Menyewa Gigolo.

1208 Words
Aku merasakan kepalaku semakin pusing tidak karuan. Tak hanya pusing di kepalaku, perutku pun tiba-tiba merasakan mual. Baru minum sedikit saja, tubuhku sudah menolak seperti ini, apalagi minum banyak. Aduh, payah sekali aku ini. Pria yang bersamaku menarik tanganku untuk ikut naik ke dalam mobilnya. Sementara mobilku terparkir tak jauh dari tempat ini. Aku menggeleng lirih sambil memegangi perutku yang terasa mual. Lagi pula, aku tak mau naik ke dalam mobilnya. “Aku mau muntah.” Howek…! Belum sempat menjauh dari pria itu, aku sudah memuntahkan semua isi perutku mengenai jas dan kemejanya. “Shitte, clumsy girl!” Refleks, pria itu mengumpat kesal dengan apa yang aku lakukan. Ia nampak jijik sambil menutup hidungnya untuk menutupi bau muntah yang mengotori jasnya. Dengan raut wajah kesal, ia melepaskan jas hitamnya yang dipenuhi kotoran muntahku. Aku menahan tawa, melihat kesialan yang pria itu alami. Buru-buru, aku meminta maaf agar dia tak membatalkan apa yang telah kami sepakati. “Sorry, Tuan! Nggak sengaja. Slowly, okay!” Pria itu tak menghiraukan apa yang aku ucapkan. Namun, tatapan kedua matanya seolah menggambarkan isi hatinya yang kesal dan jengkel kepadaku. ‘Ah, masa bodoh dengannya! Pusing di kepalaku tak juga reda.’ Aku berjalan menuju mobilku sendiri. Namun, tangan pria itu malah menarikku hingga membentur dadanya. “Hey….!” Aku memekik kencang. “Yeach, kena juga!” seru pria itu kegirangan, melihat bajuku yang sedikit mengenai kotoran muntahku sendiri di bajunya. “Satu sama, Nona!” “Ck, nyebelin!” dengusku sambil mengerucutkan bibirku lima centi. Pria itu malah tertawa puas, melihat ekspresi wajahku yang sangat kesal. Namun, lagi-lagi aku dibuat kagum dengan ketampanan pria tersebut disaat-saat seperti ini. Pria itu menghentikan tawanya, lalu mengikis jarak ke arahku. Aku dibuat sedikit tersentak, diam membeku dengan tubuhku yang menegang. Kedua bola matanya yang berwarna coklat, menatapku begitu dalam. Jantungku berdebar tidak karuan rasanya. Aneh! Tapi, inilah yang aku rasakan terhadap pria yang baru saja aku kenal. “M-mau apa?!” tanyaku, mencoba memberanikan diri. Pria yang belum kuketahui namanya itu sontak terdiam, setelah aku melontarkan pertanyaan kepadanya. Detik kemudian ia menyeringai tipis sambil menarik daguku dengan kuat. Sontak, tubuhku semakin menegang dengan wajah memerah. Detak jantungku berdebar ketakutan dan ngeri, melihat senyuman dan tatapannya yang sangat menakutkan di mataku. “Lepasin!” Aku meringis lirih, sambil tanganku berusaha untuk melepaskan tangan kekar pria tersebut. Rupanya, pria itu pun sadar atas apa yang ia lakukan, membuatku ketakutan. “Sorry, Nona!” ucapnya menjauhkan tangannya dari wajahku. Aku tak menjawab permintaan maafnya, mengalihkan pandangan ke arah lain. Biarkan saja begitu, biar tahu rasa. Seharusnya, ia menghormatiku sebagai wanita yang akan membayar pekerjaannya sebagai gigolo. Bukannya, bersikap tidak sopan seperti ini. “Ayo, kita naik, Nona!” ucapnya, kembali mengajakku naik ke mobilnya. “Aku nggak mau!” Aku menolaknya dengan gelengan. “Aku mau naik mobilku sendiri,” ucapku. Pria itu nampak menghela napas kasar, sambil menatapku sinis. “Baiklah! Tapi, aku yang bawa mobilnya. Kamu tidak bisa membawa mobil dalam kondisi mabuk seperti ini,” ucapnya. “Okay!” Aku pun mengangguk paham, lalu berjalan ke arah mobilku. Aku sudah duduk di dalam mobil, tepat di samping kemudi. Namun, pria bayaran itu nampak sedang menghubungi seseorang. Jiwa keingintahuanku sangatlah besar, mencoba mencuri dengar apa yang ia katakan. Namun, aku tak bisa mendengar suaranya dengan jelas. Tak berapa lama, pria itu sudah berganti pakaian yang ia ambil di mobilnya. Lalu, ia masuk ke dalam mobilku. Tanpa kata, ia langsung menyalakan mesin mobil dan menyalakan suhu pendingin mobil. Setelah beberapa menit mesin mobil dipanaskan, pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Dalam perjalanan, kami hanya saling diam. Aku tak tahu harus bicara apa. Pria itu tak mengucapkan sepatah kata pun sedari tadi, membuatku bingung dan serba salah. Untuk membuang rasa jenuh, aku menyalakan music dengan suara sedang. Aku pun ikut bersenandung lirih, mengikuti setiap bait lagu yang mengalun. Tiba-tiba di persimpangan jalan, pria itu membelokan mobilnya ke arah berlawanan arah pulang apartemenku. Aku pun refleks menghentikannya. “Bukan ke sini, Tuan! Tapi, ke sana!” Pria itu menoleh sekilas, tanpa menghentikan laju mobilnya. “Diam! Jangan protes!” “Tapi…..!” Belum sempat aku melanjutkan ucapanku, pria itu malah menambah kecepatan mobilnya. Sontak saja aku berteriak ketakutan, sambil meminta pria itu menurunkan kecepatannya. “Please, Jangan ngebut! Aku takut, Tuan.” Pria itu pun menurunkan kecepatannya, sambil tertawa puas melihatku ketakutan. “Makanya, jangan banyak protes!” ucapnya di sela tawanya. ‘Si4l, aku benar-benar si4l bertemu dengan pria gil4 seperti ini!’ rutukku dalam hati. Akhirnya, aku pun pasrah mengikuti apa maunya. Salahku sendiri, asal mengambil pria untuk dijadikan partner tidurku. Ya, beginilah jadinya. *** Sesampainya di kediaman pria itu, kepalaku kembali merasakan pusing dan berputar-putar. Refleks, tangan kananku memegang kepalaku yang terasa nyeri. “Awh…, nyeri sekali!” rintihku. Pria itu baru saja mematikan mesin mobilku. Kemudian, ia keluar dan berjalan memutar untuk membuka pintu mobilku. Lagi-lagi, ia tak mengatakan sepatah kata pun. Tubuhku diangkat oleh kedua tangannya, saat aku hendak turun. Aku berontak, tidak mau diangkat olehnya. “Jangan! Aku bisa jalan sendiri,” teriakku tak bisa diam dalam gendongannya. “Brisik, Nona! Nanti, kamu terjatuh.” Apa yang ia katakan, ada benarnya. Kalau aku berisik dan tidak diam, aku bisa terjatuh. Apalagi kepalaku sedang pusing seperti ini. Aku pun terdiam dan berhenti memberontak dalam gendongannya. Tak disangka, tubuhku seperti anak kecil berada di atas kedua tangannya yang kekar dan kuat. Kupandangi wajah tampannya yang nampak berkeringat, tanpa sadar tangan kananku meraba dad4 bidang milik pria tersebut. “Eheem…,” dehem pria itu menyadarkanku dari ketidak sadaranku atas apa yang aku lakukan. Aku pun jadi salah tingkah dan malu, menutupi wajahku yang sepertinya sudah memerah seperti kepiting rebus. Bruk! Aku membuka kedua tanganku yang menutupi wajah dan kedua mataku, ketika tubuhku terhempas di atas sebuah kasur yang berukuran besar dan mpuk. Kedua bola mataku menyapu seluruh penjuru kamar yang berukuran besar dan mewah. “Woow, kamarmu cukup mewah, Tuan,” ucapku terpukau. “Pantas, hargamu no limit.” Grep! Pria itu mendorong tubuhku, lalu mengungkungku dengan posesif. Aku sampai terperangah dibuatnya. “S-seben….., mmmppttt!” Aku tidak bisa bicara, bibirku sudah ia bungkam dengan sangat rakus oleh bibirnya. Permainan bibir dan lidahnya memang sangat lincah, membuatku kewalahan untuk menyeimbanginya. Meskipun lincah, bibirnya terasa lembut dan manis. ‘Oh, permainan bibirnya begitu memabukan,’ gumamku dalam hati. Pangutan bibirku dengannya, berlangsung cukup lama. Aku dibuat hampir kehabisan napas, menggap-menggap karenanya. Aku menepuk pundaknya, untuk menjeda cium4n kami. Ia pun paham, memberikan aku waktu untuk menghirup oksigen banyak-banyak. Hanya sekian detik, ia kembali m3nciumku dengan agresif. Selama aku menjalin hubungan dengan Marco, tidak pernah sekali pun bercium4n sepanas ini. Aku benar-benar sudah dikendalikan oleh napsu amarah yang besar. Sejurus kemudian, ia berhasil membawaku seolah terbang ke nirwana. Dengan sukarela, aku melucuti bajuku tanpa menyisakan sehelai benang pun. Seakan masih tersisa dalam kendali minuman keras, aku dibuat terlena dan mabuk kepayang oleh permainan panas ini. "Tunggu, Tuan!" pintaku menahan dad4 bidangnya. Ia terdiam sambil menaikan alisnya dengan menatapku tajam, seolah tidak menyukai apa yang aku lakukan. Aku melanjutkan apa yang ingin aku katakan kepadanya. "Apakah itu, akan sangat menyakitkan?! tanyaku dengan polos, sambil menunjuk ke arah miliknya. Ya, karena memang aku belum pernah merasakannya. Mendengar pertanyaanku, pria itu langsung menertawakanku dengan kurang aj4rnya.. "Ck! Ditanya, malah tertawa. Tidak sopan!" dengusku kesal.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD