Jangan Anggap Remeh

1186 Words
“Kenapa kamu tertawa, Bella?” Alis Reynold menukik tajam saat intimidasinya tidak berhasil membuat istrinya takut. Julie mengumpulkan sebuah tenaga yang didapat setelah bertapa. Tangannya yang lemah, dnegan cepat memiliki kekuatan yang besar. Jemarinya menarik pergelangan tangan Reynold yang menjambak rambutnya. Dalam sekejap tangan itu sudah berada dalam kendali Julie. Perempuan itu tidak berhenti sampai di situ saja. Tangan Reynold yang masih mencengkram dagunya pun tidak luput menjadi sasarannya. Hanya hitungan detik, Julie membalikkan keadaan. “Suamiku, kenapa kamu selalu mengangap remeh orang yang kamu pikir rendah dan tidak ada kekuatan? Apa kamu sudah sejago itu?” ucap Julie dengan lembut. Julie terkekeh. Dia berhasil mengunci tubuh Reynold yang kekar dan besar itu. “Memangnya kamu bisa apa? Kamu jadi bangga telah membuat tubuhku terkunci seperti ini?” balas Reynold sambil tertawa. Julie mendekatkan wajahnya ke wajah Reynold. Lelaki itu sudah terdesak dengan tubuh menyentuh sofa. Dia menggigit daun telinga lelaki itu dengan gemas hingga menetes darah. Reynold memejamkan matanya menahan nyeri. “Kamu mau membuat telingaku putus?” Dengan cepat dia membuat serangan balasan. “Hahaha, apakah rasanya menyenangkan?” tanya Julie yang sudah terpojok. Reynold menarik tangan istrinya hingga tubuh itu masuk ke pelukannya. Tangannya yang kekar langsung mencengkram tengkuk Bella dengan kuat. “Sebaiknya kamu diam atau aku akan menghabisimu dengan cepat. Arwah Bella sangat ketakutan melihat Reynold yang seperti itu. “Nek, hentikan!” pinta Bella sambil menyentuh bahu tubuhnya sendiri. Julie tidak menggubris permintaan Bella. Dia terus berusaha untuk menggoda lelaki yang tengah mendekapnya. Jemarinya yang lentik mulai mengisi sela jari Reynold. Sentuhannya lembut dan sangat perlahan. Julie menginginkan hal yang lembut sekaligus kasar dalam waktu yang sama. Perempuan itu menghirup napas panjang, merasakan aroma musk yang menyeruak dari tubuh Reynold. Reynold mengangkat dagu istrinya memposisikan sejajar dengan bibirnya. Lelaki itu dengan cepat menggigit bibir bawah Bella dengan lembut. “Lancang!” Reynold melepaskan bibir istrinya dengan lembut. “Kamu pikir bisa mempermainkanku dengan mudah?” Julie menarik garis bibirnya sedikit. Retinanya bergerak menuju pemilik tahi lalat di dekat mata. Lelaki itu tetap saja menawan. Napasnya berembus pelan, sepelan detak jantung yang melambat. Satu kedipan lambat, dengan tatapan penuh harap. “Aku, hanya lancang kepadamu saja,” tutur Julie dengan suara bernada rendah. Telunjuk Reynold menyentuh pipi istrinya, terus menelusuri setiap inchi wajah cantiknya. Ibu jarinya mengusap lipstick yang masih merona indah. “Apakah kamu bisa memulai sesuatu yang bisa menyenangkan hatiku?” tanya Reynold. “Tentu saja, kamu mau memulainya dari mana?” tanya Julie sambil melepaskan satu per satu kancing kemeja suami Bella. Julie mulai memadamkan lampu kamar. Perempuan itu membiarkan sinar bulan memasuki kamar dan mengandalkan pantulannya hanya untuk membentuk siluet tubuh yang terbentuk indah. Perempuan itu melepaskan satu per satu pakaiannya, sengaja untuk membangkitkan rasa penasaran Reynold yang masih duduk di sofa dengan tenang sebagai penonton. Arwah Bella tidak siap melihat hal yang begitu. Dia memilih meninggalkan Reynold bersama Julie. “Kenapa hatiku tidak senang mereka melakukan hal itu?” gumam Bella sambil menyentuh tempat jantungnya berada. Arwah itu berdiri di depan pintu, memeluk lututnya sendiri. Rasa sepi, berada di ruang yang berbeda dengan orang pada umumnya. Bella merindukan ibunya, dia juga merindukan Alex. Keesokan harinya, "Kamu mau memakai gaun apa? Apa kamu mau membeli sebuah gaun cantik untukmu?" tanya Reynold sambil mengeringkan rambutnya yang masih basah. "Aku ingin melihat benda apa yang diberikan oleh Pemilik GLAD itu," ucap Julie. Julie membuka hadiah pemberian Pemilik GLAD itu. Ternyata sebuah gaun cantik berwarna merah marun dengan gliter yang membuat gaun menjadi kelap-kelip. Julie langsung menarik garis bibirnya sebelah. Gaun itu terlihat bisa membentuk tubuh Bella agar terlihat sempurna. Kebetulan sekali Julie membeli sepatu berwarna silver yang membuat pemiliknya semakin bersinar. Sebuah kalung berlian menjadi statement dari penampilannya yang outstanding. Tidak lupa sebuah clutch berwarna perak senada dengan sepatu yang menambah kesan elegan. “Apakah aku sudah cantik?” tanya Julie sambil memamerkan hasilnya dalam berdandan. Reynold yang tengah memasangkan kancing lengan kemejanya langsung takjub melihat istrinya seperti selebriti ternama. Matanya berbinar saat istrinya tersenyum sambil memamerkan kecantikannya. Lelaki itu menelan salivanya.Tidak ingin hanya mengagumi keindahannya, Reynold langsung mendekat. “Sejak kapan kamu boleh cantik di depan orang lain? Apa aku mengizinkanmu?” tanya Reynold sambil mengangkat dagu istrinya dengan jari telunjuknya. Retina Julie mengarah pada sosok tampan di depannya. “Berarti aku cantik. Susah sekali kamu memujiku!” Arwah Bella pun ikut terpukau melihat cara Julie berdandan. Padahal dia seorang nenek berusia ratusan tahun, tetapi seleranya untuk menjadi cantik tidak kalah dengan selera anak muda zaman sekarang. Bahkan Bella sendiri tidak sepandai itu dalam berdandan. “Ayo kita berangkat sekarang!” ajak Reynold sambil mengulurkan tangannya. Julie menyambut uluran tangan Reynold. Dengan kepala terangkat sedikit, dia berjalan bagaikan seorang ratu yang sedang berjalan menyapa rakyatnya. “Kamu bangga tidak, punya istri secantik diriku?” tanya Julie dengan penuh percaya diri. “Bangga? Memangnya kamu punya prestasi Apa? Cantik saja tidak cukup, Bella. Jangan besar kepala!” cibir Reynold. Julie mencubit tangan Reynold, itu balasan untuk orang yang selalu berbicara seenaknya. Lelaki itu langsung menoleh kepada istrinya. “Awas saja. Kamu pasti menyesal!” bisik perempuan itu. Sesampainya di area ballroom hotel La Roche, Reynold dan Bella berjalan menghampiri Pemilik GLAD itu. Wajahnya sumringah, pagelarannya sukses dengan banyak peminat dari para penikmat dunia fashion. “Selamat malam, Tuan.” Reynold mengulurkan tangan untuk berjabat tangan. “Selamat malam, terima kasih sudah menghadiri acara ini,” ucap Pemilik GLAD itu sembari tersenyum cerah. Tentu saja Pemilik GLAD itu langsung mencium tangan Bella. Lelaki itu sangat puas karena gaun hasil rancangannya dikenakan oleh Bella langsung di hadapannya. “Selamat dan terima kasih, Tuan. Gaunnya sangat cantik, apakah saya terlihat cantik memakai ini?” tanya Julie. “Bukan hanya cantik, tapi sempurna,” puji Pemilik GLAD itu. “Permisi Tuan Reynold, apakah saya boleh meminjam istri Anda untuk memamerkan karya say aini di depan para tamu?” Reynold tidak suka, tetapi dia juga tidak bisa serta merta menolaknya. Sebuah perjanjian baru saja terjalin dan tidak semudah itu dibatalkan. “Tentu saja, Tuan,” jawabnya sambil mempersilakan Pemilik GLAD itu. Kedua orang itu berjalan menuju panggung yang dihiasi dengan rangkaian bunga. Gaun Bella dengan model korset dress berwarna merah marun dengan belahan yang cukup pendek memperlihatkan kaki mulusnya. Rambut Bella yang tertata cantik membuat penampilannya menjadi pusat perhatian. “Perhatian semua, saya ingin menunjukkan karya terbaru saya, Loving Dress. Perdana saya luncurkan hari ini. Tamu istimewa saya, Bella menjadi modelnya.” Semua tamu yang melihat maha karya dari Pemilik GLAD itu langsung bertepuk tangan. Mereka sangat puas, penampilan Bella kala itu menjadi pusat perhatian. “Apakah dia model terbarumu?” tanya salah satu tamu. Pemilik GLAD itu menoleh kepada Bella. Dia ingin perempuan itu sendiri yang menjawabnya. “Saya bukan model terbaru. Namun, saya sangat tersanjung bisa menggunakan karya dari Tuan,” ucap Julie sambil melirik Reynold. Reynold tidak senang, Bella menjadi pusat perhatian semua orang. Banyak lelaki yang menghampirinya dan tentu saja sebagai suami dia sangat cemburu. Pemilik GLAD itu mulai menunjukkan taringnya. Di depan semua orang dia mencium pipi kanan dan kirinya Bella. Tentu saja Reynold tidak bisa diam begitu saja. Dengan langkah yang tergesa, Reynold segera menarik tangan Bella.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD