Tiba-tiba Menikah

1625 Words
Di pagi hari. Mataku mengerjap sambil berkeliling, ketika aku terbangun dari tidurku. Aku menggeliatkan tubuhku saat merasakan nyeri dan ngilu di area milik paling berhargaku. Pertempuran semalam, membuatku kelelahan dan letih tak terkira. Pria yang bermain bersamaku semalam, sudah tidak ada di kamar ini. Aku lekas bangkit dari atas ranjang untuk membersihkan diri. Begitu kakiku turun ke lantai, rasa perih semakin menusuk-nusuk di bawah perutku. Namun, aku tetap harus berjalan ke kamar mandi, meski kedua pangkal pahaku seakan ada yang mengganjal. Aku memunguti pakaian milikku yang tergeletak di sembarang tempat, lalu bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Hampir satu jam aku berendam air hangat, aku pun segera menyudahinya. Setelah itu, aku cepat-cepat mengenakan pakaianku kembali. Aku mencari tas tanganku, di sekeliling kamar pria itu. Namun, aku tak menemukannya. “Di mana, tasku?” Aku bertanya-tanya. “Oh, jangan-jangan ketinggalan di dalam mobil.” Ketika aku akan ke luar kamar tersebut, tiba-tiba saja pintunya terbuka. Aku melihat dua orang wanita berpakaian pelayan, membawakan beberapa potong gaun cantik. “Selamat pagi, Nona. Silahkan dipilih, gaun mana yang Nona suka!” ucap salah satu wanita tersebut dengan ramah. Aku yang masih bingung, hanya mengangguk samar dengan tersenyum tipis. “Terima kasih, Nyonya! Tapi, saya sudah memakai baju saya sendiri.” “Baju Nona, terkena kotoran, semalam. Kata Tuan Justin, kami harus menggantikan Nona dengan gaun ini,” jelas wanita itu lagi. Aku menggeleng lirih, sambil menyilangkan kedua tangan di hadapan mereka. “No! Tidak apa-apa, Nyonya. Maaf, bukannya saya menolak kebaikan kalian. Tapi…” Ucapanku terhenti, ketika pria itu datang. Kedua wanita itu pun nampak menundukan kepalanya, saat melihat kedatangan pria itu. “Permisi, Tuan!” ucap mereka, lalu pergi meninggalkan kami berdua. Padahal, pria itu tidak mengucapkan sepatah kata pun, akan tetapi kedua wanita itu seperti paham hanya dengan sebuah tatapan matanya saja. “Heem, bukan main,” gumamku lirih, cukup terkesima dengan gaya pria tersebut. “Mulai sekarang, kamu adalah istriku, Nona!” ucap pria itu dengan santainya. “What, istri? Apa aku nggak salah denger, Tuan?” tanyaku begitu terkejut dibuatnya. Bagaimana ceritanya, dua orang yang tidak pernah saling mengenal sebelumnya, tiba-tiba mengklaim kalau aku istrinya. Gil4! Pria ini memang sungguh tidak waras. “Heem, silahkan lihat sendiri!” Pria itu memberikan dua buah buku nikah ke tanganku. Aku sampai melongo, saat membaca namaku tertulis dengan jelas di sana. Selain itu, fotoku dan fotonya pun, sudah terpasang. Bagaimana bisa, ia mendapatkan fotoku? Kalau soal nama, mungkin ia melihat dari black card yang aku berikan. Tapi, kalau soal foto, mustahil sekali. “Justin Sebastian…,” ucapku membaca nama pria tersebut. Pria itu nampak menyunggingkan bibirnya, sambil menaikan satu alisnya saat mendengarku membaca namanya. Aku melirik sengit, sambil mengingat-ingat nama belakang pria itu. Nama yang lumayan familiar di telingaku. “Sebastian?! Nama belakangmu, sepertinya aku pernah mendengar, Tuan.” Aku sungguh penasaran. “Menurutmu?” tanyanya memainkan alisnya. “Eem…, Tuan Carlos Sebastian. Ya, Tuan Carlos Sebastian. Tapi, mana mungkin kamu berasal dari keluarga seorang Tuan Carlos Sebastian? Aku tidak percaya!” ejekku tersenyum meremehkan. Pria itu mengikis jarak, seakan tak terima dengan ucapanku. “Ayo, kita buktikan, Baby!” bisiknya terdengar menggodaku. “Ck! Baby…, baby! Gundulmu, baby,” dengusku begitu menggelikan. Meskipun semalam kami sudah melakukan hubungan !ntim, tetap saja bagiku ini terlalu cepat dan aneh. Pria itu malah tertawa dengan lepasnya, membuatku semakin kesal. Ingin rasanya aku sumpal mulutnya, agar tidak seenaknya tertawa seperti itu. “Hari ini, seharusnya aku menikah,” ungkapku, menghentikan tawanya. “Aku sudah tahu,” jawabnya dengan sangat enteng. “What?” Lagi-lagi aku dibuat terkejut. “Terus, kalau sudah tahu aku akan menikah, kenapa kamu malah tiba-tiba menikahiku, huh?” semburku lantang. “Pernikahan pura-pura!” jawabnya dengan enteng. “Haah? Pura-pura?” Lagi-lagi aku dibuat terkejut dengan apa yang pria itu katakan. “Ya, begitulah! Pokoknya, kamu jangan banyak tanya lagi! Nanti, akan ada surat kontrak yang harus kamu tandatangani. Sekarang, ganti pakaianmu dengan gaun itu! Opahku, sangat tidak sabar ingin bertemu denganmu,” titahnya, membuat aku semakin shock dan kebingungan. “Eh, apa maksudmu, Tuan? Bertemu dengan, Opahmu? Untuk apa?!” “Untuk aku perkenalkan sebagai istriku!” terangnya. “Ck! Gitu saja tidak mengerti.” Pria itu berdecak. Aku menggeleng lirih, benar-benar dibuat pusing tidak karuan. Aku sudah terjebak dalam perangkap gigolo ini. Seharusnya, aku yang mengatur pria ini. Tapi, kenapa jadi dia yang mengaturku? Huh, aku harus kabur. “Aku tidak mau!” tolakku tegas. Pria itu mengulum senyum, sambil mengikis jarak. “Yakin, tidak mau, Nona?!” “Ya.” Aku menatap serius kedua matanya. “Minggir, aku harus pulang!” bentakku mendorong dad4 bidang pria itu. “Silahkan, kalau bisa!” ucapnya dengan santai sambil melipat kedua tangannya di depan dad4. “Bisa dong, kenapa nggak, huh?” “Ini, apa?!” Pria itu menunjukan kunci mobilku di depan wajahnya. Aku berdecak kesal, sambil mentapnya sinis. “Ck! Berikan, kunci mobilku!” Tanganku hampir meraihnya. Namun, dengan cepat kunci mobilku ia mainkan berpindah tangan. “Oh, tidak bisa! Tidak semudah itu, Nona. Kalau ingin kunci mobilmu kembali, kamu harus turuti perintahku. Paham?!” ancamnya sambil tersenyum menyeringai. “Aish…, nyebelin!” rutukku sambil mengeram kesal dan menghentakan kakiku ke lantai. Hahaha… “Makanya, jadi gadis penurut, Baby!” bisiknya lirih. “Waktumu sepuluh menit, aku tunggu di bawah!” ucapnya dengan santai melangkah pergi. “Shite, kurang 4jar! Mimpi apa aku, bisa bertemu dengan pria gil4 seperti dia? Lepas dari Marco, sipengkhianat! Malah masuk ke dalam perangkap gigolo gil4,” umpatku menyesali nasib yang aku alami. *** Aku melangkah ke luar kamar dengan perasaan tak mengerti. Aku mengendap-endap, seperti seorang pencuri di rumah ini. “Selamat pagi, Nona. Mari, ikuti saya!” ucap salah satu pelayan tadi yang aku temui dengan ramah. Aku pun mengangguk patuh, mengikuti langkah kakinya. “Baik, Nyonya!” “Panggil, Bibik saja, Nona. Jangan, Nyonya! Saya hanya seorang pelayan, bukan majikan seperti Nona.” Wanita itu seperti sedang tersinggung dengan nama yang aku panggil. Aku terdiam, merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Aku memanggilnya dengan sebutan Nyonya, karena menghormatinya sebagai wanita yang lebih tua. Terlepas dari pekerjaan apa yang melekat pada dirinya. Setelah berjalan cukup panjang, nampak pria itu sedang berdiri membelakangiku. Sepertinya, ia sedang berbicara serius di sebrang telponnya dengan seseorang. “Saya permisi dulu, Nona!” pamit pelayan itu. “Ya, terima kasih, Bik!” Pelayan itu mengangguk kecil, lalu pergi. Tap… Langkah kakiku semakin mendekat ke arahnya. Belum sempat aku memanggilnya, ia sudah membalikan tubuhnya untuk menghadapku. Kemudian, ia nampak memutus sambungan telponnya. “Nanti, aku hubungi lagi!” Pria itu menatapku dari atas sampai bawah, memindai penampilanku. Ia menyunggingkan senyuman, sambil mangut-mangut. “Perfect!” ucapnya memuji penampilanku. Aku memasang mode cemberut, tidak ada senyuman untuknya. Berani sekali pria kurang 4jar ini menilaiku dari segi penampilan. Aku memang selalu perfect, di setiap kesempatan dan di mana pun berada. Namun, pria itu mengabaikan sikapku dengan santainya. “Lets go!” ucapnya, sambil mengaitkan tanganku. Bodohnya, aku hanya menurut saja apa katanya. *** “Tasku.” Aku sangat senang, ketika mendapati tas tanganku ada di mobilnya. Buru-buru, aku membuka tasku untuk melihat dompet dan ponselku. Daya ponselku mati. Karena, sejak kemarin aku belum mengisinya. Aku menghela napas kesal sambil menoleh ke arahnya, untuk meminjam baterai chargenya. Namun, belum sempat aku mengatakan sesuatu, pria itu sudah menunjukan letak barang yang aku butuhkan. “Itu, chargenya di dalam dash board!” ucapnya. Aku refleks melirik ke arah dashboard tersebut, lalu membuka covernya dengan segera. Dan, benar saja barang yang aku butuhkan itu ada di dalamnya. Secepatnya aku mengisi daya, sambil menghidupkan ponselku. Aku ingin tahu, kabar terbaru yang terjadi di rumah. “Permainan segera dimulai,” gumamku menyeringai, setelah banyaknya panggilan telpon sejak pagi tadi dari ayah dan mantan tunanganku. Pria itu melirik sekilas ke arahku, tapi tetap focus ke depan saat menyetir. “Kamu tidak takut, Ayahmu akan murka, huem?” Aku menoleh ke arahnya, dengan dahi mengernyit. Tahu apa dia tentang ayahku? Semurka-murkanya ayahku, ia tidak akan memakan atau menghabisi putrinya sendiri. Untuk apa aku takut? Lagipula, aku akan membongkar kedok perselingkuhan Marco dan Celine di depan ayahku, nanti. “Untuk apa, aku takut, Tuan? Ayahku tidak semenakutkan itu.” Aku menantangnya. Pria itu terkekeh atas apa yang aku katakan. Ia kembali menoleh ke arahku sekilas, sambil tersenyum devil. “Ternyata, aku tidak salah memilihmu, Nona!” ucapnya penuh teka-teki. Hampir satu jam perjalanan kami lalui, akhirnya mobil kami terhenti di sebuah hunian mewah dan megah di sebuah perbukitan yang jauh dari hiruk-pikuk perkotaan. Kedatangan kami disambut oleh beberapa petugas keamanan dan pengawal yang bertubuh tinggi besar dengan ramah dan hormat. “Selamat datang, Tuan dan Nona! Tuan Besar, sudah menunggu kedatangan kalian berdua,” ucap salah satu pengawal tersebut. “Heem, thanks!” ucap pria itu dengan anggukan kecil. Aku yang berdiri di sampingnya sambil menggandeng lengannya, karena dipaksa olehnya, hanya ikut mengangguk kecil sambil tersenyum samar. *** “Waaah…., apakah gadis ini istrimu, Justin?” Seorang kakek tua, menyambut kedatangan kami berdua dengan raut wajah senang. “Sangat cantik! Pintar sekali kamu mencari Istri, Cucuku.” Pria yang bernama Justin itu pun nampak mengangguk sambil tersenyum misterius ke arah pria tua itu. “Ya, Opah. Dia, istriku. Seperti yang Opah mau, aku harus cepat menikah, bukan?” Bau-bau permusuhan, sepertinya sedang terjadi diantara kedua pria berbeda generasi ini. Aku tidak tahu persis apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka berdua. Namun, dari caranya bicara dan menatap, keduanya seperti bertolak belakang. Pria tua itu nampak mangut-mangut sambil tersenyum kepadaku. Aku mendadak gugup dan panik dibuatnya. “Siapa namamu, Nak? Apakah yang dikatakannya itu benar? Kamu asli Istrinya, atau hanya pura-pura, huem?” tanyanya dengan tatapan mengintimidasi. Glek! Aku dibuat tercekat, sambil melirik ke arah Justin. Apa yang harus aku jawab? Jujur atau mengikuti permainannya!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD