Terobsesi Menjadi Bella Yang Baru

1125 Words
“Selamat datang di GLAD, Tuan Reynold,” sapa Pemilik GLAD dengan ramah. “Terima kasih, senang sekali saya bisa datang ke sini,” jawab Reynold sambil berjabat tangan. Pemilik GLAD itu tersenyum dengan mata yang terlihat merayu. Sosok Bella terlihat sangat cocok menjadi salah satu mainan barunya. “Tuan Reynold, Anda datang bersama siapa?” tanyanya. Reynold merangkul Bella, mengusap bahunya dengan lembut. “Perkenalkan dia Bella, istri saya.” “Bella, nama secantik wajahnya. Bukankah beberapa bulan lalu kamu masih lajang?” tanya Pemilik itu semakin penasaran. Reynold tertawa. “Iya, saya baru menikah hampir dua bulan yang lalu.” “Baiklah, Tuan Reynold sebaiknya kita mulai membahasnya di dalam ruangan saya saja,” ucap Pemilik itu sambil mempersilakan masuk. Julie melihat sekeliling. Meski kakinya masih sedikit sakit, dia masih penasaran. Diam-diam Julie melihat gerak gerik Pemilik GLAD yang terus memandanginya di sela percakapannya bersama Reynold. Tentu saja, Julie tidak akan membuang kesempatan bagus untuk membuat Reynold semakin cemburu kepadanya. Julie mengangkat satu kakinya lalu bertumpu di kaki lainnya. Tentu saja hal ini memberikan tontonan menyegarkan untuk mata Pemilik GLAD yang haus akan wanita cantik. Kaki putih halus tanpa bekas luka dia tampilkan. Tentu saja semua tidak tahu jika Bella memiliki banyak luka yang sudah tersamarkan oleh waktu. Lelaki itu menelan salivanya. Belahan rok yang digunakan Julie sangat pendek. Rasanya dia tidak tahan ingin mecicipi perempuan itu. Reynold melihat istrinya duduk dengan posisi menantang seperti itu. Tentu saja sebagai suami, dia tidak akan membiarkan tubuh istrinya bisa dilihat dengan begitu mudah oleh orang lain. Dia melepaskan jas lalu menutupi kaki Bella dengan jasnya. “Tutupi tubuhmu. Jangan pernah kamu pikir akan memamerkan kakimu ke depan lelaki lain!” bisik Reynold. Ekspresi Pemilik GLAD itu terlihat kecewa. Dia memalingkan wajahnya sedikit sambil menghela napas. Tidak ingin dicurigai, dia kembali tersenyum kepada Reynold dan meneruskan pembicaraannya. Namun,tetap retinanya sesekali mencuri pandang ke arah Julie. Arwah Bella kesal, Julie terus menggunakan tubuhnya untuk hal yang kurang pantas menurutnya. Bella mencoba melakukan koneksi dengan nenek itu. “Nek, Nenek, kenapa pakai tubuhku dengan serampangan seperti itu?” Julie tidak ingin membuat Bella curiga. Dengan terpaksa dia menjawab, “Bella, coba kamu berada di posisi aku yang kakinya sedang sakit. Nenek tahu dan bisa menjaga diri. Kamu tenang dan lihat saja.” Bella tidak bisa membalas perkataan Julie karena nenek itu memutus kontak batinnya. Berulang kali Bella terus memanggil, tetapi Julie tidak membalasnya. Arwah Bella merasa sedih. Tidak disangka dia malah duduk di samping Reynold. Arwah Bella bersandar kepada suaminya yang tengah sibuk melobi harga dengan Pemilik GLAD itu. “Kenapa seperti ada yang bersandar di bahuku?” batin Reynold. Lelaki itu merasa aneh saat melihat ke samping dan tidak menemukan apapun. Namun, rasanya seperti ada yang bersandar. Julie melihat Bella tengah bersandar kepada suaminya dan itu tidak boleh terjadi. Julie mencari cara agar Reynold tidak semakin terkoneksi dengan Bella. “Suamiku apa kamu sudah selesai?” bisik Julie. “Tunggu!” jawab Reynold dengan dingin. Reynold mendapatkan kontrak kerja sama dengan GLAD, pemesanan bahan dalam jumlah banyak membuat Reynold sangat gembira. Dia telah berhasil melakukan kerja sama dengan dua perusahaan besar dalam sehari. “Senang berbisnis dengan Anda, Tuan,” ucap Reynold sambil berjabat tangan. “Saya juga.” Pemilik GLAD itu teringat sesuatu. Dia kemudian memanggil anak buahnya lalu membisikkan sesuatu. Tidak lama kemudian asisten itu datang dengan membawa sebuah kotak lalu memberikannya kepada Pemilik GLAD itu. “Tuan Reynold, ini ada sebuah tanda terima kasih sudah mau bekerja sama dengan kami. Ada satu produk rahasia yang belum dikeluarkan oleh merek kami. Ini special kami berikan untuk istri Tuan, mohon terimalah.” Reynold mengangkat kedua alisnya. Cukup terkejut karena koleksi terbaru yang belum diedarkan membuat dirinya tersanjung. “Terima kasih, Tuan,” ucapnya sambil menerima box itu. “Terima kasih, Tuan,” ucap Julie dengan kerlipan matanya. Pemilik itu langsung tersenyum sumringah. Julie memberikan sebuah kode kepadanya. Tentu saja dia tidak akan membuang kesempatan dengan mudah. “Sama-sama jangan dipikirkan. Sebagai tamu istimewa kami, saya akan mengundang Tuan Reynold beserta istri menghadiri jamuan makan malam dalam acara peluncuran koleksi terbaru untuk musim dingin. Apakah Anda bersedia?” tawar Pemilik GLAD. “Tentu saja kami dengan senang hati kami akan menerimanya. Kapan waktunya?” tanya Reynold. “Besok jam tujuh malam di Hotel La Roche. Ini undangannya,” ucap Pemilik tersebut sambil memberikan selembar undangan untuk Reynold dan istrinya. “Kalau begitu kami pamit, sampai jumpa lagi,” pungkas Reynold. Julie merasakan angin segar telah masuk ke raganya. Setidaknya dia tahu jika paras Bella memang menawan untuk seorang gadis pemurung. Arwah Bella merasakan sepi yang teramat. Dia merindukan sosok Alex yang selalu menemani di saat dia susah atau gundah, senang dan sakit, Semua hal selalu bersama. “Alex, aku merindukanmu,” ucap Bella sambil memeluk tubuhnya sendiri. Reynold dan Julie akhirnya pulang ke hotel tempatnya menginap. Sepanjang perjalanan menuju kamar hotel, Julie terus saja menggoda lelaki lain yang ada di sekitarnya. Reynold sendiri tidak menyadari jika istrinya melakukan hal memalukan seperti itu. Sesampainya di dalam kamar, Reynold ingin melihat pemberian dari pemilik GLAD itu. “Bella, cepat kamu buka apa yang orang tadi berikan kepadamu!” perintah Reynold. “Tidak mau. Itu kan barang untukku, bukan untukmu!” balas Julie sambil cemberut. “Dasar perempuan susah diatur!” gerutu Reynold yang telah kalah bicara. Lelaki itu membuka satu botol minuman yang bisa membuat kesadarannya berkurang. Lelaki itu bahkan meminumnya dari botol itu langsung. Cairan berwarna merah keunguan cenderung gelap itu memiliki aroma khas. Sudah lama dia tidak menikmatinya semenjak menikah dengan Bella. “Kamu itu lemah sekali! Baru sekali kubentak langsung ciut! Tapi kamu kadang-kadang pemberani. Aku sampai tidak mengenalimu!” tutur Reynold dengan kepala yang mulai terasa berkunang. Julie melepaskan perban yang ada di kakinya. Rasanya tidak enak berjalan dengan kaki yang terganjal. Perempuan itu tidak terima saat disebut lemah oleh Reynold. Tentu saja karena dia bukan Bella yang sesungguhnya. “Kata siapa aku lemah?” tanya Julie sambil melepaskan dasi suaminya. “Aku! Memangnya siapa lagi!” bentak Reynold sampai matanya melotot. “Biasa aja dong kalau ngomong!” balas Julie dengan berteriak juga. Reynold tidak pernah diteriaki seperti itu. Lelaki itu langsung menarik rambut Bella yang panjang. “Sejak kapan kamu boleh meneriakiku seperti ini?” Julie mencoba menepis tangan Reynold, tetapi kekuatannya kalah banyak. “Aku bisa menghabisi banyak orang. Aku ditakuti oleh banyak saingan bisnisku yang lemah. Tapi kamu! Perempuan bertubuh mungil dan tidak bisa bela diri, dengan sombongnya meneriakiku. Apa kamu sudah bosan hidup!” Reynold memegang rahang Bella dengan sangat kuat, begitu pun tangannya yang menarik rambutnya hingga perempuan itu menengadah. Alih-alih kesakitan dan takut saat Reynold bertindak kasar kepadanya, Julie menyeringai. Dia tertawa puas. Adrenalinnya seakan terpancing dengan tekanan yang diberikan oleh suami Bella. “Waktunya serangan balik!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD