamu juga sudah enggan hidup. Nenek hanya mencoba apa yang menurut nenek menyenangkan. Kamu juga harus mencobanya,” jawab Julie membalas kontak batinnya. “Tolonglah Nek, jaga sikapmu,” pinta Bella. “Iya cucuku sayang. Kamu tidak akan pernah menyesal karena aku telah berbuat ini kepadamu,” Julie kembali ke alam dunia. Sekarang waktu sudah hampir petang. Reynold sudah bersiap dengan tuxedo hitam dengan dasi kupu-kupu. Julie pun bersiap dengan menggunakan dress pilihan suaminya. Sebuah acara makan malam mewah yang diselenggarakan oleh seorang pemilik perusahaan terkenal. Reynold berbincang dalam Bahasa asing. Julie tidak mengerti apa yang mereka bicarakan sehingga dia memilih diam dan menikmati suasana makan malam yang terasa membosankan. Tidak lama pemain musik yang ada di area ballroom itu memainkan lagu dansa. Semua orang yang berpasangan pergi ke area dansa. Semua bergembira. Julie tidak ingin kalah. Dia harus menikmati acara tersebut. “Aku ingin berdansa, suamiku!” ajak Julie bersemangat. “Memangnya kamu pernah berdansa?” tanya Reynold dengan wajah dingin. Lelaki itu tidak ingin malu. “Ayolah,” rengek Julie sambil menarik lengan jas Reynold. “Kamu yang harus mengajarkanku,” bujuknya dengan gaya sok manja. Lelaki itu akhirnya mengalah. Dia kemudian berdiri, membungkukkan sedikit tubuh lalu mengulurkan tangannya ke hadapan istrinya. “Maukah kamu berdansa denganku?” tawar Reynold sambil tersenyum. “Tentu saja.” Julie membalas uluran tangan suaminya. Mereka pergi ke lantai dansa, melakukan Gerakan dansa yang masih bisa dengan mudah diikuti untuk pemula seperti Julie. Kebetulan sekali, Julie dulu hidup di tempat yang mengenal dansa. Perempuan itu setidaknya sering melihat orang berdansa seperti apa. Satu ketukan irama terjalin membuat sebuah melodi yang menyenangkan hati. Julie senang bukan kepalang, saat ini dia menjadi pusat perhatian semua orang tamu yang hadir. Salah satu orang yang membuat acara tersebut, tertarik pada sosok Julie yang menjelma menjadi Bella. Dia menghampiri Reynold untuk sekadar berdansa dengan mereka. “Maukah Anda berdansa dengan saya?” tawar salah satu kolega itu. Reynold mengerutkan keningnya. Jika dia menolak, akan berakibat buruk dengan performa perusahaannya. Akan tetapi, dia tidak rela melihat istrinya berdansa dengan lelaki lain. “Ikutlah,” ucap Reynold mengizinkan istrinya untuk menerima tawaran tersebut. Tentu saja Julie mau, aslakan itu pria tampan. Sayangnya lelaki yang mengajaknya kali ini berusia lanjut. Sontak saja wajah Julie berubah masam. Dia enggan tetapi sebagai etikanya harus meneruskan dansanya sampai lagu habis. “Sialnya aku! Kenapa tidak menolak saja?” Umpat Julie dalam hatinya. Irama dansa berubah menajdi ceria dan cepat. Tentu saja Julie kesulitan mengikuti irama yang tidak pernah dia dengar sebelumnya. “Maafkan saya, Tuan. Saya hanya bisa menari dengan lagu berirama pelan dan syahdu. Kalau temponya cepat seperti ini, saya bisa menginjak kaki Tuan berulang kali,” tolak Julie dengan halus. Setidaknya Julie masih bisa merangkai kata yang baik ketika berhadapan dengan orang lain. Tamu itu memang sedikit berbeda. Dengan sengaja dia menyentuh bagian belakang tubuh Julie. Terlihat seringai licik dari paras lelaki berumur itu. Reynold tidak bisa membiarkan Bella berdansa dan diperlakukan tidak baik seperti itu. Meskipun orang yang mengajaknya berdansa adalah pemilik acara, tetapi tidak dengan melakukan perbuatan merendahkan harga diri seperti itu. Lelaki itu menjemput istrinya yang masih berada di lantai dansa. “Tuan Kapoor, maafkan saya yang harus membawa istri saya pulang karena dia masih jetlag setelah perjalanan panjang kami lewat pesawat,” pinta Reynold dengan halus. “Oh begitu, iya tadi dia juga mengeluh tidak bisa mengikuti irama musiknya.” Kapoor sedikit kecewa, dia masih ingin menyentuh pinggang ramping Julie. “Iya, apalagi dia tidak begitu hapal dengan irama musik seperti ini.” Reynold merangkul istrinya. Seolah memberitahukan wilayah teritorialnya kepada Tuan Kapoor. Julie merasakan kakinya sakit karena sepatunya yang kurang nyaman dikenakan. Mereka kembali ke tempat duduknya dengan berjalan sedikit tertatih. “Kakimu kenapa?” tanya Reynold sambil melihat sekelilingnya. “Entahlah, terasa perih sih,” tutur Julie. “Berikan kakimu!” perintah Reynold. Julie mengangkat kedua kakinya diletakkan pada kedua kaki Reynold. Lelaki itu membuka sepatu istrinya. Sebuah kuka lecet di tumit dan juga jari kelingking perempuan itu. “Sepatu tidak berguna, harga mahal tidak menjamin pemakainya!” gerutu Reynold sambil menaruh sepatu itu di lantai. “Aku kan berdansa, pasti karena itu,” ujar Julie. Reynold mengajak istrinya untuk pulang lebih awal dari pesta tersebut. “Sudah cukup. Kita harus segera pulang,” ucap lelaki itu sambil beranjak dari tempat duduknya. Dia hampiri istrinya sambil menurunkan lutut.. “Kamu mau apa?” tanya Julie tidak mengerti. Reynold mengambil sepatu Bella, menjinjingnya lalu menggendong istrinya pergi meninggalkan area pesta. Smeua mata tertuju pada sosok lelaki bertubuh kekar itu. Bahkan ada beberapa pasang mata menatap iri melihat Reynold begitu perhatian kepada istrinya. Arwah Bella melihat dengan jelas saat melihat sisi lain dari suaminya. “Kenapa Tuhan, saat melihat Reynold itu bukanlah orang yang memperlakukan pasangannya dengan kasar. Tapi kenapa dia selalu membuat nyawaku terancam?” batin Bella sambil melihat Julie bermanja pada Reynold. Di dalam perjalanan pulang, Reynold mulai mencecar Julie dengan banyak pertanyaan. “Apa kamu suka makan malam tadi?” tanyanya dingin. Julie mengangguk. Dia suka dan sangat gembira bisa bersenang-senang seperti itu. “Suka, Hal yang paling aku suka adalah saat kamu menggendongku di area pesta. Romantis sekali.” “Kamu belum tahu saja,” balas Reynold sambil menatap lurus jalanan. “Belum tahu apa?” desak Julie penasaran dengan mata yang berbinar.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD