Semangkuk Sup Ayam Berdua.

1247 Words
“Malam, Nona Areta! Aku bukan Marco. Tapi, Justin Sebastian,” ucapnya sambil menyunggingkan senyuman kepadaku. Aku gelagapan salah tingkah, saking malunya. Dia malah melewatiku dengan langkah pasti masuk ke dalam apartemenku. Aku buru-buru menutup pintu, lalu mengekori langkahnya. Tiba-tiba saja, dia menghentikan langkahnya. Sontak, aku pun ikut berhenti. “Astaga, nih orang. Kalau berhenti, kok dadakan.” Hampir saja aku menubruk punggungnya, kalau aku tak hati-hati menjaga jarak. “Umm…, aku mencium aroma masakan yang kuat,” ucapnya sambil kembali melangkah. Kali ini, dia menuju ke arah dapurku. Aku tak menimpali ucapannya, hanya kembali mengekori langkahnya sambil menjaga jarak. Aku heran dengannya, indra penciumannya sangat sensitive sekali. “Waah…, sup ayam dan omlet keju. Pantas saja aromanya sangat menggoda. Apa semua ini kamu yang memasaknya, Nona?” Justin menoleh ke arahku dengan raut wajah nampak penasaran. “Heem….” Aku langsung mengangguk lirih, sambil menggaruk kepalaku yang tak gatal. Entah kenapa, aku tiba-tiba tak bisa berkutik di hadapannya. Teringat dengan ucapan Tony, yang ingin melakukan penyelidikan terhadap pekerjaan pria di hadapanku ini, membuatku jadi sedikit gugup dan bertanya-tanya. Justin nampak tersenyum tipis, sambil menarik kursi yang ada di depannya. “Apa boleh aku ikut mencicipi masakan buatanmu, Nona?” Aku ikut menarik kursi yang satunya, lalu mengangguk kembali. Setelah duduk, aku mengambil satu buah mangkuk berukuran lebih kecil untuk membagi sup ayam tersebut menjadi dua bagian. Namun, saat aku baru mau menyendok supnya, tangan Justin malah menahan lenganku. “Aku mau makan semangkuk berdua denganmu, Nona. Jadi, singkirkan mangkuk kecil ini,” ucapnya sambil mengambil alih mangkuk kecil itu dari tanganku. ‘Aish…., apa-apaan coba. Semangkuk berdua, katanya? Apa dia tidak merasa jijik, huh?’ rutukku dalam hati. Aku ingin sekali menolak apa yang dia katakan. Akan tetapi, lagi-lagi aku tak bisa berkutik. Rasanya, lidah ini mendadak kelu, hanya untuk sekedar berkata tidak. “Nyam, sedap sekali rasanya. Kuah sup ayamnya sangat gurih. Kaldu dan garamnya sangat pas. Tidak hambar atau pun keasinan,” pujinya sambil kembali mencicipi sup ayam buatanku itu. Aku merasa sedikit tersanjung dengan pujian yang dilontarkannya. Tak banyak yang tahu, jika aku ini sangat suka memasak. Hanya segelintir orang saja, yang pernah mencicipi masakan buatanku. Bik Maya, ayahku, Marco, Tony, lalu yang sekarang, Justin. Itu pun, terpaksa. Karena, aku tidak tahu kalau Justin mau ke sini. “Aku tidak mengira, seorang gadis sepertimu bisa membuat masakan selezat ini, Nona.” Justin kembali bersuara, “Tekstur daging ayamnya, sangat lembut sekali. Restoran bintang lima pun, masih kalah jauh dengan rasa masakan buatanmu ini, Nona.” Aku yang belum sempat mencicipi masakanku tadi, jadi penasaran dengan rasanya. Aku sampai menelan salivaku sendiri, saking tergodanya dengan apa yang dikatakan oleh Justin. Apa sedemikiannya, rasa masakan yang aku buat itu? Aku kan, jadi GR. “Buka mulutmu, Nona! Aaaa….” Justin menyodorkan sendok berisi potongan daging ayam dan kuahnya di depan bibirku. Refleks, aku membuka mulutku sedikit malu-malu. Justin pun langsung memasukan sendok tersebut ke dalam mulutku dengan cepat. Aku mengunyah sambil menikmati rasa masakanku sendiri dengan mengulum senyum. Selama ini, apa yang aku masak memang selalu terasa enak dan lezat. Namun, rasanya kali ini, jauh lebih enak dan lezat dari biasanya. Apa semua ini karena perutku yang memang sangat lapar, atau karena kebetulan saja? Sepertinya memang karena kebetulan sih, menurutku. “Lagi! Aaa…” Justin kembali menyuapiku dengan senang. Entah sudah berapa sendok, Justin menyuapiku. Hingga sup ayam di mangku itu tinggal tersisa sedikit. “Sudah! Aku sudah kenyang, Tuan.” Aku menghentikan tangan Justin yang ingin kembali menyuapiku. Justin nampak tersenyum kecil, hendak menurunkan sendok yang berisi sup ayam itu ke mangkuk kembali. Namun, dengan cepat aku mengambil alih sendok tersebut dari tangannya. “Gantian, aku yang suapi kamu, Tuan,” ucapku membuang rasa malu dan gengsi. “Aaaa….” Justin langsung membuka mulutnya lebar-lebar, sudah siap untuk menerima suapanku. “Ck, kesenengan banget!” dengusku sambil menggeleng lirih. Namun, aku pun dengan cepat menyuapinya. Dia menerima suapan tanganku dengan raut wajah senang, begitu lahap mengunyah ayam yang masuk ke dalam mulutnya. Setelah itu, dia kembali membuka mulutnya untuk menerima suapanku lagi. Aku pun sontak kembali menyuapinya, lagi dan lagi. Hingga pada akhirnya, satu sendok terakhir pun meluncur ke dalam mulutnya. Aku tersenyum kecil, saat melihat mangkuk di tanganku sudah tandas. Justin masih nampak mengunyah dalam mulutnya. “Tara…., habis!” seruku sambil mengangkat mangkuk di tanganku. “Yeach, habis?” tanya Justin terlihat raut wajah merengut. “Heem….,” gumamku lirih dengan anggukan kecil. “Kalau ini, boleh kumakan, Nona?” tunjuknya ke arah sepiring omlet keju. “Boleh.” Aku mengangguk kecil. “Yeach. Aku habisin, ya!” serunya sambil mengambil sepiring omlet keju dengan raut wajah girang. “Habisin saja, kalau kamu suka, Tuan.” Tanpa bicara lagi, dia langsung memotong-motong omlet keju tersebut menjadi beberapa bagian. Kemudian, dia menambahkan sedikit saus sambal di atas omlet yang sudah dipotong-potong tersebut. Aku tak tahu rasa omlet keju tersebut. Apakah selezat sup ayam yang aku buat, atau sebaliknya. Aku pun berdebar cemas memikirkannya, saat Justin nampak sedang memasukan satu potong omlet keju ke dalam mulutnya. Kedua mata Justin nampak terpejam, saat sedang mengunyah omlet keju yang telah masuk ke mulutnya itu. Aku mengernyit kebingungan dengan tingkahnya yang aneh itu. Jangan-jangan, rasa omlet keju buatanku itu tak enak. Mendadak, Justin menghentikan kunyahan di mulutnya. Aku pun sontak dibuat panic, seketika. “Bagaimana, rasanya? Apakah terlalu asin? Atau, jangan-jangan hambar?” tanyaku dibuat penasaran dengan reaksi yang ditunjukan oleh Justin, di hadapanku. Justin membuka kedua matanya, ketika aku selesai bertanya. Dia nampak tersenyum tipis, sambil mengikis jarak. “Jawab yang jujur, atau bohong, huem?” bisiknya sambil memainkan alis tebalnya dengan genit. “Aish, jujurlah, Tuan,” dengusku kesal. Justin terkekeh lirih, sambil kembali memasukan sepotong omlet keju tersebut ke mulutnya. “Kalau boleh jujur sih, rasanya kurang, Nona,” ucap Justin di sela kekehannya. Refleks, aku pun langsung mengambil garpu dari tangannya untuk mencoba merasakan omlet keju tersebut, saking terkejutnya dengan apa yang dikatakan oleh Justin. Saat omlet keju itu sudah masuk ke dalam mulutku, Justin langsung meledakan tawanya dengan sangat keras. Aku menatapnya dengan sinis, saat rasa omlet keju yang aku makan ternyata begitu lezat dan pas bumbunya. Tidak keasinan dan juga tidak hambar. “Ngeprank…., Nona!” celetuk Justin di sela tawa kerasnya. Lagi-lagi, aku mendengus kesal dibuatnya. Justin, ternyata senang melakukan lelucon seperti ini. “Ck, nyebelin.” “Sorry, Nona. Habisnya, wajah kamu itu sangat terlihat tegang, tadi. Jadi, aku jahilin sedikit deh,” ungkapnya, setelah menghentikan tawanya itu. Aku membuang wajah ke arah lain, menutupi rasa malu. Sadar dengan apa yang Justin baru saja katakan. Memang aku sangat tegang sekali, tadi. Tegang, karena takut rasa omlet keju buatanku itu tak enak. Aku merasakan sentuhan tangan besar Justin membelai wajahku. Sontak, aku pun langsung menoleh ke arahnya. Senyuman Justin, nampak menyimpan penuh arti. Dia pun menyondongkan wajahnya ke arahku dengan perlahan. Deg! Jantungku berdebar kencang, tak karuan rasanya. Refleks, aku memejamkan kedua mataku, saking gugupnya. Aku merasakan sentuhan lembut di bibirku. setelah beberapa detik aku terpejam. Desiran dalam darahku, semakin kian terasa. Namun, detik berikutnya aku kembali mendengar suara tawa Justin, sambil berkata, "wajah kamu lucu, kalau sedang marah, Nona." Sontak saja aku langsung buru-buru membuka kedua mataku, saking malunya karena salah paham apa yang akan Justin lakukan tadi. Aku pikir, Justin ingin mencium bibirku. Tapi ternyata, aku salah mengira. Oh, betapa malunya aku. Harus aku taruh di mana wajahku? Rasanya, aku ingin menghilang dari hadapannya untuk selamanya kalau begini. Sungguh, aku terlalu keGRan. 'Huaaaa....,' teriakku dalam hati ingin menangis sekencang-kencangnya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD